Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 129 - Malam Ini Burung Pegar Lagi?


__ADS_3

Lina benar-benar merasa marah.


Dalam hal kekuatan, tentu dia tidak bisa mengalahkan Leon. Dalam hal pertarungan verbal, dia juga sama sekali bukan lawan dari Laki-laki burung ini.


Pada akhirnya, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah memelototi Leon.


"Jika saja mataku bisa mengeluarkan sinar laser seperti superman, ingin rasanya *k**epala si laki-laki burung itu aku lubangi, untuk membakar saraf-saraf otaknya yang korslet*!"


Awalnya Leon akan memperbaiki kerahnya, tapi saat memperhatikan arah pandang Lina, dia bergerak dan kemudian menarik kerahnya semakin kebawah.


Melihat pakaian Leon hampir jatuh ke pinggang, Lina segera menutupi matanya dan berkata dengan marah, "Pakai bajumu dengan benar!"


Mendengar itu, Leon malahan tersenyum bahagia.


"Haha.. Tidak usah malu-malu, aku akan membiarkanmu melihat tubuhku sesuka hatimu."


"Siapa yang ingin melihatmu? Dasar Orc tak tahu malu." Setelah mengatakan itu, Lina segera menoleh dan pergi.


Lina pergi ke dapur untuk memasak dan membuat sarapan. Setelah anak-anak Serigala selesai sarapan, Lina pun beranjak pergi ke kelas. Kuncup bunga kecil tinggal di rumah dan bermain dengan anak-anak Serigala.


Pagi hari berlalu dengan cepat.


Setelah kelas Lina selesai, Meli berlari untuk datang menjemput anak-anaknya di sekolah.


Keduanya pun bertemu dan saling mengobrol.


Saat ini Meli sedang merasa sangat khawatir.


"Aku dengar kalau Pay No pergi ke suku Sungai Hitam bersama dengan Ida Ruln.. Aku tidak tahu apakah ketua Wiro akan bertemu Pay di medan perang.. Jika mereka saling berperang, apakah Pay akan terluka?"


Lina tidak berani mengatakan yang sebenarnya kalau Pay No telah mati. Ia hanya bisa menghangatkan suasana dengan cara yang nyaman.


"Kamu tak perlu khawatir. Ada Wiro dan Rei. Jika mereka bertemu dengan Pay, mereka pasti tidak akan melakukan apa pun padanya."


"Aku percaya kalau ketua Wiro dan Rei tidak akan menyakiti Pay, tapi kepribadian Pay terlalu impulsif. Aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang bodoh, yang bisa mengakibatkan dirinya sendiri terluka." Ucap Meli.


Kemudian Lina memegang tangan Meli sambil berkata, "Pay No sudah bukan anak kecil lagi, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri."


Meli tersenyum pahit kemudian berkata, "Orang tua kami meninggal saat kami masih kecil. Pay dan aku saling bergantung satu sama lain sejak kecil, aku beberapa tahun lebih tua darinya. Aku berkata seperti itu karena aku merawatnya seperti setengah anak laki-lakiku sendiri."


Lina sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, dia hanya bisa diam-diam menghela nafasnya.


Meli mengerutkan keningnya, dan matanya menunjukkan warna yang suram.


"Tadi malam aku bermimpi. Aku bermimpi kalau Pay tergeletak di tanah dan berlumuran darah. Dia meminta tolong, tapi aku tidak bisa menyelamatkannya. Aku hanya bisa terus melihatnya ..." Setelah berkata seperti itu, dia menutupi wajahnya, dan bahunya sedikit menciut sambil berkata, "Aku sangat takut! Aku benar-benar takut sesuatu terjadi padanya.."


Lina sedikit terkejut saat mendengar apa yang meli katakan, "Apakah ini yang namanya hubungan batin antara Meli dengan saudara laki-lakinya?"


Lina menghibur Meli beberapa kata lagi, dan ketika suasana hati Meli mulai tenang, Meli pun segera pulang bersama dengan anak-anaknya.


...........


Pada siang hari, Lina tidak melihat bayangan Leon. Sampai matahari terbenam, Leon baru kembali dari luar.


Dia juga menenteng dua burung pegar yang besar sambil berkata, "Burung pegar lagi malam ini?"


