Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 199 - Selamanya


__ADS_3

"SYUUUTT! SYUUTTT SYUT!"


"BUMM! BUMM! BUMM! BUMMM!"


Bola-bola bintang terus menerus berjatuhan dari langit dan menghujani lautan! Hingga membuat seluruh lautan, seperti panci besar berisi air yang akan segera mendidih!


"BLUBUK! BLUBUK! BLUBUK!"


Pada awalnya, Lina masih bisa berjuang untuk tetap bisa mengambang di permukaan air laut.


Tapi, kini dia pun mulai merasa sangat kelelahan!


"Hah! Hah! Fuft!"


Kini Lina hanya bisa mengatupkan giginya, sambil terus memegangi tangan Star dengan kekuatan terakhirnya.


"Aku sudah tidak kuat lagi.. Aku sudah pasrah.. Jika lautan ingin menelanku hingga ke dasar laut, aku sudah pasrah.." Batin Lina yang kini kondisinya mulai semakin sangat lemah.


Tapi, saat itu juga, tiba-tiba saja langit seperti terbelah, dan ada retakan yang panjang muncul di langit malam!


"TLARAP! SRAT!"


Kemudian, sebuah cahaya merah yang menyala terang, muncul dari retakan di langit malam, dan dengan sangat cepat meluncur jatuh ke laut!


"SYUUUTT! BYURRR!"


Sebelum cahaya merah itu menyentuh air, pelan-pelan tubuh Lina mulai tenggelam tertelan oleh air laut!


"BLUBUB! BLUBUB!"


Lina sangat ingin membuka mulutnya, tapi, saat ini dia sudah berada di dalam air!


"UFPFTT!"


Jika dia sampai membuka mulutnya, dia pasti tidak akan bisa menahan air laut yang menerjang masuk hingga ke paru-parunya!


Dia hanya bisa menahan udara terakhir di mulutnya, sambil tanpa daya melihat ke atas, untuk melihat permukaan air laut yang kini semakin lama semakin jauh darinya, sambil memikirkan banyak hal dalam pikirannya!


Salah satu yang paling dia pikirkan, tentu saja, adalah Saga, Wiro, Uriel dan anak-anak.


"Bagaimana keadaan mereka sekarang? Jika hidupku harus berakhir di sini, mereka semua pasti akan sangat sedih, kan? Tapi masih ada Bubu. Aku tidak akan mati, kan?" Pikir Lina yang masih menunggu sebuah keajaiban, meskipun dirinya juga sudah pasrah.


Saat ini, Lina yang tenggelam semakin jauh dari permukaan air laut, mulai merasakan seperti tercekik, dadanya terasa sangat sakit, kesadarannya juga sedikit demi sedikit mulai semakin menghilang! Kepalanya juga terasa sangat sakit seperti akan pecah!


Tapi, dengan upaya terakhirnya, dia masih terus berusaha untuk menahan supaya mulutnya tidak terbuka!


Pada saat itu juga, dia seperti mendengar sebuah panggilan, meskipun samar!


"Lwinwaa.."


Lina pun mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Meskipun pandangannya kini mulai kabur, tapi dia bisa melihat ada sebuah titik cahaya merah!


Cahaya merah itu kini semakin terlihat besar, besar dan semakin besar. Dan akhirnya, kini cahaya merah menyilaukan itu telah berada tepat di hadapannya!


Meskipun saat ini Lina mulai kesulitan untuk membuka matanya, tapi dia bisa melihat sedikit siluet wajah tampan dari cahaya merah yang sangat menyilaukan matanya itu!


"Apa dia.. Bagaimana dia bisa sampai ada di sini? Apa aku sedang bermimpi??"


Pada saat ini, rambut panjang berwarna emas, sedang mengembang di dalam air laut. Sebuah jubah bulu berwarna merah darah, terlihat seperti bunga merah cerah yang mekar di dalam lautan.


