Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 197 - Ada Darah


__ADS_3

Itu adalah lukisan wajah Lina, dan terlihat sangat mirip.


Jelas, Star sepertinya sangat memahami setiap detil fitur wajah Lina dan melukiskannya pada lempengan batu, yang hasilnya sangat mirip dengan aslinya.


"Masih seorang anak kecil, tapi sudah bisa melukis dengan hasil memukau seperti ini, meskipun dia baru pertama kali melukis?? Bocah ini pasti anak ajaib!" Batin Lina yang masih sangat terkejut, setelah tadi meihat hasil lukisan Star.


Jika Star hidup dalam masyarakat modern, dia mungkin sudah menjadi pelukis hebat dan termuda di masa itu!


"Ini adalah lukisan pertamamu. Kamu harus mengabadikannya." Kata Lina kepada Star.


Mendengar itu, Star pun mengangguk dengan bersungguh-sungguh, "Baiklah."


Bubuk yang Lina gunakan untuk melukis, tidak akan bisa awet untuk waktu yang lama.


Jadi, Lina pun mengambil pisau tulang, dan mengukir lukisan yang ada di lempengan batu itu.


"Mengukir pada sebuah batu, butuh kerja keras dan tenaga yang banyak.. Uuhh.." Pikir Lina yang saat ini mulai merasa lelah.


Setelah dia selesai mengukir, Lina pun merasakan seluruh lengan kanannya terasa sangat pegal.


Kemudian, Lina memberikan batu ukir itu ke pada Star, sambil tangan kirinya meremas lengan kanannya, dan berkata untuk memberikan nasehat, "Simpan ini dengan baik, jangan sampai hilang."


"Baiklah!" Jawab Star.


Saat Star melihat ukiran pada lempengan batu, matanya yang berwarna kuning terlihat berbinar, dan hatinya merasa sangat bahagia.


"Waahh.."


Sejak saat itu, Star pun mulai kecanduan melukis.


Selain menanam, menyirami dan merawat tanaman, setiap harinya dia akan duduk di tepi pantai, sambil memegang batu lempeng, dan mulai melakukan aksinya melukis.


Terkadang, Lina akan mendekati Star yang sedang asik melukis, dan melihat kalau semua lukisan bocah itu adalah wajah seorang wanita, dan wajah itu tentu saja adalah Lina.


"Aku rasa, tidak ada yang salah dengan ini. Lagi pula, hanya ada kami berdua di pulau ini. Star yang tidak memiliki model lain untuk dia lukis, aku lah yang akhirnya dia jadikan model.." Pikir Lina dengan simpel.


Setiap kali Star selesai melukis pada lempengan batu, dia akan lanjut mengukir lukisan yang baru saja dia buat itu, dengan menggunakan pisau tulang milik Lina.


Karena kekuatan bangsa Orc lebih besar daripada Manusia, Star pun dengan sangat mudah mengukir lukisan itu dibandingkan Lina.


Saat Lina melihat semua itu, dia pun merasa sangat terkejut.


"Hah??"


Saat mereka berdua bekerja mengurusi tanaman, Lina lah yang melakukan pekerjaan yang berat, dan menyerahkan pekerjaan yang ringan untuk Star kerjakan.


Itu karena bocah itu terlihat sangat kurus, Jadi, Lina pun tidak bisa membiarkan Star melakukan pekerjaan yang berat.


Pada saat ini, Star sedang mulai untuk melukis lagi.


Lina pun mencari tempat untuk menjauh dari Star, dan duduk sendirian di hutan bambu, sambil mengobrol dengan suara yang ada di dalam benaknya.


"Bubu, apa pendapatmu tentang Star?"


Bubu, "....."

__ADS_1


Belum ada tanggapan dari Bubu, Lina pun menghela napasnya, dan lanjut berkata lagi, "Hhhh.. Aku merasa ingin merawatnya, seperti anakku sendiri."


