
Melihat kemunculan pria itu dan mendengar suaranya, Lina pun tergagap, "Ka kamu.. Siapa kamu...?"
Dia berpikir pria yang ada di depannya sepertinya tidak asing baginya, tapi, dia tidak tahu kenapa dia tidak bisa mengingat di mana dia pernah melihatnya.
Pria itu menatap Lina untuk waktu yang lama. Sepertinya dia sedang berpikir sesuatu tentang gadis itu.
Tiba-tiba saja pria itu tertawa, memecah keheningan diantara mereka.
Dia sedang menertawai dirinya sendiri. Dengan suara tawanya, yang terdengar dingin.
"Hahaha.. Apa kamu sengaja melupakanku?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, Lina pun merasa sangat gugup dan bingung.
"Aku.. Aku tidak ingat. Atau.. Bisakah kamu memberiku petunjuk tentang siapa dirimu?"
Pria itu sepertinya tidak mendengar apa yang Lina katakan. Dengan suaranya yang pelan, dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri, "Kamu telah berjanji padaku, bahwa kamu akan kembali. Aku selalu menunggumu di gua, untuk waktu yang lama. Sampai tiba masanya, salju di luar gua mencair dan bunga-bunga mulai bermekaran, akan tetapi, kamu tidak juga kembali ... "
Wajah Lina tampak sangat bingung. Dia benar-benar tidak ingat tentang pria itu.
Sorot mata pria itu tiba-tiba menjadi tajam, sambil berkata dengan nadanya yang sangat dingin, "Kamu sudah membohongiku!"
Lina sangat terkejut. Secara naluriah, dia merasakan akan adanya bahaya, dia segera berbalik dan bersiap untuk lari.
Namun, sebelum dia melangkahkan kakinya untuk berlari, tiba-tiba pria itu sudah berada di hadapan Lina.
Sebagian tubuhnya keatas berwujud tubuh seorang pria, dan dari pinggangnya kebawah berwujud ular.
Sebelumnya, tubuh ular besar berwarna hitam itu melingkar di dalam sungai, dan tidak bisa terlihat oleh Lina.
Kini, tubuh dan ekornya telah keluar dari air, melesat seperti anak panah dan segera melilit tubuh Lina. Lina juga bisa merasakan dinginnya tubuh ular itu saat melilitnya.
Dalam ketakutannya, Lina berjuang untuk melepaskan diri.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!"
"Aku tidak akan melepaskanmu." Sahut pria itu dengan nada suaranya yang dingin.
Pria itu mendekap Lina ke dalam pelukan tubuh ularnya, menjulurkan lidahnya yang merah dan dengan lembut menjilati wajah Lina.
Setelah tiga kali jilatan, tiba-tiba saja pria itu berhenti, dia segera menatap kearah Lina, dengan sorot matanya yang terlihat sangat terkejut.
"Aku bisa merasakan rasa laki-laki lain yang sangat kuat ditubuhnya! Terakhir kali aku bersamanya, rasa kedua pria itu masih sangat samar. Tapi sekarang, sudah puluhan kali lebih kuat!"
"Apa kamu sudah k*w*n dengan mereka?!" Pria itu bertanya dengan nada suaranya yang marah.
Tatapan matanya tajam bagaikan pisau dan sedingin es, yang membuat Lina menggigil ketakutan.
"Aa aa akku.. aku tiidaak tahu apa maaksuudmu.."
"Aku selalu menunggumu untuk kembali, tapi ternyata, di belakangku kamu k*w*n dengan laki-laki lain!" Kata pria itu dengan kecewa dan marah.
Pria itu merasa sangat marah. Saat ini, dia sedang ingin membunuh.
Lina masih sangat ketakutan. Lina mencoba mendorong tubuh ular yang sedang melilitnya, agar dirinya bisa terlepas dari lilitan ular tersebut. Tetapi kekuatannya terlalu kecil, Lina sama sekali tidak bisa membuat tubuh ular itu melonggar sedikitpun.
Lina yang tidak kuasa menghadapi pria itu, kini hanya bisa berteriak, "TOLONG! TOLONG! TOLONG AKU!"
