Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 145 - Berlatih


__ADS_3

Azka melemparkan pelayan yang lemas itu ke tanah seperti sampah.


Setelah itu dia menolehkan kepalanya, melihat ke arah penjaga yang ada di belakangnya, dan berkata dengan santai, "Seret makhluk yang pemilih ini, potong tangan dan kakinya, potong telinga dan lidahnya, lalu lemparkan pada binatang buas, untuk memberi makan para binatang itu."


Para penjaga segera menangkap pelayan yang bernama Dodi itu. Mereka menyeretnya keluar dengan kasar.


"Tidak!" Pelayan itu berteriak, "Tolong lepaskan saya! Saya akan memberitahu anda semuanya! Saya tidak ingin mati."


Belum sampai Dodi ditarik keluar dari pintu, Azka berkata, "Tunggu sebentar."


Si pelayan merasa sangat takut kalau Azka akan menarik kembali kata-katanya, dan segera menceritakan semua percakapan yang baru saja terjadi, antara dirinya dan imam besar.


Azka pun mendengarkan semua yang Dodi ceritakan dengan tenang, lalu berkata dengan sorot matanya yang terlihat penuh dengan kebencian.


"Orang yang paling aku benci adalah pengkhianat! Kupas kulitnya dan gantung dia di gurun sampai kering!"


"Baik Yang Mulia Pangeran." Sahut para penjaga serempak.


"Tidak! Anda berjanji membiarkan saya pergi, selama saya mengatakan semuanya yang sebenarnya. Anda tidak boleh ingkar janji!" Seru Dodi.


Mendengar apa yang Dodi katakan, Azka pun tertawa.


"Hahaha! Apakah aku berjanji? Aku tidak ingat kalau aku sudah berjanji seperti itu."


Kini pelayan itu tampak putus asa.


Para penjaga menutup mulutnya dan segera menyeretnya keluar.


Saat ini Azka sedang menatap matahari terbit.


"Aku tidak menyangka, kalau betina mungil yang dibawa kembali oleh kakak kedua tahu bagaimana caranya menyembuhkan. Ini benar-benar hal yang tidak terduga!"


...........


Saat Uriel mendengar ketukan dari luar pintu, dia segera bangkit dan turun dari tempat tidur, menutupi tubuh Lina dengan selimut, lalu berjalan keluar dari kamar tidur.


Orang yang datang mengetuk pintu adalah Azka, dia menunjukkan senyum cerahnya.


"Kakak, kenapa pagi ini kamu tidak datang ke tempatku? Terus kemana orang-orang? Kenapa aku tidak melihat siapa pun di sini? Ngomong-ngomong, apa kakak mau menyelinap keluar untuk bermain denganku?"


"Semalam aku mengajaknya jalan-jalan," kata Uriel dengan suara rendah. "Sekarang Lina masih sedang beristirahat. Kita bicara di tempat lain saja."


Kedua bersaudara itu pun datang ke tempat latihan.


Ada banyak pengawal yang sedang berlatih di tempat ini. Para Orc jantan itu terlihat tinggi dan kuat, menunjukkan otot-otot di dada mereka yang bidang, dan mereka pun hanya memakai rok kulit di pinggang mereka. Tubuh mereka semua berkeringat dan udara dipenuhi dengan hormon para pria yang meledak-ledak.


Ketika mereka melihat kedua pangeran datang, mereka berhenti, meletakkan satu tangan di dada mereka dan membungkuk.


"Selamat datang Pangeran."


Uriel melambaikan tangannya kemudian berkata, "Lanjutkan saja latihan kalian, tidak usah pedulikan kami."


"Baik Pengeran."


Para penjaga itu pun kembali melanjutkan latihan intensif mereka.

__ADS_1


Azka melihat sekeliling dan menemukan area yang cukup terbuka. Dia bertanya sambil tersenyum, "Kakak, sudah lama aku tidak berlatih tarung denganmu. Apakah kamu ingin berlatih denganku?"


"Boleh." Jawab Uriel sambil tersenyum.


Uriel tidak ingin mengungkapkan kepada semuanya, kalau dia baru saja naik ke bintang lima, jadi dia tidak merubah wujudnya ke bentuk hewannya, tapi tetap dalam wujud Orcnya untuk berlatih dengan Azka.


Sebagai kakak laki-laki, Uriel memberi isyarat sederhana dan meminta Azka untuk menyerangnya terlebih dahulu.


Azka tidak segan-segan. Dia segera mengepalkan tangannya dan merangsek maju untuk menyerang Uriel!


"BUK BUK BUK BUK!"


"HIAAAH!"


"DESH!"


Melihat tinju yang dengan cepat mendekati dirinya, Uriel segera menghindar ke samping. Angin dingin dari tinju Azka meniup rambut putihnya yang panjang. Tapi di wajahnya yang sangat tampan, masih menunjukkan senyumnya yang lembut dan elegan.


Lambat laun, gerakan Azka semakin cepat dan menjadi semakin ganas.


"HUH!"


"BUGH! TAP! TAP!"


Uriel selalu menjaga ritmenya dan tidak terburu-buru atau pun melambatkan gerakannya. Dia juga tidak mengambil inisiatif untuk menyerang, dia juga tidak akan membiarkan Azka mengambil keuntungan darinya. Terkadang dia bahkan menunjukkan apa yang salah dengan gerakannya.


"Setelah melancarkan pukulan, gunakan sikutmu untuk melakukan serangan mendadak kedua, untuk mengecoh lawanmu." Ucap Uriel kepada adiknya.


