Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 99 - Telur


__ADS_3

Sebelumnya Lina tidak pernah bermimpi, kalau di dasar Gunung Batu, ternyata ada Urat Bijih yang tidak diketahui!


Kemudian dia menceritakan semua itu kepada tiga laki-laki yang ada di keluarganya.


Saga, Wiro, Uriel, "....." Mereka bertiga secara bersamaan merasa sangat terkejut.


Setelah akhirnya semua sudah merasa tenang, kini mereka sedang terjebak dengan masalah yang lain.


"Haruskah kita menggali Urat Bijih ini?"


Dengan tenang, kemudian Uriel mencoba untuk menganalisa dampaknya.


"Jika kita menggali Urat Bijih tersebut, kemungkinan besar akan menyebabkan Gunung ini tenggelam, atau dalam kasus yang lebih serius, Gunung Batu ini bisa runtuh."


Jika Gunung Batu sampai hancur, mereka tidak hanya tidak memiliki tempat tinggal, tetapi juga kebun sayur dan kebun buah-buahan yang mereka kelola di kaki Gunung juga akan hancur.


Memikirkan semua itu, semuanya pun menjadi merasa sangat enggan.


Kemudian Saga menambahkan, “Menambang bukanlah hal yang sepele. Sekali digali tentu akan bisa mengganggu suku lain yang ada di sekitar sini. Apalagi saat ini klan Bulu tinggal di puncak gunung, tentu kita tidak akan bisa menyembunyikan semua ini dari mereka."


Uriel mengangguk.


"Sekali suku lain mengetahui tentang Urat Bijih, pasti akan menyebabkan banyak masalah. Bila hal itu sampai terjadi, kita harus siap-siap untuk membayar harganya."


Lina yang juga ragu-ragu pun bertanya, "Kalau begitu, kita tidak akan menggali untuk mencari Urat Bijih?"


Setelah jeda beberapa saat, kemudian ketiganya menatap Wiro.


Wiro adalah ketua dari klan Serigala Batu. Gunung Batu adalah wilayahnya. Dia lah yang memiliki hak untuk berbicara dan memutuskan, apakah akan membuka Gunung untuk penambangan atau tidak.


Suasana pun menjadi hening sejenak.


Kemudian terdengar suara Wiro yang berkata, "Kristal memang sangat menarik, tapi hari-hari kita sekarang juga sudah sangat baik, mungkin ada baiknya jika kita tidak perlu membuat apa-apa lagi."


Wiro lebih menyukai hari-harinya yang seperti ini, daripada mencari kekayaan.


Karena dia telah berkata seperti itu, Uriel dan Saga secara alami tidak merasa keberatan, mereka berdua mengangguk untuk menerima keputusan Wiro.


Lina mnggerakkan bibirnya, "A.." Tapi pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa.


Jika dilihat dari perspektif situasinya secara keseluruhan, keputusan Wiro tidak lah salah. Lina juga tidak ingin memaksa seluruh keluarganya untuk pindah, hanya karena salah satu tugasnya.


"Mungkin akan lebih baik jika aku melupakannya, dan kembali mencari tempat lain. Mungkin saja masih ada Urat Bijih di tempat lain. Lagipula masih ada waktu tiga bulan lagi!"


...........


Saat ini Wiro sedang membawa beberapa Orc Serigala jantan keluar untuk berburu. Dan Saga yang bertugas bekerja di ladang.


Sedangkan Uriel tinggal di rumah bersama gadis kecilnya.


Uriel menyadari kalau gadis kecilnya sepertinya memiliki sesuatu di dalam pikirannya. Dia juga telah mencoba mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi tidak bisa mendapatkan jawaban darinya.


Di dalam hatinya berkata, "Akhir-akhir ini aku telah membereskan semua hal yang terjadi. Dan kalau aku lihat, semuanya baik-baik saja sebelum kemarin, hanya mulai hari ini dia menunjukkan sesuatu yang berbeda."


Setelah sedikit berpikir, Uriel tiba-tiba memikirkan diskusi tentang Urat Bijih tadi malam.

__ADS_1


"Apakah tentang Urat Bijih?"


Lina tidak tahu bahwa pemikiran kecilnya yang hati-hati, tetap dapat dilihat oleh Uriel.


Dia meraih lengan Uriel dan berkedip.


"Aku sangat bosan di rumah. Bisakah kamu menemaniku jalan-jalan?"


"Ke mana kamu akan pergi?" Tanya Uriel.


"Kemana saja, aku juga tidak ada tujuan."


Kemudian Uriel berpikir, "Keluar untuk menghirup udara segar, dengan begini mungkin gadis kecil ku akan bahagia."


Uriel merubah wujudnya menjadi Harimau Putih, membawa Lina di punggungnya dan berjalan menuruni gunung. Saat melewati kebun sayur, Lina melambaikan tangannya kepada Saga yang masih menyirami tanaman.


"Kami akan jalan-jalan dan mungkin akan agak sedikit lama. Kamu tidak perlu menunggu kami untuk makan siang!"


Tapi siapa yang menyangka kalau Saga langsung datang mendekati Lina, kepala Ular besarnya berhenti di depan Lina sambil menatapnya.