"Aku harap, keberadaan Wiro tidak terlalu jauh dari sini, dan bisa mendengar suaraku." Tangisan dalam batin Lina, yang mengharapkan seseorang datang untuk menolongnya.
__ADS_1
Sayangnya, pria itu tidak memberi kesempatan orang lain untuk datang menolongnya. Dia segera merubah separuh tubuh prianya menjadi ular, dan bergerak dengan cepat meninggalkan sungai, untuk segera masuk ke dalam hutan, sambil membawa Lina yang dia lilit dengan ekornya.
Dengan sekuat tenaga, Lina memukul dan menggigitnya, tetapi sama sekali tidak bisa menyakiti ular itu sedikit pun. Kulit ular itu sangat tebal, gigi putih kecil gadis itu tidak berdampak apa pun pada tubuh ular.
Jelas kini Lina menjadi semakin takut dan bertanya dengan nada suaranya yang cemas, "Ke mana kamu akan membawaku?"
"Pulang ke rumah." Jawab dingin ular itu.
Arah ke rumah yang dia tuju, sudah pasti bukanlah menuju ke Gunung Batu.
Lina dibawa olehnya ke sebuah gua. Gua itu terlihat luas dan juga rapih. Tempat inilah yang disebut oleh ular itu sebagai, "Rumah."
Setelah ular itu menempatkan Lina di atas tumpukan jerami yang kering dan terasa lembut, dia segera merubah wujud ularnya menjadi wujud manusia.
"Di tempat ini, apa yang bisa kamu ingat?" Pria itu bertanya dengan dingin.
Lina melihat ke sekeliling. Dia berpikir tempat ini tampak tidak asing baginya. Sama seperti Orc pria yang sedang ada di depannya ini, dia merasa familier, tetapi tidak bisa mengingatnya.
Dengan mukanya yang cemberut, Lina pun berkata, "Aku tidak ingat apa pun."
Pria itu mengulurkan tangannya dan mengeluarkan kalung permata hitam yang Lina kalungkan di lehernya.
"Apa kamu masih ingat, darimana kalung ini berasal?"
Kemudian Lina menatap dalam ke arah Liontin Permata Hitam itu, gambar samar dan kabur yang tidak asing baginya pun muncul dalam ingatannya.
Tapi, ketika dia ingin melihat sosok itu dengan lebih jelas lagi, gambar sosok yang samar dan kabur itu langsung menghilang.
Lina menutup matanya, dan kedua tangannya memegangi kepalanya, sambil terus berusaha mengingat-ingat dan mencari kepingan ingatan miliknya yang hilang.
"Sepertinya aku sangat kenal sosok itu, tapi siapa dia? Aku tidak ingat.. Siapa ..."
"Akulah yang telah memberimu kalung ini."
Mendengar itu, Lina membuka mulutnya dan menatapnya dengan heran.
"Hah. Kamu??"
Pria itu membungkuk dan menatap mata Lina dengan sorot mata yang dalam, kemudian berkata, "Kamu berjanji bahwa kamu akan kembali kepadaku. Tapi, sekalipun, kamu tidak pernah kembali. Kamu tidak hanya membohongiku, tetapi juga k*w*n dengan laki-laki lain di belakangku."
"Aku tidak ..."
Pria itu segera menyela perkataan Lina, dengan nada suaranya yang dingin dia berkata, "Kamu tidak usah menyangkalnya, tidak perlu juga membuat alasan. Kamu tidak berbeda dari orang-orang itu. Kamu sama saja, kamu pembohong."
Setelah pria itu selesai berbicara, seketika itu juga Lina merasakan bahaya. Masih dengan rasa takut yang menyelimutinya, Lina menghindar dan mundur ke belakang, mencoba menjauhkan diri dari Orc laki-laki bertubuh pucat yang ada di depannya.
Melihat pergerakan Lina yang berusaha untuk menjauh dari dirinya, membuat amarah pria itu pun meledak.
Segala emosi berkecamuk di dalam hati dan pikirannya.
