Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 114 - Kami Ingin Tinggal Di Sini


__ADS_3

Wiro masih merasa tidak percaya.


"Jika kamu tidak berarti baginya, kenapa dia berani melakukan sesuatu padamu?"


"Dia hanya merasa belum kenyang dan butuh makan. Dia juga sengaja datang untuk bermain dan menggoda orang. Meskipun jika dia berubah menjadi wanita, dia juga akan melakukan hal yang sama. Jadi tidak usah terlalu memikirkannya."


"Betulkah begitu?" Tanya Wiro yang masih ragu.


Lina mengangguk-angguk


"Iya, sungguh! Memang benar begitu."


Leon mengatupkan giginya dan tetap dalam diam.


"Si betina ini! Seenaknya saja dia berkata seperti itu? Apakah aku terlihat seperti sedang kelaparan?!"


Lina memegang tangan Wiro dengan erat karena takut dia akan bertarung dengan Leon.


"Kekuatan penghancur dari kedua orang ini luar biasa. Jika Wiro benar-benar memulai perkelahian, mereka pasti akan meruntuhkan seluruh rumah ini!"


Kemudian Lina berkata kepada Leon, "Jika tidak ada hal lain lagi, kamu boleh pergi. Setelah aku menyelesaikan obatnya, aku pasti akan meminta Wiro atau Uriel untuk mengirimkannya kepadamu."


Leon merasa tidak senang.


Matanya tertuju pada tangan Lina dan Wiro yang saling berpegangan, dan baginya terasa sangat menarik.


"Apakah kamu mengusirku?"


Lina sudah paham dengan karakter Leon. Jika dia menjawab ya, dia pasti akan mati. Jadi dia hanya bisa berkata dengan halus, "Wiro dan aku masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yang tidak baik bila dilihat orang luar."


"Orang luar?" Leon tersenyum kaku, "Aku dan kamu bahkan sudah mempunyai anak, orang luar seperti apa maksudmu?"


Saat ini Lina sudah sangat tak berdaya.


"Kenapa kamu terus menggodaku? Aku sudah bilang kalau aku aka ..."


Leon memotong perkataan Lina, "Sudahlah, aku sedang tidak ingin bercanda." Kemudian dengan cepat dia mengakhiri percakapan dan beralih ke hal lain. "Aku lupa memberitahukan padamu sesuatu. Tadi saat aku terbang turun, aku melihat ada Orc jantan dari klan Serigalamu yang mengikuti Ida. Sepertinya dia akan pergi ke suku Sungai Hitam."


Saat mendengar itu, Wiro dan Lina langsung saling memandang. Orc yang pertama kali mereka pikirkan adalah, Pay No.


"Apa yang Pay dan Ida lakukan dengan pergi ke klan Sungai Hitam?" Tanya Lina kepada Wiro.


Wiro, "....."


Wiro terdiam karena tidak tahu apa yang Pay dan Ida lakukan, dengan pergi ke suku Sungai Hitam.


Saat ini Leon sudah mengulurkan tangannya kedepan Lina.


"Aku sudah memberikan informasi penting seperti itu. Apakah kamu akan memberikanku biji bunga matahari sebagai hadiah?"

__ADS_1


Lina, “....."


Lina terdiam sesaat, kemudian berkata, "Aku tahu kalau kamu bukan hanya suka dengan biji bunga matahari, tapi kamu si biji bunga matahari. Kamu sudah terlalu tergila-gila makan biji bunga matahari."


Kemudian Lina berjalan masuk ke dapur, dan kembali membawa sekantung besar berisi biji bunga matahari dan melemparkannya kepada Leon.


Leon menangkapnya ke dalam pelukannya, dan kemudian melambai pada si pria kecil.


"Saatnya kita pulang."


Si kuncup bunga kecil pun dengan enggan mengucapkan selamat tinggal kepada adik laki-laki dan adik perempuannya, juga dengan enggan menggosok telapak tangan Lina, kemudian setelah itu dia pergi bersama dengan Leon.


