
Uriel menatap Leon dengan sangat serius.
"Maksudmu, kamu benar-benar ingin mengejar Lina?"
"Ya. Tentu saja." Dengan tatapannya yang mengarah pada sosok Lina.
Leon menjilat sudut bibirnya sendiri sambil membayangkan, "Ini adalah pertama kalinya bagiku, melihat betina mungil yang segar dan lezat! Saat gadis itu marah, dia terlihat seperti kucing liar. Sangat lucu, aku sangat ingin menyimpannya selamanya di kandang, untuk ku jadikan sebagai hewan peliharaanku sendiri!"
Kemudian terdengar suara Uriel yang berkata, "Kalau begitu ayo kita bertarung, hanya mereka yang bisa mengalahkanku, yang memiliki kesempatan untuk tinggal bersama kami."
Leon sangat terkejut, begitu Uriel selesai berkata seperti itu. Sekilas dia tahu kalau Uriel bukanlah Orc biasa.
"Kekuatan yang dia miliki pasti sangat kuat. Jika aku benar-benar bertarung dengannya, entahlah siapa yang akan menang."
Lina sangat mencemaskan Uriel, dia tidak ingin sampai Uriel terluka. Dengan cepat Lina segera meraih tangan Uriel.
"Jangan bertarung dengannya!"
Uriel mengusap-usap kepala gadis kecilnya, dan dengan suara yang lembut menghiburnya, "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
"Tapi ..."
Uriel segera memotong kalimat Lina, "Aku harus melawannya. Ini adalah aturan antara sesama laki-laki. Jika dia tidak bisa mengalahkanku, dia tidak akan bisa mengganggumu lagi."
Sorot mata Uriel penuh dengan kelembutan, tetapi kata-katanya terdengar sangat tegas.
Lina tahu keputusan Uriel telah ditentukan dan tidak dapat diubah lagi. Lina pun hanya bisa menahan air matanya dan berkata, "Kamu harus berhati-hati. Jika kamu tidak bisa mengalahkannya, kamu akui saja kekalahanmu sambil menunggu Wiro dan Saga kembali, dan bawa mereka untuk membalaskan dendam. Jangan memaksakan dirimu."
Uriel tidak bisa menangis atau pun tertawa, saat mendengar perkataan gadis kecilnya. Dia kemudian berkata dengan tersenyum lembut, "Aku bahkan sama sekali belum bergerak sedikitpun. Kamu pikir aku akan kalah? Di hatimu, apa aku sangat tidak berguna?"
Lina memeluk pinggang Uriel dan dengan mantap berkata, "Aku tidak mengerti hal-hal di antara kalian para pria. Aku juga tidak peduli tentang menang atau kalah. Aku hanya berharap kamu akan baik-baik saja dan tidak terluka."
Uriel merasa tak berdaya dan hatinya terasa hangat, saat mengetahui Lina yang mengkhawatirkan dirinya.
"Yah, aku akan selalu mendengarkanmu."
Leon yang sejak dari tadi memperhatikan pasangan itu, dia tidak pernah menyangka, penampilan gadis kecil itu akan berubah menjadi begitu lembut dan mempesona dalam sekejap mata, yang benar-benar telah membuatnya semakin tertarik dengan gadis itu.
Memikirkan bahwa kedepannya dia bisa menggoda betina kecil ini setiap harinya, Leon merasa kalau masih ada harapan untuknya.
Leon mengaitkan bibirnya dan terkekeh sesaat, kemudian dengan sorot matanya yang terlihat tajam dia berkata, "Setelah sekian lama, tidak ada yang berani menantangku lagi. Demi nyalimu yang besar, aku akan menggunakan satu tanganku untuk melawanmu dan tidak akan menggunakan sayapku. Bagaimana?"
"Tidak perlu." Jawab Uriel dengan tenang namun tegas.