Kemudian dia mengeluarkan lima lembar daun teratai dan sekantong besar yang berisi lumpur.


Burung pegar tadi malam rasanya sangat lezat, Leon belum pernah makan makanan yang begitu lezat!


Saat Lina melihat ke leher burung yang dipelintir hingga patah, dia pun bergumam, "Burung ini satu spesies denganmu. Apa karena begitu laparnya hingga kamu tega memakan spesiesmu sendiri?"


"Hm?" Leon mengangkat alisnya.


"Aku berkata, bukankah kalian semua dari keluarga yang sama? Sama-sama keluarga bulu, kenapa harus saling membunuh?"


Leon merasa tidak senang dengan apa yang telah dikatakan oleh Lina.


"Aku ras bulu yang lebih mulia dari mereka, burung pegar hanyalah burung tingkat rendah. Kenapa kamu membandingkannya denganku?"


"Kalian kan semua sama-sama punya sayap. Aku pikir kalian semua sama saja." Jawab Lina

__ADS_1


Melihat Leon yang akan meledakkan amarahnya, Lina segera menyeret dua burung pegar besar itu ke dapur.


Lina mengambil burung yang ada di depannya dan menganggapnya sebagai Leon. Dia mencabuti seluruh bulu-bulunya, untuk meredakan amarahnya!


"Dasar Orc br*ngs*k! B*j*ng*n!"


Saat itu, tiba-tiba saja cincin yang ada di jari manisnya terasa panas!


"Ada apa ini?"


Lina segera menghentikan kegiatannya mencabuti bulu burung pegar dan menatap cincin yang ada di jarinya. Cincinnya semakin terasa panas, permukaannya juga terbungkus lapisan kabut gelap yang samar.


Jantungnya kini mulai berdegup dengan kencang!


"Sesuatu terjadi pada Saga?"


...........


Nanto bersama dengan lebih dari tiga ratus Orc yang kuat, pergi menuju ke gunung batu. Dia telah siap untuk membersihkan klan Serigala Batu hingga ke akar-akarnya!


Tapi sebelum mereka mencapai Gunung Batu, mereka telah disergap terlebih dahulu.


Uriel, Wiro, Saga yang masing-masing membawa pasukan, berpencar menjadi tiga rute. Dari tiga arah berbeda itulah mereka mengepung para Orc dari suku Sungai Hitam.


Mereka bertiga memliki roh Binatang Buas yang kuat. Selain itu, mereka juga yang mengambil inisiatif untuk menyerang terlebih dulu.


"AUUUUU! SERAAANG!"


"GROARR! MAJUU!"


"HIAAA!"


Nanto belum pernah melihat pertempuran yang sebesar ini!


"MATI KALIAN SERIGALA-SERIGALA BR*NGS*K!"


"Coba saja! GROAAR! JLEGER! JLEGER!"


"AARGGH!"


"Sialan! Ternyata ada tiga roh Binatang Buas di antara mereka!"


"Pantas saja Ida selalu menasihatiku untuk tidak terburu-buru menyerang klan Serigala Batu!"


Kini Nanto mulai merasa menyesali keputusannya yang impulsif!


"Kalau saja sebelumnya aku tahu ada begitu banyak roh Binatang Buas di sisi lawan, sudah pasti aku tidak akan terburu-buru menyerang mereka! Br*ngs*k! Br*ngs*k!"


"Sekarang apa yang harus kita lakukan ketua? Pihak lawan memiliki tiga roh Binatang Buas!"


Dengan melihat situasinya saja, Nanto tahu kalau dipertempuran ini pihaknya lah yang akan dikalahkan oleh pihak lawan.


"Sialan! Tidak ada pilihan lain lagi!"


Dia ingin mundur bersama para anggota klannya yang tersisa.


Namun Harimau putih yang sebelumnya sudah menduga, kalau Nanto akan mengambil tindakan seperti itu, segera memberikan kode pada Ular Piton untuk menghalangi jalan Nanto untuk kabur.


"HAUMM! GROARR!"


Mendengar auman Harimau putih, Ular Piton segera memaksa suku Sungai Hitam untuk kembali masuk dalam pertempuran yang sengit.


"DESISISISSSS! BUGH! BUGH!"


