
Tanpa berpikir panjang lagi, Saga segera menjulurkan kepalanya keluar gua. Dia mengambil sedikit salju menggunakan mulutnya, kemudian segera menaburkannya ke dahi dan wajah gadis kecil itu sebelum esnya mencair, untuk mendinginkannya.
"Tidak berhasil. Bagaimana ini?!"
Sayangnya, apa yang sudah dia lakukan itu tidak berhasil. Suhu tubuhnya masih tetap tinggi.
Saga yang kebingungan dan panik, kemudian berubah kembali ke bentuk manusia dan memeluknya.
Ular adalah hewan berdarah dingin. Suhu tubuh Saga lebih rendah dari Lina.
Ketika Lina menyentuh kulitnya, Saga langsung terlihat seperti pria yang kehausan selama tiga hari, yang pada akhirnya melihat segelas air.
Dengan cepat Lina memeluknya erat-erat, dan mengusap-usapkan pipinya ke dada Saga.
Lina menggumam, "Rasanya sangat sejuk dan nyaman."
Saga yang merasakan tubuhnya digosok-gosok oleh Lina, dengan segera, bagian bawah tubuhnya bereaksi mengeras dengan cepat.
Jika gadis kecil itu sekarang dalam keadaan sehat, dia pasti sudah tidak akan ragu lagi untuk menjatuhkannya keatas tumpukkan jerami dan menubruknya dengan ganas.
Tapi saat ini situasinya berbeda. Gadis kecil itu sedang sakit.
Semua wanita mudah jatuh sakit. Saga telah melihat banyak wanita yang meninggal muda, karena tidak tertolong saat mereka sakit.
"Aku tidak ingin gadis ini mati. Aku harus menyelamatkannya."
Saga mengabaikan hasrat tubuhnya. Dia dengan hati-hati memeluk Lina untuk membantunya menurunkan suhu badannya.
Tanpa sadar, Saga ikut tertidur dengan Lina ada di dalam pelukannya.
...........
"UHUK! UHUK!"
Saga terbangun karena mendengar suara orang batuk.
Dia membuka matanya, dan melihat pipi Lina penuh dengan warna merah yang tidak normal, dan suhu tubuhnya naik turun.
Lina membuka matanya setengah dan terbatuk-batuk.
"UHUK! UHUK!"
Dengan cepat saga mengambil es dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah es mencair, dia mencium bibir Lina dan memberikan airnya langsung dari mulutnya.
Saga berbicara dalam hatinya, "Bibirnya sangat tipis dan lembut, juga terasa manis."
Kemudian dia menjulurkan lidahnya kedalam mulut gadis itu dan memainkan lidahnya di lidah Lina.
Sampai Lina hampir tersedak oleh ciuman itu, dengan enggan Saga akhirnya melepaskan permainan lidahnya.
"Rasa gadis kecil ini sangat enak, saat aku mencicipinya, aku merasa ingin memakan seluruh tubuhnya." Gumam Saga dalam hati.
Saat saga menatap bibir lembab gadis itu, dia kemudian menjilati sudut mulutnya sendiri. Seolah siap memakan hidangan lezat yang sudah tersedia di depan mata.
"Aku sangat menginginkannya. Aku benar-benar ingin merobek rok bulunya, naik ke atas tubuhnya dan memasukkan anak kunciku ke dalam lubang kuncinya." Suara hati dan pikiran Saga saat ini sedang meronta-ronta karena n*fs*nya.
__ADS_1
"UHUK!"
"UHUK! UHUK! UHUK!"
Suara batuk yang keras sudah mengganggu lamunannya.
Dia melihat batuk Lina semakin parah.
"Dia bahkan batuk darah?!"
Saga langsung panik.
"Tidak peduli apa penyakitnya, selama ada darah, itu pasti sangat serius. Apa gadis kecil ini sedang sekarat?" Saga bergumam bingung.
Kemudian dia berkata kepada Lina dengan panik, "Jangan mati, aku mohon jangan mati!"
Lina bersandar di lengannya, sambil terbatuk-batuk. Dia merasakan sensasi terbakar di paru-parunya, rasa sakit yang membakar.
Lina menduga kalau saat ini dia menderita pneumonia akut.
Dalam beberapa hari terakhir, dia sudah berkeliaran di salju, minum air es dan mencuci wajahnya dengan es dan salju. Hanya tinggal menunggu waktu untuk dia jatuh sakit, karena tubuh rapuhnya.
Hanya saja dia tidak menyangka penyakitnya kali ini begitu ganas.
Pneumonia akut, di era tanpa antibiotik, penyakit ini bisa membunuh orang.
Ketika Lina bingung, dia masih memikirkan antibiotik. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
"Buah itu!"
Lina sedang memikirkan khasiat obat itu, "Dapat berperan sebagai anti inflamasi, apakah berarti mengandung bahan yang mirip dengan antibiotik?"
Memikirkan hal ini, Lina tampaknya sudah menemukan sinar kehidupan.
Dia buru-buru mengeluarkan dua buah harum segar yang sudah mulai layu dari tasnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Tak lama berselang, dia merasakan sakit di paru-parunya sedikit mereda. Setidaknya sekarang dia bisa berbicara.
