
Saat Lina melayang jatuh dari tebing, dia mendengar suara yang ada di benaknya.
"Peringatan!"
"Mendeteksi adanya bahaya, sistem memulai program perlindungan diri."
"....."
"Silahkan mempersiapkan diri. Kami akan lakukan perpindahan lokasi!"
Ketika beberapa senti lagi tubuh Lina sudah hampir menyentuh tanah, dia tiba-tiba melihat tidak ada apa pun di depan matanya.
Dia menutup matanya sesaat dan kemudian membukanya lagi, kini dia mendapati dirinya sudah berbaring di salju yang tebal.
Rasa dingin yang menyelimutinya dan membuatnya menggigil, membuat dia segera tersadar dan bangkit.
Pertama kali yang dia lakukan, dia memeriksa tubuhnya, yang ternyata masih utuh dan tidak terluka sedikitpun.
"Benar-benar menakjubkan, aku masih hidup?!"
Dia masih berdiri diam sambil melihat ke sekeliling, tapi hanya bisa melihat salju putih yang luas.
Matahari masih menggantung di langit, sinarnya yang menyinari, tak ada kehangatan yang bisa Lina rasakan.
Dipastikan akan butuh waktu yang lama baginya, untuk menemukan puncak gunung berbatu.
"Aku tak menyangka akan dipindahkan ke tempat yang begitu jauh. Butuh banyak usaha untukku mencari jalan untuk kembali."
Lina memeluk lengannya, mengerutkan lehernya, membuka kakinya yang kaku karena kedinginan dan mulai berjalan menuju gunung batu.
"Aku harus kembali dengan cepat, jika tidak, Uriel dan Wiro pasti akan khawatir."
Dia sudah berjalan untuk waktu yang lama. Hingga matahari terbenam, dia pun masih terus berjalan. Jarak menuju pegunungan batu masih sangat jauh sekali.
Tanpa matahari, suhu udara akan menjadi lebih rendah.
Untungnya, salju yang putih dapat memantulkan cahaya. Meskipun di malam hari, salju masih bisa terlihat.
Lina merasa sangat kedinginan dan lapar. Dia tidak bisa berjalan lagi. Dia ingin mencari tempat untuk berlindung dari angin dan hujan. Dia berencana akan melanjutkan perjalanannya setelah fajar.
Tidak ada yang bisa dilihat di hutan, kecuali pohon dan batu yang terkubur oleh es dan salju.
Butuh waktu yang lama, akhirnya Lina bisa menemukan sebuah gua kecil yang bisa dia jadikan tempat untuk berlindung dan beristirahat.
"Tidak ada apa-apa di dalam gua ini. Sepertinya gua ini aman untukku beristirahat."
Lina memeluk lengannya dan duduk sebentar. Dia menyadari, kalau kondisinya terus seperti ini, dia akan beku menjadi es.
Dia menyentuh tas kainnya, di dalamnya terdapat pemantik api, kulit bergambar yang terbuat dari kulit domba, beberapa buah manis untuk memuaskan keinginannya dan sebuah pisau tulang.
Lina memakan buah manis. Alih-alih merasa kenyang, dia malah merasa lebih lapar.
"Kalau aku tahu aku akan jatuh ke dalam situasi seperti ini, aku pasti akan memasukkan lebih banyak makanan ke dalam tas."
Dia memasukkan buah manis itu kembali ke dalam tasnya dan siap memakannya ketika dia tak bisa menahan laparnya.
__ADS_1
Lina memutuskan pergi keluar gua mencari kayu bakar, untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
Belum juga dia melangkah terlau jauh dari gua, dia menemukan Orc yang tergeletak di salju.
"Ah! Ada orang?" Lina bergumam.
Dia berlari terburu-buru untuk mendekati Orc itu.
Dia adalah Orc laki-laki. Dia mengenakan jubah abu-abu putih, yang terlihat seperti kapas dan rami. Dia memiliki rambut hitam panjang dan permata berlian yang tergantung di dahinya. Wajahnya juga sangat tampan.
"Pria ini terluka?" Terlihat ada luka yang dalam di pinggangnya. Darahnya tidak mengalir lagi karena sudah membeku. Penampakan darah yang terlihat di salju, membuat Lina menjadi takut.
Dengan pelan, Lina mencoba mengguncang bahu pria itu, "Bangun! Apa kau tidak apa-apa?"
Tidak ada tanggapan sedikitpun dari pria itu.
Jantung Lina mulai berdebar.
"Apa dia sudah mati?"
Dengan gemetar, dia tetap memberanikan dirinya, meletakkan jarinya di bawah hidung pria itu.
"Dia masih hidup, tapi napasnya lemah."
Lina melihat ke sekelilingnya. Ternyata hanya ada satu Orc di sini.
"Jika aku meninggalkan dia sendirian di sini, dia pasti akan mati membeku."
Dia menggigit giginya, sekuat tenaganya menyeret orc itu, sambil berjalan terhuyung-huyung kembali ke dalam gua.
Gua yang semula sempit, kini menjadi semakin sempit karena adanya tambahan orang.
"Apinya menyala! Akhirnya aku bisa merasakan kehangatan."
Kemudian dia mulai memperhatikan Orc itu dengan seksama.
Dia sangat tampan, dengan alis dan mata yang ramping, bibir tipis seperti air, kulit pucat seolah-olah tanpa jejak darah dan rambut hitam panjang menjuntai di pipinya.
