Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 50 - Benih Suci


__ADS_3

Saat ini, Lina sedang sibuk memindahkan makanan dari ruang bawah tanah di rumahnya, dan membagikannya kepada para Orc suku Serigala Batu, supaya mereka tidak kelaparan.


Setiap Orc yang menerima makanan darinya juga sangat berterima kasih padanya.


Kini, suasana pilu pembantaian yang ada di suku Serigala Batu, berangsur-angsur telah menghilang.


Selama masih bernyawa, masih ada harapan.


Lina tidak mengetahui perubahan psikologis para Orc. Dia hanya bisa merasakan, kalau semangat setiap orang tampaknya kini menjadi lebih baik, dan sudah tidak tertekan lagi seperti sebelumnya.


Suasana hatinya kini juga menjadi jauh lebih ringan.


Saat dia sedang merapikan ruang bawah tanah, Lina menemukan beberapa biji buah manis di sudut ruangan.


Biji-biji itu berasal dari buah manis saat dia membuat selai. Karena pada waktu itu, dia tidak tahu apa gunanya dan merasa sayang jika dibuang, jadi semuanya dia kumpulkan, hingga menumpuk di sudut ruang bawah tanah.


Saat dia selesai menghitungnya, ada sekitar seratus biji.


Kemudian terdengar suara dari benaknya.


"Ting Tong!"


"Selamat!" Anda telah mengumpulkan tiga ratus benih dan menyelesaikan tugas ketiga dari seri musim dingin. Hadiah akan segera diberikan. Silakan diperiksa!"


Begitu suara itu menghilang, muncul sebuah benda seperti biji kecil berbentuk bulat dan berwarna hitam tepat di depan Lina.


Lina segera mengambil benda itu dan melihatnya. Tampak seperti kedelai berwarna hitam, tapi masih sedikit lebih besar.


Saat dia dekatkan benda itu kehidungnya dan mengendusnya, tercium samar bau tumbuhan.


Lina kemudian bertanya pada suara yang ada di benaknya, "Biji apa ini?"


Suara di benak Lina menjawab, "Itu adalah Biji Suci."


"Biji Suci?" Lina tidak pernah mendengar tanaman ini, dia segera membuka buku kulit bergambar, dari awal halaman hingga akhir. Tetapi, Lina tetap tidak bisa menemukan informasi mengenai tanaman suci ini.


Suara di benak Lina mengatakan, "Benih Suci berasal dari tanaman Ilahi, buku tentang hewan dan tumbuhan yang saat ini anda punya, hanyalah seri awal. Di buku itu hanya ada catatan tentang hewan dan tumbuhan tingkat rendah."


Kemudian Lina bertanya dengan sedikit bingung, "Maksudmu, jika aku ingin mengetahui informasi tentang Benih Suci ini, aku harus mengumpulkan beberapa buku lain yang lebih lengkap?"


Suara di benak Lina menjawab singkat, "Ya."


Kemudian, Lina dengan iseng bertanya lagi, "Lalu, bila aku sudah mengumpulkan tujuh buku bergambar, apa aku bisa memanggil Naga?"


"....."


Setelah terdiam beberapa saat, kemudian suara di benak Lina baru menjawab, "Maaf! Naga bukan milik kami, tidak ada dalam pusat data kami. Kami tidak bisa memanggil Naga."

__ADS_1


Mendengar jawaban seriusnya, Lina pun segera menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya, dan tidak bisa menahan tawanya, "Hihihi.. Aku hanya bercanda denganmu.. Kamu menanggapinya terlalu serius.."


"....." Suara di benak Lina tidak menjawab.


Saat digoda oleh Lina, suara itu sebetulnya merasa tertekan. Tapi tidak bisa dan tidak tahu cara untuk mengatakannya.


Kali ini Lina bertanya dengan serius, "Bagaimana cara menanam benih ini?" Kemudian lanjut bertanya lagi, "Apa tidak apa-apa kalau aku menanamnya di dalam tanah?"


Suara di benak Lina menjawab, "Jangan ditanam. Makan saja."


Lina terkejut, "Kenapa harus dimakan?"


"Ini adalah benih mati. Jika tidak hidup, hanya bisa dimakan."


Mendengar itu, Lina menjadi sedikit kesal, "Aku sudah menghabiskan banyak upaya untuk menyelesaikan tugas, tapi malah diberi hadiah benih mati?"


"....." Suara di benak Lina hanya terdiam.


Karena merasa tidak ada tanggapan, Lina memasukkan benih itu ke dalam mulutnya.


Anehnya, benih itu seperti memiliki nyawa, sebelum Lina sempat mengunyahnya, benih itu sudah masuk terlebih dulu ke tenggorokannya.


Setelah benih itu tertelan, Lina bertanya, "Benih ini tidak mengandung racun kan?"


Suara di benak Lina menjawab, "Tidak ada kandungan racun."


Lina masih bertanya lagi, "Apa untungnya setelah aku memakan biji ini?"


"Biji Suci adalah sumber dari semua jenis tanaman. Bijinya dapat meningkatkan kedekatanmu dengan alam." Jawab suara itu.


"Apa maksudmu? Bisakah kamu menjelaskannya lebih spesifik lagi?"


Suara di benak Lina menjawab dengan serius, "Maaf! Anda masih belum memiliki izin yang cukup. Saat ini, hanya itu yang bisa kami jelaskan."


Tidak bisa mendapatkan jawaban lengkap, tentu saja telah membuat Lina kecewa.


