
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[[[ ๐๐ Maaf bgt bgt bgt kakak kakak yang ganteng ganteng dan cantik cantik.. Maaf kalo upnya agak sering bolong-bolong.. Karna PPKM akhir tahun kemaren, banyak bgt kerjaan kantor & lapangan yang tertunda.. ]]]
[[[ Tapi thothor usahakan untuk tetep bisa up kok kak.. ]]]
[[[ Kalo bener-bener ada waktu longgar, insya allah thothor pasti crazy up.. ]]]
[[[ Sekali lagi maaf bgt ya kakak kakak semuanya.. ๐๐ ]]]
[[[ Semoga kakak kakak semua selalu dalam keadaan sehat ya.. Amiinn.. ๐๐ท ]]]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah itu, Lina mengeluarkan busur dan anak panah, lalu mengikat benih tanaman merambat mutan ke ujung anak panah.
"Hah.. Hah.. Iblis-iblis k*p*r*t! Aku tidak percaya jika kalian tidak bisa mati!" Ucap Leon yang saat ini mulai sedikit kelelahan dan kewalahan, sambil terus menendang dan memukul para Orc Kucing Liar Iblis.
"BRAK! DUAGH! DESSH!"
"SYUT! SYUT! SYUT! SYUT!"
"DUARR! DUAR! DUARR!"
"KEPUNG DIA! JANGAN BIARKAN DIA KABUR LAGI!" Seru Handi memberikan perintah kepada para pasukan Iblisnya.
"HUWAAUWW!"
Pada saat ini, Lina terus memperhatikan medan perang untuk mencari lokasi sosok dingin berada, sambil memegang anak panah yang telah dia posisikan pada tali di busur panah.
"Itu dia! Lumpuhkan Rajanya terlebih dulu!" Pikir Lina.
Setelah menemukan posisi Ular King Kobra, Lina pun mulai menarik tali pada busur panah, yang sudah dia arahkan pada King Kobra!
"Uuuuhh.."
Tapi, karena kondisinya yang masih lemah dan tidak memiliki banyak kekuatan, alhasil, busur panah tidak bisa Lina tarik secara maksimal!
Tiba-tiba saja, pada saat ini Kubucil mengulurkan rantingnya, lalu melilitkannya pada seluruh tangan Lina, untuk membantu Lina memegang busur panah dan menarik tali pada busur panah.
Dengan bantuan kekuatan Kubucil yang lebih kuat dari Lina, kini busur panah bisa Lina tarik dengan sangat mudah, hingga membuat suara berderit.
"KREKET! KREKET!"
Lina pun menoleh menatap Kubucil dan berkata, "Terima kasih.."
Mendengar apa yang Lina katakan, kelopak bunga Kubucil pun memerah, seolah-olah saat ini dia sedang merasa malu.
...........
Pada saat ini, Lina masih sedang menunggu momen yang tepat untuk menembakkan anak panah, sambil setengah berjongkok di dalam rumah pohon di balik jendela, dan telah memposisikan ujung anak panah keluar dari celah jendela.
"Sekarang saatnya!" Gumam Lina.
Saat melihat adanya kesempatan, dia pun mulai menghitung mundur.
"Tiga!"
"Dua!"
"Satu!"
"Tembak!"
Saat itu juga, saat jari-jarinya yang dia gunakan untuk menjepit ujung belakang anak panah dia longgarkan, anak panah pun segera melesat dengan sangat cepat!
"ZIIIINGG!"
Tapi, saat anak panah yang melesat sangat cepat mulai mendekati King Kobra, Orc Ular yang memiliki indera sangat tajam itu bisa merasakan adanya bahaya, yang dengan sangat cepat sedang mendekati dirinya!
"Hah!"
Secara naluriah, dia pun segera mundur beberapa langkah untuk menghindar, lalu menatap kearah anak panah yang kini sudah menancap di tanah di antara rerumputan, tepat di jalur di mana dia berdiri sebelum dia menghindar!
"Benda apa itu?!" Gumam si King Kobra heran.
Setelah itu, dia pun segera menoleh untuk mencari dari mana arah anak panah itu berasal, dan dengan penglihatan Orcnya yang sangat tajam, dia bisa melihat ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik jendela, di dalam rumah pohon!
"Dari sana rupanya!"
Setelah berkata seperti itu, dia pun menjulurkan lidah Ularnya yang berwarna merah, dan bisa terlihat lidahnya yang sebelumnya terluka kini telah sembuh.
