Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 155 - Aku Masih Bisa Menciumnya


__ADS_3

Baru berjalan dua langkah. Lalu dengan merasa sedikit enggan, Lina menoleh dan menatap Azka, kemudian dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berkata panjang lebar, “Aku sudah kehilangan orang tua sejak aku masih kecil. Aku juga tidak mempunyai saudara laki-laki atau pun perempuan. Satu-satunya anggota keluarga yang aku punya, hanya menganggapku sebagai beban yang bisa untuk dibuang kapan saja. Saat aku masih kecil, aku selalu bermimpi bisa memiliki keluarga. Tidak perlu harus kaya, sama seperti orang biasa sudah cukup bagiku. Tapi semua itu hanyalah mimpi. Mimpi yang pernah aku inginkan, tapi itu juga adalah beban perasaan yang sangat aku benci. Jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk di dengar, itu artinya kamu tidak layak menjadi anggota keluargaku! Selain itu, karena kamu tidak menyukai Uriel, kebetulan sekali untukku! Jika kamu memberikan semua hartamu kepadaku, aku akan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dengan Uriel, dan aku juga tidak akan pernah membiarkan dia pergi! Adapun dengan dirimu, nikmati takhtamu seorang diri, seumur hidupmu!"


Setelah mengatakan kata-kata terakhirnya, Lina segera berjalan pergi tanpa melihat ke belakang lagi.


Dia terus berjalan dengan mantap. Jika dia diberikan gaun, mungkin dia akan terlihat seperti peragawati.


Namun, begitu Lina sampai di luar pintu, dia segera menyandarkan tubuhnya ke dinding batu, dengan napasanya yang terengah-engah.


Lina tidak pernah berbicara seperti yang dia lakukan barusan. Dia merasa sangat takut.


"Hhh.. Bagaimana jika tadi Azka tiba-tiba saja memiliki niat untuk membunuhku?!"


Memikirkan tentang hal itu, Lina merasa takut, kakinya terasa lunak dan kepalanya sedikit terasa pusing.


Saat ini Lina tidak berani pergi terlalu jauh dari tempat ini, dia takut Uriel tidak akan bisa menemukan dirinya di sini.


Dia segera menutupi tubuhnya dengan jubahnya sambil berjongkok di sudut pintu, dengan kedua tangannya yang melingkari lututnya. Tudungnya yang besar menutupi separuh wajahnya, hanya memperlihatkan dagunya yang bulat kecil, sambil tetap diam menunggu Uriel datang menjemputnya.


Pada saat ini, entah kapan datangnya, Leon telah ada di depan Lina yang sedang berjongkok.


Saat melihat penampilan Lina yang menyedihkan, Leon merasa lucu tapi juga tertekan. Dia pun mengulurkan tangannya untuk mengangkat Lina.


"Bukankah sekarang kamu sedang tidak sakit? Tapi kenapa kamu bisa terlihat lemah, seperti ayam yang akan dipotong?"


Lina yang masih merasa takut sekaligus terkejut, saat melihat Leon yang tiba-tiba saja ada di depannya pun segera meronta.


"Kamu?! Dasar br*ngs*k!"


"Jangan bergerak," lalu Leon memeluk Lina lebih erat lagi, "Jika kamu bergerak lagi, aku akan menciummu."


Mendengar apa yang Leon katakan, Lina tidak berani bergerak.


"B*j*ng*n tua ini berani mengatakan, pasti berani untuk melakukan. Baru saja aku dicium dengan paksa oleh orang yang tidak aku inginkan, dan sekarang akan dicium dengan paksa lagi oleh orang lain hanya dalam waktu yang singkat?! Tidak! Hal itu tidak boleh sampai terjadi!"


Pasti akan sangat mengerikan, jika dicium oleh seseorang yang tidak kita sukai, kan?


Saat ini si kuncup bunga kecil mengambil kesempatan untuk keluar dari tudung yang Lina kenakan dan mengusap punggung tangan Leon dengan penuh kasih sayang.