Untuk berjaga-jaga, Wiro memutuskan untuk mengirim seseorang ke suku Sungai Hitam, untuk menyapa Khodi Kodi dan Booker, dan meminta mereka untuk menjaga Pay, dan tetap mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh Ida Ruln.


...........


Beberapa hari kemudian.


Saat ini Wiro sedang menerima berita yang sangat mengejutkan, yang disampaikan oleh Orc yang dia utus untuk pergi ke klan Sungai Hitam.


"Ada keributan sipil di dalam klan Mustang! Booker sang ketua suku meninggal di tangan adiknya, Nanto. Dialah yang kini menjadi kepala suku baru di klan Mustang!" Ucap Orc yang baru kembali dari klan Sungai Hitam.


Wiro berseru karena sangat terkejut mendengar hal itu.


"Apah?!"


Kemudian Orc tersebut melanjutkan, "Saat ini Khodi Kodi sang Dukun, menolak untuk mengakui status Nanto sebagai pemimpin klan. Dan hanya dalam semalam, Dukun Khodi membawa Orc yang telah ditinggalkan oleh Booker dan melarikan diri dari klan Kuda Liar."


"Orc yang pemberani dan heroik, dengan kepala merahnya dan senyum cerahnya itu kini telah mati dalam diam?! Sebagai ketua klan Mustang, Booker memiliki daya tarung yang sangat kuat. Tidak akan ada seorang pun di seluruh suku Sungai Hitam yang bisa mengalahkannya! Bagaimana dia bisa sampai terbunuh?! Apa yang sudah terjadi di sana?!"


Pada saat Wiro masih terkejut, tidak mengerti dan masih sedang berpikir, ada hal tak terduga lainnya yang kini terjadi.


"Siapa yang baru saja kamu katakan?" Wiro mencoba bertanya lagi, karena tadi sedang tidak fokus setelah mendengar berita dari Orc suruhannya.


Rei mengulangi lagi apa yang tadi sudah dia katakan.


"Khodi Kodi sang Dukun dari klan Mustang datang ke kaki Gunung Batu, dia datang dengan membawa lima puluh tujuh Orc kuda liar. Sang Dukun meminta untuk bertemu dengan ketua. Dia berkata ada hal penting yang ingin dibicarakan secara langsung dengan ketua."


Sejenak Wiro berpikir, kemudian memutuskan untuk turun Gunung menemui Khodi.


Tapi sebelum Wiro pergi, dia menasihati Lina, "Kamu dan anak-anak tetap tinggal di rumah, jangan lari-lari."


"Aku bukan anak kecil, apa yang kamu maksudkan? Kamu urusi urusanmu saja, aku bisa menjaga anak-anak." Ucap Lina.


Kemudian Wiro memeluk Lina dan ******* bibirnya, lalu turun gunung dengan perasaan puas.


Ketika dia sampai di kaki gunung dan melihat Khodi Kodi, Wiro dikejutkan dengan Khodi yang terlihat tua dan kurus.


Hanya dalam beberapa bulan saja, Khodi Kodi telah terlihat berusia lebih dari sepuluh tahun, dengan rambut putihnya yang berantakan tidak teratur, matanya yang berlumpur dan keabu-abuan, dan rok bulunya yang kotor tertutup oleh debu.

__ADS_1


Khodi Kodi maju ke depan dengan bantuan dua laki-laki muda dan memberi hormat dengan gemetaran.


"Hormat kami kepada ketua klan Serigala Batu."


Kemudian dengan cepat Wiro memegang lengan Khodi.


"Ada apa denganmu?"


Khodi Kodi menghela nafasnya.


"Hhhh! Semua masalah ini disebabkan oleh si rubah betina!" Jawab Khodi.


"Rubah betina? Apa yang kamu maksud adalah Ida Ruln?" Tanya Wiro.


