Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 178 - Ke Gunung Berapi


__ADS_3

Setelah cukup bermain, mereka semua pun kembali pulang kerumah.


Lina sedang duduk di dekat api unggun. Sambil memegang mangkok berisi sup panas, dia berkata sambil tersenyum, "Jika saat cuaca seperti ini kamu pergi ke sumber air panas, kamu pasti tidak akan pernah menyesal seumur hidupmu!"


Wiro bertanya, "Apa itu sumber air panas?"


"Itu adalah mata air, tapi suhu airnya relatif tinggi, membuat tubuh kita merasa sangat nyaman saat berendam di dalamnya! Di mana ada gunung berapi, biasanya akan ada sumber air panas di sekit ..." Saat Lina berbicara tentang ini, tiba-tiba saja dia berhenti berkata.


Dia teringat dengan suatu tempat, di mana mereka sempat akan menambang urat bijih yang dijaga oleh Tuan Wisnu, di situ ada gunung berapi!


"Mungkin akan ada sumber air panas di sekitar situ!"


Setelah berpikir seperti itu, kemudian dia segera memberitahukan hal ini kepada semuanya.


Wiro dan Saga belum pernah bertemu dengan Tuan Wisnu, mereka hanya mendengar tentang Tuan Wisnu, dari cerita tentang Batu Esensi berharga yang diberikan darinya kepada Uriel.


Uriel berpikir, "Jarak dari sini ke Gunung berapi tidak jauh. Jika bergegas, seharusnya bisa sampai di sana dalam satu hari."


Leon yang sedang memakan biji bunga matahari juga ikut berkata, "Kalau begitu, ayo kita segera pergi ke sana. Meskipun jika di sana tidak ada sumber air panas, suhu di dalam gunung berapi pasti terasa sangat nyaman. Seharusnya menyenangkan bagi kita untuk tinggal di sana selama beberapa hari."


Uriel bertanya karena ada sedikit keragu-raguan, "Tapi, apakah Tuan Wisnu tidak akan terganggu karena hadirnya kita semua, apalagi disaat musim dingin begini?"


Leon pun berkata untuk menjawab keragu-raguan Uriel, "Pria itu hanya seorang diri di dalam gua. Mungkin dia tidak memiliki seseorang untuk dia ajak bicara selama beberapa dekade ini. Bukankah seharusnya itu terlalu membosankan? Dia pasti akan sangat senang jika kita datang kesana dan tinggal bersamanya selama beberapa hari."


...........


Saat ini, Lina tengah menyiapkan dua toples anggur buah dan beberapa daging kering sebagai oleh-oleh untuk Tuan Wisnu. 


Sedangkan Wiro, dia menemui Rei dan berkata, "Kami sekeluarga akan keluar selama beberapa hari. Untuk sementara waktu ini, aku ingin meminta bantuan darimu untuk menjaga rumah kami." 


Rei pun menjawab dengan simpel, "Oke!" 


"Di halaman dekat rumah, ada beberapa burung pegar. Kamu juga harus memberi mereka makan sayuran dan daun-daunan setiap hari, agar tidak mati kelaparan. Selain itu, Carli juga tinggal di rumah. Anak itu terlalu malas untuk melakukan apa pun di musim dingin ini, kecuali makan atau tidur setiap harinya." Kata Wiro.


Saat ditanya oleh Lina, apakah dia ingin ikut pergi ke pemandian air panas, Carli berkata kalau dia hanya ingin tinggal di rumah, untuk makan dan tidur.


"Akan aku urus." Jawab Rei.


...........


Lina meninggalkan banyak bambu dan rebung, jumlahnya cukup untuk makan Carli selama lebih dari sepuluh hari. Dan, untuk menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Wiro meminta Rei untuk selalu memperhatikan Carli, saat dia ada waktu luang.


...........


Keesokan paginya, seluruh keluarga Lina pun meninggalkan Gunung Batu.


Dan Leon yang bukan keluarga Lina, juga ikut bersama dengan mereka.


Hari ini adalah hari yang baik. Hujan salju telah berhenti. Matahari menyembul keluar dari sudut kecil di antara awan-awan, dan cahaynya menyinari permukaan salju.


Saga, Wiro dan Uriel, semuanya merubah wujud mereka ke bentuk binatang mereka masing-masing dan berlari di atas tumpukan salju. Para anak-anak Serigala juga mengikuti mereka tepat di belakang.


Sedangkan Leon, dia merentangkan sayap merahnya yang lebar dan terbang di atas mereka semua.

