
Ada kapak batu yang tersimpan di dalam ruang penyimpanan, tapi, terlalu berat bagi Lina untuk bisa menggunakannya. Akhirnya, dia pun hanya bisa memilih pisau kecil yang sangat tajam yang terbuat dari tulang binatang, yang akan dia gunakan untuk memotong bambu.
Kemudian, dengan lembut Lina membelai salah satu pohon bambu mutan, sambil berkata dengan suara lembut, "Jangan takut.. Akan aku lakukan secepat mungkin, supaya kamu tidak terlalu merasakan sakit."
Saat itu juga, pohon bambu itu pun membuat rengekan pelan, seperti sedang menangis.
"Iiiiiikkk.."
Saat mendengar itu, hati Lina pun merasa tidak nyaman.
Bagaimanapun juga, bambu-bambu ini telah ditanam sendiri dengan kedua tangannya.
"Aku bisa mendengar, beberapa dari mereka juga ikut menangis.." Batin Lina sambil menatap ke pohon-pohon bambu yang ada di sekitarnya.
Saat ini, Star juga sedang menatap Lina dengan penuh semangat sambil bertanya, "Tidak bisakah jika kamu tidak memotongnya?"
Mendengar itu, Lina pun menghela napasnya, "Hhhh.. Jika kita tidak memotong bambu-bambu ini, kita tidak akan bisa membuat rakit."
"Rakit? Untuk apa rakitnya?" Tanya Star.
Lina pun segera menjelaskan rencananya kepada Star, sambil membuat gerakan mendayung dengan tangannya.
Setelah Lina selesai menjelaskan, Star pun berkata, "Ini adalah laut mati. Tidak akan ada apa pun di laut. Bahkan jika kamu memiliki rakit, kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa."
"Tapi kita tidak bisa tinggal di pulau ini selamanya, tanpa melakukan apa-apa." Kata Lina.
Mendengar itu, Star pun segera berkata, "Kita tidak melakukan apa-apa?" Kemudian dia menolehkan kepalanya dan mengedipkan matanya yang kuning, lalu berkata dengan serius sambil menunjuk ke arah hutan bambu, "Bukankah kita telah menanam begitu banyak pohon bambu? Lihatlah, betapa indahnya mereka.."
Saat Star selesai berkata seperti itu, segera terdengar pohon-pohon bambu yang seolah seperti sedang bernyanyi, sambil mengibarkan daun-daun mereka.
"Uuuuu.. Krasak krasak krasak.."
Lalu terdengar suara Star yang lanjut berkata lagi, "Tidak mudah bagi mereka, untuk bisa tumbuh di lingkungan yang sangat buruk seperti ini. Biarkanlah mereka.." Pinta Star kepada Lina, untuk menghentikan niat Lina yang akan memotong pohon bambu.
Pada saat ini, nyanyian pohon-pohon bambu menjadi semakin terdengar anggun dan sedih. Membuat Lina dan Star hampir menangis saat mendengarnya.
Saat itu juga, meskipun masih merasa enggan, Lina pun akhirnya meletakkan pisau tulang yang sedang dia pegang.
"Oke, oke. Aku mengalah."
Setelah mendengar itu, senyum Star pun segera meledak.
"Kamu memang sangat baik!" Puji Star lagi sambil tersenyum.
Tepat setelah Star selesai berkata seperti itu, pohon-pohon bambu juga segera menggoyangkan daun-daunnya lagi, sambil mengeluarkan suara yang terdengar seperti nyanyian, untuk mengekspresikan kegembiraan mereka.
"Uuhaauu.. Krasak krasak krasak.. Uuhaauu.."
Setelah mendengarkan nyanyian kegembiraan pohon-pohon bambu, Lina pun memutuskan untuk menyingkirkan pisau tulang yang sedang dia pegang, kemudian berkata kepada Star, "Hmm.. Ya sudah. Ngomong-ngomong, kalau menurut usia, seharusnya kamu memanggilku kakak perempuan."
Mendengar itu, Star pun segera berkata, "Aku malah lebih suka jika memanggil namamu. Namamu terdengar bagus."
Lina, "....."
"Bocah ini.." Pikir Lina yang merasa heran.
Tidak jadi memotong pohon bambu, Lina pun akhirnya menggali dan mengambil rebungnya.
Setelah rebung digoreng, Lina juga mengambil beberapa kentang untuk dia panggang.
