Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 42 - Ingin Selalu Di Sisimu


__ADS_3

Dengan bentuk ularnya yang luar biasa besar, efektifitas tempur Saga menjadi sangat kuat.


Dihadapan Saga yang berwujud ular, para Orc dari suku Babi Hutan terlihat seperti anak kucing.


Tetapi, bahkan anak kucing yang kecil sekalipun, jika diganggu oleh orang lain, pasti juga akan melawan balik.


Apalagi jumlahnya yang banyak.


Kemarahan yang timbul, karena kepala suku mereka yang telah dimakan, membuat para Orc dari suku Babi Hutan mengeluarkan kekuatan bertarung yang super kuat. Mereka bergegas menyerang dan menggigit ular piton itu mati-matian.


Mereka harus membalaskan kematian kepala suku mereka.


Meskipun ditutupi oleh lapisan sisiknya yang halus, tetapi kulit ular piton ini sangat tebal. Bahkan jika digigit dan dipukul, itu tidak akan menyebabkan banyak kerusakan.


Sembari mencari di mana mereka menyimpan buah harum segar, dia juga harus menghadapi para Orc Babi Hutan yang mengamuk.


Dengan terus mengikuti sumber bau makanan berasal, Saga akhirnya menemukan gua tempat suku Babi Hutan menyimpan buah itu, dan mengambil semua buah yang mereka miliki. Dengan menyimpan kantong-kantong buah itu, di dalam mulut ularnya.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Saga tidak lagi melawan balik mereka, dia segera bersiap untuk mundur.


Akan tetapi, mana mungkin para Orc suku Babi Hutan akan membiarkannya pergi begitu saja?!


Mereka menyadari, bahwa serangan biasa tidak berdampak banyak pada ular itu, salah satu Orc Babi Hutan tiba-tiba berseru, "Gunakan api! Ular takut api!"


Semua Orc takut api, tapi Orc ular yang paling takut dengan api. Itu mungkin karena sifatnya yang berdarah dingin.


Para Orc Babi Hutan segera membagi tugas, sebagian pergi mencari batu api dan kayu kering, sebagian lagi tetap menghalang-halangi Saga, supaya tidak bisa melarikan diri.


Saga yang merasakan akan adanya bahaya, dia menjadi sedikit kesal. Dengan ekor besarnya, dia segera menyapu semua Orc Babi Hutan yang ada di depannya, dan ingin segera melompat keluar.


"AARGH!"


"AUUH!"


"OUHH!"


Jeritan kesakitan pun terdengar silih berganti.


Saga ingin secepatnya pergi dari situ, tetapi Orc Babi Hutan itu seperti kutu loncat, yang terus menerus kembali, walaupun sudah terjatuh dari mangsa yang akan dihisap darahnya. Dengan mati-matian, mereka terus menyerangnya, mereka menolak untuk melepaskan Saga.


Sebagian Orc yang bertugas mencari kayu dan batu api, kini sudah kembali. Mereka segera menyalakan api, dan melemparkan kayu yang sudah terbakar oleh api itu ke arah Saga.


Panas api yang menyengat membakar ular itu, sisik-sisik di permukaan kulit ular itu pun menggulung.


Sudah pasti Saga merasa sangat kesakitan.


Tapi dia tetap berjuang keras. Dengan mengabaikan rasa sakitnya, dia menerjang para Babi Hutan dan para Orc yang memegang obor, dan bergegas keluar dari pengepungan.


Pohon-pohon juga tak luput dari terjangan ular besar itu dan kemudian bergerak dengan sangat cepat di atas salju.


Para Orc suku Babi Hutan, terus mengejar Saga dengan masing-masing dari mereka membawa obor.

__ADS_1


Laju lari Babi Hutan sangat cepat. Tetapi jika mereka dalam wujud itu, mereka tidak akan bisa berlari dengan membawa obor. Bahkan jika mereka bisa mengejar ular itu dalam wujud Babi Hutan, mereka tidak akan bisa melukai si ular piton.


