Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 173 - Kelinci Mungil


__ADS_3

Lina bisa merasakan, kalau Wiro itu keras di mulut tapi lembut dalam penampilan dan hatinya, dan itu terasa sangat indah bagi Lina. Dia mengangkat lengannya karena ingin menyentuh kepala Wiro dan baru menyadari kalau tubuh Wiro terlalu tinggi.


"Meskipun jika aku mengulurkan tanganku, juga tidak akan bisa mencapai kepalanya.. Huuhh.. Ini sedikit memalukan.."


Saat Lina akan berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi dan ingin menarik kembali tangannya, tiba-tiba saja Wiro membungkuk dan mengambil inisiatif untuk mendekatkan kepalanya ke depan Lina.


Saat melihat rambut pendek berwarna perak yang ada di depannya, Lina pun segera memegang kepala Wiro sambil berkata, "Kenapa kamu bersikap sangat manis?"


Wiro tidak menjawabnya, dia sedang menikmati belaian lembut Lina pada kepalanya, sambil mengusap-usapkan wajahnya di lengan Lina.


Saat gundukan daging yang empuk dan mon~thok berada sangat dekat dengan wajah Wiro, telinganya pun langsung memerah. Tangan Wiro segera meraih pinggang gadis kecil mungil itu dan menggosoknya di lengannya.


"Mmhhh.. Kulit Lina begitu halus dan lembut.."


Uriel juga menyaksikan interaksi di antara mereka berdua dan merasa tak berdaya, seperti sedang melihat dua anak kecil yang sedang asik bermain. Mata birunya menatap mereka berdua dengan penuh kelembutan.


Lalu dia berkata kepada Saga yang sedang berada di sebelahnya, "Untuk malam ini, biarkan Wiro tidur dengan Lina."


Saga juga tidak memiliki perbedaan pendapat tentang ini.


"Ya." Setelah jeda sejenak, kemudian Saga memutuskan untuk berkata lagi, "Terima kasih untuk Batu Esensinya."


Batu Esensi adalah harta yang sangat langka. Bahkan saat Saga masih berada di Kuil, batu seperti itu juga sangat langka untuk bisa dilihat.


Tapi Uriel bisa langsung memutuskan, untuk memberikan Batu Esensi itu untuk Saga melalui Lina, tanpa perlu berpikir dua kali. Hal inilah yang telah membuat Saga terkagum-kagum kepada Uriel.


"Kita adalah keluarga, tidak perlu terlalu formal seperti itu. Sudah semestinya aku membantumu, yang sebagai keluargaku." Jawab Uriel.


Meskipun Saga selalu terlihat dingin, pada kenyataannya, dia memiliki perasaan seperti ini, di dalam hati dan pikirannya.


Wiro juga mengetahui kalau Saga telah diberikan Batu Esensi Kristal hitam, dan tidak ada sedikitpun kecemburuan atau ketidakpuasan, yang lahir di hati maupun di pikirannya.


Wiro dan Uriel sangat menganggap Saga, sebagai anggota keluarga mereka.


...........


Pada saat ini, dengan cepat Wiro segera berlari menuju ke kamar, sambil membopong Lina.


Sesampainya di kamar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Wiro segera menanggalkan semua pakaian yang ada di tubuh Lina.


Mendapat perlakuan seperti itu, Wajah Lina pun merona.


"Meskipun sudah berkali-kali melakukannya, tapi aku masih saja merasa sangat malu.."


Saat Wiro memegang tangan Lina, tanpa sadar Lina pun segera menutup matanya, mencoba untuk tetap tenang dan menunggu Wiro untuk mulai masuk.


Tapi..


Setelah Lina menunggu lama, masih belum juga terasa rasa sakit yang seperti biasanya dia rasakan.


Dia pun segera membuka matanya karena merasa curiga dan melihat ke arah Wiro, dan saat itulah dia sangat terkejut, saat melihat Wiro yang sedang memegang satu set p*k*i*n d*l*m z*kzi dengan kebingungan!


"Hah??"


Tampaknya Wiro tidak tahu apa yang harus dilakukan, untuk membuat Lina supaya mau memakainya, selain itu, dia juga terlihat seperti sedang mencoba menemukan cara bagaimana memakaikannya.


Melihat hal itu, Lina merasa sangat ketakutan dan bertanya dengan terbata-bata, "Ba..bagaimana ka..mu bisa mendapatkan ba..barang ini?"

__ADS_1


Wiro pun berkata dengan polos, sambil memegangi barang yang dia temukan, "Aku mengeluarkannya dari ruang penyimpanan, aku sendiri tidak tahu siapa yang memasukkannya. Tapi ini terlihat seperti setelan pakaian. Sepertinya barang ini sangat menarik. Kamu pasti akan terlihat bagus bila memakainya!"


"Gawat!" Batin Lina.