"Sepertinya gadis itu tidak takut mati!"
Setelah dia berkata seperti itu, dia pun bersiap-siap untuk menuju kerumah pohon, untuk segera menangkap Lina.
Tapi..
Tiba-tiba saja terdengar suara dedaunan yang saling bergesekan, dari arah anak panah yang menancap di tanah!
"KRASAK! KRASAK! KRASAK!"
Tak berselang lama, tiba-tiba muncul tanaman merambat mutan raksasa, yang tumbuh dengan sangat cepat!
"WUSSHH! WUSHH!"
__ADS_1
Selusin tanaman merambat berwarna hijau tua, dengan ranting-rantingnya yang tebal, sedang menari-nari di udara dengan liar dan hendak melilit King Kobra yang berada paling dekat dengannya.
"KESESESES!"
"WUT! WUT! WUT!"
Tapi, dengan reaksi King Kobra yang sangat cepat, dia pun segera mengeluarkan kemampuan anginnya, untuk segera memotong tanaman mutan yang hampir menggapai dirinya!
"HAH! WUSSHH!"
"CRASH! CRASH!"
Tapi tidak bagi para Orc Iblis yang berada dekat dengan tanaman merambat mutan. Mereka yang tidak memiliki reaksi secepat King Kobra, segera dililit oleh tanaman rambat mutan raksasa, lalu dilempar tinggi ke udara, hingga jatuh dengan sangat keras ke tanah!
"SWIING! SWING! SWING!"
"SYUUT! BRAK! BUGH!"
"UUGHHH!"
Lina yang sedang bersembunyi di balik jendela pun sangat terkejut saat melihat hal ini, hingga membuat kedua matanya yang bulat besar kini semakin terlihat besar.
"Hah??"
"Sejak kapan tanaman merambat mutan ini menjadi sangat besar dan ganas?" Pikir Lina yang sedang keheranan, saat melihat tanaman merambat mutan yang kini menjadi sangat agresif.
"Itu karena kekuatan dari Benih Suci yang kini telah bangkit. Kekuatan dari Benih Suci dapat meningkatkan kekuatan serangan dan juga membakar vitalitas tanaman mutan. Dan saat vitalitas tanaman mutan telah terbakar seluruhnya, mereka juga akan terbakar dan meledak hingga menjadi abu." Kata Bubu.
Setelah mendengar apa yang Bubu katakan, sontak saja membuat Lina tercengang.
Lina, "....."
"Kekuatan tanaman merambat mutan meningkat pesat, dengan cara mengorbankan diri mereka sendiri?" Pikir Lina.
Beberapa saat sebelum ini, sebenarnya Lina ingin menembakkan beberapa anak panah lagi, yang telah dia ikatkan dengan benih mutan pada ujung depan anak panah.
Tapi kini dia mulai ragu-ragu, setelah melihat semua itu.
Meskipun itu hanyalah tanaman, tapi dia tetap merasa bersalah.
"Tidak usah ragu." Kata Bubu.
Klan Iblis memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka mereka dengan cepat, dan juga mereka tidak bisa merasakan sakit sedikitpun. Hal itu tentu saja membuat mereka bertempur seperti orang gila, dan menjadi pembunuh gila tanpa mempedulikan keselamatan diri mereka sendiri, maupun rekan-rekan mereka.
Teknik yang mereka gunakan, sepertinya sama dengan teknik penyembuhan milik Kuil Bulan Gelap, yang dapat menyembuhkan luka apa pun dengan cara mengorbankan nyawa makhluk hidup lainnya.
"Tidak perlu terlalu banyak berpikir. Anda hanya tinggal memilih mana yang menurut anda paling baik. Lagipula anda masih memiliki banyak benih tanaman mutan yang masih anda simpan. Meskipun jika benih yang anda miliki telah habis, tidak perlu khawatir, anda bisa terus membelinya di mall kristal."ย Kata Bubu lagi.
Saat mendengar apa yang baru saja Bubu katakan, tiba-tiba saja Lina teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Tuan Trenggiling padanya..
...------------...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...------------...
"Apa mungkin Tuan Wisnu tahu, kalau suatu saat nanti, aku akan dihadapkan pada pilihan seperti ini?"
Setelah menebak-nebak seperti itu, Lina pun segera membuka mulutnya lagi, "Saat ini aku hanya sedang merasa sedikit takut.. Jika aku terus-terusan ikut bertarung dengan cara mengorbankan kehidupan makhluk lain, apa bedanya antara aku dengan para bajingan dari Kuil Bulan Gelap, yang menyerap vitalitas para Orc untuk penyembuhan?"
