Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 141 - Saya Sangat Menyukainya


__ADS_3

Tak lama kemudian, Azka berpisah arah karena ada suatu hal yang harus dia lakukan.


Sedangkan Uriel dan Lina berjalan menuju ke kamar tempat Martin Nouh beristirahat.


Begitu Uriel membuka pintu kamar, "Udara di dalam kamar ini terasa sangat pengap."


Spontan saja, Uriel segera mengerutkan keningnya.


"Kenapa pintu dan jendelanya ditutup begitu rapat? Tidak ada ventilasi di dalam ruangan. Tidak heran kenapa ruangan ini terasa sangat pengap."


Uriel pun segera meminta orang untuk membuka jendela.


"Buka semua jendela di kamar ini, supaya angin bisa masuk dan ada pergantian udara."


Tapi pelayan yang ada di sebelahnya berkata, "Raja sedang sakit dan tidak boleh membuka jendela, supaya tidak terkena angin dari luar. Ini adalah penjelasan dari imam besar."


Saat mendengar kalimat imam besar disebut, kedua alis Uriel segera berkerut.


Tapi saat itu juga, sebuah suara seseorang yang sudah tua, terdengar dari dalam kamar.


"Apakah Pangeran kedua sudah kembali?"


Mendengar itu, dengan cepat Uriel segera masuk dan melihat ayahnya yang terbaring di tempat tidur.


Nama ayah Uriel adalah, Martin Nouh.


Dia sekarang sudah berada di usia tuanya. Tapi di wajahnya yang sudah berkeriput, masih bisa terlihat, bagaimana parasnya yang sangat tampan saat masih di masa mudanya.


Saat Lina melihat sosok ayah mertuanya, "Mata birunya sama persis dengan Uriel, seperti laut dan penuh kelembutan. Aku seolah-olah seperti sedang melihat Uriel yang sudah berusia seratus tahun."


Kesehatan Martin terlihat sangat buruk. Dia berbaring di tempat tidur, ditutupi dengan selimut kulit binatang yang tebal, dan suaranya terdengar lembut dan dalam, "Pangeran kedua, kamu sudah pergi dari Kota Matahari selama tiga tahun, selama itu juga kamu belum pernah sekalipun kembali. Ayah pikir kamu sudah tidak berniat untuk melihat ayahmu lagi seumur hidupmu."


Uriel tampak sangat menghormati ayahnya.


"Ada banyak hal yang menunda saya untuk segera kembali, hal itulah yang membuat saya sedikit terlambat."


"Kamu bisa kembali kapan saja. Tidak peduli apa yang orang lain katakan, tempat ini akan selalu menjadi rumahmu," setelah berkata seperti itu, Martin berhenti dan terbatuk pelan. Kemudian dia lanjut berkata lagi, "Kali ini kamu tiba-tiba saja memutuskan untuk kembali, apakah kamu sedang mengalami kesulitan?"


Mendengar itu, Uriel pun berkata, "Selain untuk mengunjungi ayah, saya benar-benar ada hal lain yang membutuhkan bantuan dari ayah."


"Katakan." Ucap Martin.


Kemudian Uriel menceritakan semua tentang Kuil Bulan Gelap kepada ayahnya.


"Kuil Bulan Gelap telah gelisah selama dua tahun terakhir, dan telah membuat gerakan kecil yang konstan. Diperkirakan, Kota Utama juga tidak akan bisa menahannya. Sebenarnya ayah tidak ingin terlibat dalam hal ini, tapi karena Kuil Bulan Gelap telah menggertak anakku, ayah tidak bisa diam saja."


Setelah berkata seperti itu, Martin Nouh segera terbatuk lagi.


"UHUK UHUK UHUK!

__ADS_1


"UHUK UHUK!"


Dengan cepat Uriel meminta orang-orang untuk segera membawakan air hangat.


Setelah meminum air, Martin menarik napasnya dan lanjut berkata lagi, "Ayah akan meminta Jenderal Beruang untuk membawa orang-orang ke Kota Bulan Gelap, untuk memberikan pelajaran pada Kuil Bulan Gelap. Dengan begitu mereka tidak akan punya waktu, untuk pergi membuat masalah di klan Serigala Batu."