Dengan perasaan menyesal, Lina pun memukul tempat tidur batu sambil memaki di dalam hatinya, "Sial! Sial! Sial! Aku lupa! Aku lupa kalau ruang penyimpanan juga bisa diakses oleh masing-masing pemakai cincin!"


Lina tidak pernah menyangka, kalau barang yang telah dia sembunyikan di area paling sudut, di dalam ruang penyimpanan itu akan bisa ditemukan oleh yang lainnya.


"Dan yang lebih gawatnya lagi, barang itu kini telah ditemukan oleh Wiro!" Batin Lina.


Saat ini, Wiro telah melepas rok bulu yang ia kenakan dan langsung membukanya. Lalu dia berkata dengan linglung, "Sepertinya pakaian yang aku temukan ini ukurannya tidak sesuai untukku. Apa yang harus aku lakukan?"


Tiba-tiba Lina mendapatkan sebuah ide, saat dia menatap Wiro yang sedang memegang dan menatap CD yang berukuran kecil dengan wajah bingung.


"Bukankah, barang itu seharusnya dipakai oleh para pria," kata Lina dengan sungguh-sungguh.


Mendengar apa yang Lina katakan, Wiro pun tertegun untuk sesaat, kemudian berkata, "Apakah benar begitu? Tapi barang ini ukurannya sangat kecil. Bagaimana aku bisa memakainya?"


Lina segera bangkit dan duduk, lalu mengambil alih CD yang sedang Wiro pegang, kemudian menunjukkan bagaimana caranya mengikat CD tersebut.


"Kamu harus mengikatnya seperti ini. Cobalah, kamu pasti akan bisa memakainya."


"Oh, begitu..." Sahut Wiro.


Setelah itu, Wiro segera mengambil alih kembali CD berukuran kecil itu dari tangan Lina dan memperhatikan CD itu lagi dan lagi.


Saat ini Lina sangat berharap, akan ada adegan di mana Wiro lah yang mengenakan CD itu.


Tapi tak dia sangka, tiba-tiba saja Wiro segera menyerbunya, membaringkan kembali Lina di tempat tidur batu, kemudian menggenggam pergelangan kaki Lina, dan dengan paksa memakaikan G ~ ztr*ng berwarna merah itu ditubuh Lina.


Kain tipis yang tak begitu lebar, hanya menutupi bagian depan area di p*ngk*l p*h* Lina. Sedangkan bagian belakangnya, hanyalah seutas kain kecil yang menyelip di antara kedua belahan f*nt*tnya, yang saling terhubung dengan kain seperti tali, untuk diikatkan di pinggang kanan dan kiri.


"Bulatan bulu itu terlihat seperti ekor Kelinci!"


Saat melihat hal itu, Wiro pun segera mengulurkan tangannya dan menusuk-nusuk ekor kecil yang ada di CD itu dengan jari telunjuknya, sambil terkekeh, "Hehehe.. Terlihat sangat lucu.."


Lalu, Wiro pun segera memunculkan ekor berbulu miliknya sendiri, yang keluar dari belakang tulang ekornya.


Kemudian Wiro mendekatkan ekornya sendiri kedekat ekor yang ada di G ~ ztr*ng yang kini sudah Lina kenakan, dan membandingkan ekornya sendiri dengan ekor Kelinci yang ada di puncak belahan f*nt*t Lina itu, lalu dengan serius berkomentar, "Aku selalu beranggapan kalau ekor Serigala itu gagah, tapi tidak pernah menyangka kalau ekor Kelinci ternyata terlihat sangat imut, sangat cocok untukmu. Warnanya juga sangat cocok dengan kulitmu yang putih."


Lina, "....."


Mendengar apa yang Wiro katakan, Lina pun merasa sangat malu, dan seketika itu juga wajahnya berubah menjadi merah muda pucat seperti udang rebus.


"Dasar Serigala m*sum licik! Ternyata dia berpura-pura dan sudah berani menipuku!"


Wiro juga mengeluarkan pakaian lainnya, yang merupakan setelan dari Bunny G ~ ztr*ng yang sudah Lina kenakan. Lalu dia bertanya, seperti seorang siswa yang tidak tahu dan bertanya kepada Gurunya, "Bagaimana aku harus memakaikan barang yang satu ini?"


Lina yang saat ini sedang dalam posisi tengkurap sehingga terlihat ekor Kelinci yang ada di f*nt*tnya, memalingkan wajahnya dari Wiro dan dengan marah berkata, "Aku tidak tahu!"


Mendengar itu, Wiro pun mencoba untuk memikirkannya dan mencaritahu jawabannya sendiri.


Ternyata bangsa Orc juga memiliki bakat luar biasa dalam beberapa hal, bahkan pada Orc pria zaman purba.


Wiro benar-benar bisa menebak kegunaan barang yang saat ini sedang dia pegang.


Barang kecil yang saat ini sedang dia pegang, hanyalah seperti seutas tali berukuran kecil, tapi terdapat dua bulatan cekung kecil, yang hanya berdiameter tidak lebih dari satu senti meter.

