Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 66 - Saluran Air


__ADS_3

Apakah ada yang sanggup menahan godaan martabak daging di zaman seperti ini? Hmm..


Bahkan Lina yang tidak biasanya banyak makan, kali ini, daya pikat martabak daging sudah membuatnya khilaf, dia makan hampir tiga puluh potong martabak daging sekaligus, hingga perutnya membuncit.


Dan dengan martabak yang tersisa, nasibnya telah dikeringkan oleh Uriel dan Wiro.


Mereka berdua tidak suka dengan sayuran, tetapi mereka sangat menyukai martabak daging.


Dengan hatinya yang sedang merasa senang, Lina ingin segera menanam semua biji buah bulu burung, yang dia simpan di kantung kulit.


...........


"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sebelumnya, hanya butuh satu hari saja, bibit-bibit yang ditanam sudah muncul tunas-tunas kecil dari dalam tanah. Tapi sekarang, tunas baru akan muncul setelah hari ke enam." Kata Uriel yang baru saja kembali dari kebun.


"Aku rasa kamu benar. Kemarin, saat aku melihat bibit-bibit yang baru kita tanam di kebun, dan belum muncul satu pun tunas di hari ke tiga, aku juga sempat berpikiran seperti itu." Sahut Wiro.


Awalnya, Wiro dan Uriel mengira ada yang salah dengan benihnya. Kemudian mereka menanyakan pengalaman mereka, dengan para Orc laki-laki yang sering berada di kebun. Mereka mengatakan, "Akhir-akhir ini, kecepatan pertumbuhan sayuran kalian tidak secepat sebelumnya."


Malahan, sekarang jauh lebih lambat.


Wiro dan Uriel tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka berdua kembali kerumah dan membicarakannya dengan Lina, ingin menanyakan apa solusinya.


Lina mengerjap pelan sambil berkata, "Itu karena aku tidak turun gunung untuk mengurusi kebun."


Wiro dan Uriel tidak mengerti dengan maksudnya.


Lina menghela nafasnya, dan menjelaskan kembali tentang karakteristik Biji Suci kepada mereka berdua.


Setelah Uriel dan Wiro mendengar penjelasan Lina, mereka berdua tiba-tiba menyadari sesuatu.


Lina yang mencoba mengambil kesempatan ini, supaya dirinya bisa turun gunung pun berkata, "Aku akan ikut mengurus kebun bersamamu, dan memastikan tanaman di kebun akan tumbuh dengan cepat."


Uriel tertawa dan tidak mengatakan apa-apa, hanya mengusap kepala gadis kecilnya.


Berbeda dengan Wiro, dia selalu lebih terus terang dan apa adanya. "Apa kamu belum menyerah juga?"


Lina yang sedang berpura-pura bodoh berkata, "Menyerah dari apa?"


"Aku tahu, kamu pasti ingin menemui si ular besar! Memangnya apa yang baik dari dia, sehingga kamu tidak pernah bisa melupakannya?" Wiro memalsukan ekspresi wajah tidak nyamannya dengan ekspresi arogannya, dihatinya pun terasa masam.


Lina menyentuh hidungnya dan berkata, "Kamu terlalu berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak bilang kalau aku akan pergi menemuinya."


Wiro memandang Lina untuk sesaat, tiba-tiba dia berkata, "Aku mendengar rumor tentang ular. Kabarnya benda milik mereka ada dua. Apa kamu lebih menyukai benda miliknya?"


Wajah Lina tiba-tiba memerah.


"Orang ini. Apa yang sedang dia bicarakan?!"


Melihat Lina tidak berbicara, Wiro menganggap kalau Lina mengetahuinya. Dia segera berdiri, dan melepas rok kulit binatang yang dia kenakan. Sambil memperlihatkan benda miliknya yang tebal, Wiro berjalan mendekati Lina sambil berkata, “Bendaku tidak kecil! Apa aku masih belum bisa memuaskanmu?”


Lina yang merasa ketakutan pun segera melangkah mundur.

__ADS_1


“Kamu, cepat pakai bajumu!”


"Aku tidak mau!" Wiro tetap berjalan mendekati Lina, sambil lanjut berkata, "Walaupun aku tidak bisa memuaskanmu, masih ada Uriel. Apa kami berdua masih tidak lebih baik dari ular itu?"


Lina terus mundur ke belakang, hingga punggungnya menabrak dinding tembok batu.


Saat Lina melihat benda besar milik Wiro, dia merasa marah dan malu. Terlebih lagi, Lina tidak bisa mendorong tubuh Wiro supaya menjauh. Merasa tidak ada jalan lain, Lina akhirnya meminta bantuan kepada Uriel.


"Uriel, bantu aku menarik Orc serigala gila ini supaya pergi!"


Uriel pun segera datang menghampiri. Lina mengira dia akan datang untuk membantu. Akan tetapi, Lina baru tersadar kalau ternyata Uriel juga telah melepas rok bulunya.


"Hah? Uriel! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu juga melepas pakaianmu? Apa kamu sudah tertular oleh virusnya Wiro?"


Kini di hadapan Lina, telah ada dua benda yang besar dan berotot.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


[[[ cieee besar dan berotot ]]]


[[[ we o we Uwooow.. ]]]


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Uriel dan Wiro, mereka bersama-sama menahan Lina di sudut ruangan.


Tubuh mereka berdua sangat tinggi, dan gadis kecil itu kini dihalangi oleh mereka.


