Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 45 - Rubanah


__ADS_3

"Bagaimana ini?!"


"Kita harus kemana?!"


Saat Lina sedang tidur nyenyak, dia terbangun karena mendengar suara-suara yang sangat bising di luar.


Dia segera mengenakan pakaiannya dan turun dari tempat tidur. Kemudian, di berjalan menuju ke pintu rumah. Saat dia membuka pintu, dia melihat Sito Gering sedang berdiri dan beberapa wanita yang segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Meli juga ada di antara mereka.


Di belakang Sito Gering, banyak Orc laki-laki yang telah berlumuran darah. Mereka semua adalah pasangan para wanita ini.


"Ada apa ini? Ada masalah apa?" Lina menatap mereka curiga.


Sito Gering sangat cemas, dia tak henti-hentinya menoleh kanan kiri, kemudian berbicara, "Cepat kita semua masuk dulu, kita bicarakan di dalam!"


Segera, ruangan rumah Lina yang luas itu, kini dipenuhi oleh mereka semua.


Jenggot Sito Gering yang sebelumnya putih seputih salju, kini telah ditutupi oleh darah berwarna merah cerah. Wajah tuanya yang keriput, terlihat sangat tegang. Saat ini hatinya sedang sangat cemas.


"Para Orc dari Sungai Hitam datang ke gunung. Mereka menyerang suku kita!"


Mendengar apa yang Sito katakan, sontak saja membuat Lina sangat terkejut, "Hah?! Kenapa ini bisa terjadi?!"


Seorang Orc laki-laki yang sedang menyeka darah di wajahnya, berkata dengan marah, "Para Orc dari Sungai Hitam, mereka sudah lama mengincar Gunung Batu. Dukun mereka membawa Josh untuk mengamati situasi dan mencari tahu jalan untuk masuk kemari. Seandainya kita tahu lebih awal, bahwa ternyata Heli Belang dan Josh adalah mata-mata, mereka pasti sudah mati saat memasuki Gunung Batu!"


Lina yang penasaran, kemudian bertanya lagi dengan nada suaranya yang mulai panik, "Apakah pihak mereka membawa banyak orang? Adakah peluang bagi kita untuk menang?"


Sito Gering berkata dengan suara yang dalam, "Saat ini Wiro tidak ada dan sebagian besar Orc laki-laki Serigala Batu sedang pergi bersama Wiro. Sekarang hanya ada tujuh puluh Orc yang tersisa di Gunung Batu, lebih dari selusin dari mereka adalah wanita yang sama sekali tidak bisa bertarung. Musuh membawa hampir dua ratus Orc, mereka semua juga telah mempersiapkan diri mereka untuk menyerang. Kami yang hanya berjumlah sedikit, tidak memiliki peluang sama sekali."


Begitu dia mendengar ini, ekspresi Lina menjadi sangat jelek.


Itu karena Lina sedang berpikir lebih jauh, dari yang para Orc ini pikirkan.


"Jika Heli Belang dan Josh ada di sini untuk mencari jalan masuk, itu berarti, sejak awal mereka telah merencanakan untuk mencaplok wilayah Serigala Batu!"


"Dan kemudian serangkaian hal yang terjadi, dari provokasi yang disengaja oleh Avi, hingga pecahnya kontradiksi antara kedua belah pihak. Wiro membunuh Avi, Heli Belang dan Josh melarikan diri. Kemudian Wiro yang membawa banyak orang untuk mengejar mereka. Mereka sengaja memancing Ular keluar dari gua dan membuat mereka mengejar hingga menjauhi gunung!"


"Pemikiran mereka yang bisa sampai seperti ini, sungguh menakutkan!"


Sebelumnya, Lina mengira kalau para Orc primitif ini hanyalah sekelompok orang kasar, yang hanya meminum darah dan memakan makanan mentah. Sifat mereka juga sederhana dan apa adanya. Sekarang, sepertinya Lina sudah salah mengira tentang mereka.


"Aku tidak menyangka, ternyata di antara para Orc ini, ada beberapa Orc yang sangat pintar."


Lina mulai semakin khawatir, dia kemudian menggumam, "Jika semua ini adalah strategi yang sudah diatur oleh pihak lawan, apakah itu artinya Wiro dan Uriel juga dalam bahaya?!"