"Ayah.."


Tapi mata Leon sedikit terpana dan tampak terkejut saat melihat si pria kecil.


"Kamu?" Kemudian Leon menatap Lina dan bertanya, "Bagaimana bisa si pria kecil kini telah tumbuh dewasa?"


Tapi Lina malahan balik bertanya, "Bukankah normal bila tumbuh dewasa?"


“Setelah bertunas, si pria kecil baru bisa masuk usia dini, tapi untuk masuk ke usia remaja, membutuhkan nutrisi yang banyak.” Ucap Leon sambil mengerutkan alisnya.

__ADS_1


Lina yang tidak tahu pun bertanya lagi, "Nutrisi apa? Apakah yang kamu maksudkan itu air?"


"Tidak hanya air, tapi juga kekuatan kehidupan," kata Leon, lalu sorot matanya kini terlihat sedikit berbinar dan lanjut berkata lagi, "Aku hampir melupakan sesuatu, kamu itu memiliki Benih Suci. Benih Ilahi adalah sumber kekuatan kehidupan. Si pria kecil pasti juga sudah menyerap kekuatan dari Benih Suci."


Setelah berkata seperti itu, Leon membentangkan sayapnya dan melompat terbang, dengan membawa serta Lina bersamanya.


"HUP!"


"BLAK! BLAK! BLAK!"


Setelah beberapa saat, Lina baru mulai bereaksi dan merasa terkejut.


"Bagaimana kamu tahu kalau aku memiliki Benih Suci?"


Leon pun berkata dengan santai, "Kamu memiliki nafas Benih Ilahi. Meskipun sangat ringan, tapi asalkan dari jarak dekat, aku masih bisa menciumnya."


Kini Lina mulai merasa gugup, "Aku tidak pernah menyangka, kalau Benih Suci di dalam tubuhku bisa dengan mudah ditemukan. Lain kali aku harus berhati-hati!"


Tampaknya Leon bisa melihat kekhawatiran di diri Lina, dan dia pun berkata, "Tidak usah gugup. Hanya ada beberapa Orc di dunia ini, yang bisa mengetahui apa itu nafas Benih Suci. Bahkan jika ada yang menciumnya, mereka tidak akan tahu apa itu."


Mendengar apa yang Leon katakan, membuat ketegangan di hati Lina mulai mereda. Lalu dia memandang Leon dengan curiga dan bertanya, "Kenapa kamu bisa tahu segalanya?"


Leon tertawa saat mendengar pertanyaan Lina, yang menurutnya sedikit lucu.


"Hahaha.. Bukankah kamu selalu mengatakan kalau diriku ini sudah tua? Itu berarti, aku ini berpengetahuan luas."


Lina tahu kalau Leon memang belum terlalu terlihat tua, dia berpikir, "Pria ini tidak hanya berpikiran sempit, tapi juga bisa mengingat kata apa pun selama berhari-hari."


"Aku akan membawamu untuk menemui Uriel." Kata Leon.


...........


Pada saat ini, Uriel baru saja keluar dari Kamar Dagang, dengan diikuti oleh dua Orc laki-laki.


Salah satu Orc laki-laki berkata dengan hormat, "Pangeran kedua, kami akan mempersiapkan semuanya dan berkumpul di luar kota."


Uriel pun mengangguk kemudian berkata, "Baiklah, sampai bertemu lagi."


Saat Uriel berbalik, dia melihat Lina sedang berdiri dan tidak jauh darinya Leon juga berdiri di belakangnya.


"Kenapa kamu ke sini?" Lalu Uriel segera berjalan menghampiri Lina dan membopongnya sambil berkata lagi, "Bukankah tadi kamu bilang, kalau kamu akan menungguku di rumah Vanda si beruang bambu?"


Lina menundukkan kepalanya, dengan tudungnya yang menutupi sebagian besar wajahnya.


Dia memeluk leher Uriel, menekan kepalanya erat-erat ke dada Uriel sambil berkata, "Aku merindukanmu."