Tak lama kemudian, suara dalam benak Lina pun juga seperti ikut menghela napasnya, "Hhh.. Saya tidak pernah menyangka, kalau sekarang saya telah menjadi kakek."


Lina, "....."


Bubu pun berkata lagi, "Gadis, lanjutkan saja makan camilannya. Bocah itu tidak sesederhana seperti yang anda pikirkan."


Setelah mendengar itu, Lina pun segera menolehkan kepalanya dan menatap Star yang berada jauh darinya sambil berkata, "Tapi, menurutku anak itu tidak lah jahat."


Akhirnya, Lina pun memutuskan untuk mulai menyelidiki, tentang siapakah Star.


...........


Pada saat ini, Star telah menyelesaikan lukisannya, kemudian dia mengambil pisau tulang, untuk mengukir lukisan tersebut. Bertepatan dengan itu, Lina yang telah berjalan kembali dari kebun bambu, kini telah berada di dekat Star.


"Sudah aku duga, dia melukis wajahku lagi." Batin Lina, saat melihat hasil lukisan Star.


Hanya saja, Star selalu mengubah sudut pandang lukisannya. Meskipun dengan posisi dan ekspresi yang berbeda-beda, tapi Lina tetap bisa mengenali siapa model lukisan itu, meskipun hanya sekilas.


Sambil melongok untuk melihat Star yang sedang asik mengukir hasil lukisannya, Lina pun mengeluarkan buah manis dari dalam ruang penyimpanan, mengusap-usapkan ke lengan, lalu menggigit dan memakan buah itu dengan nikmat.


"KRAUUKK! KRAUK! Nyam.. Nyam.. Nyam.."


Meskipun ada kebisingan disekitarnya, tapi sedikitpun Star tidak terpengaruh, dan terus melanjutkan mengukir. Dia masih dengan sangat asik dan serius mengukir, dengan hasil ukirannya yang terlihat sangat akurat dan halus.


Sambil mengunyah makanan, Lina pun memutuskan untuk berkata, "Kamu tidak harus selalu melukis orang. Kamu juga bisa mencoba untuk melukis bunga, pohon, lautan, dan yang lainnya lagi."


Meskipun bisa mendengar apa yang Lina katakan, tapi Star sama sekali tidak menolehkan kepalanya, dia masih tetap asik melanjutkan aktifitasnya mengukir, sambil berkata, "Kamu lebih cantik dari bunga dan pohon."


"Oh, Hah? Mulut bocah ini manis sekali!" Batin Lina yang sedikit terkejut, saat mendengar apa yang Star katakan.


Mendengar itu, Star pun sedikit memelankan gerakan mengukir batunya. Meskipun begitu, dia tidak berhenti, dia tetap melanjutkan mengukir sambil berkata, "Setelah kapal yang kami naiki karam, aku tidak lagi bisa mengingat banyak hal dengan jelas.. Aku juga tidak bisa mengingat, seperti apa rupa kedua orang tuaku.."


Nada suara Star terdengar sangat tenang, seperti tidak ada perasaan sedih di dalamnya.


Lina pun akhirnya memutuskan, untuk tidak meneruskan bertanya tentang orang tua dan keluarga Star lagi.


Saat ini Lina hanya bisa berkata dengan getir, "Aku minta maaf, karena sudah mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih."


"Tidak apa-apa." Kata Star.


"KRAUK! KRAUK!"


Selesai menggigit buah manis, Lina pun lanjut bertanya lagi, "Seperti apa wujud binatangmu? Dengan wajahmu yang sangat tampan, pasti bentuk binatangmu juga, kan?"


Saat mendengar apa yang Lina tanyakan, membuat Star seketika itu juga tercengang.


Dia pun segera menghentikan aktifitas mengukirnya, lalu menengadahkan kepalanya untuk menatap Lina, dan memperlihatkan kedua bola matanya yang berwarna kuning yang saat ini tampak sedikit berkaca-kaca, kemudian berkata, "Bentuk binatangku sangat jelek.. Oleh karena itulah orang-orang selalu menertawakanku.."