Tetapi, sebelum dia bisa menanyakannya, Sito Gering sudah terlebih dahulu mendorongnya dan para wanita untuk segera berjalan, menuju ke arah dapur.


Kemudian Sito Gering yang masih merasa sangat cemas, memandang Lina dengan sangat serius, "Cepat, bawa para betina untuk bersembunyi, apa pun yang terjadi di luar, jangan pernah keluar dari persembunyian kalian!"


Para betina ini semuanya sedang hamil, tidak boleh sama sekali mengalami kecelakaan yang membahayakan nyawa mereka.

__ADS_1


"Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Lina kepada Sito, dengan nada suaranya yang sedikit bergetar karena takut.


Sito tersenyum, terlihat raut putus asa dari wajahnya, tetapi kali ini, dia berusaha berbicara dengan sedikit tenang, "Kami akan membantumu menjaga pintu."


Lina yang memahami apa maksud perkataan Sito Gering, kemudian dengan erat menggenggam tangan Sito, dengan cemas berkata, "Tidak, kalian akan dibunuh oleh mereka! Sembunyilah bersama kami!"


Sito yang berharap, apa yang akan para laki-laki lakukan tidak akan sia-sia, dengan tegas berkata kepada Lina, "Para laki-laki Serigala Batu, bukanlah pengecut yang akan bersembunyi untuk melarikan diri, kami lebih baik tewas dalam pertempuran, sebagai pahlawan! Terlebih lagi, itu sudah tanggung jawab setiap laki-laki untuk melindungi perempuan!"


Begitu Sito selesai mengatakan itu, dia segera melepaskan pegangan tangan Lina dan mendorongnya masuk ke dalam ruangan dapur.


Para wanita itu dalam kondisi yang buruk. Pakaian mereka berantakan, wajah mereka penuh air mata, dan mata mereka penuh dengan kepanikan dan kegelisahan.


Terutama Meli, wajahnya kini sepucat kertas, bahkan berdirinya pun goyah.


Lina yang menyadari keadaan Meli yang terlihat sangat pucat, segera menahan Meli supaya tidak terjatuh, kemudian menatap kearah Oki dan Sito, mencoba membujuk mereka lagi untuk ikut bersembunyi bersama para wanita.


Tapi sebelum dia sempat berbicara, dia mendengar suara langkah kaki yang berlari tidak teratur, mendekat kearah mereka dengan cepat.


"BUK! BUK! BUK! BUK! BUK!"


Seketika, para wanita di ruangan itu mulai menjadi semakin panik.


"Bersiaplah! Mereka datang!" Oki yang sedari tadi pandangan matanya selalu tertuju ke arah pintu masuk rumah, mencoba memberitahukan kepada semua yang ada di ruangan itu, dengan suara yang tidak keras!


Saat itu juga, para Orc laki-laki dengan mata galak mereka, berbalik dan bergegas menuju ke pintu masuk rumah, menghalangi-halangi musuh yang mencoba untuk masuk.


Sito yang juga mendengar apa yang Oki katakan segera melepas kalung yang melingkar di lehernya, kemudian menyerahkan kalung gigi serigala itu kepada Lina, "Jika aku mati, berikan kalung ini kepada Wiro dan biarkan dia membalaskan dendam kita!"


“Kemari! Dasar b*j*ng*n! Hari ini akan kutunjukkan, betapa kuatnya klan Serigala Batu!” Teriak Sito Gering membangkitkan semangatnya.


Lina yang masih berdiri dan bersandar di balik pintu dapur, sudah tak bisa menahan perasaannya lagi. Saat mendengar teriakan Sito, hatinya menjadi sangat sedih. Sito Gering, yang selalu membantu mengobati di saat Lina sakit dan selalu memberikan nasehat-nasehat kepadanya.


Lina merasa, ini adalah saat-saat terakhir baginya, bisa berbicara dengan Sito Gering.


Punggung yang tadinya berdiri dan bersandar di pintu dapur, kini sudah melorot terduduk di tanah. Wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata.


"ARRRGH!"


"B*J*NG*N!"


"OWAHHH!"


"MATI KAU!"


"HIAAAT!"


Suara-suara pembantaian di luar, memekakkan telinga orang-orang yang berada di dapur.