Mendengar apa yang Uriel katakan, Lina langsung teringat dengan adegan saat di rumah Meli, ketika Meli sedang bermain dengan tiga pasangan prianya. Dan dengan segera, Lina menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Jangan lakukan ini, aku takut."


Uriel meraih tangan Lina dan menariknya dengan lembut, kemudian dia arahkan supaya menggenggam benda miliknya yang besar menggantung kebawah, dan dengan suaranya yang hangat dia bertanya, "Apa kamu masih ingin menemui ular itu?"


Rasa hangat di telapak tangan Lina, membuat tubuhnya gemetar. Dia mencoba menarik tangannya kembali, tapi Uriel memegang tangan kecil gadis itu erat-erat, dan menolak untuk melepaskannya.


Wiro yang melihat hal itu, tentu saja tidak mau menderita kerugian, dia juga segera menggenggam tangan Lina dan meletakkannya di kepala benda miliknya.


Dia sangat percaya diri dengan ukuran benda miliknya, tidak ada seorang pun di seluruh suku Serigala Batu yang bisa menandinginya, kecuali Uriel.


Para betina pasti akan sangat menyukainya.


Lina pun tersipu, berharap menemukan cara untuk meloloskan diri.


"Huh. Kedua Orc ini terlalu berlebihan, memaksaku dengan cara seperti ini, supaya menuruti mereka."


Dia marah dan cemas, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain berdamai.


"Aku tidak akan pergi melihat Saga lagi..."


Uriel mengangkat dagu gadis kecilnya dan menatap matanya.

__ADS_1


"Janji?"


"Aku janji! Aku berjanji." Jawab Lina cepat karena sudah merasa takut, dengan kedua benda besar yang ada di genggaman tangannya.


"Bagaimana jika ternyata kamu ingkar janji?" Tanya Uriel kembali.


"Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau," kata Lina dengan tenang.


Wiro yang mendengar apa yang Lina katakan, dengan sangat bersemangat dia berkata, "Itu kata-katamu, jika kamu berani ingkar janji, kami akan melakukannya. Kamu pasti tidak akan bisa bangun dari tempat tidur!"


Uriel tersenyum, dan berkata dengan sangat lembut, "Aku rasa itu ide bagus."


Kedua kaki Lina terasa melunak, mendengar perkataan kedua pria yang ada di depannya.


Hari ini, giliran Uriel yang pergi keluar untuk berburu. Dan Lina, mengikuti Wiro menuruni gunung untuk menengok kebunnya.


Lahan kebun tanaman mereka, kini meningkat lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya. Sekarang sudah ada hampir lima hektar.


Wiro akan pergi ke sungai untuk mengambil air. Tapi dia merasa khawatir. Kemudian dia memanggil Rei yang sedang menyiangi rumput, di kebun dekat mereka, "Tolong jaga Lina sebentar. Aku akan pergi kesungai untuk mengambil air, aku akan segera kembali."


Rei hanya menjawab singkat dan mantap, "OK"


"Lina, kamu jangan berlarian di kebun. Aku pergi sebentar." Kata Wiro memperingatkan Lina.


Kemudian, dengan cepat dia berlari membawa dua tong besar.


Lina pun merasa kesal.


"Huh. Memangnya aku anak kecil lari-lari."


Hari ini, matahari bersinar cukup terik. Lina duduk di bawah daun yang ada di samping kebun, untuk berteduh. Dia melihat tanah di kebun sangat kering. Semua tanaman mulai terlihat layu, dan beberapa tanaman ada yang mulai kering.


Kecepatan Wiro berlari sangat cepat, hanya dalam dua menit, dia sudah kembali dengan membawa dua tong yang terisi penuh dengan air.


Lina juga membantunya menyirami tanaman di kebun.


"Dua tong air jelas tidak cukup, terutama sayuran air manis yang membutuhkan banyak air."


Dengan kecepatan Wiro yang telah bolak-balik lebih dari sepuluh kali membawa air, akhirnya mereka selesai menyirami semua tanaman di kebun.


Lina pun akhirnya mendapat ide, setelah merasa kasihan melihat Wiro yang harus bolak-balik beberapa kali, untuk mengambil air.


"Kenapa aku tidak terpikirkan untuk membuat saluran air saja? Alirkan air dari sungai ke kebun, tentu akan jauh lebih mudah, dan efisien."


Kemudian, Lina memberi tahukan tentang idenya tersebut kepada Uriel dan Wiro, mereka berdua berpikir kalau itu adalah ide yang sangat bagus. Setelah itu, mereka pun segera mendiskusikan secara rinci rencana pengerjaan pembuatan saluran air.


Pagi hari di Keesokan harinya, Wiro membawa dua puluh orc jantan dari suku Serigala Batu ke tepi sungai, dan mulai menggali untuk membuat jalur saluran air.


Lina menyiapkan cangkul yang sudah dia buat, dan siap untuk membawanya turun gunung untuk dipakai oleh para pekerja. Karena cangkul batu itu terlalu berat untuk dia angkat, jadi, dia meminta Uriel yang membawanya.


Ketika mereka sampai di sungai, mereka melihat Wiro dan para Orc tidak memegang alat sama sekali. Mereka melepas rok bulu, berubah menjadi serigala, dan mulai mengayunkan cakar mereka untuk mulai menggali tanah.

__ADS_1


Dalam waktu yang tidak lama, satu jalur saluran air telah selesai dibuat.


__ADS_2