Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 36 - Rasa Manis Membuatku Ingin Menangis


__ADS_3

Setelah satu malam berlalu, Lina menjadi lebih lapar lagi. Dia mengeluarkan lima buah manis lagi, dan mulai memakannya dengan lahap.


Saga melihat penampilan gadis itu yang menyedihkan, dia sedikit mengerutkan keningnya.


"Apa kamu lapar?" Tanya Saga.


"Kriuuuutt.."


Sebelum Lina sempat membuka mulutnya untuk bersuara, tangisan yang nyaring keluar dari perutnya.


Perutnya sudah memberikan jawaban yang sangat jelas.


Saga kemudian duduk.


"Salju di luar mulai reda, aku akan pergi keluar untuk melihat apakah ada mangsa."


Lina dengan cepat berkata, "Kamu masih terluka, jangan kemana-mana!"


Saga membuka bajunya dan melepas ikatan kain yang melilit di pinggangnya, memperlihatkan lukanya yang hampir sembuh total.


Dia berkata dengan tenang, "Lukaku sudah sembuh. Sekarang sudah tidak masalah bagiku untuk berburu."


Lina menatap pinggangnya, sambil berkata keheranan, "Lukamu yang kemarin masih berdarah, sekarang sudah hampir sembuh? Sekarang hanya tinggal menyisakan bekas luka yang dangkal. Menakjubkan! Hanya dalam satu malam, lukamu sembuh dengan sendirinya?"


Saga agak ragu untuk menjelaskan, tapi dia tetap mengatakannya, "Konstitusiku berbeda dari orang biasa, kecepatan penyembuhanku juga jauh lebih cepat dari yang lainnya."


"Ternyata dia memiliki kelebihan yang seperti ini. Kalau dia pergi berburu, pasti tidak akan membuat luka yang ada di tubuhnya terbuka lagi." Hati Lina kini mulai yakin.


Saga memakai kembali bajunya.


"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"


Lina menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada."


Saga kemudian bangkit dari duduknya dan berkata, "Baiklah, aku akan keluar berburu, kamu tetaplah di sini, jangan kemana-mana."


Awalnya Lina ingin mengatakan kalau dia tidak perlu untuk melakukannya, tetapi ketika dia melihat sorot matanya yang dingin, dia akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengatakannya.


Lina hanya bisa menganggukan kepalanya.


Saat ini musim dingin. Hewan-hewan di hutan pun sedang berhibernasi. Meskipun Lina sendirian di dalam gua, dia tidak akan mendapatkan masalah.


Setelah Saga pergi, dengan cepat Lina berjalan keluar dari gua.


Hari ini tidak ada matahari dan hanya ada beberapa kepingan salju kecil yang melayang-layang turun dari langit. Dia membuka matanya dan mencari-cari untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya dia bisa menemukan arah menuju ke gunung batu.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Uriel dan Wiro. Sekarang mereka pasti sangat mengkhawatirkanku. Aku harus segera kembali!"


Lina berencana meninggalkan catatan untuk Saga, tetapi di sini tidak ada pena atau pun kertas. Dia juga tidak tahu kata-kata apa yang akan dia tulis untuk Saga.


Setelah ragu-ragu sejenak, dia akhirnya memutuskan untuk tetap pergi.


"Mau bagaimanapun, aku dan Saga baru saja bertemu. Bahkan jika aku pergi, Saga pasti tidak akan mempermasalahkannya."


Lina mengambil langkah yang cepat untuk menuju ke pegunungan batu.

__ADS_1


Dia berjalan sambil terus mengamati sekitarnya dan menemukan beberapa buah liar.


Menurut catatan dikulit bergambar, buah liar yang dia petik ini bisa untuk dimakan, dia pun segera memasukkannya ke dalam mulutnya untuk dia makan.


"Rasa buah ini tidak enak, dagingnya kering dan lengket, juga membuat mulutku jadi terasa pahit."


Setelah memakan beberapa buah, rasa lapar mulai berkurang. Lina kemudian bangkit dan melanjutkan perjalanannya.


Seluruh hutan telah tertutup salju yang tebal, jalan di tanah tidak dapat dilihat dengan jelas. Untuk menghindari terperosok ke dalam lubang, Lina membawa kayu yang sudah dia potong.


Sebelum setiap dia berjalan, dia akan menusuk-nusukan kayu itu ke dalam tumpukan salju untuk memastikan tak akan ada lubang di depannya. Bila dirasa aman, dia kemudian melanjutkan untuk berjalan.


Akibatnya, dia kini bergerak jauh lebih lambat.


Hari sudah mulai gelap, tapi gunung batu terlihat masih sangat jauh.


Lina mulai merasa putus asa, dia benar-benar merasa terlalu tidak berguna, sudah berjalan selama dua hari, tetapi masih belum juga sampai.


Buah liar telah dimakan dan dia hanya memiliki beberapa buah manis yang masih tersisa di tas kainnya.


Merasakan lapar dan kedinginan, dia memutuskan untuk memakan dua buah manis.


"Rasanya yang manis, membuatku ingin menangis."


Dia menahan rasa lapar, dengan hati-hati memasukkan tiga buah manis yang tersisa ke dalam tas kainnya dan mulai mencari tempat untuk berlindung dari angin dan salju.


