Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 31 - Tunggu Aku Di Rumah


__ADS_3

Setelah Meli pulang, Lina berjalan masuk ke ruang bawah tanah, membuka toples batu dan mengeluarkan buah sumber yang ada di dalam toples tersebut.


Meli sempat mengajarkan kepada Lina, bagaimana caranya menggunakan buah sumber, sebelum dia pulang. Sekarang dia ingin mencoba sendiri menggunakan buah sumber itu.


Di dalam toples itu terdapat beberapa buah sumber. Setiap harinya, Uriel pergi untuk memetik lebih dari sepuluh buah. Lina juga telah mengkonsumsi beberapa dari buah itu setiap hari, untuk kesehatannya.


Awalnya dia mengira buah ini seperti produk kesehatan yang bisa menyehatkan tubuhnya. Setelah mendengarkan kata-kata Meli, dia kini tahu kalau buah sumber ternyata juga memiliki manfaat dan khasiat yang luar biasa.


Memikirkan kata-kata Meli, Lina jadi tersipu-sipu sendiri.


Kemudian dia mengambil buah sumber itu dan memasukkannya ke dalam tas pinggangnya.


Begitu Lina keluar dari ruang bawah tanah, dia melihat Uriel sedang bersiap untuk masuk. Mereka berpapasan bertemu satu sama lain dan tercengang.


Uriel memulai pembicaraan dengan bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan di bawah?"


"Aku sedang menyortir makanan." Jawab Lina.


"Bukankah tadi malam kamu sudah melakukannya?" Uriel bertanya dengan sedikit heran.


Lina tidak bisa menjawab, jadi dia berhenti berbicara dan lari darinya dan mengambil sebuah cangkir kayu.


Uriel menatap punggung gadis mungilnya itu dan berpikir.


"Gadis kecil itu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku."


Begitu Lina berjalan keluar dari dapur, dia mendengar Wiro memanggilnya dari arah luar rumah.


"Lina! Keluar kamu."


Sebetulnya, sampai sekarang Lina masih tak berani melihatnya, tapi dia tetap memberanikan diri berjalan menuju kepintu untuk melihat Wiro. Kini matanya sudah tak bisa lagi menghindar untuk bertemu Wiro.


"Ada masalah apa?" Lina bertanya.


Wiro melihat gadis itu sepertinya sedang merasa sangat malu. Di dalam hatinya, dia sangat ingin memeluk gadis mungil itu. Menggosok-nggosok gadis kecil itu dan menjilat-njilatinya pasti akan terasa enak.


Tapi sekarang ada urusan lain yang harus dia lakukan, untuk saat ini dia hanya bisa menahan hasrat dalam hatinya.


Wiro sedikit mengangkat dagunya.


"Kamu tak perlu bertingkah malu seperti itu. Kamu juga tak perlu khawatir tentang k*w*n. Ada hal lain yang harus kuberitahukan padamu."


Wajah Lina segera memerah kerana marah.


"Aku tidak terburu-buru untuk k*w*n denganmu!"


"Iya, kita k*w*nnya jangan sekarang dulu." Jawab Wiro dengan acuh tak acuh, supaya Lina tidak semakin merasa malu.


Mendengar itu malah membuat Lina jadi semakin marah.


"Kenapa di dunia ini bisa ada orang yang begitu percaya diri sih?!"


Wiro mencubit pelan wajah kecil itu untuk membuat dirinya merasa puas, sambil berkata, "Jangan khawatir. Ketika hal ini selesai, kita akan segera k*w*n kok."


"Aku tidak ingin k*w*n denganmu! Percaya diri banget sih kamu jadi Orc!"

__ADS_1


Mata Wiro memandang gadis itu dengan penuh sayang.


"Tadi bilang tidak terburu-buru, sekarang bilang tidak mau. Benar-benar gadis kecil bermuka dua."


"....." Lina sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena saking marahnya.


Untuk menghindari adanya adegan pembunuhan, yang kemungkinan akan segera terjadi di antara mereka berdua, Lina memutuskan untuk segera mengganti topik.


"Apa yang kamu mau dariku?! Cepat katakan, aku sedang sibuk!"


Wiro hanya berkata singkat, "Avi hamil."


"Hah!" Lina tidak mengerti kenapa dia datang kemari hanya untuk mengatakan hal ini padanya, dia tertegun sejenak, kemudian menebak-nebak, kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya, "Anak yang ada di perutnya bukan anakmu kan?"


Wajah Wiro segera berubah merah karena marah.


"Apa yang kamu bicarakan?! Aku tak pernah ada hubungan dengan Avi! Bagaimana mungkin dia bisa mengandung anakku?!"


Lina memperhatikan wajah Wiro dan mengingat kembali apa yang sudah terjadi waktu itu antara Wiro dan Avi, dia merasa kalau tebakannya barusan sudah salah. Dia terbatuk sedikit.


"Ehem. Terus, apa yang akan kamu lakukan?"


"Avi kan sudah mencari gara-gara denganmu. Aku juga berencana memenjarakannya untuk beberapa lama. Setelah salju mencair, aku akan membuang dia dan semua Orc laki-laki yang dibawanya." Jawab Wiro.


Namun, sekarang Avi sedang hamil.


Orc betina dalam masa kehamilannya akan menjadi lemah dari biasanya, jika mereka tidak hati-hati, itu akan bisa mencelakai dirinya sendiri dan anak yang ada di dalam perutnya.


