
Tidak ada apa pun di pulau itu, kecuali batu dan pasir.
"Ternyata ini pulau gurun pasir.." Batin Lina.
Belakangan baru Lina ketahui, kalau ternyata tidak hanya tanahnya yang tandus, tapi juga tidak ada siang.
"Langitnya selalu terlihat cerah, tapi sama sekali tidak ada perubahan saat menuju ke siang ataupun malam hari.." Pikir Lina yang sedang kebingungan.
"Tanpa fotosintesis dari matahari, akan aneh rasanya jika ada tanaman yang bisa hidup di tempat ini!" Pikir Lina lagi, saat melihat ke hamparan pulau yang tandus, di mana saat ini dia berada.
Untungnya, ada banyak makanan di dalam ruang penyimpanan.
Tapi, yang sedang dia khawatirkan saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa meminum air putih.
"Kadar garam air laut terlalu tinggi. Semakin banyak aku meminum air laut, akan semakin membuatku merasa haus.. Ada segalanya di dalam ruang penyimpanan, tapi sama sekali tidak ada air segar untuk bisa ku minum.." Pikir Lina.
Tidak pernah terpikirkan oleh Lina sebelumnya, kalau suatu hari, dia akan mengalami keadaan, di mana dia akan kesulitan untuk mendapatkan air untuk dia konsumsi.
"Hhhh.. Aku sudah salah perhitungan.. Jika nanti aku masih memiliki kesempatan untuk kembali, aku juga akan menyimpan banyak persediaan air di dalam ruang penyimpanan. Untuk berjaga-jaga, jika suatu saat nanti mengalami keadaan seperti ini lagi!"
Tidak adanya air tawar, dia pun terpaksa harus membuatnya sendiri.
Saat ini Lina telah selesai membuat kompor kecil dari batu, lalu dia mengambil kayu dari dalam ruang penyimpanan dan memasukkannya ke sela-sela kompor batu, menyalakan api, meletakkan panci berisi air laut, lalu menutup panci tersebut dengan menggunakan beberapa kain salju yang dibeli saat dia berada di Kota Matahari.
Setelah airnya mendidih, uap airnya akan terus menerus meresap ke dalam benang salju.
Dan tak lama kemudian, kain Itu pun segera basah dan dipenuhi dengan air.
Melihat hal ini, Lina pun segera mengambil kain itu, dan memerasnya kedalam cangkir kayu yang dia ambil dari dalam ruang penyimpanan.
"Aha.. Sekarang sudah ada sedikit air tawar.." Ucap Lina yang kegirangan, saat telah mendapatkan air tawar.
Meskipun metode seperti ini relatif ribet, tapi hal baiknya adalah metode ini metode yang sederhana, meskipun pengerjaannya memakan waktu.
"GLEK! GLEK! GLEK! Ahhhh.."
Kemudian dia mengulangi proses menampung uap air dan memerasnya ke dalam kantung air yang terbuat dari kulit binatang, selama beberapa kali lagi. Hingga akhirnya, kini dia memiliki sekantung penuh air tawar.
"Nah.. Selesai.. Sekarang aku sudah memiliki bekal air.." Ucap Lina dengan senang.
Demi untuk menghemat air minum, Lina pun memutuskan untuk banyak memakan buah yang memiliki kandungan air tinggi, untuk menghilangkan dahaganya. Dia juga memutuskan, hanya akan meminum segelas air setiap harinya, untuk menjaga supaya kebutuhan air untuk tubuhnya tetap terjaga.
Setelah kebutuhan untuk dia konsumsi telah tersedia seluruhnya, kini Lina pun bisa bernapas lega.
Kemudian dia mengambil lempengan batu dari dalam ruang penyimpanan, untuk mengirim pesan kepada Uriel dan memberitahukan kepada keluarganya tentang keadaannya saat ini.
Tak lama kemudian, Uriel pun segera membalas pesannya, "Bertahanlah. Kami pasti akan segera datang untuk menyelamatkanmu."
__ADS_1
Sejujurnya, saat ini Lina tidak terlalu berharap banyak untuk itu.
"Tidak ada apa-apa di pulau ini kecuali diriku.. Jangankan manusia, seekor lalat pun tidak ada yang bisa aku temukan. Selain itu.. pulau ini dikelilingi oleh lautan yang luas. Tidak ada perahu atau apapun yang bisa aku jadikan sebagai acuan.." Gumam Lina sedih.