"Tapi tumbuhan berbeda dengan para Orc." Kata Bubu.
"Di mana bedanya? Bukankah mereka semua sama-sama hidup?" Kata Lina.
Bubu, "....."
Setelah membantai lebih dari tiga puluh Orc Kucing Liar Iblis, tanaman merambat mutan akhirnya menggunakan vitalitas terakhir mereka, dan meledakan diri mereka hingga hancur menjadi kabut hijau gelap, yang tak terhitung jumlahnya!
"BYARR! BYAR! PYARR! DUAR!"
Hal itu tentu saja membuat Lina yang menyaksikan semua ini menjadi sangat ketakutan, hingga membuat tubuhnya menggigil.
"Me.. meree.. ka.. benar-benar mengorbankan diri mereka.."
...........
"HIAATT!"
"DUAGH! PRAK! BUGH!"
"BRAK!"
"K*p*r*t! Stamina mereka seperti tidak pernah ada habisnya!" Pikir Leon.
Merasa sudah hampir mencapai batasnya, dengan kondisinya yang belum pulih sempurna setelah pertarungannya dengan Handi Kobra saat di wilayah klan Iblis, akhirnya Leon pun memutuskan untuk menghindar dari kepungan para Orc Iblis, lalu dengan sangat cepat terbang menuju ke jendela rumah pohon, dan memeluk tubuh Lina untuk segera kabur dari situ!
"Hah.. Hah.. Hah.."
"BLAK! BLAK! BLAK! WUSSSHH!"
"BRAK!"
"TAP!"
__ADS_1
"Ah! Leon!" Pekik Lina yang terkejut, saat dirinya dipeluk dan dibawa keluar dari rumah pohon oleh Leon.
"Br*ngs*k! Ini adalah yang kedua kalinya aku harus kabur dari pertempuran melawan mereka!" Batin Leon yang saat ini sedang merasa sangat kesal.
Meskipun dia masih sangat ingin bertarung hingga titik darah penghabisan, saat ini keselamatan Lina jauh lebih penting dari pada itu.
Pada saat ini, Handi Kobra yang sedari tadi terus menatap ke arah rumah pohon, sedang merasa sangat kebingungan.
"Bagaimana caranya gadis itu bisa kembali dari kematian?" Pikir Handi dengan bingung.
"Selain itu, belum pernah sekalipun aku melihat, senjata yang terbuat dari kayu kecil yang tadi gadis itu tembakkan. Dan lagi, ada tanaman hidup besar yang tiba-tiba saja muncul, lalu meledakkan diri mereka.. Gadis yang sangat misterius! Semua ini pasti hanya gadis itu yang bisa menjawabnya.. Jika aku bisa menangkap gadis itu, pasti akan ada banyak hal dan keuntungan yang bisa aku dapatkan!"
Saat berpikir seperti itu, dia pun segera tersadar saat melihat Leon yang baru saja keluar dari rumah pohon sambil memeluk Lina!
"HUP!"
Melihat ini, dengan cepat dia pun segera membuka mulut Ularnya, dan saat itu juga hembusan udara yang memiliki energi sangat kuat segera melesat keluar, yang membentuk seperti bilah angin yang sangat tajam, melesat dengan sangat cepat menuju ke arah Leon!
"HAH! SYUT! WUSHH! WUSHH! WUSH!"
Mendapat serangan cepat dan mendadak, Leon yang baru saja melompat dan belum sempat mengepakkan sayapnya lebih dari sekali harus segera mengambil keputusan cepat, dan menggunakan sayapnya yang lebar untuk menghalau serangan angin si Kobra Raja!
"Sial!"
"WUNGG! DASHH! CRASH! CRASH! CRASH!"
Akibatnya, bulu-bulu berwarna merah darah pada sayapnya yang lebar, banyak yang terpotong, dan tersebar ke berbagai arah tak jauh dari dirinya!
Hal ini tentu saja membuat kecepatan terbang Leon kini melambat!
"Ular br*ngs*k!"
Melihat kesempatan ini, King Kobra pun segera melingkarkan dirinya hingga membentuk seperti pegas, dan memelantingkan dirinya untuk mendekati Leon, lalu membuka mulutnya untuk menggigit kaki Leon!
"TWENGG!"