__ADS_1


Lina membungkus tubuhnya dengan jubah bulu, dan duduk di punggung Serigala Perak. Bulu Serigala itu panjang. Lina bahkan bisa mengubur setengah dari tubuhnya ke dalam bulu-bulu tersebut. Selain itu, dia juga tidak merasa terlalu kedinginan, karena mendapat suhu hangat dari suhu tubuh Serigala Perak itu.


Setelah berjalan selama setengah hari, mereka pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di tempat yang datar, untuk minum dan makan, dan memulihkan kekuatan fisik mereka.


Saat istirahat telah selesai, mereka pun mulai melanjutkan perjalanan mereka lagi.


Saga berjalan paling belakang. Baru saja mereka semua berjalan tidak jauh dari tempat mereka beristirahat, tiba-tiba saja Saga mencium bau yang akrab baginya.


"Bau ini.. Sepertinya aku kenal dengan bau ini. Baunya sangat ringan dan sedikit amis, sepertinya dari tempat yang sangat jauh." Pikir Saga.


Dia pun segera menghentikan langkahnya dan melihat ke sekelilingnya, tapi hanya bisa melihat hamparan putih salju.


"Tidak ada siapa-siapa." Gumam lirih Saga.


Wiro yang berjalan di depannya pun berhenti dan menoleh kebelakang, menatap Saga dan bertanya, "Saga. Kenapa kamu diam saja? Apa kamu berubah pikiran dan tidak ingin ikut pergi?"


Saga bertanya, "Apa kamu tidak mencium bau yang aneh?"


Mendengar apa yang Saga tanyakan, Wiro pun segera mengerutkan alisnya, lalu mulai mengendus-ngendus udara di sekitarnya, "Bau apa? Aku tidak mencium bau apa-apa!" 


Saga pun ikut mengendus-endus lagi untuk memastikan bau yang baru saja dia cium.


"Bau samar yang tadi sudah tidak ada lagi.  Apa tadi aku sedang berhalusinasi?" Batin Saga.


Setelah itu, Saga baru menyadari kalau saat ini mata semua orang sedang menatap dirinya dan menunggunya untuk segera berjalan lagi. Dengan cepat, Saga pun segera melupakan kejadian barusan, mengibaskan ekor Ularnya dan dengan segera menghampiri yang lainnya.


Saat melewati Wiro yang menatapnya dengan bingung, Saga berkat dengan santai, "Barusan hanya halusinasiku saja. Ayo jalan lagi." 


...........


Karena mereka semua mempercepat langkah kaki mereka, akhirnya mereka pun bisa tiba di kaki gunung berapi sebelum gelap.


Gunung yang saat ini tertutup salju, membentang sepanjang ribuan mil.


"Waah.. Tempat ini saat tertutup oleh salju terlihat cukup spektakuler." Batin Lina.


Lubang tambang yang sebelumnya telah dibuat dan digali oleh para Ular dari Kuil Bulan Gelap, masih ada di tempat yang sama seperti sebelumnya. Tapi kini hanya ditutupi dengan ranting-ranting dan dedaunan kering, dan tertutup oleh salju.


Leon menyingkirkan semua halangan itu dan berseru memanggil Wisnu yang berada di bagian dalam gua tambang, "Pak tua! Kami datang kemari untuk bermain denganmu. Keluarlah dan sambut kami yang sebagai tamu."


Tak lama kemudian, mereka semua melihat moncong trenggiling yang panjang, mencuat keluar dari gua tambang. 


Saat trenggiling raksasa itu melihat orang-orang yang ada di depannya ini, dia menatap kearah sosok kecil yang berada di punggung Serigala Perak, dan berkata dengan suaranya yang terdengar berat dan dalam, "Ternyata kamu yang datang.."


Kemudian Lina mengeluarkan kepalanya dari tudungnya dan berkata sambil tersenyum manis, "Ya Tuan Wisnu, lama kita tidak bertemu.." 


"Ya, sudah lumayan lama juga kita tidak bertemu lagi," kata si Trenggiling, kemudian dia mengulurkan tangannya yang besar ke dekat Lina, "Ayo naik ke tanganku." 


Lina pun segera meluncur turun menggunakan ekor si Serigala Perak, dan mendarat di tangan si Trenggiling.


"SIUUUT!"


"TAP!"

__ADS_1


Saat dia mengangkat kepalanya dan melihat dari jarak yang lebih dekat, dia baru menyadari, "Ternyata ukuran tubuh Trenggilingnya lebih besar dari yang aku kira. Berdiri di cakarnya, aku jadi seperti kurcaci yang tersesat di kerajaan raksasa."


