
Energi yang terkandung di dalam batu esensi tidak hanya luar biasa, tapi juga sangat murni. Setelah semuanya berhasil diserap oleh Saga, dia tidak bisa kembali ke bentuk Orcnya.
Melihat hal ini, Lina sangat mengkhawatirkan keadaan Saga yang seperti ini, "Aku harus terus berada di sisinya, untuk merawatnya."
...........
Pada hari ketiga, semangat Saga telah sedikit meningkat.
"Aku mungkin akan dipromosikan," kata Saga.
Mendengar itu, Lina menyentuh tubuh Ular Piton itu sambil berkata, "Apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?"
Saga menjulurkan lidah Ularnya dan menjilati pipi Lina, setelah itu berkata, "Aku mungkin harus berganti kulit saat akan naik bintang, jadi, aku harus meninggalkan Gunung Batu dan mencari tempat yang aman."
Lina bertanya kepada Saga, "Tidak bisakah kamu berganti kulit di Gunung Batu saja? Bukankah di sini ada dua lantai lagi yang masih kosong? Tempat itu besar dan sepi, kamu bisa ke sana untuk berganti kulit."
"Tidak mungkin." Jawab Saga.
"Kenapa tidak mungkin?" Tanya Lina dengan sedikit heran.
Lalu dengan sabar Saga mencoba untuk menjelaskan, "Saat berganti kulit, aku membutuhkan banyak air, dan saat aku sedang berganti kulit, aku pasti akan membuat banyak gerakan. Aku khawatir hal itu akan menghancurkan fondasi benteng ini, oleh karena itulah aku tidak bisa berganti kulit di sini."
Mendengar itu, Lina hanya bisa menghela nafasnya dengan merasa tak berdaya.
"Hhhh.. Baiklah, lakukan seperti yang kamu katakan."
...........
Siang harinya, Lina dan Uriel mengantar Saga saat akan meninggalkan benteng.
Sedangkan Wiro masih sibuk menginterogasi Heli Belang. Dia tidak bisa ikut untuk mengantar kepergian Saga.
Sebagai lokasinya untuk berganti kulit, Saga memilih tempat di sebuah danau.
Tempat ini adalah tempat di mana dia dan Lina, untuk pertama kalinya mereka menyatukan tubuh telanjang mereka berdua.
Air danau di sini sangat tenang, setenang cermin, dan kunang-kunang yang terbang di sekitar kini telah menghilang.
Pada saat ini Ular Piton hitam perlahan-lahan berenang ke dalam air.
Sebelum dia menyelam, dia melihat kembali ke arah Uriel dan Lina yang sedang berdiri di tepi sungai dan berkata, "Kalian kembali saja dulu. Setelah aku selesai berganti kulit, aku pasti akan kembali."
__ADS_1
"Berapa lama yang kamu butuhkan untuk melepas seluruh kulitmu?" tanya Lina.
"Aku juga tidak tahu persis. Biasanya, yang tercepat satu atau dua hari, dan paling lama mungkin satu atau dua bulan." Ucap Saga, kemudian dia mulai menyelam kedasar danau.
Dari tepi danau, Lina terus memperhatikan Ular Piton yang menyelam ke dalam danau.
Sampai air danau berangsur-angsur kembali tenang, dan tidak lagi bisa melihat bentuk Ular Piton yang tadi menyelam, Uriel pun berkata kepada Lina, "Ayo kita kembali."
Mendengar itu, Lina pun mengangguk sambil menjawab, "Ya."
Lalu Uriel berubah menjadi Harimau putih, merebahkan tubuhnya, dan membiarkan gadis kecilnya naik ke punggungnya.
Setelah Lina merasa tenang, Uriel segera bangkit dan mulai melangkahkan kaki-kakinya, untuk berjalan kembali ke Gunung Batu.
Setelah beberapa langkah kaki Uriel berjalan, Lina menolehkan kepalanya untuk melihat kembali ke arah danau.
"Aku harap, Saga bisa mengelupas kulitnya dengan lancar, dan kemudian, keluarga kami bisa bersatu kembali."
...........
Selama beberapa hari ini, Wiro sibuk menghukum Heli Belang, dengan cara menyiksanya.
"Heli Belang adalah pelayan Kuil Bulan Gelap. Sebelumnya, dia adalah pengikut imam besar. Dia juga sudah dianggap sebagai orang kepercayaan imam besar. Namun orang ini sangat ambisius dan selalu ingin menggantikan posisi imam besar. Sayangnya, meskipun imam besar sudah tua, tapi dia selalu dalam kesehatan yang baik. Heli Belang yang sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, diam-diam dia meracuni imam besar dan menyalahkan semuanya kepada Saga."
Mendengar kalimat terakhir Wiro, Lina pun sangat terkejut, "Hah? Ternyata dia yang telah menyebabkan Saga menjadi pelarian, karena telah dituduh sebagai pembunuh!"
Uriel mengusap-usap punggung Lina sambil berkata dengan lembut, "Tenang, pertama-tama, kita dengarkan dulu pembicaraan Wiro sampai selesai."
Lalu Lina mencoba untuk menenangkan dirinya, kemudian bertanya, "Kenapa Heli Belang menjebak Saga? Meskipun jika dia ingin menggantikan posisi imam besar, haruskah sampai perlu ada kambing hitam?"
"Itu karena Saga adalah orang berikutnya yang ditunjuk oleh imam besar, untuk menggantikan dirinya. Saga adalah orang penting kedua setelah imam besar, di Kuil Bulan Gelap," kata Wiro.