Jadi mereka hanya bisa mempertahankan wujud manusianya, dan mengejar ular itu dengan kedua kaki mereka.


...........


Tubuh Saga penuh dengan luka bakar, sisiknya menggulung, kulit ularnya terbakar hingga hitam. Kini, daging berwarna merah bisa terlihat dibanyak bagian tubuhnya, karena kulit hangusnya yang terkelupas saat bergesekan dengan salju.


Meskipun sangat kesakitan, Saga tetap tidak menghentikan laju larinya. Dia tidak ingin berhenti untuk beristirahat, barang sedetik pun.


Di pikirannya, hanya ada gadis kecil yang sekarang sedang terbaring sakit.


"Lina sedang sakit parah, dan sangat membutuhkan buah ini! Aku tidak boleh berhenti! Aku harus bisa meloloskan diri! Aku harus bisa bertahan! Aku harus segera kembali secepatnya! Tidak boleh berhenti! Tidak boleh!" Dalam pelariannya, Saga terus menerus menyemangati dirinya.


Ketika Saga akhirnya sudah kembali, dan sampai di dalam gua, dia mendapati Lina kini sudah tak sadarkan diri.


Bahkan dalam keadaan tidak sadar, Lina masih tetap batuk.


Batuknya sangat hebat, seolah-olah setiap kali dia batuk, seluruh isi dalam paru-parunya ikut keluar melalui tenggorokannya.


Dengan cepat, Saga mengeluarkan buah yang dia bawa, dan berkata kepadanya, "Aku sudah membawa buah harum segar yang kamu inginkan." Kemudian dalam kebingungannya, dia bertanya, "Sekarang, apa yang harus aku lakukan??"


Lina yang tak sadarkan diri karena sakitnya, dia tidak bisa menjawab apa yang Saga tanyakan.


Bingung, panik, dan tak berdaya, Saga yang telah berubah ke wujud manusia, tanpa sadar tangannya bergerak dengan sendirinya mengambil beberapa buah harum segar, memasukkan ke mulutnya lalu mengunyah buah harum segar itu di dalam mulutnya. Dia menyuapkannya menggunakan mulutnya ke mulut Lina. Dia bisa merasakan, Lina menelan buah yang dia berikan itu.


"Untungnya, Lina masih bisa menelan makanan."


"Aku tidak tahu apakah jenis buah ini benar-benar bisa mengobatinya. Tetapi, batuk Lina secara bertahap kini mulai sedikit tenang!"


Saga tidak berani memejamkan matanya, dia tetap berdiri diam, dengan matanya yang selalu tertuju dan memperhatikan gadis kecil yang sedang terbaring di atas tumpukan jerami.


Setelah beberapa waktu yang lama, Lina kini mulai terbangun.


Dia mencoba membuka matanya dengan susah payah. Tenggorokannya masih terasa gatal, dan kepalanya sedikit pusing, tapi dia bisa merasakan keadaannya kini jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Aku sudah memberimu buah harum segar. Apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Saga kepada Lina yang sudah mulai tersadar.


Lina menolehkan kepalanya ke arah sumber suara berasal, dan melihat Saga dalam bentuk ularnya sedang melingkar di tanah. Mata ularnya terlihat sedang menatapnya penuh perhatian.


"Aku jauh lebih baik sekarang, terima kasih!" Katanya bersyukur.


Saga menghela napasnya dengan berat. Kemudian dia melihat ke arah luar gua, tatapan matanya tertuju ke arah es dan salju yang ada di luar. Dia diam sejenak, lalu berkata, "Apakah kamu ingin pulang?"


"AH?!" Lina sedikit terkejut mendengar apa yang dia tanyakan.


Lina tidak mengerti, mengapa dia tiba-tiba bertanya tentang hal itu.


Saga mencoba menyembunyikan semua luka di tubuhnya. Masih dengan pandangannya yang tertuju keluar gua, dia kemudian berkata lagi dengan tenang.


"Jika kamu ingin pulang, cepatlah kembali. Di hutan terlalu dingin untuk wanita yang lembut sepertimu. Jika kamu tetap berada di sini, kamu pasti akan sakit lagi."