"Terima kasih banyak atas bantuannya, ayah."


Mendengar itu, Martin mengepalkan tangan putranya dan dengan sungguh-sungguh berkata, "Kita semua adalah keluarga. Kita harus bersatu dan saling membantu, kapan pun dan di mana pun. Jika suatu saat ayah sudah tidak lagi ada di sini, kamu dan Azka harus rukun dan tidak boleh ada perpecahan."


Mendengar pesan-pesan dari ayahnya, Uriel pun mengangguk.


"Akan selalu saya ingat, ayah."


"Kamu memang selalu menjadi anak yang baik. Aku bisa mempercayaimu," kata Martin yang tiba-tiba saja menghentikan kalimatnya, tapi kemudian dia mulai berkata lagi, "Kudengar.. kamu sudah menemukan pasangan?"


Setelah ayahnya berkata seperti itu, Uriel segera melambai pada seseorang yang sedang berdiri di pintu.


"Cepat kemari."


Merasa dipanggil oleh Uriel, orang itu pun segera berjalan dengan hati-hati, dan menunjukkan senyumnya yang manis kepada Martin Nouh.


"Halo.. Nama saya, Lina Maya. Saya pasangan Uriel."


Martin menatap wajah Lina, kemudian dia tersenyum lebih ramah.


"Kamu terlihat seperti wanita yang baik, dan kamu juga sangat cocok dengan anakku Uriel. Jika roh ibu Uriel melihat hal ini, dia pasti akan merasa sangat bahagia."


"UHUK UHUK UHUK UHUK!"


Melihat hal itu, Uriel segera mengambilkan air hangat untuk ayahnya dan membantunya untuk minum.


Setelah meminum air, Martin merasa lebih nyaman di tenggorokannya. Dia berkata dengan suara lembut, "Kepribadian Uriel sama sepertiku. Dia lebih pendiam dan membosankan. Dia mungkin tipe yang tidak disukai oleh wanita. Namun dia sangat berhati-hati dan perhatian, dan bisa dipercaya untuk menjaga orang lain. Jika suatu hari nanti dia berbuat salah, tolong maafkan dia dan jangan berdebat dengannya."


Lina menatap Uriel. Saat melihat ekspresi Uriel yang tertawa, Lina pun mengangkat sudut mulutnya.


Tapi kemudian dia berkata kepada ayah mertuanya, "Uriel sangat baik. Saya sangat menyukainya."


Mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut menantunya, Martin Nouh merasa sangat lega dan lebih puas dengan menantunya.


"Suatu hari nanti, aku harap kamu bisa melahirkan anak-anak dari Uriel. Sayangnya kesehatanku terlalu buruk dan tak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku tidak bisa melihat kelahiran bayi kalian.. Hhhhhhh.." Di ujung kalimatnya, Martin menghela nafasnya panjang, seperti penuh dengan penyesalan yang tak berujung.


"Tidak, umur anda pasti akan panjang.." Tiba-tiba saja Lina menghentikan kata-katanya karena teringat akan sesuatu, "Para Orc memiliki umur yang panjang. Ayah Uriel seharusnya sudah berusia lebih dari 100 tahun."


Kemudian dengan cepat Lina merubah kata-katanya, “Anda akan hidup seribu tahun! Suatu hari nanti, saat bayi kami telah lahir, kami masih ingin meminta anda untuk memberikan nama, untuk bayi kami!"


Martin tertawa dan berkata, “Haha.. Kamu ini nak.. Kamu memang sangat berbeda, dari wanita-wanita yang pernah aku lihat sebelumnya. Tidak heran kenapa Uriel menyukaimu. Hhhh.. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri. Kamu tidak perlu menghiburku. Di usiaku yang seperti sekarang ini, ombak besar seperti apa yang belum pernah aku lihat?"


"UHUK UHUK UHUK!"

__ADS_1


"UHUK UHUK!"


Lina terkejut saat melihat ayah mertuanya batuk.


"Ah? Dia batuk darah!"