"Aku juga ingin ikut pergi."


Kemudian Lina menunjuk ke kebun.


"Tapi kamu masih harus menyirami kebun?"


"Nanti setelah kembali, aku akan melanjutkan menyiramnya." Jawab Saga.


Tidak jauh dari situ, para Orc Serigala jantan yang mendengar kata-kata mereka pun tertawa.


“Haha.. Lina, kalian ajak saja Saga untuk bermain bersama kalian! Biar kami yang akan menyirami tanaman. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan tentang menyirami kebun!”


"Oke, ayo kita pergi bersama-sama."


Kemudian Saga sedikit membuka mulutnya dan lidahnya segera menjilat wajah Lina.


Uriel mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan, berjalan di atas rumput dengan tenang.


Lina duduk bersila di punggung Harimau Putih, sambil memegang kompas kecil di tangannya, dan dengan kedua matanya yang selalu menatap pada jarum penunjuk arah.


Awalnya jarum itu selalu menunjuk ke Gunung Batu. Sampai mereka telah pergi jauh, jarum penunjuk arahnya kini telah kembali ke posisi semula.


Saat ini Saga si Ular Piton melihat ada sarang burung di pohon. Burung besar pemilik sarang sepertinya sedang tidak ada di sarangnya. Ada sekitar dua puluh telur di dalam sarang itu.


Begitu Ular Piton bergerak naik ke atas pohon, dia segera menyapu semua telur yang ada di dalam sarang menggunakan mulutnya.


Jika dilihat dari cara dia melakukan itu, bisa terlihat kalau Ular Piton sudah sering dan terbiasa mengambil telur burung.


Kebanyakan Ular dan beberapa binatang suka memakan telur burung, dan Saga si Ular Piton adalah salah satu yang paling menyukainya. Setiap kali dia berburu, dia akan selalu melihat ke pohon terdekat, untuk melihat apakah ada sarang burung.


Begitu juga kali ini.


Seperti menawarkan harta karun, Saga memegang semua telur dan menyodorkannya ke hadapan Lina.


Tapi Lina masih terus menatap kompas dan sama sekali tidak memperhatikan apa yang sedang Saga lakukan. Saga pun merasa sedikit tidak senang, dia menjulurkan ekor ularnya dan menggulung kompas yang ada di tangan Lina.

__ADS_1


Lina pun segera menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan dengan barang-barangku? Kembalikan padaku."


Saga menunjukkan telur burung yang dia pegang kepada Lina.


"Kamu makanlah ini."


Lina sedikit terkejut, kemudian berkata, "Dari mana kamu mendapatkan begitu banyak telur?"


"Dari pohon." Jawab Saga.


Kemudian Lina melambaikan tangannya. "Aku tidak memakannya, kamu simpan saja."


Wajah Saga segera berubah muram begitu dia mendengar Lina berkata seperti itu.


Wajahnya yang biasanya terlihat murung, kini terlihat menakutkan.


"Jika kamu tidak menyukainya, aku juga tidak akan menyukainya."


Kemudian saat Saga akan menghancurkan semua telur-telur tersebut, Lina cepat-cepat menarik tangannya. "Jangan dibuang! Sayang sekali jika begitu banyak telur yang pecah!"


Kemudian Lina pun memilih telur burung dan berkata, "Aku mau yang ini, yang lainnya untuk kamu dan Uriel saja."


Saga mengambilkan lagi telur burung yang berukuran paling besar dan memberikannya kepada Lina.


"Ini juga untukmu."


Kemudian Saga mengambil telur burung terkecil dan memberikannya kepada Uriel.


Uriel balas menatapnya kemudian berkata, "Terima kasih, aku tidak suka makan telur. Teksturnya tidak kenyal dan rasanya bila di mulutku terasa aneh."


Memang pada kenyataannya, kebanyakan orc tidak suka makan telur, kecuali Ular seperti Saga.


Saga pun segera mengambil telur burung itu kembali, dan memasukkan telur itu ke mulutnya, mengunyah dan menelannya.


Lina terkejut melihat cara makan Saga.


"Kenapa kamu makan telur beserta kulit-kulitnya?"


Saga berkata dengan wajahnya yang masih tetap terlihat datar dan dingin, "Kulit telur enak dan sangat renyah!"


Lina, "....." Dia terdiam tidak bisa berkata-kata lagi.


Kemudian Lina menepuk punggung Harimau Putih.


"Berhenti di batu yang ada di depan."


Saat ini tengah hari, sinar matahari juga sedang sangat terik, juga tidak ada pohon di dekat batu yang membuat area sekitar menjadi sangat panas, karena sinar matahari yang sangat terik.


Lina memecahkan kulit telur dan menyebarkan cairan telur di atas batu.


"CEPROT! CEPROT!"


Aroma terbakar yang kuat pun segera menyebar.

__ADS_1


Tidak hanya Saga yang tidak bisa menahan hidungnya untuk mengendus-endus, Uriel yang tidak suka makan telur pun mulai tertarik.


"Hmm.. Baunya sangat harum! Aku tidak menyangka kalau telur burung yang bau, tiba-tiba bisa seharum ini!"


__ADS_2