"Tampaknya buah yang renyah itu bermanfaat. Tapi hanya memakan dua buah, jelas itu tidak bisa menyembuhkanku."
Kemudian Lina menatap Saga dan memohon padanya. "Maukah kamu membantuku mencarikan buah harum segar? Buah itu bisa menyembuhkan penyakitku ini."
Saga Bergola sedikit terkejut mendengar kata-katanya, dia pun bertanya, "Buah harum segar bisa untuk menyembuhkan penyakit? Buah renyah manis seperti itu, bukankah cuma camilan khusus untuk wanita? Bisakah itu digunakan sebagai obat?!"
Dengan suaranya yang sangat serak, Lina mencoba meyakinkan Saga, "Percayalah, carikan aku buah harum segar itu."
Saga mengerutkan keningnya dan berkata, "Suara serakmu sangat tidak enak untuk didengar. Jangan bicara lagi."
Lina menggelengkan kepalanya dan tetap bersikeras, "Pergi cari buah itu sekarang! Cepat pergi!"
"Ya. Aku pergi mencarinya sekarang juga!"
Saga tidak lagi membuang-mbuang waktu, dia membaringkan gadis kecil itu di tumpukan jerami, menyelimutinya dengan kulit tebal dan membiarkan api menyala di dekatnya.
Kemudian dia keluar dari gua, menggunakan batu besar untuk memblokir pintu masuk gua dan dengan cepat pergi untuk mencari buah harum segar.
__ADS_1
Pada saat ini sudah memasuki tengah musim dingin dan salju masih tebal menutupi seluruh hutan. Jangankan buah, bahkan daun pun tidak terlihat karena tertutup oleh salju.
Tapi buah itu bisa untuk menyelamatkan hidup si gadis kecil mungil.
"Aku harus bisa menemukan buah itu segera!" Gumam Saga.
Saga bergerak dengan kecepatan tercepatnya, sambil melihat-lihat sekitarnya mencari-cari buah itu. Tapi sama sekali tidak ada.
Dia tidak bisa menemukan buah harum segar di hutan, jadi dia harus mencarinya di tempat lain.
Dia tiba-tiba teringat saat dia sedang dikejar-kejar, dia melihat ada suku kecil di sekitar sini.
"Mungkin aku bisa menemukannya di sana." Batin Saga.
Dia segera berangkat menuju ke lokasi suku itu, tanpa sepatah kata pun dia langsung bergegas masuk begitu dia menemukan suku kecil itu.
Suku itu adalah suku Babi Hutan.
Jumlah penghuninya kurang dari sepersepuluh dari jumlah suku Serigala Batu. Namun, mereka sangat berani dan pandai bertarung, juga memiliki kekuatan serangan yang kuat.
Musim dingin tahun ini datang begitu cepat. Tidak ada dukun di suku mereka yang bisa memprediksi cuaca seperti Sito Gering, jadi mereka tidak memiliki cukup makanan untuk musim dingin sekarang.
Saat Saga sudah menerobos masuk ke dalam wilayah suku Babi Hutan, para Orc di sini sedang mengkhawatirkan bagaimana cara mengirit makanan untuk hari-hari berikutnya, selama musim dingin ini.
Saga mengeluarkan koin kristalnya dan menunjukkannya di depan ketua suku Babi Hutan.
“Apa kamu punya buah harum segar? Aku ingin membeli semua yang kamu punya!”
Ketika kepala suku itu melihat melihat koin kristal yang berkilauan, seketika matanya menjadi cerah.
Jika cuaca saat ini dalam keadaan normal, dia pasti akan senang jika semua buah harum segar yang dimiliki suku itu ditukarkan dengan koin kristal.
Itu adalah koin kristal. Jika menukarnya di pasar, koin kristal apa pun akan cukup untuk membeli segunung buah harum segar.
Tapi tidak untuk saat ini.
Suku Babi Hutan sedang kekurangan makanan, makanan yang mereka miliki tidak cukup untuk mereka bertahan selama musim dingin ini.
Ketua suku Babi Hutan dengan menyesal mengatakan kepada Saga, "Maaf. Kamu bisa menukar koin kristal dengan apa pun di suku kami, kecuali makanan."
Ekspresi wajah Saga segera berubah semakin dingin.
"Aku hanya ingin buah harum segar!"
"Tidak, kami menolak untuk bertukar makanan." Jawab tegas si kepala suku.
Melihat mereka yang sepertinya tetap bersikeras menolak apa yang Saga inginkan, membuatnya semakin tidak sabar dan semakin marah.
Karena pihak lain tidak ingin menjual, dia hanya bisa mengambilnya dengan paksa.
Saga tiba-tiba berubah menjadi Ular Piton, membuka mulutnya dan menelan kepala suku Babi Hutan di depannya itu tanpa basa-basi.
Tentu saja apa yang sudah dilakukan oleh Saga, membuat para Orc suku Babi Hutan seketika menjadi sangat marah.
"Semuanya bersiap untuk menyerang!! Ketua kita sudah dimakan!!"
__ADS_1