
Sebelum Lina datang ke dunia ini, Lina selalu hidup sendiri. Baik dengan rasa sakit maupun cinta.
Jika hanya dengan k*w*n dapat mengukuhkan status pasangan, dan untuk selamanya dapat membuat mereka tidak meninggalkan dirinya. Gadis kecil itu akan bersedia k*w*n dengan mereka.
Lina mendorong tubuh Uriel untuk berbaring, kemudian dia duduk di atas perutnya yang keras, mengusap-usap wajah Uriel dengan tangannya dan kembali menciuminya dengan canggung.
Uriel sangat menikmati reaksi gadis mungilnya, tetapi dia masih menekan hasrat dalam tubuhnya untuk tetap terjaga.
Kedua tangan Uriel mengusap pelan punggung Lina, yang sedang menindih perutnya dan masih menciuminya. Dia membiarkan gadis kecilnya bergerak bebas di atas tubuhnya yang terlentang.
Terlihat juga di mata biru pria itu, yang sedang menikmati apa yang dia rasakan.
Sampai Lina bergerak menciumi dagunya, menciumi lehernya, bergerak turun menciumi dadanya, hingga akhirnya ciumannya sampai ke pusar di perut Uriel.
Membuat Uriel sudah tidak bisa menahannya lagi, dan mendorong sedikit tubuh Lina kebelakang. Tetapi, masih dengan suara lembutnya dia berkata, "Lina, sadarlah.."
Lina yang kini sudah terduduk di atas paha Uriel, kedua tangannya kini berada di atas perut pria itu untuk menyangga berat tubuhnya, matanya menatap kearah Uriel.
"Aku sadar, aku juga tahu apa yang aku lakukan."
Kini Uriel merasa tidak berdaya dan berkata, "Jika kamu benar-benar sadar, kamu tidak akan mengambil inisiatif untuk melakukan hal ini. Apa mimpi buruk itu sudah merangsangmu untuk mekakukan ini?"
Lina hanya mengerutkan bibirnya, dan tidak berbicara.
Uriel berkata lagi, masih dengan suara lembutnya, "Kapan pun kamu ingin k*w*n, boleh saja, tetapi ini yang pertama kalinya bagimu. Karena hal itulah, aku tidak ingin kamu yang berinisiatif untuk memulainya. Aku khawatir kamu akan menyesalinya setelah melakukannya."
Suara pria itu begitu lembut, sehingga Lina tidak bisa menahan hidungnya yang seperti akan tersumbat, dan matanya memerah.
"Aku tidak akan menyesalinya. Kamu sudah sangat baik kepadaku dan aku sangat menyukaimu. Tetapi, saat kamu dalam bahaya, aku yang tidak berguna ini tidak bisa berbuat apa-apa!"
Melihat gadis kecilnya hampir menangis, membuat Uriel menjadi sangat tertekan.
Dengan cepat Uriel segera memposisikan dirinya untuk duduk, memangku gadis kecilnya dan menghapus air mata dari sudut matanya sambil berkata dengan hati-hati, "Jangan menangis.. Baiklah, selama kamu tidak menangis, kamu boleh melakukan apa pun yang kamu inginkan."
Sejak Lina terbangun dari mimpinya, sebuah pemikiran mulai selalu menghantuinya.
"Jika hari ini yang pergi adalah Wiro, apakah besok giliran Uriel? Apakah kedepannya mereka akan meninggalkanku satu per satu? Apa yang harus aku lakukan ketika aku ditinggal pergi oleh mereka dan kembali harus sendiri lagi?"
Segala hal pasti akan berubah.
Kemudian, Lina bertanya sambil terisak, "Maukah kamu k*w*n denganku?"
Uriel memeluk tubuh gadis kecilnya dan menghela nafasnya.
"Tentu saja, gadis mungilku."