Dan cara dia berpakaian, sama sekali tidak terlihat seperti Orc yang biasanya Lina lihat selama ini.
Lina mengulurkan jarinya dan diam-diam menyentuh kain di tubuhnya.
"Pakaian yang dia pakai warnanya benar-benar seperti kapas dan rami, tetapi lebih ringan. Juga terasa licin saat disentuh."
Dilihat dari Orc yang pernah dia temui, para Orc di sini masih hidup di zaman batu. Pakaian mereka sebagian besar dijahit dari kulit binatang, dengan pengerjaannya yang kasar dan gaya yang sederhana.
Tapi Orc pria ini berbeda, jelas seperti berasal dari tempat dengan standar hidup yang lebih tinggi.
Tidak hanya kain yang dia kenakan, tetapi juga permatanya.
Lina berharap Orc itu akan bisa bertahan, sehingga dia mungkin akan bisa belajar lebih banyak dari Orc itu.
Tanpa dia sadari, dia menutup matanya dan tertidur.
Tidak lama setelah Lina tertidur, pria itu tiba-tiba terbangun dari komanya.
__ADS_1
Dengan posisinya yang masih berbaring, dia membuka matanya dan memperlihatkan pupil matanya yang gelap. Setelah kesadarannya kembali, dengan cepat matanya menjadi tajam dan dingin.
"Aku ada di mana? Bagaimana dengan orang-orang yang mengejarku?"
Pria itu menyadari ada seseorang yang berada di dekatnya.
"Ada seorang gadis mungil yang sedang tertidur? Dia mengenakan rok bulu. Kulitnya sangat putih dan bentuk wajahnya sangat sedap untuk dipandang. Bahkan di kuil, aku belum pernah melihat wanita yang cantiknya seperti gadis ini."
Angin dingin tiba-tiba bertiup dari luar gua dan salju melayang masuk, membuat Lina menggigil kedinginan.
Melihat dia akan bangun, pria itu segera menutup matanya dan kembali berpura-pura koma.
Lina membuka matanya dan melihat ke arah luar gua. Dia bisa melihat salju yang semakin tebal dan semakin tinggi, api di depannya juga mulai semakin redup.
Dia bangun dari tidurnya dan menambahkan beberapa kayu ke dalam api, untuk menambah kehangatan di dalam gua yang sempit ini.
Lina berjalan ke sisi pria terluka yang sedang berbaring dan menyentuh dahinya.
"Untungnya demamnya sudah turun. Es di lukanya juga telah mencair."
Terlihat darah merembes keluar. Dia mengeluarkan pisau tulang, memotong selembar kain dari pakaian pria itu, untuk membalut lukanya yang kembali berdarah.
Gerakannya yang begitu teliti dan hati-hati, membuat pria itu sangat menikmati perlakuan gadis itu kepadanya.
Dia membuka matanya, gadis kecil yang sekarang berada dekat dengannya, kini terlihat semakin cantik lagi, kulitnya halus dan putih semenarik susu.
Lina yang sangat terkejut melihat dia yang sudah membuka matanya, mundur beberapa langkah.
"Kamu sudah bangun!"
Melihat senyum cerah gadis kecil itu, membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
Dia kemudian duduk melihat ke arah Lina, tetapi dengan ekspresi wajahnya yang kaku, bahkan jika moodnya sedang baik, wajahnya akan tetap terlihat dingin.
"Apakah kamu yang sudah menyelamatkanku? Terima kasih."
Lina segera duduk di dekatnya, dan cepat menekan bahu pria itu supaya kembali berbaring.
"Kamu jangan bergerak dulu, luka di tubuhmu hanya dibalut, jika kamu banyak bergerak, lukamu akan terbuka lagi."
Pria itu menatapnya dengan Mata hitamnya dan bertanya dengan penuh arti, "Sepertinya kamu tahu banyak. Apakah kamu seorang Dukun?"
Wajahnya sangat tampan, tetapi napasnya sangat dingin, terutama saat dia menatap, ada semacam ketegangan yang membuat mati rasa di kulit kepala orang yang menatapnya.
Lina dengan hati-hati menjawab, "Bukan, aku hanya wanita biasa."
"Namaku, Saga Bergola. Siapa namamu?"
"Aku, Lina Maya, kamu bisa memanggilku, Lina."
"Lina..." Saga mengucap dan mengeja nama itu, dengan nada suaranya yang pelan, merasa nama itu seperti telah menyihirnya. Rasa sakit seketika tersapu dari hatinya, kini tergantikan dengan jejak yang hangat.
Lina menahan rasa takutnya dan bertanya dengan ragu-ragu, "Kamu berasal dari mana? Bagaimana kamu bisa sampai di sini? Sepertinya luka di tubuhmu seperti dicakar oleh binatang buas. Lukanya sangat dalam, sepertinya ditusuk dengan senjata tajam. Apakah ada yang ingin menyakitimu?"
Ekspresi Saga Bergola tetap tenang dan dingin, "Kamu bisa mengetahui hanya dari melihat lukanya. Apa benar kamu itu hanya Orc wanita biasa?"
__ADS_1
Lina tertawa pelan.
Dia merasa kalau Saga sepertinya tidak terlalu ingin menjawab pertanyaannya, jadi dia menutup mulutnya dan tidak mengajukan pertanyaan lagi.