Begitu Lina melihat ekspresi Star yang seperti akan menangis, dia pun segera menghiburnya.


"Jangan dengarkan omong kosong orang-orang itu. Kamu itu Orc yang sangat tampan!" Kata Lina.


"Apa kamu menyukaiku?" Tanya Star sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Suka! Tentu saja aku menyukaimu." Jawab Lina dengan ramah, untuk menghibur Star.


"Aku juga menyukaimu!" Balas Star.


"Sekarang aku akan memasak." Ucap Lina yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ya, aku akan membantumu jika aku sudah selesai mengukir lukisan ini." Kata Star.


Saat itu juga, Lina pun segera berbalik dan mulai sibuk untuk memasak.


Dia merebus sepanci sedang berisi kentang, dan mengeluarkan beberapa kacang yang telah dia panggang di atas api.


Sambil mengupas kulit kacang, dia berkata dengan sangat lirih, pada suara yang ada di dalam benaknya, "Bubu, anak itu sangat pandai berbicara. Setelah mengobrol untuk waktu yang lama, aku tetap tidak bisa mendapatkan jawaban satu pun."


"Sebelumnya saya sudah menduga akan seperti ini." Kata Bubu.


"Lalu, apa kamu mempunyai cara lain supaya bisa mencari tahu tentang dia?" Tanya Lina dengan lirih.


"Jika anda mendorongnya ke laut, dia mungkin akan merubah wujudnya kebentuk binatangnya untuk bertahan hidup." Kata Bubu.


Saat mendengar itu, spontan saja membuat Lina sangat terkejut, dan tanpa sadar menjatuhkan kacang yang saat ini sedang dia pegang.


"Kamu bahkan berani untuk mencelakaimu cucumu? Dasar gila!"


"Lagipula, bocah itu kan bukan milik anda." Kata Bubu.


"Kalau begitu, aku juga bukan anakmu." Balas Lina.


"Anda harus bersikap baik pada ayah. Atau, suatu hari nanti, saya akan melemparkan anda ke tengah-tengah lautan." Kata Bubu yang tak mau kalah.


"Hah? Kamu berani? Lebih baik ayo kita saling menyakiti!" Balas Lina yang tak mau kalah juga.


Bubu, "....."


Tak ada balasan lagi dari Bubu, Lina pun menghela napasnya, "Hhhh.."


"Jika ada layanan purna jual untuk sistem, aku ingin memeriksa, apakah ada virus yang menginfeksi Bubu!" Batin Lina.


Akhirnya, Lina yang tidak memiliki hati yang kejam, memutuskan untuk tidak mengikuti saran Bubu yang menyuruhnya melempar Star ke laut.


...........


Pada saat ini, Lina memberikan kentang rebus yang empuk kepada Star, sambil berkata untuk mengingatkannya, "Hati-hati masih panas."


Star pun mengangguk, dan dengan hati-hati meniup kentang itu, lalu memakannya.


"Nyam.. Nyam.. Nyam.."


Setelah selesai makan dan minum, Lina yang kini perutnya telah terasa kenyang mulai mengantuk.


Saat Lina sedang tertidur, tiba-tiba saja dia merasakan ada aliran yang terasa hangat, yang mengalir keluar dari dalam perutnya.


"Hm? Ini.. Apakah dia datang lagi?" Pikir Lina yang saat ini mulai terbangun, tapi masih belum membuka matanya.


Tak ingin menunggu lama, dia pun membuka matanya dan segera duduk, lalu memasukkan tangannya kebalik rok bulu yang dia kenakan dan menyentuh area yang ada di balik rok bulu.

__ADS_1


Saat Lina menarik tangannya keluar, dia pun sangat terkejut saat melihat telapak tangannya!


"Ada darah! Kenapa tidak datang lebih awal?! Kenapa harus datang pada saat seperti ini?! Dasar tamu bulanan si*l*n!!"


__ADS_2