__ADS_1


Sebenarnya Lina sangat ingin kembali, tapi dia sedikit enggan untuk meninggalkan piton raksasa yang tampak sangat suram, tapi sebenarnya sangat lembut ini.


"Maukah kamu ikut denganku?" Lina bertanya dengan hati-hati.


Saga yang tercengang, kemudian menolehkan kepalanya kebelakang dan menatap Lina yang masih terduduk di atas tumpukan jerami, kemudian bertanya, "Apa kamu ingin aku pergi bersamamu? Kenapa?"


"Aku harus membalas kebaikanmu, karena kamu sudah menyelamatkanku." Lina menjelaskan.


Kemudian Saga berkata, "Aku tidak membutuhkan balasan darimu."


"Tapi ..."


"Tidak apa-apa, kamu bisa pergi." Saga memutar tubuhnya kembali, menghadap ke pintu masuk gua. Dia tidak lagi menatap ke arah Lina.


Lina merasa bingung dengan sikap Saga, yang tiba-tiba seperti tidak peduli.


Dia segera bangkit dari tumpukkan jerami dan berjalan mendekatinya. Dia mencoba menyentuh ular itu, seperti yang biasa dia lakukan, untuk mendekatkan hubungan mereka.


Tetapi, ketika dia mendekati Saga, dia melihat tubuh ular itu dipenuhi dengan luka.


"HAH?! INI.."


Beberapa kulitnya hitam karena hangus terbakar. Daging merah terlihat dibeberapa bagian, karena sudah tidak tertutup oleh kulit lagi dan masih mengeluarkan darah.


Seluruh pemandangan itu, membuat Lina sangat terkejut.


Dengan suara bergetar karena terkejut dan takut, Lina segera bertanya, "Luka ini.. Da darimana luka-luka ini berasal?! Apa yang baru saja terjadi?!"


Dengan nada dinginnya, Saga berkata, "Hanya sedikit sakit bagiku. Lagipula, luka ini tidak akan membunuhku."


"Tapi kamu..."


"Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi," kemudian Saga menggeleng-nggelengkan kepalanya, dalam hatinya menertawakan dirinya sendiri, kemudian berkata, "Lagipula kamu tidak menyukaiku. Bahkan jika aku terluka, tidak usah dipermasalahkan. Kamu seharusnya tidak usah terlalu mempedulikanku."


"Jangan berkata seperti itu!" Lina kemudian memeluk tubuh ular itu, "Kita berteman, aku juga sangat peduli dengan keselamatanmu. Aku ..."


Saga memotong perkataannya lagi, "Sudah aku katakan, aku tidak ingin menjadi temanmu, aku hanya ingin menjadi milikmu. Pasanganmu."


"....." Lina hanya terdiam.


Saga berjalan kearah pintu gua, kemudian menolehkan kepalanya kebelakang dan dengan tenang menatap gadis kecil itu.


"Aku tahu kamu pasti memandang rendah diriku. Kamu bisa pergi sekarang, kembali ke pasanganmu dan jangan muncul di hadapanku lagi."


Mendengarkan kata-katanya yang acuh tak acuh, hati Lina terasa sangat tidak nyaman dan sedih.


Mau tak mau dia berkata, "Aku tidak pernah memandang rendah dirimu. Aku hanya merasa aku tidak pantas untukmu."


Saga hanya menatapnya dan tidak berbicara apa-apa, jelas dia tidak percaya kata-kata gadis itu.


Kemudian Lina mendekati tubuh piton itu dan berkata lagi, "Kamu itu Orc laki-laki yang sangat baik. Tidak hanya kuat, tetapi juga sangat baik pada perempuan. Di masa depan, kamu harus menemukan wanita yang bisa memberikan sepenuh hatinya untukmu, bukan wanita seperti aku yang sudah memiliki dua pasangan. Aku benar-benar tidak pantas untukmu."

__ADS_1


"Tidak apa jika hatimu tidak sepenuhnya untukku, aku hanya ingin selalu menemani, di sisimu."


__ADS_2