Saat ini para pasangan prianya sedang membuat keributan, mereka meminta Wiro untuk melepaskan Avi.


Dia tidak peduli apakah Avi sedang hamil ataupun tidak. Dia juga tak ingin melepaskannya begitu saja.


Tapi Dukun tua menyuruhnya untuk membiarkannya pergi. Bagaimanapun juga, Avi adalah perempuan dan dia juga sedang hamil. Jika dia sampai mengalami kecelakaan di penjara, pasangan prianya pasti tidak akan tinggal diam. Hal itu pasti akan memicu terjadinya perang yang berkepanjangan antar suku.


Wiro kemudian berkata lagi kepada Lina, "Avi kami penjara karena dia sudah mengganggumu. Sebagai korban dari masalah ini, keputusan kami serahkan padamu untuk membebaskan dia atau tidak."


Mata Lina berkedip.


"Kalau aku ingin membunuhnya untuk balas dendam, apa kamu akan menyetujuinya?"


"Membunuh orang terlalu keji untuk kamu lakukan. Kamu tunggu di sini saja. Aku yang akan membunuhnya untukmu."


Setelah mengatakan ini, Wiro siap untuk segera pergi ke penjara, untuk menghabisi Avi.


Tapi Lina buru-buru menariknya.


"Hukuman atas kejahatan membunuh seorang wanita tidaklah ringan, belum lagi dia juga sedang hamil. Apa kamu tak takut dikritik dan dicaci maki?"


Wiro mengangkat dagunya dengan wajahnya yang menantang.


"Aku tidak peduli apa yang akan orang lain pikirkan tentangku. Dan juga, saat itu aku juga pasti sudah bukan ketua lagi. Aku akan membawamu keluar dari Gunung Batu ini dan tinggal bersama di tempat lain."


Mendengar apa yang dia katakan, membuat hati Lina tergerak.


Dia pun kemudian tertawa.

__ADS_1


"Lupakan saja, bahkan jika aku membenci Avi, aku juga tidak akan membunuhnya kok, baik dia ataupun anak yang ada di dalam perutnya. Aku bukanlah orang yang sekeji itu."


Wiro tertegun.


"Apa kamu ingin dia bebas?"


"Iya, bebaskan saja dia." Jawab Lina.


Wiro tetap menatapnya.


"Karena kamu tak ingin mempermalukanku, kamu mengambil inisiatif untuk memberi kesempatan kepada Avi kan?"


"Hah??" Raut wajah Lina berubah keheranan.


"Aku tahu kamu sangat menyukaiku dan ingin menjaga perasaanku. Aku benar-benar tersentuh."


"....." Lina bingung harus berkata apa karena dia tidak paham dengan jalan pikiran Orc ini.


"Jangan khawatir. Setelah aku selesai dengan urusan Avi, aku akan segera kembali kerumah untuk k*w*n denganmu."


Lina tersipu.


"Siapa yang mau k*w*n denganmu?"


"Aku pergi dulu. Kamu tunggu aku di rumah ya." Wiro memberi ciuman di wajah gadis itu dan pergi dengan cepat.


Di dalam hati Lina sudah hampir gila. Dia ingin sekali menyusul pria itu, meraih bahunya dan mengguncang-ngguncangkannya dengan sangat keras sambil mengatakan.


"Siapa yang mau k*w*n denganmu?! Dasar Orc super tak tahu malu!"


...........


Wiro membuka pintu penjara dan melepaskan Avi beserta para pasangan prianya.


Ketika Avi melihat Wiro datang, dia tidak bisa menahan kegembiraan hatinya. Dia beranggapan kalau Wiro adalah Orc yang bermuka dua, meskipun dia dingin dan tak berperasaan, tapi di dalam hatinya masih peduli kepadanya.


Terlebih lagi ketika dia melihat pola bintang di lengan Wiro, matanya langsung berbinar.


"Wiro.. Apa kamu sudah berevolusi? Aahh.. Kita memang sangat cocok. Setelah aku melahirkan bayi di perutku ini, aku akan membiarkanmu menghamiliku untuk segera memiliki bayi denganmu! Aku sangat cantik dan kamu sangat kuat. Anak kita kelak pasti akan jadi yang terkuat!"


Dia bergegas mendekati Wiro dengan penuh semangat, ingin mengungkapkan perasaannya lebih dalam lagi kepada Wiro.


Sebelum Avi sempat menempelkan tubuhnya ketubuh Wiro, tangan Wiro segera meraih dan mencekik lehernya dengan pandangan penuh jijik di matanya.


"Aku membebaskanmu dari penjara, itu karena kau sedang hamil! Kalau kau berani membuat masalah lagi, aku pasti akan membunuhmu!"


Avi terkejut dengan sorot mata membunuh yang terpancar di mata Wiro, segera wajahnya pun memucat.


Para pasangannya dengan cepat berkumpul dan berteriak dengan marah.


"Lepaskan dia! Dia perempuan! Dia sedang hamil! Segera lepaskan dia!"


Wiro melepaskan tangannya. Seperti sedang melempar sampah, dia melemparkan Avi ke pelukan para prianya itu.


Wiro berkata dengan dingin, "Kalau kalian ingin dia tetap hidup, awasi dia! Jangan biarkan dia berkeliaran di depanku! Atau aku tidak akan bisa menahan emosiku dan membunuhnya!"

__ADS_1


__ADS_2