__ADS_1
Uriel menundukkan kepalanya, dan mengecup kening gadis mungilnya. Ujung lidahnya menyapu sudut matanya, dan menarik habis semua air mata kepahitan itu ke dalam mulutnya.
Kini Lina mengangkat kepalanya, dan menanggapi ciuman Uriel dengan lembut dan penuh perhatian.
Gerakan yang Uriel lakukan sangat lembut, tangan kering dan hangatnya bermain membelai seluruh tubuh gadis mungilnya, melepaskan rok kulit binatang yang gadis itu kenakan, dan mendekapnya erat dalam pelukannya yang hangat.
Dalam duduknya, kedua tubuh itu melekat erat satu sama lain.
Uriel sangat terbawa oleh hasratnya dan ingin segera memakannya. Tapi sebuah alasan membuatnya tetap terjaga.
Dia tidak ingin menyakiti gadis kecilnya lagi.
Masih sangat segar dalam ingatannya, bagaimana gadis kecilnya itu terluka karena dirinya. Dia tidak ingin membuat kesalahan yang sama, seperti waktu itu.
Uriel membaringkan Lina di atas tempat tidur batu, memagut lembut bibir gadis mungilnya dan membelai tubuhnya dengan lembut. Cukup lama permainan bibir mereka yang saling bertemu.
Kini permainan mulutnya berpindah, membasahi kedua gundukkan di dada gadis mungilnya. Bersamaan dengan itu, salah satu tangannya bergerak mengusap kebawah dan berhenti di p"ngk*l p*h* gadis itu. Membelainya dengan lembut dan hati-hati, seolah sedang menyentuh harta yang sangat berharga dan takut membuatnya merasa tidak nyaman.
Uriel mengulangi kembali apa yang pernah dia lakukan sebelumnya. Dia mengambil buah sumber, mengunyahnya dan menebarkan jus buah itu kebagian belahan yang ada di p*ngk*l p*h* gadis mungilnya.
Saat benda besar milik Uriel mulai bergerak, menyeruak untuk masuk, Lina memeluk erat punggung Uriel. Kuku pada jari-jari gadis itu, terkadang juga mencakar punggung Uriel, saat menahan rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Gerakan demi gerakan, hentakkan demi hentakkan terus Uriel lakukan dari atas tubuh gadis mungilnya.
Bau samar keringat dari sepasang insan yang sedang memadu kasih, dan aroma buah yang manis, telah bercampur dan menjadi bau yang khas, dan segera menyebar di sekitar mereka.
...........
Permainan mereka baru berhenti, saat matahari mulai terbit.
Lina merasa seperti hampir terbunuh di tempat tidur.
Selama pergulatan mereka, Uriel hanya mengeluarkan pelepasannya satu kali. Tetapi berbanding terbalik dengan gadis kecilnya, yang telah mengeluarkan pelepasannya berkali-kali.
Saat ini Lina sudah menggulung dirinya dalam selimut, seperti kepompong. Berbaring di tempat tidur dan tidak ingin menggerakan jari-jarinya sedikitpun.
Dia sangat-sangat kelelahan.
Lina merasakan seluruh tulangnya seperti remuk, akibat hantaman-hantaman lembut Uriel pada tubuhnya. Otot-ototnya masih terasa menegang di seluruh tubuhnya, dan juga merasa kekurangan banyak cairan, akibat pelepasannya yang berkali-kali.
Uriel bangkit dari tempat tidur, dan bergegas merebus air, dan membawanya kembali ke kamar Lina.
Dengan hati-hati, Uriel menyeka seluruh tubuh Lina yang masih berbaring lelah dengan air hangat hingga bersih. Barulah setelah itu, dia menggosok tubuhnya sendiri.
Sampai hari berikutnya, Lina masih berbaring di tempat tidur. Tiga kali sehari, makanan dan minuman selalu disajikan oleh Uriel untuk Lina, Uriel sendiri yang menyuapi gadis kecilnya.