Namun Azka sepertinya tidak mendengarkan suara-suara dari luar, matanya terkonsentrasi penuh pada lawannya.


"Hanya ada satu tujuanku, yaitu mengalahkan lawanku!"


"HIAH! DESH! DESH! DESH!"


"BUK! BUK! TAP! DUK!"


Saat ini dia seperti sudah tidak peduli lagi, kalau pihak lawan adalah saudaranya sendiri!


Melihat hal itu, Uriel sedikit mengernyit.


"Sepertinya ada yang tidak benar dengan diri Azka!"


Meskipun menyadari kalau ada yang aneh dengan keadaan adiknya, tapi dia tetap tidak banyak berbicara. Dia hanya bisa menyingkirkan untuk sementara pikirannya itu, dan tetap melanjutkan untuk membimbing adiknya.


"Lompat dan gunakan juga lututmu." Seru Uriel.


Duel antara dua saudara menjadi semakin menarik perhatian banyak Orc jantan. Mereka segera menghentikan latihan mereka dan melihat kedua pangeran yang sedang bertarung.


Pada akhirnya Azka terjatuh ke tanah saat terkena serangan dari bahu Uriel!


"DUGH!"


"BRUK!"


Azka terjatuh di tanah sambil memegangi lengannya dan menunjukkan ekspresi kesakitan yang tak tertahankan.

__ADS_1


"AAARGHH!"


"Ada apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Uriel dengan panik.


"AAGH! Sepertinya tanganku terpelintir." Jawab Azka sambil meraung kesakitan.


"Jangan bergerak, aku bantu untuk meluruskannya," setelah berkata seperti itu, Uriel segera membungkuk untuk membantu adiknya. Tapi tanpa diduga, Azka tiba-tiba saja mencengkram leher Uriel!


"TAP!"


Uriel pun sudah tidak bisa bergerak lagi.


Azka mengangkat sudut mulutnya dan tersenyum licik.


"Hehehe!"


Uriel tidak merasa marah. Dia mengambil tangan Azka dan menarik saudaranya dari tanah.


"Apa kamu baik-baik saja? Apakah lenganmu masih sakit?" Tanya Uriel.


Azka menjabat tangan Uriel dan berkata sambil tersenyum, "Aku tidak terluka. Barusan aku menipumu. Aku tidak menyangka kalau kamu masih akan tetap tertipu, sama ketika kamu masih kecil."


Uriel menggosok kepala adiknya dan berkata sambil tersenyum tak berdaya, "Hhh.. Ternyata kamu menggunakan tipuan."


Setelah pertarungan mereka selesai, tidak ada keseruan lagi untuk ditonton, para Orc jantan pun segera berhamburan satu demi satu untuk melanjutkan latihan mereka.


Azka menabrak lengan Uriel sambil tersenyum, "Kakak, saat tadi aku bertarung denganmu, aku bisa mencium kalau di tubuhmu tercium aroma betina yang sangat kuat. Apakah pagi ini kamu baru saja k*w*n dengan Lina?"


Uriel berkata, "Kamu sudah mulai tertarik pada wanita, itu berarti kamu sudah mulai pada usia matang. Kapan kamu akan mencari seorang wanita? Aku dengar kalau ayah menginginkan supaya kamu berpasangan dengan putri dari keluarga beruang."


Saat mendengar hal itu, Azka segera mengerutkan keningnya dan tampak tertekan.


"Jangan menyebut perempuan dari keluarga beruang bambu itu. Dia itu putih dan gemuk. Aku sama sekali tidak menyukainya!" Ucap Azka dengan nada suara yang terdengar seperti tidak suka.


"Memangnya wanita seperti apa yang kamu suka? Katakan padaku, aku akan berbicara dengan ayah, agar kamu bisa memilih sendiri, tipe wanita seperti apa yang kamu sukai di Kota Matahari."


Azka tersenyum dengan misterius.


"Aku suka tipe yang seperti Lina. Cantik, manis, imut dan lembut, jika bisa memiliki pasangan seperti itu, pasti akan sangat menyenangkan."


Uriel menepuk kepala Azka. "Jangan coba-coba memikirkan soal itu."


"Memangnya kenapa? Banyak bersaudara mencari pasangan yang sama. Dengan cara itu, kita bisa terus menjadi keluarga. Alangkah indahnya."


Mendengar sang adik berkata seperti itu, Uriel hanya memberikan satu kalimat jawaban yang singkat.


"Lina bukan untukmu."


"Maksudnya?" Tanya Azka tidak mengerti.


"Lina tidak cocok tinggal di istana. Dia memiliki ruang bebasnya sendiri. Kamu tidak akan bisa mempertahankannya."


"Darimana kamu tahu kalau aku tidak akan bisa mempertahankan dirinya?" Azka mengangkat dagunya, lalu lanjut berkata lagi. "Dalam hal penampilan, aku tidak kalah dengan kakak. Kepribadianku juga lembut lebih seperti perempuan."


Uriel tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menepuk pundak Azka dan berbicara tentang apa yang telah mereka berdua lakukan.

__ADS_1


"Kekuatanmu sudah meningkat pesat. Tampaknya selama beberapa tahun terakhir aku tidak berada dirumah, kamu telah melatih dirimu dengan baik."


Azka tertawa kemudian berkata, "Aku akan terus berlatih keras, suatu hari aku pasti akan melampaui kakak!"


__ADS_2