Kali ini, keberuntungan tidak berpihak padanya. Dia tidak bisa menemukan tempat untuk dia berlindung dan beristirahat.


Kelaparan dan kedinginan, membuat tenaganya cepat terkuras. Langkah kakinya kini jauh semakin lambat, karena tubuhnya merasa sangat lelah dan lemas.


Dan akhirnya.


Dia jatuh ke atas salju. Ampas salju yang dingin segera menutupi wajahnya.


"Dinginnya!"


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tanya seseorang kepada Lina.


Lina berjuang untuk mengangkat kepalanya, matanya bergerak menuju ke arah suara dan melihat Saga yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya.


Wajah pria itu sangat pucat dan rambut hitam panjangnya hampir menyatu dengan malam.


Dia sedang berdiri sambil menatap kebawah, ke arah gadis yang terbaring di atas salju, sorot mata hitamnya terlihat sangat dingin.


Lina merasa bahwa suasana hati pria itu tampaknya tidak terlalu baik.


Dengan hati-hati Lina mencoba untuk bangkit, menggosok lengannya dan suaranya bergetar karena kedinginan, "Aku ingin pulang."


"Di mana kamu tinggal?" tanya Saga.


Gunung Batu yang jauh, kini tengah ditutupi oleh gelapnya malam. Lina tidak bisa melihat arah pastinya, dia hanya bisa berkata datar, "Aku tinggal di Gunung Batu."


Dengan cepat Saga menyahut, "Tidak ada Gunung Batu di sekitar sini."


Lina menundukkan kepalanya dan berhenti berbicara.


Saga kemudian berkata, "Ikut aku kembali."

__ADS_1


Lina menatap Saga.


"Bisakah kamu membawaku pulang? Aku sangat ingin pulang. Tolong antarkan aku pulang.."


Sorot mata Saga kini menjadi lebih dingin dan terlihat suram.


"Kenapa kamu harus pulang?" Tanya Saga.


"Keluargaku pasti sedang menungguku kembali." jawab Lina.


"Keluarga? Apa mereka orang tuamu?"


"Bukan orang tua, tapi pasanganku," kata Lina pelan.


Mendengar itu membuat kedua alis Saga sedikit mengerut.


Ketika pertama kali dia melihatnya, dia bisa mencium bau dua Orc jantan dari tubuhnya, tetapi baunya sangat ringan sehingga dia mengira kalau itu adalah bau dari ayah atau saudara laki-lakinya.


"Tidak ku sangka, kedua bau tersebut ternyata berasal dari kedua pasangan prianya."


Saga meraih pergelangan tangan Lina, menariknya mendekat dan bertanya dengan suara yang dalam, "Apa kamu sudah k*w*n dengan mereka?"


Lina tersipu dan hanya menggelengkan kepalanya.


Seketika itu juga, kegundahan hati yang tadi sempat Saga rasakan, kini telah lenyap saat melihat gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Karena kamu belum k*w*n, itu berarti kalian belum menjadi pasangan seutuhnya. Bahkan jika kamu tidak kembali, hal itu tidak akan menjadi masalah bagi mereka. Lebih baik sekarang kamu ikut denganku." Katanya.


Tanpa menunggu persetujuan dari Lina, dia segera memanggul gadis itu di bahunya dan dengan cepat membawanya pergi.


Angin yang dingin meresap sampai ke dalam tulang.


Sepanjang malam dia berjalan membawa Lina, sepanjang jalan itu juga Lina hanya bisa menutup mulutnya, tak berani untuk berbicara.


Kini mereka telah sampai di gua tempat mereka berada sebelumnya.


Gua yang tadinya sempit, kini telah diperdalam oleh Saga dan sudah terlihat cukup luas.


Dengan hati-hati Saga menempatkan Lina ke atas tumpukan jerami yang tebal, kemudian dia mengeluarkan dua buah batu. Dia memukul-mukulkan kedua batu itu dengan pelan, hingga memunculkan percikan api.


Dia menggunakan percikan ini untuk menyalakan api yang tidak jauh dari tempat Lina, pada tumpukan kayu yang sudah dia beri sedikit jerami.


Lina membuka matanya saat dia melakukan itu.


"Apakah itu fosfor?"


"Kamu menyebutnya fosfor? Kami menyebutnya batu api," kemudian Saga menyerahkan batu itu kepada Lina, "Jika kamu suka, ambil saja."


Lina mengambil batu itu dan mendekatkannya ke hidungnya.


"Ternyata benar ada bau bubuk fosfor."


Lina tidak menyangka akan ada fosfor di dunia ini. Tampaknya, dunia ini tidak sepenuhnya berbeda dari dunia dia berasal. Pastinya ada beberapa kesamaan.


Saga hanya bisa mendapatkan binatang liar yang seperti kelinci, itu dikarenakan mangsa yang langka saat musim dingin.


Kulitnya yang memiliki banyak bulu telah dia kupas dan dibersihkan, kemudian dia sampirkan kulit bulu itu ke bahu Lina.

__ADS_1


Saga mencuci daging hasil buruannya dengan menggunakan es dan salju yang sudah dia cairkan. Dia memotong bagian terempuk dari daging itu, memanggangnya sampai matang dan menyerahkannya ke hadapan Lina.


"Kamu pasti sangat lapar kan? Makanlah."


__ADS_2