"WUSSSHHH!"
"KRESH!"
"AAAKHH!"
Merasakan sakit pada kakinya yang tertembus oleh taring-taring besar King Kobra, Leon pun segera membalas dengan memukul kepala si King Kobra dengan menggunakan tangannya yang kini telah terdapat bola api yang sangat panas, hingga membuat King Kobra melepaskan gigitannya dan jatuh ke tanah!
"DUAGH!"
"OARRRGHH!"
"BRAK!"
Setelah itu, dengan sangat cepat Leon segera mengepakkan sayapnya, untuk segera pergi menjauhi si King Kobra!
"BLAK! BLAK! WUSHHH!"
"BLAK! BLAK! BLAK! WUSHHH!"
...........
Hingga hari hampir gelap, Leon yang telah terbang untuk waktu yang lama, akhirnya memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di sebuah pohon besar.
"Kita berhenti di sini. Kamu istirahat saja dulu dan tunggu aku di sini. Aku akan pergi mencari air."
Saat Leon hendak terbang pergi, Lina buru-buru meraih tangan Leon lalu berkata, "Tidak usah pergi mencari air. Aku punya persediaan air."
Mendengar apa yang Lina katakan, Leon pun mengangguk lalu segera duduk dan menyandarkan tubuhnya pada pohon besar yang ada di belakangnya, sambil memejamkan matanya.
Tapi, saat matahari yang masih sedikit bersinar menyinari wajah Leon, saat itulah jantung Lina berdebar-debar, saat melihat wajah Leon yang kini terlihat sangat pucat!
"Bukankah tadi Leon tergigit oleh si King Kobra? Dilihat dari wajahnya yang sangat pucat, dia mungkin terkena gigitan basah dari Ular itu!"
Setelah berpikir seperti itu, Lina pun segera menunduk untuk merobek bagian bawah jubah Leon!
"BREETT!"
"Seperti yang aku duga.. Di sekitar lukanya kini terlihat lebam dan berwarna ungu kehitaman. Darahnya juga terus menerus mengalir keluar.." Pikir Lina.
Setelah itu, dengan cepat dan sangat terampil, Lina yang saat ini telah memegang pisau tulang pun segera menyayat telapak tangannya sendiri, lalu segera menyodorkannya kearah Leon sambil berkata, "Hisap darahku! Racun di tubuhmu pasti akan segera terurai! Cepatlah!"
Sambil duduk di atas dahan pohon yang besar, Leon pun tetap mengikuti apa yang baru saja Lina katakan, meskipun dia hanya menghisap sedikit saja darah Lina.
Setelah Leon selesai mengisap darahnya, Lina pun segera membalut luka di telapak tangannya, lalu melihat luka yang ada di kaki Leon.
"Meskipun garis-garis hitam di kakinya telah berangsur-angsur memudar, tapi kenapa wajahnya masih saja terlihat pucat? Dia juga masih sangat terlihat lemah.. Seperti tidak ada tanda-tanda kalau dia telah sembuh dari racun King Kobra.." Batin Lina yang saat ini sedang merasa heran dan bingung.
Saat itu juga, tiba-tiba saja terdengar suara Leon yang berkata dengan lemah, "Aku sangat takut jika aku harus mati.."
"Tidak! Kamu tidak akan mati! Kamu pasti akan baik-baik saja!"ย Sahut Lina cepat, dengan nada suaranya yang terdengar sedikit bergetar, dan kedua matanya yang kini terlihat memerah karena merasa sangat cemas.
Saat Lina menyodorkan tangannya untuk memberikan darahnya lagi pada Leon, Leon pun segera menolaknya sambil berkata dengan suaranya yang terdengar lemah, "Tidak usah membuang-buang darahmu lagi.. Lagi pula sekarang ini aku sedang sekarat.."
"Aku pasti akan menyembuhkanmu! Pasti! Jangan pernah berkata seperti itu lagi!" Kata Lina, dengan air matanya yang kini telah menetes dari kedua sudut matanya.
Saat melihat air mata Lina yang menetes, dengan lemah Leon pun mengulurkan tangannya, lalu dengan sangat lembut ibu jarinya menyeka air mata yang menetes di pipi Lina, kemudian tersenyum sambil berkata dengan suaranya yang terdengar hangat dan lemah..
"Mati pun aku tidak akan pernah menyesal.. Bisa melihatmu meneteskan air mata untukku, sebelum kematian datang menjemputku.."
__ADS_1