__ADS_1


Saat Wiro sudah selesai memakaikan p*k*i*n d*l*m z*kzi kedua itu, dan melihat dua gundukan daging empuk dan mon~thok yang hanya tertutupi di bagian dua butiran kecil berwarna merah muda, yang tepat berada di masing-masing puncak gundukan daging tersebut, membuat Wiro hampir mimisan.


"Waaah.."


Setelah itu dia mengeluarkan setelan terakhir, yaitu berupa bando dengan dua telinga kelinci, dan memasangkannya di kepala Lina.


Setelah puas memandangi Lina dari ujung kepala sampai ujung kakinya, kini Wiro sudah tak bisa lagi menahan gejolak h*sr*tnya.


"Hoaaa.. Dengan pakaian seperti ini, kamu terlihat sangat imut dan menyenangkan! Aku sangat ingin memakanmu!"


Setelah berkata seperti itu, Wiro mulai menyingkap kesamping kain tipis kecil yang menutupi bagian depan area p*ngk*l p*h* Lina, dan mulai memasukkan benda besar miliknya yang sedari tadi sudah membatu dan berdiri tegak mendongak.


Lina pun mendesah, saat merasakan benda besar itu mulai menyeruak masuk kedalam gua kecil, yang ada di balik belahan di p*ngk*l p*h*nya, "Uuhhhhh.."


"Aku akan memakanmu sepanjang malam ini." Ucap Wiro sambil mulai melakukan aksinya, tanpa pernah melepaskan satupun pakaian z*kzi yang Lina pakai.


...........


Di siang harinya.


Saat Lina sudah bangun dari tidurnya, dia tidak melihat Wiro berada di sisinya.


"Wiro tidak ada, dia pasti sudah pergi untuk berburu.. Selain itu, p*k*i*n d*l*m z*kzi yang semalam aku pakai juga telah disingkirkan, dan kamar juga telah dirapikan.." Gumam Lina lirih.


Saat Lina mengusap tubuhnya, dia bisa merasakan kalau kulitnya terasa kering. Dia juga melihat ada beberapa tanda merah di dada dan perutnya yang masih belum hilang, meskipun hanya sekilas tapi masih bisa terlihat. Dan saat dia melihat ke area yang ada p*ngk*l p*h*nya, dia sangat terkejut saat melihat beberapa tanda merah yang masih terlihat tebal juga ada di situ.


"Apah?? Dasar Serigala br*ngs*k!" Maki Lina dalam hati.


Tak lama kemudian, setelah Lina selesai merapihkan pakaian yang dia kenakan, dia pun beranjak turun dari tempat tidur dan berusaha untuk berjalan menuju kepintu.


Saat Lina telah membuka pintu, dia melihat sesosok pria berjubah bulu berwarna merah darah, datang menghampiri dirinya.


Setelah berada dekat dengan Lina, pria itu pun menatap Lina sambil berkata, "Kenapa kamu tidak tidur lagi saja?"


"Aku tidak mau tidur," ucap Lina sambil memegangi pinggangnya. Kemudian dia lanjut berkata lagi, "Apakah sekarang masih pagi?"


"Sekarang sudah hampir tengah hari." Jawab pria itu.


"Hah?"


"Sial.. Jam untuk mengajar telah lama berlalu.. Semua ini gara-gara Serigala gila dan br*ngs*k itu!" Batin Lina.


Semalam, Wiro sangat bersemangat sekali karena penampilan Lina yang terlihat bertambah sangat imut dan menggemaskan, saat mengenakan pakaian hot Kelinci. Dia terus menghentakkan pinggangnya berulang-ulang kali dan membolak-balikkan tubuh Lina dalam berbagai posisi, hingga fajar tiba.


Saat ini Lina berencana turun menuju ke dapur yang ada di bawah, untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Tapi baru saja dia menuruni dua anak tangga, dia segera berhenti, dia merasa pinggangnya seperti hampir copot.


"Dasar sialan. Pinggangku sampai sakit begini!" Batin Lina.


Tapi tiba-tiba saja Leon datang menghampiri Lina dan bertanya, "Apa kamu ingin aku membantumu?"


Mendengar itu, Lina pun menegapkan tubuh kecil mungilnya dan berkata, "Tidak, aku bisa jalan sendiri."


Tapi Leon tetap mengabaikan penolakan Lina dan membopongnya, kemudian berjalan menuruni anak tangga.


Lina mencoba untuk melawannya. Sayangnya, tenaganya sudah diperas habis tadi malam. Saat ini seluruh anggota tubuhnya masih terasa lemah. Lina sama sekali tidak bisa menggunakan kekuatannya.


Setelah sampai di lantai satu, Lina segera turun dari gendongan Leon dan mengucapkan "terima kasih," lalu segera berjalan menuju ke dapur.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terdengar suara Leon yang berkata dari arah belakangnya.


"Aku dengar, kamu sudah menemukan Beruang bambu sebagai pasangan barumu?"


__ADS_2