
"Jangan memaksaku. Jika kamu menolakku, aku akan menelanmu."
Dengan begitu, Saga bisa bersama gadis itu selamanya.
Secara naluri, Lina bisa merasakan bahayanya. Dia menunduk dan menciutkan lehernya, bertanya dengan suaranya yang rendah, "Kenapa kamu menyukaiku? Apa hanya karena aku perempuan?"
Saga tidak menjawab apa yang Lina tanyakan.
"Apa itu penting?"
"Tentu saja itu penting!" Kemudian Lina mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan, "Jika kamu hanya menginginkan pasangan wanita, aku bisa membawamu ke gunung batu, di sana ada banyak wanita muda. Kamu bisa memilih wanita yang kamu sukai untuk kamu jadikan pasanganmu dan kamu juga tidak perlu repot-repot memintaku untuk memilihkan wanita untukmu."
"Tidak, aku hanya menginginkanmu."
Lina tertegun mendengar apa yang dia katakan dan menatapnya, "Kenapa?"
"Karena aku suka padamu."
Ya. Sepertinya Saga sudah jatuh cinta pada pandangan pertamanya, setelah dia terbangun dari koma. Dia ingin gadis kecil itu tetap ada di dalam pelukannya, dengan tubuh dan ekornya yang melingkari gadis kecil mungil itu dan tidak akan pernah melepaskan pelukkannya.
Lina menghindari tatapan penuh kasih sayang pria itu dan mencoba untuk membujuknya.
"Kita baru bertemu kurang dari tiga hari. Kita juga tidak saling mengenal. Apa yang kamu pikir tentang suka adalah karena kamu laki-laki dan aku perempuan dan hanya ada kita berdua saja yang berada disini. Jika kamu berada di tempat yang banyak terdapat perempuan, kamu pasti akan lebih menyukai salah satu di antara mereka. Kamu juga sudah terlalu posesif terhadap perempuan. Kamu itu tidak benar-benar menyuk ... "
"Aku hanya menyukaimu!" Saga menyela perkataan Lina, dia mengerutkan keningnya, menunjukkan ketidak senangannya saat mendengar apa yang sudah Lina katakan.
Kenapa gadis kecil ini menolak untuk mempercayai apa yang sudah dia katakan?
Saga telah bertemu banyak wanita, tetapi dia tidak pernah sama sekali memiliki pikiran untuk menjadi pasangan mereka. Akan tetapi, ketika dia pertama kali melihat gadis kecil ini, dia tiba-tiba memiliki dorongan yang kuat untuk menjadikannya pasangannya.
Saga menginginkannya.
Sudah pasti dia dan hanya dia seorang.
Lina sudah dikalahkan oleh kekeraskepalaannya.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu tertarik padaku, katakan padaku? Aku tidak cantik, aku lemah dan aku tidak memiliki keahlian khusus. Tidak seharusnya kamu menyukai perempuan sepertiku."
"Kamu cantik!" Nada suara Saga sangat tegas.
Lina tertegun dan menatapnya dengan aneh.
"Apa kamu pikir aku cantik?"
"Ya, kamu adalah perempuan paling cantik yang pernah aku lihat!"
Lina yang sudah bernapas selama lebih dari 20 tahun. Baru pertama kali ini dia dipuji karena kecantikannya, dengan nada yang begitu serius. Dia pun tidak bisa menahan senyumnya.
"Terima kasih."
Melihat senyumnya yang indah, Saga tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati pipi gadis kecil itu.
Pipi Lina dijilati hingga sangat merah, membuatnya ingin mundur menjauh, tapi terhalang oleh dinding batu di belakangnya.
__ADS_1
Dia tidak punya pilihan lain selain diam di situ.
Kenapa pria ini selalu menjilatinya?!
Saga mengulurkan kedua tangannya, menangkupkan masing-masing tangannya dikedua telinga gadis itu dan mengangkat kepalanya supaya menatap ke arah dirinya.
Saga menundukkan kepalanya dan menatap mata Lina.
"Tidak peduli apa yang kamu inginkan dari pasanganmu, aku juga bisa melakukannya untukmu. Kenapa kamu tidak memberiku kesempatan?"
Ujung hidung mereka hanya berjarak dua jari, mata mereka saling beradu tatap, napas mereka saling terjalin, membuat suasana menjadi semakin ambigu.
Jantung Lina berdetak tidak teratur. Dia menundukkan kepalanya gelisah.
"Kamu pria yang baik, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.."
"Pria yang baik?" Saga mencibir, "Aku bukan orang baik. Jika kamu menolakku lagi, aku khawatir aku tidak bisa menahannya dan melakukannya sekarang juga."
Lina segera menutup mulutnya karena takut dan tidak berani berbicara lagi.
Kemudian Saga mengusap pipi Lina dengan lembut.
"Kenapa kita tidak membuat kesepakatan?"
"Kesepakatan yang seperti apa?" Tanya Lina.
"Beri aku waktu sepuluh hari. Jika aku bisa membuatmu menyukaiku dalam sepuluh hari, kita akan menjadi pasangan. Jika aku tidak bisa membuatmu menyukaiku, aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena terlalu tidak berguna. Aku akan menyerah dan mengantarkanmu pulang."