__ADS_1
"Hmmm.. Lezaat! Baru pertama kali ini aku memakan rebung." Kata Star. Kemudian, dia pun segera mencicipi kentang yang dipanggang oleh Lina.
"Yang ini juga enak!" Kata Star lagi.
Yang tidak Star ketahui, kentang yang saat ini dipanggang oleh Lina, ukurannya tiga atau empat kali lebih besar dari ukuran kentang normal.
Lina hanya mampu memakan setengahnya, tapi, Star bisa menghabiskan dua kentang hanya dalam waktu singkat.
"Nafsu makan bocah ini benar-benar luar biasa.." Batin Lina sambil menatap Star yang sedang makan dengan sangat lahap dan cepat.
Setalah merasa perutnya telah kenyang, Lina pun mengumpulkan beberapa daun bambu yang jatuh di tanah, menumpuknya di tempat tidur kecil yang dia buat dari beberapa batu, lalu menggelar kulit binatang di atasnya.
"Hmmm.. Empuknyaa.. Aroma daun bambunya juga segar!" Gumam Lina.
Star juga ikut berbaring tak jauh dari Lina, dia memiringkan tubuhnya kearah Lina, sambil menatap wajah Lina tanpa berkedip.
"Kamu memang benar-benar baik," kata Star dengan tiba-tiba.
Ini sudah yang kesekian kalinya, Star berkata seperti itu kepada Lina.
Mendengar itu, Lina pun segera bertanya dengan santai, "Memangnya, apa yang kamu pikirkan tentangku?"
"Tidak hanya sudah menyelamatkanku, tapi kamu juga sudah menanam bambu di sini. Dan juga, kamu sudah memberikanku banyak makanan yang lezat. Kamu adalah orang terbaik pernah aku temui!"
Saat star berkata seperti itu, sorot matanya terlihat sangat tulus, seperti malaikat kecil yang cantik.
Saat melihatnya, Lina pun menyentuh kepalanya, bermaksud untuk membantu merapihkan rabut ikal bocah itu, sambil berkata dengan lembut, "Nanti, saat kita telah keluar dari pulau ini, kita bisa makan lebih banyak lagi makanan yang enak-enak."
Mendengar itu, Star pun terkejut untuk sesaat. Setelah itu, dia pun bertanya, "Bisakah kita pergi dari sini?"
Dengan sangat yakin Lina segera menjawab pertanyaan Star, "Tentu saja bisa! Yang penting kita tidak boleh putus asa!"
Saat Lina telah tertidur, diam-diam Star pindah ke sisinya, dan dengan hati-hati mendekati Lina, kemudian berbisik ditelinganya, "Jangan pernah pergi dari sini, ok.."
...........
Kehidupan di pulau gersang itu benar-benar membosankan.
Karena itulah, Lina membeli beberapa benih kentang dan biji kacang tanah, dan memulai babak baru untuk menanam.
Star juga sangat tertarik dengan hal ini, dia pun dengan senang hati membantu Lina, untuk mengurus tanaman kentang dan kacang yang Lina tanam.
Sepertinya, Star sangat tertarik untuk menanam tanaman di pulau itu.
Tanaman kentang tahan terhadap tempat yang bersuhu dingin ataupun panas, dan dapat tumbuh dengan baik.
Tapi, tidak dengan benih kacang. Benih kacang yang Lina tanam banyak yang mati. Pada akhirnya, hanya tinggal selusin bibit kacang yang bisa bertahan di tempat itu.
...........
Di bawah tangan dingin mereka berdua, sebagian pulau yang tandus itu secara bertahap kini telah ditutupi dengan tanaman yang hijau dan terlihat subur.
Pada saat ini, Lina mengeluarkan bubuk dengan beragam warna, mencampurkan masing-masing warna dengan sedikit air, dan mulai melukis pemandangan pulau itu pada sebuah lempengan batu.
Melihat hal itu, Star pun datang menghampiri Lina dan segera bertanya karena rasa ingin tahunya, "Bisakah kamu melukis?"
Mendengar itu, Lina pun dengan malu-malu berkata, "Lukisanku tidak terlalu bagus.."
"Tidak, lukisanmu sangat bagus." Kata Star yang memuji lukisan Lina tulus dari lubuk hatinya, sambil terus memandangi lukisan di lempengan batu itu, tanpa sedikitpun mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Nantinya, aku ingin memberikan lukisan ini untuk anak-anakku." Kata Lina yang saat ini mulai melanjutkan lagi aksi melukisnya.