"Sampai sekarang, dia masih tetap ingin pergi?! Apakah itu cara dia membenciku?! Aku juga telah mencoba yang terbaik untuk menjaganya, tapi, kenapa dia masih juga enggan untuk tinggal?! Tidak bisakah dia menukar hatinya untuk semua luka yang telah aku terima?!"
Masih dalam keadaan emosi, pria itu mengulurkan kedua tangannya dan meraih bahu Lina. Membuka mulutnya, dan dengan kedua taringnya yang tajam, dia menancapkan taring-taring itu di leher Lina.
Wajah Lina pun memucat dan tubuhnya bergetar.
Dalam ruangan gua yang hanya diterangi cahaya dari api unggun, perlahan-lahan kedua mata gadis itu mulai menutup.
Diambang antara sadar dan tidak sadar, Lina melihat beberapa kilasan kejadian, melintas dalam ingatannya.
__ADS_1
...........
...#################...
"Jadilah pasanganku, kau akan aku perlakukan dengan sangat baik."
"Beri aku waktu sepuluh hari. Jika aku bisa membuatmu menyukaiku dalam sepuluh hari, kita akan menjadi pasangan."
"Tidak apa jika hatimu tidak sepenuhnya untukku, aku hanya ingin selalu menemani, di sisimu."
"Ini adalah batu yang ditinggalkan oleh ibuku untukku. Jika kamu memakainya, aku bisa merasakan keselamatanmu melalui batu ini."
"Berhati-hatilah selama diperjalanan. Aku akan selalu di sini menunggumu."
"Namaku, Saga Bergola. Siapa namamu?
...#################...
...........
Air mata menetes dari kedua sudut matanya.
Lina berusaha untuk membuka matanya, penglihatannya berangsur-angsur mulai kabur, tetapi gambaran dalam ingatannya menjadi semakin jelas.
Dia ingat.
"Saga terluka untuk menyelamatkanku, aku pun pergi sendiri untuk mencari bantuan. Aku juga telah berjanji padanya, untuk kembali dan menyelamatkannya."
Akan tetapi, tanpa sengaja Lina telah melupakannya.
"Aku meninggalkannya sendirian di gua yang dingin. Dia terluka dan tidak bisa kemana-mana. Dia hanya bisa menungguku, untuk kembali menemuinya."
Akan tetapi, Lina telah melanggar janjinya.
Dia tidak juga kembali, hingga musim dingin berakhir.
Lina tidak berani memikirkan, bagaimana selama ini Saga bertahan. Rasa bersalahnya kini tengah menenggelamkannya.
Berjuang dengan bahaya yang sedang menggigit di lehernya, dia mengangkat tangannya yang gemetar dan mencoba menyentuh sosok Orc yang ada di depannya.
"Maaf.."
Gerakan menggigit Saga terhenti, saat dia merasakan ada air yang terasa hangat jatuh di pipinya. Dia tahu itu bukan berasal dari suhu tubuhnya yang dingin. Saga pun melepaskan gigitannya.
Saat tangannya hendak menyeka wajahnya yang terkena tetesan air hangat, saat itulah dia melihat Lina tengah menatap dirinya, dengan air matanya yang mengalir.
Saga pun tercengang.
Racun ular telah membuat anggota tubuh Lina melunak, dan matanya terlihat mulai sedikit menghitam. Lina menggigit ujung lidahnya dan memaksa dirinya untuk tetap terjaga, dengan bantuan rasa sakit yang menusuk.
Lina memegang tangan Saga, dengan air matanya yang masih mengalir keluar dari kedua matanya.
"Maafkan aku.. Aku seharusnya tidak melupakanmu.. Ini semua salahku.. aku ..."
Sebelum Lina menyelesaikan kata-katanya, Saga tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya. Dia segera memeluk Lina, dan berguling-guling di tanah menghindari serangan dari arah belakangnya.
Setelah berhenti menghindar, kini Saga bisa melihat wajah orang yang mencoba menyerangnya.
Seorang pria tampan, berambut pendek yang berwarna perak, dan alis tebal di atas matanya yang berwarna hijau tua, sedang berdiri. Di tempat di mana Saga berada sebelum menghindari serangan.
__ADS_1