__ADS_1
Malam harinya, Uriel memijati punggung gadis kecilnya. Lina yang berbaring tengkurap dan masih telanjang di tempat tidur, menyipitkan matanya seperti kucing yang sedang merasakan keenakan, karena menikmati pijatan Uriel. Telapak tangan Uriel sangat besar dan lebar, juga hangat. Membuat dirinya merasa nyaman saat dipijat.
Tanpa sadar, Lina pun tertidur.
Dengan hati-hati Uriel membalik tubuh Lina. Dia kemudian berbaring di sampingnya, memeluk perutnya, sambil menatap wajah seorang gadis kecil mungil dan imut yang ada di sampingnya, dengan tatapan lembutnya.
"Lina tidur dengan sangat nyenyak, bulu matanya yang panjang terlihat seperti kupu-kupu."
Uriel mencium keningnya, memeluknya dengan puas dan ikut tertidur.
Setelah istirahat sepanjang hari, Lina kini bisa bangun dari tempat tidur.
Dia berlari mencari Meli, untuk berkunjung dan menggoda ke sembilan anak-anak Meli.
Saat Lina tiba, Meli mengendus-endus dan mencium bau yang lembut, membuat Lina hanya menunduk malu.
Kemudian, tiba-tiba Meli berseru, "Akhirnya kamu k*w*n juga?"
Seketika itu juga, seluruh wajah Lina memerah, dan dengan cepat menutup mulut Meli, "Jangan dikeras-kerasin suaranya!"
Meli melepaskan tangannya dan menatapnya dari atas ke bawah. Melihat wajahnya yang memerah tapi terlihat ceria, dia tertawa semakin lepas, "Hahaha! Lihatlah dirimu, harimau itu pasti melayanimu dengan sangat baik!"
Lina baru mencoba rasa daging satu kali, tidak bisa dibandingkan dengan Meli yang sudah sering merasakannya berkali-kali.
Ketika Meli mengatakan itu, telinga Lina memerah karena sangat malu.
Lina berpura-pura tidak mendengar perkataan Meli, dia membungkuk dan mengusap kepala anak-anak serigala yang ada di dekatnya.
Meli lanjut berkata lagi, "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ketua Wiro, saat mengetahui kalau perempuannya dimakan lebih dulu oleh yang lain. Dia pasti akan mengamuk."
Lina terkejut: "Tidak mungkin sampai segitunya kan?"
"Kamu tahu sendiri temperamennya kan? Ketika dia kembali, jika sampai dia tahu kamu sudah k*w*n dengan Uriel, dia pasti akan bertengkar dengan Uriel" Kata Meli dengan serius.
Mendengar perkataan Meli, membuat Lina tiba-tiba menjadi gugup, "Terus.. bagaimana cara mengatasi hal seperti itu?"
"Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Normal bagi laki-laki untuk berkelahi dan bertengkar. Begitu juga laki-laki di keluargaku. Pada awalnya, mereka tidak saling menyukai. Mereka sering bertengkar hebat. Kemudian, lama-lama mereka mulai akur dengan sendirinya."
Lina merasa sangat ragu dalam hatinya, "Hanya begitu saja ..?"
Meli tiba-tiba menghela nafasnya panjang, "Hhhhh.. Kamu harus menjalani kehidupanmu dengan baik, jangan seperti aku. Jangan sampai kamu menyesali setelah kehilangan."
Meli memiliki enam pasangan, lima di antaranya tewas dalam serangan itu. Mereka mengorbankan nyawa untuk melindunginya, tetapi dia bahkan belum memiliki anak untuk mereka. Sekarang, ketika Meli memikirkan hal itu, dia sangat menyesalinya.
Lina tidak tahu bagaimana menghiburnya.
__ADS_1
"Aku ikut berduka."
Pada saat ini, ada Orc jantan yang berlari masuk dan berkata dengan cemas, "Rosa akan melahirkan! Cepat temui dia!"