"UUGHH!"


Saga yang telah dalam wujud Ular Piton hitam besar, ekor ularnya segera menyapu kekerumunan lawan.


"BRAK!"


"ARRGHH!"

__ADS_1


Ketika Nanto dipaksa untuk masuk kembali ke dalam situasi yang telah membuatnya merasa putus asa dan tidak ada celah lagi untuk mundur, hatinya berubah menjadi semakin kejam.


"B*NGS*T!"


Nanto meraung, "Ayo! Maju sini! Aku akan membunuh kalian! Hari ini aku akan bertarung dengan kalian sampai mati!"


Wujud Nanto adalah Kuda berwarna coklat tua, dengan kedua kaki depannya yang kuat. Kedua kakinya menendang-nendang semua lawan yang ada di depannya, hingga berdarah dan terkapar!


"HIAAA! BUGH! BUGH!"


"AARGGH!"


"BUGH! BUGH!"


"UUGGH!"


Para Serigala yang ada di dekatnya bergegas untuk menggigitnya, Nanto menangkap satu dan menyerang dengan ganas dengan niatan ingin membunuh lawan-lawannya.


"HIAAAH!"


"AARGGH!"


Semakin banyak luka cakaran dan gigitan di tubuh Mustang cokelat itu, semakin banyak musuh yang jatuh di bawah kakinya.


Saat Ular Piton melihat Serigala yang dia pimpin yang sedang mengepung Nanto hampir terbunuh, dia pun segera bergerak menuju kearah Nanto.


"DESISISISSS! BRAK!"


"UGGHHFT!"


Ular Piton hitam besar bergerak seperti kilat, menembus kerumunan, dan berhenti di sisi Nanto. Ekor Ular Piton hitam itu segera menyapu ke arah Nanto dengan keras!


Satu Ular dan satu Kuda saling melancarkan serangan sengit mereka.


"DESISISISSS! WUUT!"


"TAP!"


"HIAAAH! BUGH! BUGH!"


"DESISISISSS!"


Saga sebagai roh Binatang Buas bintang tiga, jelas jauh lebih kuat daripada Nanto.


Serigala Es dan Harimau putih tidak membantunya, tapi memberikan Nanto kepada Ular Piton untuk dia selesaikan sendirian.


Serigala Es dan Harimau putih beserta para Orc yang mereka pimpin, segera bergerak untuk memecah belah para Orc Kuda Liar yang masih berjuang untuk melawan.


"KRECEK! KRECEK! KRECEK!"


"GROARR! JLEGER! JLEGER! JLEGER!"


"PRAKK! PRIAANG!"


Mereka semua pun segera membersihkan para musuh dengan cepat. Serigala Es mengibaskan tubuhnya untuk menghilangkan noda darah yang ada di bulu-bulunya. Di bawah kakinya juga masih banyak terdapat pecahan-pecahan es.


Kemudian dia berkata kepada Uriel, "Aku akan membereskan mayat-mayat ini. Kamu kumpulkan para Orc Serigala dan kuda-kuda kami, setelah itu kita bersiap untuk pulang."


Lina telah menunggu mereka di rumah, mereka harus kembali lebih cepat!


Uriel segera mengumpulkan para Orc Serigala yang tersebar dan menghitung jumlah mereka semuanya. Tapi saat itulah dia baru menyadari, ada yang salah dengan keadaan Ular piton.


Nanto telah tewas, tapi Ular Piton masih tidak berhenti menyerang. Ular Piton hitam besar itu telah membuat area di sekitarnya dipenuhi dengan genangan darah. Darah yang mewarnai tubuh Ular Piton menjadi merah, berubah menjadi pola aneh dengan kilau merah gelap yang menakutkan.


Terlihat juga kabut Hitam yang samar, yang ada di sekitar Ular itu.


"Bau ini adalah bau kematian. Bau ini membuatku sangat tidak nyaman."


Rei ingin menghentikan Ular Piton dan menyuruhnya pulang. Tapi tak disangka, Ular Piton itu seperti sudah menjadi gila.


Ular Piton itu membuka mulutnya dan berusaha untuk menggigit Rei!

__ADS_1


"ZSISISSSSZZ! SRET!"


__ADS_2