"Baru saja berpisah sebentar, gadis kecil ini sudah memikirkan diriku?" Setelah berpikir seperti itu, Uriel pun tersenyum.

__ADS_1


"Bisakah kita pergi sekarang?" Tanya Lina kepada Uriel. Lalu lanjut berkata lagi, "Aku ingin segera pulang."


Sebelumnya dia ingin menjual lebih banyak buah dan sayuran kepada Vanda, tapi sekarang dia hanya ingin segera pergi dari sini.


Dia ingin segera kembali ke Gunung Batu, bertemu kembali dengan Saga, Wiro dan anak-anak.


Lalu Uriel berkata dengan lembut, "Oke, kita pulang sekarang."


Ketiganya pun segera meninggalkan kota dalam, tapi saat mereka tiba di kota luar, mereka dihadang oleh beberapa penjaga.


Melihat hal itu, Uriel pun mengerutkan keningnya dan bertanya, "Ada apa paman Beruang?


Jenderal Beruang mengepalkan satu tangannya dan menekannya di dadanya, kemudian membungkuk dan berkata, "Maafkan saya Pangeran kedua. Anda dan pasangan anda tidak bisa meninggalkan Kota Matahari tanpa izin dari Yang Mulia Raja."


Saat mendengar apa yang Jenderal Xion katakan, Leon pun tertawa, sorot matanya yang menatap ke arah para penjaga, terlihat seperti ingin menghabisi mereka.


"Hahaha! Raja kalian baru baru saja naik takhta. Sekarang, apakah dia akan menyingkirkan saudaranya sendiri?" Setelah berkata seperti itu kepada para penjaga, Leon menatap Uriel dan berkata, "Apa kalian benar-benar bersaudara?"


Uriel merasa kalu kata-kata ini terdengar sedikit kasar, dia pun menatap balik Leon dan berkata, "Azka bukanlah orang yang seperti itu."


"Menurutmu, harus seperti apakah saudara itu? Harus bersikap baik? Baik yang seperti apa?" Setelah berkata menyindir, Leon pun tersenyum sinis dan berkata lagi, "Heh! Jika dia memang sebaik yang kamu pikirkan, kenapa dia mengganggu Lina?"


Saat mendengar apa yang Leon katakan, Uriel pun tercengang dan bertanya, "Apa dia sudah mengganggu Lina?"


Leon tidak menjawabnya, dia melirik Lina yang sedang membenamkan kepalanya di dada Uriel, dan bertanya sambil tersenyum, "Lina. Kenapa kamu tidak berani mengangkat kepalamu dan biarkan Urielmu yang tersayang melihat bibirmu?"


Saat ini Lina sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, "Orc Burung satu ini memang benar-benar sangat menyebalkan!"


Kini Uriel sudah tidak terlalu peduli lagi. Dia langsung mengangkat dagu gadis kecilnya dan membuka tudung kulit yang menutupi sebagian wajah gadis kecilnya.


Kini Uriel bisa melihat bibir Lina yang berwarna merah dan bengkak.


Siapa pun yang memiliki otak, bisa mengetahui bagaimana luka di bibirnya itu berasal.


Mata Uriel tiba-tiba saja menjadi gelap, tampak seperti akan menimbulkan badai.


"GRRRR!"


"Dia sudah menggigit bibirmu?!" Uriel bertanya dengan suaranya yang dalam.


Lina merasa bersalah dan berkata, "Sebenarnya ini tidak terlalu menyakitkan. Tinggal digosok saja dengan obat pa ..."


Tapi Uriel segera memotong perkataan Lina, "Kenapa kamu tidak memberitahuku saat tadi kamu datang ke sini?!"


Lina, "....."


Lina tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

__ADS_1


Dia tidak ingin memberi tahu Uriel, karena dia tidak ingin Uriel tahu, apa yang sebenarnya Azka pikirkan.


Dia tidak ingin Uriel menderita.


__ADS_2