"Kamu sudah mempunyai anak?" Tanya Star yang terkejut, setelah mendengar apa yang baru saja Lina katakan.
"Ya," kata Lina sambil terus melukis. Kemudian dia berkata lagi, sambil sesekali berhenti berkata untuk lanjut melukis lagi, "Aku sudah mempunyai empat anak.. Mereka juga belum bisa merubah wujud mereka ke bentuk Orcnya. Mereka seharusnya sedikit lebih muda darimu.. Saat kita keluar dari sini, aku akan membawamu ke rumahku, dan mengenalkanmu pada anak-anakku."
"Apa kamu tetap ingin kembali? Bukankah akan lebih baik jika tetap tinggal di sini?" Tanya Star.
"Tentu saja tidak, lagipula tidak ada apa-apa di sini, hanya ada kita berdua. Aku harus kembali ke keluargaku. Mereka semua pasti merindukanku. Sangat merindukanku.. Begitu juga denganku. Sangat merindukan mereka.." Kata Lina yang saat ini menghentikan aktifitas melukisnya, sambil menatap ke arah lautan yang luas.
Setelah mendengar itu, Star pun menundukkan kepalanya, dan bertanya-tanya di dalam hatinya, "Apa hanya ada kita berdua saja tidak cukup bagimu?!"
...........
Setelah selesai melukis, Lina pun segera memasukkan lempengan batu itu kedalam ruang penyimpanan.
Tak lama kemudian, dia pun menemukan balasan dari Wiro.
"Hah? Orang ini benar-benar menggambar di lempengan batu? Hihihi.." Pikir Lina yang sedikit heran, namun merasa lucu.
Lukisan yang Wiro lukis, adalah tiga pria dewasa bersama dengan empat ekor anak Serigala. Mereka semua adalah Uriel, Wiro, Saga, Wirna, Wirya, Wirdan dan yang paling bontot Wira.
Ada juga empat cetakan kaki di bagian pinggir bawah lukisan. Saat Lina memperhatikan dengan lebih cermat.
"Ternyata ini adalah jejak kaki anak-anak.." Batin Lina sambil menyentuh lukisan itu.
Meskipun lukisan itu terasa masih sangat baru dan kasar, tapi hal itu tidak menghentikan keinginan Lina yang dengan sangat hati-hati menyentuh lukisan itu berulang-ulang kali, karena perasaan rindunya.
Pada saat ini, Star datang dan segera duduk di samping Lina, sambil terus menatap lukisan itu dengan penuh semangat.
Lina pun menolehkan kepalanya untuk melihat Star, dan bertanya dengan lembut, "Apa kamu ingin belajar melukis?"
"Hm! Hm! Hm!" Kata Star sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lina pun segera bangkit dan mencarikan batu lempeng yang bersih dan rata, lalu membuat garis di sekeliling lempengan batu itu dengan bubuk yang telah diberi air, dan mulai mengajarkan kepada Star tentang poin kunci dalam melukis.
Seperti siswa teladan, Star pun selalu mendengarkan apa yang Lina katakan dengan sangat serius.
Saat Lina telah selesai berkata, dia pun menyerahkan batu lempeng dan bubuk berwarna itu kepada Star.
"Sekarang kamu coba sendiri." Kata Lina.
Star pun segera menerima semua itu dengan penuh antusias.
"Ini adalah pertama kalinya aku melukis." Batin Star.
Tapi, saat dia telah memegang batu lempeng dan cat warna, kini dia mulai terlihat gugup.
Saat melihat hal ini, Lina pun sedikit tersenyum, sambil berkata untuk memberikan dorongan semangat kepada Star, "Kamu pasti bisa."
Sambil duduk, Star pun dengan hati-hati mulai menggerakan jarinya yang sedang menjepit kuas yang terbuat dari ranting bambu yang telah dihancurkan ujungnya, yang sebelumnya telah dia celupkan pada cat warna.
Untuk menghindari supaya tidak mengganggu Star yang saat ini sedang mulai melukis, diam-diam Lina berjalan pergi ke kebun, untuk menggali tiga kentang yang berukuran besar.
Pada saat Lina telah kembali, Star sudah menyelesaikan lukisannya.
Saat melihat lukisan wanita yang ada di lempengan batu, saat itu juga Lina terpana karena sangat terkejut.
"Ini.." Ucap Lina yang sedang terkejut.
__ADS_1
Sambil tersenyum, Star pun berkata, "Ini adalah kamu."