Orc jantan muda yang membantu memegang Khodi dengan cepat menjawab, “Ya, itu dia! Apakah anda mengenalnya juga?” Orc muda yang berbicara ini adalah murid Khodi Kodi bernama, Ewan.


Kemudian Wiro menceritakan tentang Ida Ruln yang datang ke Gunung Batu.


Setelah mendengar semua cerita Wiro, Khodi Kodi menjadi semakin bersemangat.


"Ternyata dia telah mengekspos ekor rubahnya di Gunung Batu! Jika aku tahu hal ini lebih dini, meskipun aku harus mati, aku pasti sudah menghentikan Booker dan mencegah si Rubah itu melangkah masuk ke suku Sungai Hitam!"


Melihat kelakuan Khodi yang memukuli kakinya, dan dadanya dengan penuh penyesalan, Wiro pun mengerutkan keningnya.


"Apa yang sudah terjadi? Apakah kematian ketua Booker ada hubungannya dengan Ida Ruln?"


Saat ini Ewan telah dipenuhi dengan kemarahan.


"Ida lah yang membunuh ketua Booker! Awalnya dia datang ke suku kami dengan seekor Serigala jantan. Ketua yang merasa kasihan saat melihatnya, akhirnya pun setuju untuk membawa Ida dan pasangannya. Tapi tanpa diduga, dia berkolusi dengan Nanto dan membunuh Ketua Booker!"


Wiro berpikir sejenak, kemudian berkata, "Meskipun ketua Booker impulsif, dia jelas bukanlah laki-laki tanpa otak. Bahkan jika Ida Ruln berkolusi dengan Nanto, dia mungkin tidak akan sampai terluka. Apakah ada hal lain di balik kejadian ini?"


Ewan menggerakkan bibirnya, tetapi akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa.


Pada saat ini Khodi Kodi mengepalkan tinjunya dan mengatupkan giginya kemudian berkata, "Booker jatuh cinta pada Ida Ruln, dan mereka menjalin kontrak pasangan. Booker yang selalu mematuhi kata-kata Ida, tidak pernah menyangka kalau Ida Ruln pada akhirnya akan mengkhianatinya. Dia diracun oleh Ida, dan kemudian dibuang oleh Nanto ke sungai hitam, dan tenggelam hidup-hidup."


Memikirkan tragedi kematian Booker, Khodi dan semua Orc kuda liar yang ada di belakangnya kini terlihat sangat menyedihkan.


Mendengar semua cerita ini, Wiro tidak bisa menahan amarahnya.


"Duel antara sesama laki-laki harus tetap dilakukan. Kalau aku sudah pasti akan melakukannya, entah itu aku akan hidup atau mati. Aku tidak akan pernah menggunakan cara licik seperti meracuni lawanku!"


Tidak heran jika Khodi dan para Orc kuda liar ini tidak mau mengakui posisi Nanto sebagai pemimpin klan. Jika dilihat dari caranya, sudah benar-benar memalukan.


"Orc licik dan pengecut semacam ini tidak layak untuk menjadi pemimpin klan!" Ucap Wiro dengan sengit.


"Meskipun kami telah melarikan diri dari suku Sungai Hitam, Nanto masih menolak untuk melepaskan kami. Dia telah mengirim orang-orangnya untuk membunuh kami, kalau kami sampai tertangkap, kami pasti akan mati. Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sekarang kami benar-benar putus asa. Kami hanya bisa datang ke klan Serigala Batu dan memintamu untuk menerima kami, walaupun hanya sementara kamu mengijinkan kami untuk tinggal di sini.." Pada titik ini, Khodi berlutut dan menatap Wiro. Saat ini tubuh yang tipis dan reyotnya, menjadi tampak lebih dan lebih kurus lagi.


Wiro tidak ragu-ragu dan tidak perlu berpikir panjang lagi, dia pun langsung menyetujui permintaan Khodi.

__ADS_1


"Aku bisa menerima kalian, tetapi kamu harus memberikan cap jarimu pada gulungan kontrak ini."


__ADS_2