Melihat hal ini, ekspresi wajah pelayan yang menunggu di samping Martin berubah, dan dengan tergesa-gesa bergegas menuju ke penjaga yang berada di luar pintu kamar dan berseru, "Cepat pergi sekarang juga untuk menemui imam besar supaya datang ke sini. Raja batuk darah lagi!"


Para penjaga pun segera berlari untuk menemui imam besar.


Martin terbatuk sangat keras.


"UHUK UHUK UHUK UHUK!"


"UHUK UHUK UHUK!"


Uriel melingkarkan lengannya di bahu ayahnya, dengan lembut membantu memijati punggungnya, "Ayah, ayah harus bisa menahannya sebentar lagi. Imam besar akan segera datang."


"Apakah kamu punya air hangat?" tanya Lina yang tiba-tiba saja membuka mulutnya untuk bertanya kepada pelayan.


Saat Uriel menatap pelayan, pelayan itu langsung mengerti dan membawakan segelas air hangat.


Lina mengeluarkan rumput kerang yang sudah dikeringkan dan merendamnya kedalam air hangat, kemudian memberikannya untuk ayah mertuanya.


Ketika pelayan melihat hal itu, dia segera berkata, "Apa yang anda berikan untuk Raja? Kesehatan Raja sedang tidak baik. Jika anda memberikan sesuatu sembarangan kepada Raja, itu akan semakin memperburuk penyakitnya. Sebaiknya anda jangan melakukan apa-apa. Tunggu sampai imam bes ..."


Tapi kemudian Uriel segera memotong kalimat pelayan itu, dengan suaranya yang terdengar dingin, "Diam dan berjaga saja di pintu! Saat kamu melihat imam besar datang, segera beritahukan kepadaku!"


Ini adalah pertama kalinya bagi Lina melihat Uriel menjadi begitu galak. Jelas saja Lina sangat terkejut.


"Hah? Biasanya Uriel selalu berkata lembut dan ramah, tidak peduli apa yang dia lakukan, dia akan sangat tenang dan perhatian. Tapi barusan, dia terlihat sangat berbeda dari biasanya."


Tapi situasinya sekarang sangat penting untuk menyelamatkan orang. Lina pun akhirnya bisa mengerti dan berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi.


Pelayan itu sangat ketakutan saat mendengar perintah dari Uriel. Wajahnya pun segera memucat.


Sambil menundukkan kepalanya, pelayan itu segera meninggalkan kamar dengan ketakutan.


"Ba ba baik Pangerann.."


Setelah meminum air hangat yang diberi rendaman rumput kerang, kini Martin merasa tenggorokkannya jauh lebih lega dan batuknya juga mereda.


Saat ini Martin mencoba membuka kelopak matanya yang masih terasa berat, menatap gadis berkulit kulit putih dan halus yang ada di depannya, dan bertanya dengan suara pelan, "Apakah kamu menguasai keterampilan medis?"


Pertanyaan dari ayah mertuanya, membuat Lina teringat akan sesuatu, "Uriel, Wiro dan Saga pernah berkata padaku, supaya aku tidak memberitahukan kepada orang lain, kalau aku paham tentang ketrampilan medis. Tapi Raja Martin adalah ayah Uriel, apakah dia juga harus dianggap sebagai orang luar?"


Lina tidak bisa langsung mengambil keputusan sendiri, tanpa sadar dia menatap Uriel dengan maksud bertanya, "Apa yang harus aku jawab?"


Melihat tatapan mata gadis kecilnya, Uriel mengerti dan segera mengambil inisiatif untuk menjawab pertanyaan ayahnya kepada Lina.

__ADS_1


"Lina sangat cerdas. Pada awalnya dia tidak tahu apa-apa. Tapi kemudian karena Dukun tua di suku Serigala Batu meninggal, dan banyak hal yang telah terjadi, dari situlah dia mulai belajar sedikit tentang pengobatan."


Uriel mengatakan hal itu dengan enteng, tapi jelas situasi yang sebenarnya tentu tidak sesederhana seperti yang sudah Uriel katakan.


__ADS_2