Uriel mendorong Lina ke sudut, ketempat yang relatif aman. Kemudian dia merubah wujudnya menjadi Harimau Putih. Sorot mata birunya, kini penuh dengan semangat tempur yang mendidih.
"Ayo kita mulai!"
Leon turun dengan mantap di tanah, melipat sayapnya, tangan kirinya terlipat ke belakang punggungnya, dan hanya mengangkat tangan kanannya.
"Majulah!"
Uriel segera bergegas maju, menuju ke sosok berjubah berwarna merah darah, dengan kecepatannya yang seperti guntur.
"WUSSH!"
Leon benar-benar hanya berdiri di tempat, tidak bersembunyi atau pun menghindar.
Para Orc yang menyaksikan pertarungan mereka, hanya bisa menahan nafas mereka. Dan dengan jantung yang ikut berdebar-debar, karena merasakan tekanan energi dari kedua Orc yang sedang bertarung.
__ADS_1
Tepat ketika cakar harimau hendak menyentuh tubuh Leon, dia menghilang dari tempat dia berdiri.
"SESH!"
Cakar dari Harimau Putih pun hanya mengenai udara.
Sebagai penonton, Lina melihat sosok merah di belakang Harimau Putih, dan dengan cepat berseru, "Dia ada di belakangmu!"
Harimau Putih pun segera berbalik.
Pada saat yang sama, kepalan tangan kanan Leon yang diselimuti oleh api, menembakkan energi berbentuk gumpalan api ke arah tubuh Harimau Putih.
"WUT! WUT! WUT! DESH!"
Harimau Putih segera menghindar, tapi masih selangkah lebih lambat dari Leon. Dia terkena serangan bola api, dan sebagian bulunya yang seputih salju pun hangus terbakar.
"BRUK!"
Lina membuka mata lebar-lebar, dengan sorot matanya yang terlihat sangat cemas.
Secara naluriah dia menggerakkan kakinya dan berlari ke arah Harimau Putih, tetapi segera dihentikan oleh Orc Serigala yang ada di dekatnya.
"Dalam duel antara laki-laki, perempuan tidak diperbolehkan untuk campur tangan. Ini sudah aturannya."
Lina sangat marah.
"Aku tidak peduli tentang aturan seperti itu, keselamatan Uriel adalah yang paling utama bagiku!"
Dibandingkan dengan Harimau Putih yang telah dipermalukan, Leon malah terlihat lebih santai. Dia bahkan dengan sembrono mengambil kesempatan, untuk menatap kearah Lina.
"Tidak perlu marah. Hukum alam sama saja dengan hukum rimba. Karena pasanganmu tidak bisa melindungimu, kamu harus membuangnya dan mencari pria yang lebih kuat, sebagai pendampingmu. Ini adalah pilihan yang tepat bagimu."
"Uriel tidak lemah! Dia itu kuat!"
Tampaknya, untuk membuktikan apa yang sudah Lina katakan, Harimau Putih yang telah jatuh ke tanah, kini telah bangkit lagi.
Tidak hanya itu saja, mata birunya kini memancarkan cahaya listrik berwaran biru ke ungu-unguan.
Tepat pada saat itu juga, tiba-tiba Lina merasakan sesuatu yang panas di pinggangnya.
Spontan dia menundukkan kepalanya, dan melihat ada Tato Harimau dengan mahkota berduri di pinggangnya.
"Ini kan.. pola bintang milik Uriel.. Bagaimana bisa ada di pinggangku?!"
Pola bintang itu bersinar, dan samar-samar dapat terlihat cahaya listrik berwarna biru violet, pada permukaan tato harimau tersebut.
Ketika Leon melihat penampilan Harimau Putih yang kini berbeda, matanya sedikit menyipit. Tampaknya dia juga sangat terkejut.
"Apakah Harimau itu telah dipromosikan? Dia bahkan telah mengaktifkan atribut petir?!"