Deraian air mata dan tangisan yang tertahan tanpa suara, memenuhi seisi ruangan dapur.

__ADS_1


Hingga akhirnya, suara Oki dan Sito segera tenggelam dan tak terdengar lagi.


Pintu papan yang tipis, sama sekali tidak akan bisa menghentikan Orc yang ganas.


Lina segera menghapus air mata di wajahnya, menekan kesedihannya dan memaksa dirinya untuk kuat, kemudian segera bangkit dan berkata kepada para wanita, "Ikuti aku. Cepat."


Di bagian bawah dapur, adalah ruang bawah tanah tempat penyimpanan makanan. Hanya sedikit orang yang tahu tempat ini.


Selain Lina, Uriel dan Wiro, hanya Sito dan Meli yang sering mengunjungi rumah mereka, yang mengetahuinya. Itulah kenapa Sito Gering membawa para wanita kemari, karena keluarga Lina adalah satu-satunya keluarga yang memilik ruang bawah tanah, di suku Serigala Batu ini.


Ruang bawah tanah itu letaknya sangat tersembunyi dan ada cukup makanan di dalamnya, juga tempat yang sangat cocok untuk mereka bersembunyi.


Kemudian Lina segera membuka tutup lantai dan membiarkan para Orc betina untuk masuk lebih dulu.


Lina adalah orang terakhir yang masuk ke ruang bawah tanah. Saat sudah berada di dalam ruang bawah tanah, Lina dengan hati-hati menarik lantai penutup hingga tertutup sempurna. Dan segera mengambil tongkat yang ada di dalam ruang bawah tanah, untuk menahan pintu penutup itu dari bawah.


Saat ini tubuh Meli sudah kehabisan tenaga. Dia duduk di tanah dengan punggungnya yang bersandar di dinding batu, wajahnya tidak ada noda darah sedikitpun, tapi dia terus-menerus berkeringat.


Delam keadaanya yang masih cemas, takut dan sedih. Lina masih bisa melihat kalau kondisi Meli sepertinya tidak beres.


Dia curiga bila ada luka di tubuh Meli, jadi dia dengan segera memeriksa tubuhnya dan mencari-cari di mana lukanya.


Tanpa diduga, dia menemukan lendir di tanah, yang mengalir keluar dari tubuh bagian bawah Meli.


"Ini ...!! Aku tidak berharap dia akan melahirkan disaat seperti ini. Ini terlalu berbahaya!"


Melihat apa yang terjadi, para betina semakin ketakutan dan gelisah.


Lina menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, membuat gerakan diam kepada mereka supaya tenang.


"Sssst.. Diam.. Jangan ada suara.." Lina berbisik sangat pelan kepada para wanita.


Saat itu juga, mereka mendengar suara langkah kaki dari atas mereka.


"BUK! BUK! BUK!


Banyak orang yang sedang berada di dapur dan mereka berjalan kesana kemari, seolah sedang mencari sesuatu.


Ruang bawah tanah itu tidak dalam atau pun tinggi, juga tidak begitu luas. Tubuh Lina tidaklah tinggi. Selama Lina berdiri tegak, kepalanya pasti bisa menyentuh langit-langit.


Suara langkah kaki di atas kepalanya, terdengar sangat jelas di telinganya. Dia bahkan bisa mendengar percakapan orang-orang di atas.


"Aku sudah mencarinya. Tapi tidak ada seorang pun di ruangan ini!" Kata seseorang yang berada di dapur, sedang bermonolog.


“Tidak mungkin! Gadis kecil itu tinggal di rumah ini. Dia pasti masih ada di rumah ini. Bahkan jika aku harus menggali, aku pasti akan mendapatkannya!” Suara orang yang sama, dengan yang baru saja berbicara.


Suara itu adalah suara, Josh.


Dengan jantung yang terus berdebar sangat kencang. Para betina menutup mulut mereka rapat-rapat dan diam membeku di tempat. Mereka sangat takut orang-orang yang berada di atas, akan mengetahui keberadaan mereka.

__ADS_1


Mereka sangat tahu betul, jika mereka sampai ketahuan, itu akan menjadi akhir yang sangat mengerikan bagi mereka.


__ADS_2