Bahkan tadi Bubu berkata padanya, kalau, "Lokasi tempat ini tidak diketahui. Koordinat spesifiknya juga tidak bisa ditentukan."
Kecil kemungkinan bagi Uriel dan yang lainnya akan bisa menemukan Lina.
Namun, Lina tetap tidak ingin putus asa. Dia pun segera membeli seratus benih bambu mutan dari mal kristal, dan menanamnya di pulau ini.
...........
"Sebenarnya, tempat seperti ini tidak cocok untuk tumbuhnya pohon bambu. Tapi tidak tahu kenapa, atau mungkin juga karena mereka telah bermutasi, atau juga karena selama ini aku telah merawatnya, singkatnya, semua tanaman bambu ini tumbuh dengan sangat cepat." Batin Lina saat melihat tanaman bambu yang dia tanam kini telah tumbuh.
Karena tidak ada pergantian siang dan malam, jadi tidak jelas sudah berapa hari yang telah Lina lalui.
"Kini kalian telah tumbuh setinggi pinggangku.." Kata Lina yang saat ini hatinya sedang merasa sangat senang, sambil menyentuh daun dari salah satu tanaman bambu yang dia tanam.
"Hmmm.. Kalau aku perkirakan, tidak butuh waktu lama, bambu-bambu ini akan tumbuh besar. Saat itu tiba, aku bisa membuat rakit dari bambu.." Pikir Lina.
Pada dasarnya, tidak mungkin untuk menyeberangi lautan dengan menggunakan rakit bambu, tapi, setidaknya Lina bisa memperluas cakupannya untuk mengeksplorasi tempat ini, dan mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Yang suatu saat nanti, bisa membantunya untuk memastikan keselamatannya sendiri.
Saat Lina bingung harus melakukan apa, karena tidak ada hal yang bisa dia kerjakan, dia pun segera memanggil suara yang ada di dalam benaknya.
"Bubu! Bukankah sebelumnya kamu bilang kalau aku harus mati, supaya bisa membangkitkan kekuatan Benih Suci? Waktu itu aku hampir mati terbunuh oleh si Ubur-ubur raksasa. Tapi kenapa kamu malahan menolongku?! Jika pada saat itu aku sudah mati, aku mungkin sudah bisa memiliki kesempatan untuk membangkitkan kekuatan Benih Suci!"
Kemudian terdengar suara Bubu yang dengan bersungguh-sungguh menjelaskan, "Jika pada saat itu anda mati di dalam tubuh Ubur-ubur, tubuh anda akan menghilang. Jangankan membangkitkan kekuatan benih pohon ilahi, mengembalikan tubuh anda sendiripun tidak akan bisa."
"Hiii.. Mengerikan!"
"Jangan takut. Ada saya di sini." Kata Bubu dengan nada suara yang lembut, mencoba untuk menenangkan Lina.
"Kenapa kamu begitu baik padaku?" Tanya Lina yang tergerak hatinya, setelah mendengar apa yang baru saja Bubu katakan.
"Karena saya menyayangi anda."
Lina, "....."
"Yah, seperti ayah yang menyayangi anaknya." Kata Bubu lagi.
Lina, "....."
Lina masih terdiam karena terkejut, setelah mendengar apa yang Bubu ungkapkan kepadanya.
Dengan menahan dorongannya untuk memukuli orang, Lina pun berusaha untuk mengubah topik pembicaraan, "Karena kamu sudah mengirimku ke sini. Kamu pasti tahu ini di mana, kan?"
Kemudian, terdengar jawaban Bubu yang berkata seperti tidak merasa bersalah, "Saat sistem melakukan perpindahan untuk keamanan anda, maka secara otomatis sistem akan memilihkan lokasi yang aman dan terdekat. Namun, sesuatu telah terjadi selama proses pemindahan, dan lokasi pemindahan tampaknya sedikit menyimpang dari target awal."
__ADS_1
Mendengar itu, Lina pun menunjuk ke arah laut yang ada di belakangnya, kemudian bertanya dengan sangat serius, "Apa menurutmu ini hanya sedikit keluar dari jalur?? Bagaimana jika aku sampai di pindahkan tepat di tengah-tengah lautan??"