Kini Harimau Putih mulai melompat maju ke arah Leon lagi.
Kali ini bukan hanya kecepatannya yang meningkat, tetapi juga memunculkan kilatan listrik pada cakarnya yang tajam.
"SPLAT! SPLAT! SRET!"
Dengan cepat Leon segera menghindar.
Saat Harimau Putih itu mendarat, kilatan listrik di cakarnya langsung menghitamkan tanah.
__ADS_1
"BUSHHH!"
Kekuatan penghancur yang begitu kuat, bahkan Leon yang bisa menghindarinya dengan sempurna, ekspresi wajahnya segera berubah.
Kini kedua belah pihak sama-sama saling melancarkan beberapa kali serangan. Kecepatan Harimau Putih pun semakin lama semakin cepat, dan semakin banyak kilat yang mengelilingi di seluruh tubuhnya.
"Kekuatan Harimau Putih itu masih terus meningkat?!"
Leon belum pernah melihat hal yang seperti itu sebelumnya. Dia terkejut dan secara bertahap mulai kehilangan konsentrasinya. Pakaian dan ujung rambutnya yang tersambar petir, semuanya telah terbakar menjadi abu. Kini dia sama malunya dengan Harimau Putih.
Saat ini Leon mulai menyadari, kalau pertarungan ini mulai semakin membahayakan dirinya.
"Harus segera ku akhiri pertarungan ini. Aku juga harus membuat keputusan dengan cepat!"
Leon mulai mengumpulkan energi apinya kembali di kepalan tangan kanannya, membentuk bola api yang besar dan dengan cepat melontarkannya ke arah Harimau Putih.
"WUT! WUT! WUT!"
Harimau Putih pun tidak hanya tinggal diam, dia meraung ke langit dan memuntahkan guntur dan kilat yang besar dan menggelegar!
"BLER! BLAR! DESIIING!"
Dengan segera, bola api bertabrakan dengan guntur dan kilat!
Tubrukan kedua energi itu mengakibatkan ledakan, yang membentuk seperti kembang api dan menyilaukan.
"DUARRRRR!"
Setelah cahaya yang sangat menyilaukan mata perlahan-lahan mulai memudar, para Orc yang menyaksikan pertarungan bisa melihat Harimau Putih dan Leon, masih berdiri diam di posisinya masing-masing.
Namun, mereka tidak bisa mengetahui siapa yang telah menang atau pun kalah.
Dan Tiba-tiba terdengar suara Leon yang berkata, "Aku kalah."
Tepat ketika terjadi ledakan yang menyilaukan mata, Harimau Putih mengambil kesempatan dan bergerak secepat kilat untuk menyerang ke arah Leon.
Pada detik itu juga, dengan panik Leon terpaksa menggunakan sayapnya, dan terbang ke atas untuk menghindari serangan mematikan dari Harimau Putih itu.
Sebelumnya Leon telah berjanji, untuk tidak menggunakan sayapnya. Kini karena dia telah menggunakan sayapnya, itu berarti dia telah kalah dalam pertarungan ini.
Orc klan Bulu semuanya pun terkejut.
"Hah?! Wakil ketua Leon telah kalah?!"
"Bagaimana mungkin?!"
Saat ini Leon memandang kearah Lina dan berkata, "Kamu benar, pasanganmu memang benar-benar kuat."
Setelah mengatakan itu, dia segera mengepakkan sayapnya yang besar dan lebar, dan terbang pergi menjauh dari area pertarungan.
Para Orc klan Bulu yang melihat Leon terbang pergi, semuanya juga ikut mengakui kekalahan mereka, dan ikut terbang pergi dari situ.
Seketika itu juga terdengar sorak-sorai. Dengan bersemangat, mereka mengelu-elukan Harimau Putih.
"Pergi kalian dari sini! Kami yang telah menang!"
"Kita menang!"
"Betapa hebatnya Harimau Putih!"
__ADS_1