Tetapi rasa kecewanya masih bisa terobati, "Tugas mengumpulkan benih sudah selesai, ratusan benih yang aku kumpulkan tidak diambil, dan masih tetap berada di tanganku. Aku masih bisa menanam benih-benih ini di musim semi."


Di dunia yang primitif ini, masih tersedia banyak sumber daya lahan, Lina bisa menanam apa pun yang dia inginkan, berapapun luasnya tanah yang dibutuhkan, tanpa perlu mengkhawatirkan adanya harga tanah yang mahal.


...........


Wiro sudah mengemasi tasnya, mengambil dua tong anggur, dan memimpin dua ratus Orc untuk menuruni gunung.


Tujuan mereka kali ini adalah untuk bergabung dengan klan Mustang, untuk melawan klan Serigala Air Hitam.


Lina berdiri di pintu masuk gua dan melihat mereka semua pergi.

__ADS_1


Awalnya, kumpulan Orc itu terlihat besar, ketika mereka mulai menjauh dan semakin jauh, kini mereka terlihat seperti kumpulan titik hitam.


Untungnya, cuaca hari ini baik-baik saja. Tidak ada angin ataupun hujan salju.


Kali ini, mereka semua pergi untuk berperang. Selama ada perang, pasti akan ada korban.


Lina yang tidak bisa ikut berkontribusi langsung dalam perang, di hatinya hanya bisa diam-diam berdoa untuk Wiro, berharap dia tidak akan terluka.


Uriel yang baru datang untuk menemui Lina, memakaikan jubah kulit di tubuh gadis kecilnya dan berkata dengan lembut, "Di sini dingin. Tubuhmu baru saja pulih. Kamu juga masih sangat lemah. Ayo kita pulang, jangan sampai kamu sakit lagi."


Uriel tetap tinggal di Gunung Batu bersama lebih dari 30 orc lain, untuk melindungi para betina dan anak-anak mereka.


Sebagai Roh Binatang Bintang Tiga, kekuatan Uriel jauh lebih besar daripada yang lain. Bila dia yang melindungi para betina, jelas membuat para Orc jantan lainnya merasa tenang. Terlebih lagi bagi para Orc jantan yang sedang ikut berperang.


Di malam hari, Lina sedang berbaring sendirian di ranjang batu, setelah berguling-guling kesana kemari beberapa kali, barulah dia bisa tertidur.


Lina bermimpi, dia melihat Wiro dalam mimpinya.


Wiro terbaring di atas salju, tubuhnya berlumuran darah dan penuh dengan luka. Josh kemudian mendatanginya, menyeringai kepadanya, dan mengayunkan cakar serigalanya yang sangat tajam keleher Wiro.


"TIDAAAK!"


Saat itu juga Lina terbangun dari tidurnya.


Dia terengah-engah, wajahnya dipenuhi keringat dingin, dan jantungnya berdetak sangat cepat.


Adegan dalam mimpinya seolah sangat nyata, membuatnya merasa sangat ketakutan yang berkepanjangan.


Dia Kemudian memeluk tas kulit yang penuh dengan koin kristal, menutup matanya dan berbisik, "Wiro ..."


Uriel, yang sedang tidur di kamar yang lebih kecil, mendengar teriakan Lina dengan sangat jelas. Dengan panik, dia segera melompat dari ranjang batu, dan segera berlari menuju ke kamar Lina.


Sesampainya di sana, dia melihat gadis kecilnya sedang duduk meringkuk di tempat tidur, dan terlihat sangat sedih.


Uriel segera mendekatinya, duduk di depannya, tangan kirinya memegang pundak gadis itu dan tangan kanannya mengusap-usap lembut kepalanya. Kemudian bertanya dengan suaranya yang halus, namun, terdapat kecemasan pada nada suaranya, "Ada apa..? Apa ada yang salah dengan tubuhmu lagi..?"


Wajah Lina terlihat pucat, dan berkata dengan suara gemetar karena tangisnya.


"Aku baru saja bermimpi.. Aku bermimpi, Wiro terbunuh.. Aku sangat takut ..." 


Dengan jari-jari tangan kanannya, Uriel menyeka keringat dingin dan air mata di wajah gadis kecilnya, sambil berkata dengan lembut, "Jangan takut. Itu hanya mimpi. Tidak nyata. Wiro akan kembali dengan selamat."


Lina menatap wajah Uriel yang tampan untuk beberapa saat. Kemudian bergerak untuk duduk ke atas pangkuannya, merentangkan kaki kanan dan kirinya kepinggang Uriel, sambil menghadap ke arah pria itu. Dengan kedua tangannya, Lina memegang leher Uriel erat-erat, mendekatkan wajahnya ke wajah Uriel, sambil menatap matanya yang biru mempesona. Lina bertanya dengan suaranya yang masih bergetar dan terisak, “Kamu tidak akan meninggalkanku, kan? Tak satu pun dari kalian akan meninggalkanku, kan?”


Kini, mereka semua adalah anggota keluarganya. Mereka adalah orang-orang terdekatnya di dunia yang primitif ini. Dia juga tidak bisa hidup tanpa mereka.


Dengan tangan kanan dan kirinya, Uriel memegang pinggang gadis kecilnya. Sorot matanya yang penuh kasih sayang, menatap kearah mata hitam cerah milik gadis kecil itu. Kemudian berkata dengan nada suaranya yang terdengar sangat lembut, "Tentu saja, kami tidak akan pernah meninggalkanmu."

__ADS_1


Begitu Uriel selesai berbicara, Lina mengambil inisiatif untuk mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, dan menciumi bibir Uriel dengan canggung.


__ADS_2