Kemudian terdengar suara si Trenggiling yang berkata kepada yang lainnya, "Masuklah, kalian semua juga tamu-tamuku." 


Kemudian sambil membawa Lina di satu tangannya, dia pun berjalan masuk kedalam gua tambang, dan menyusuri koridor yang panjang. Saga, Wiro, Uriel dan para anak-anak Serigala juga segera mengikutinya. Begitu juga dengan Leon yang telah melipat sayapnya dipunggungnya, juga ikut masuk berjalan ke dalam gua.


Di sepanjang lorong gua ini sangat gelap, tapi para Orc terlahir dengan mata mereka untuk bisa melihat hal-hal dalam kegelapan.


Hanya Lina saja yang tidak bisa melihat apa-apa, dia duduk dengan tenang di tangan Trenggiling yang sedang membawanya.


"Gelap sekali!" Batin Lina.


Butuh sekitar dua puluh menit bagi Lina yang akhirnya bisa melihat cahaya lagi.


"HAH? MULAI ADA SEDIKIT CAHAYA?" Pikir Lina sedikit tidak percaya sambil membuka lebar kedua matanya.


Tak lama kemudian, dia pun langsung tercengang saat melihat pemandangan yang ada di depannya.


Di dalam sebuah gua yang luas, terdapat dinding batu yang ditutupi oleh pilar-pilar batu kristal yang berwarna hitam pekat, dan memancarkan cahaya yang redup.


Pada saat ini Trenggiling pun meletakkan tangannya di tanah sambil berkata, "Di tempat ini lah aku tinggal. Memang terlihat sangat sederhana. Mohon maafkan aku jika tempat ini membuatmu merasa tidak nyaman." 


Lina pun segera melompat turun dari tangan si Trenggiling, lalu berbalik menatapnya dan berkata, "Terima kasih.. Tempat ini sangat luar biasa sekali.."


Karena magma berada cukup jauh di bawah tanah yang saat ini dia pijak, tapi membuat suhu di dalam gua ini relatif tinggi, Lina pun segera melapaskan jubah bulunya.


Tanah di gua ini ditutupi dengan tanaman yang tebal, terasa lembut dan lunak saat Lina menginjaknya.


Saat dia melihat ke bawah, dia melihat ada tanaman yang tampak seperti berdaging, dengan daunnya yang sangat tebal dan terdapat bulu-bulu putih tipis di permukaannya.


Lina segera membuka buku kulit bergambar, dan mencari keterangan tentang jenis tanaman ini. Saat dia menemukannya, tanaman ini disebut dengan daun berlian kristal.


"Dari namanya saja aku bisa menebak, kalau tanaman ini pasti hanya tumbuh di permukaan bijih kristal. Bisa dibilang juga kalau ini pasti tanaman langka." Pikir Lina.


Tanaman jenis ini dapat digunakan sebagai obat, untuk menghilangkan panas dan menyembuhkan luka bakar. Selain itu, tanaman ini juga bisa dioleskan pada wajah, untuk mempercantik dan memperindah wajah.


"Ternyata tanaman ini juga sangat bermanfaat!" Batin Lina lagi setelah selesai membaca keterangan tentang tanaman tersebut, di buku kulit bergambar.


"Tuan Wisnu, bolehkah aku memetik beberapa daun berlian kristal ini?" tanya Lina kepada Tuan Trenggiling, yang tak lain dan tak bukan adalah Wisnu.


Mendengar apa yang Lina tanyakan, Trenggiling itu pun berkata, "Tentu saja boleh. Lagi pula sekarang ini tidak banyak Orc yang tahu tentang daun berlian kristal. Sepertinya kamu tahu banyak hal. Ternyata Benih Suci tidak salah untuk memilihmu."


Lalu dengan segera Lina berjongkok dan mencabut tanaman tersebut dan menyimpannya ke dalam ruang penyimpanan.


Wiro dan Saga juga segera membantu Lina mencabut beberapa tanaman tersebut.


Pada saat ini, Uriel berkata kepada si Trenggiling, "Maaf, kami telah mengganggu hibernasi anda."


"Ini adalah pertama kalinya begitu banyak tamu yang datang menemuiku. Tentu saja aku sangat senang." Kata Wisnu si Trenggiling.


Kemudian Uriel mengeluarkan anggur buah dan dendeng daging kering, dan menyerahkannya kepada Wisnu sambil berkata, "Ini adalah oleh-oleh buatan keluarga kami, nilainya juga tidak seberapa. Saya harap Anda tidak keberatan untuk menerimanya."


Tuan Trenggiling pun segera mengulurkan cakarnya dan menerima oleh-oleh itu, "Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2