Mendengar itu, Lina dan Uriel pun tercengang.
"Hah?"
"Aku hanya tahu kalau Saga dibesarkan di Kuil Bulan Gelap, tapi aku tidak pernah menyangka kalau Saga adalah calon penerus imam besar." Pikir Uriel.
Saat ini pikiran Lina sedang mencoba untuk menganalisa apa yang baru saja dia dengar, "Pertama-tama, membunuh imam besar. Kedua, menyalahkan Saga. Dengan begitu, telah menyingkirkan dua pesaing sekaligus. Cara berpikir Heli Belang ini benar-benar menakutkan."
Namun Uriel menyadari kalau ada sesuatu yang janggal.
__ADS_1
"Jika Heli Belang hanya ingin menyingkirkan para pesaingnya, seharusnya dia telah mencapai tujuannya saat Saga meninggalkan Kuil Bulan Gelap. Tapi kenapa dia sampai harus pergi keluar untuk mengejar Saga? Bahkan dia sampai memaksa keluar iblis jahat yang tersembunyi di tubuh Saga?”
Saat mendengarkan analisis Uriel, Lina merasa kalau hal-hal yang telah terjadi pada Saga, tidak lah sesederhana seperti yang dikatakan oleh Heli Belang.
Lalu Uriel berkata lagi, "Pasti Heli Belang hanya mengatakan sebagian dari kebenarannya, dan dia pasti juga masih menyembunyikan banyak hal yang lainnya."
"Aku akan terus menginterogasinya. Orang ini sangat licik. Semua kata-katanya bercampur dengan kebenaran dan kepalsuan. Terkadang dengan sengaja dia mengatakan beberapa hal yang tidak benar, untuk membingungkan publik." Setelah berkata seperti itu, Wiro menjambak rambut pendeknya yang berwarna perak dan berkata lagi, "Ngomong-ngomong, hari ini dia juga mengatakan tentang sesuatu."
Uriel dan Lina menatap Wiro, kemudian Lina bertanya, "Tentang apa itu?"
"Dia mengatakan alasan kenapa imam besar menunjuk Saga sebagai penggantinya. Itu karena, ayah Saga dan imam besar adalah ayah dan anak."
Setelah beberapa saat terkejut, Lina pun bertanya untuk memastikan, "Jadi.. Imam besar dari Kuil Bulan Gelap adalah kakek Saga?"
Wiro pun menjawab pertanyaan Lina, “Ya, ayah Saga adalah orang berdosa. Dia telah dieksekusi karena pernah berkolusi dengan iblis, untuk waktu yang lama. Saga seharusnya juga dieksekusi, tapi hal itu tidak terjadi, itu karena Saga mendapat perlindungan kuat dari imam besar. Imam besar sangat melindungi Saga. Dia selalu membawa Saga ke mana-mana untuk berkultivasi, dan bahkan dia telah berniat untuk mewariskan posisinya sebagai imam besar kepada Saga. Karena itulah Heli Belang merasa iri pada Saga dan menjebaknya."
Meskipun telah mendengar itu, tapi Lina masih merasa ada yang tidak beres. Dia juga tidak tahu hal apa itu.
Lalu dia bertanya lagi untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar, "Apakah Heli Belang benar-benar mengatakan yang sebenarnya tentang hal ini?"
Wiro menjawab, "Aku tidak bisa menjamin kalau hal-hal yang dikatakan oleh Heli Belang adalah yang sebenarnya. Tapi seharusnya dia tidak berbohong tentang Saga. Lagipula, sekarang Saga juga ada di Gunung Batu. Jika Heli Belang berbohong, selama Saga mendatanginya, Heli Belang pasti akan segera menunjukkan siasat liciknya. Dia itu sangat licik, dan dia juga tidaklah bodoh untuk membuat kesalahan, sekecil apa pun itu."
Uriel mengangguk untuk menunjukkan persetujuannya.
Lalu Lina berkata, "Saga tidak hanya dijebak dan dituduh telah membunuh imam besar, tapi juga dituduh telah mencuri barang-barang suci dari Kuil. Apakah barang-barang suci itu juga dicuri oleh Heli Belang?"
"Aku sudah bertanya tentang hal itu pada Heli Belang, tapi dia tetap bersikeras kalau dia tidak tahu keberadaan barang-barang suci tersebut." Jawab Wiro.
Lina, Uriel, "....."
Wiro menggeleng-nggelengkan kepalanya, kemudian berkata lagi, "Heli Belang berkata kalau dia belum pernah melihat barang suci yang ada di Kuil, dan dia juga tidak tahu seperti apa barang suci itu. Aku rasa.. Orang ini pasti tidak mengatakan yang sebenarnya."
Mendengar itu, Uriel pun berkata, "Kalau begitu, lanjutkan lagi interogasinya. Suatu hari nanti, pasti kita bisa mengorek semua informasi yang diketahui oleh Heli Belang."
"Yah, aku tahu itu." Jawab Wiro.
"Dan ingatlah, jangan sampai ada yang tahu tentang Heli Belang. Jangan sampai dia lari lagi." Ucap Uriel.
Wiro menepuk dadanya dengan sangat percaya diri sambil berkata, "Jangan khawatir, semua tangan dan kakinya telah dipatahkan, dengan keadaannya yang seperti itu, tentu dia tidak akan bisa melarikan diri. Selain itu, aku juga menyuruh Rei untuk selalu menjaga dan mengawasi ruang tahanan. Jangan sampai ada kelengahan!"
Saat mendengar itu, Uriel menatap Wiro dan berkata, "Aku juga berharap begitu."
__ADS_1