"Yah, saat ini kami sedang menghapus kesalahan pada kode program yang kami buat, untuk memastikan kesalahan seperti ini tidak akan terjadi lagi." Kata Bubu.
Mendengar itu, Lina pun menarik sudut mulutnya, kemudian berkata, "Jaminan semacam ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Huh!"
Disaat Lina sedang merasa kesal, ada sebuah benda berwarna hitam, yang terbawa arus hingga ke tepi pantai.
Saat Lina melihatnya, dengan segera dia cepat-cepat berlari mendekati benda itu, dan menemukan kalau ternyata itu adalah seorang bocah dengan wajahnya yang terlihat tampan, yang saat ini terlihat seperti sedang sekarat!
"Dalam beberapa hari ini, ini adalah pertama kalinya aku melihat makhluk hidup selain diriku!" Batin Lina.
Seketika itu juga, hatinya segera merasa sangat gembira. Dia pun buru-buru menyeret bocah itu menjauh dari tepi pantai, kemudian menyalakan api, untuk membantunya mengeringkan pakaian dan tubuh anak itu.
Setelah tubuh anak itu kering, kini hanya meninggalkan banyak garam putih di tubuhnya. Melihat hal ini, Lina pun segera membersihkannya dengan hati-hati.
Tubuh anak itu terlihat sangat kurus, kulitnya terlihat sangat keriput dan memucat, pergelangan tangannya sangat kecil, hingga seolah-olah akan mudah patah hanya dengan menggunakan sedikit kekuatan.
Rambut ikal pendeknya berwarna abu-abu. Kulit wajahnya terasa halus dan fitur wajahnya terlihat tampan.
"Anak ini seperti boneka porselen yang berharga mahal." Pikir Lina.
Tidak tahu sudah berapa lama anak itu telah terombang-ambing di tengah lautan, yang mengakibatkan tubuhnya mengalami dehidrasi parah, hingga bibirnya terlihat sangat kering dan pecah-pecah.
Dengan hati-hati, Lina pun menyuapkan beberapa suap air tawar.
Setelah beberapa saat, kini wajah anak laki-laki itu akhirnya mulai terlihat sedikit lebih cerah.
"Untungnya, tidak ada satupun luka atau gejala penyakit lain di tubuh anak ini, selain hanya karena dehidrasi. Jadi, nyawa anak ini pun tidak dalam bahaya.." Pikir Lina.
Setelah itu, Lina pun mengeluarkan buah manis yang berukuran besar, memakannya, dan lanjut mengobrol dengan suara yang ada di dalam benaknya.
"Menurutmu, kenapa anak itu bisa sampai ke pulau ini?"
Mendengar apa yang Lina tanyakan, Bubu pun berkata, "Saya tidak tahu."
“Kalau menurut perkiraanku, dia pasti sedang pergi melaut bersama dengan keluarganya. Tapi naasnya, di tengah-tengah laut kapalnya terbalik. Dia pun jatuh ke laut dan hilang, begitu juga dengan keluarganya. Kemudian, dia hanyut terbawa ombak hingga ke pulau ini, dan bertemu denganku karena takdir. Nah.. Bagaimana menurutmu tentang cara berpikir otakku? Apakah itu masuk akal?"
"Apakah buah manis itu rasanya enak?" Tanya suara dalam benak Lina yang tidak menjawab pertanyaan Lina, tapi malahan balik bertanya.
Tapi, Lina tetap menjawabnya dengan santai, sambil memakan buah manis yang sedang dia pegang, "Sangat enak! Juga sangat manis! Apa kamu mau?"
Bubu, "....."
Setelah diam sejenak, Bubu pun berkata, "Tidak."
"Oh iya, aku lupa kalau kamu adalah sebuah program. Tentu kamu tidak bisa makan. Hhh.. Sangat menyedihkan, kamu hanya bisa melihat tapi tidak bisa ikut makan.. Hihihi.." Kata Lina yang sedikit mengejek suara dalam benak Lina.
__ADS_1
Bubu, "....."
Saat Lina dan Bubu sedang asik mengobrol, tanpa Lina ketahui, pada saat ini bocah itu telah membuka matanya, dan telah tersadar dalam keadaannya yang lesu.