Setelah menimbang kiri dan kanan, dia akhirnya mengangguk dan berkata, "Ok."
Begitu Lina selesai mengatakan itu, Saga dengan gerak cepatnya segera mengecup lembut bibirnya.
"Kalau begitu, kita sudah sepakat."
Lina tersipu, dengan bingung berkata, "Aku harus menambahkan syarat, tanpa seizinku, kamu tidak boleh menggerakkan tangan dan kakimu untuk menyentuhku, kamu juga tidak boleh menggunakan mulutmu untuk menyentuhku!"
Saga sedikit kecewa karena dia tidak bisa menyentuhnya, tetapi ini hanyalah hal-hal kecil, selama dia bisa bertahan selama sepuluh hari ini.
Saga juga menerima syarat darinya, "Ok."
"Kalau begitu, kamu mundur sekarang."
"Kenapa?" Tanya Saga.
Suara Lina terdengar lemah, "Kamu terlalu dekat, aku kesulitan untuk bernapas."
Saat Saga menatap wajah merahnya, dia ingin sekali menjilatinya, tapi kini dia hanya bisa menahan dorongan untuk menjulurkan lidahnya. Kemudian dia mundur sedikit.
"Apa sekarang sudah tidak apa-apa?"
Lina hanya menganggukkan kepalanya.
Melihatnya mengangguk, dia berhenti mundur kebelakang dan berkata, "Berikan dagingnya."
__ADS_1
Lina hanya bisa patuh dan menyerahkan kembali daging kelinci yang sebelumnya telah dipanggang oleh Saga.
"Dagingnya sudah agak dingin. Aku akan memanaskannya lagi." Saga kemudian meletakkan daging kelinci itu di atas api dan memanggangnya lagi. Kini dia mulai lebih berhati-hati lagi dari api.
Lina memperhatikan gerakannya.
"Sepertinya tidak ada yang salah dengan dirinya. Tapi jika diperhatikan dengan seksama, bisa terlihat kalau sebenarnya dia itu takut api."
Setiap kali setelah Saga menaruh daging di atas bara api, dia segera menghindar menjauh dari api, hal itu jelas menunjukkan sedikit ketakutannya bila dilihat dari gerakkannya yang seperti itu.
Melihat hal itu, membuat Lina merasa sedikit tergerak hatinya.
"Jika seseorang mau melakukan apa yang paling dia takuti untuk orang lain, bisa dibilang orang itu pasti sangat mencintainya."
Jika saat ini dia belum memiliki pasangan, dia mungkin dengan serius mempertimbangkan untuk menghabiskan waktunya bersama Saga.
Sayangnya, pertemuan mereka terlambat.
...........
Pada saat ini, di pegunungan batu.
Rei sebagai pria terkuat dan juga sudah menjadi teman Uriel di suku Serigala Batu, sedang berusaha dengan keras menghalang-halangi Uriel, yang bersikeras untuk keluar gunung dan mencari Lina.
Rei mencoba menasihati Uriel, "Dia hanyalah seorang wanita lemah yang tidak memiliki kekuatan, bahkan untuk mengikat seekor ayam. Jika dia jatuh dari tebing yang begitu tinggi, dia pasti sudah mati. Jika kamu turun gunung untuk mencarinya, mungkin kamu hanya akan menemukan mayat! Apalagi ketua Wiro telah membawa orang ke dasar jurang untuk mencarinya, tetapi mereka juga tidak menemukan jejaknya sama sekali!"
Kini penampilan Uriel sudah sangat berbeda, dari yang biasanya sangat lembut dan perhatian, kini terlihat sangat dingin.
"Bahkan jika dia mati, aku pasti akan membawa jenazahnya kembali! Aku tidak akan pernah membiarkan atau pun meninggalkan jasadnya begitu saja di hutan belantara!"
Rei masih tetap berusaha mencegah Uriel pergi, "Tapi jalan-jalan di gunung telah terblokir oleh salju tebal, dan seluruh hutan juga tertutup salju. Dengan kondisi yang seperti itu, kamu mungkin tidak akan bisa menemukannya. Kamu hanya akan mencari mati."
Uriel menatapnya dengan dingin.
"Jika kecelakaan itu terjadi pada Meli, apa kamu akan tinggal diam di gua dan membiarkannya begitu saja? Atau kamu akan mempertaruhkan nyawamu untuk menemukan dan membawanya kembali?"
Rei terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia juga sama seperti Uriel.
Mereka semua sama.
"Jika terjadi sesuatu dengan Meli, aku juga pasti akan pergi mencarinya dengan cara apa pun."
Nada suara Uriel sangat tegas, "Aku dan Lina adalah pasangan, aku bisa merasakan kalau dia masih hidup! Aku harus segera menemukannya! Jika dia mati, aku juga akan mati bersamanya!"
Kali ini Rei sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa memberinya tabung bambu yang berisi anggur.
"Ini air yang bisa membuat tubuhmu terasa hangat. Mungkin ini bisa berguna buatmu."
"Terima kasih!" Uriel membawa tabung anggur itu dan kemudian bergegas keluar dari gua tanpa melihat ke belakang.
Hanya dalam sekedipan mata, dia telah menghilang dalam badai salju.
__ADS_1