Kemudian, sosok itu mengulurkan tangannya yang besar, untuk meraih tubuh Lina. Lalu, dia pun segera berenang, sambil memegang Lina untuk menuju ke permukaan.


"Perasaan saat ditarik ini terlalu nyata! Sepertinya aku tidak sedang bermimpi!" Batin Lina.


"HUAAHHH! HUFT! HUFT!"


"HUAHHGHH! UHUK! UHUK! UHUK!"


Saat mereka berdua telah berada di permukaan air, dan oksigen dalam sel dan jaringan tubuhnya mulai kembali normal, Lina pun mulai bisa merasa sangat senang, karena bisa bertemu dengan orang yang dia kenal di tempat seperti ini. Dia pun ingin segera melompat ke pelukan sosok itu.


Tapi, saat ini Lina bisa merasakan tangannya yang lain, seperti sedang dipegang dengan sangat erat.

__ADS_1


Dia pun menoleh, dan melihat Star yang sedang memegang tangannya, dengan tubuhnya yang sebagian besar masih berada di dalam air.


Sepasang mata kuning Star yang berada di permukaan air, terlihat seperti permata yang bersinar dalam kegelapan, yang saat ini sedang menatap Lina.


Mulutnya yang terendam di dalam air, terbuka dan mengeluarkan serangkaian gelembung kecil.


"Blubuk! Blubuk!"


Tidak bisa mendengar sedikitpun suara Star, Lina pun memutuskan untuk melihat mulut Star, dan mencoba melihat apa yang sedang dia katakan.


Saat ini Star sedang berkata, "Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"


"Aku tidak mengerti, apa maksudnya bocah ini? Kalau kita tidak diselamatkan, bukankah kita akan mati tenggelam?" Pikir Lina yang saat ini sedang merasa bingung melihat Star.


Lina pun mencoba untuk menarik Star, untuk juga menariknya pergi.


Tapi, tubuh Star terasa sangat berat. Meskipun Lina telah berusaha sekuat tenaganya untuk menarik Star, tapi apa yang sudah dia lakukan sama sekali tidak berpengaruh.


"Uuuuhhh! Berat sekali!"


Tidak hanya itu saja, Star bahkan sedang berupaya untuk menarik Lina, supaya kembali ke dalam laut!


Saat ini, Star seperti seorang pembunuh yang sedang merasa putus asa, yang mencoba untuk membawa Lina, untuk ikut jatuh kedalam jurang bersamanya!


...--------...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Kamu salah."


"Setelah Iblis itu dilepaskan, dia langsung membunuh orang baik itu dengan penuh amarah."


""Sebelum orang baik itu menghembuskan napas terakhirnya, dia sempat bertanya pada si Iblis sambil menangis, "Kenapa?""


""Si Iblis pun menjawabnya, "Kenapa?? Kenapa kamu membuatku harus menunggu lebih dari seribu tahun?! Kenapa kamu tidak datang lebih awal?! Kenapa kamu membiarkanku sendirian dalam kesepian dan keputusasaan?!""


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


...--------...


Namun, kekuatan Star terlalu besar baginya. Meskipun tangannya sangat kurus dan pucat, tapi bagaikan borgol besi yang sangat keras dan tak bisa dilepaskan!


"Uuhhh!"


Saat melihat hal ini, Leon yang tangan kanannya sedang memeluk Lina dari belakang, segera menggunakan tangan kirinya untuk memukul tangan Star!


"DAK!"


Setelah tangan Lina telah terbebas dari cengkeraman Star, Leon pun segera membentangkan sayap lebarnya yang berwarna merah, dan segera terbang ke udara.


"BLAK! BLAK! BLAK!"


"TIDAAAK!" Teriak Star.


Tak lama kemudian, Star pun akhirnya ditelan oleh kegelapan malam, dan menghilang di lautan yang luas.


...........


"BLAK! BLAK! BLAK! SYUUTT!"


Di bawah mereka, air laut masih terus bergejolak, dan bola-bola bintang juga masih terus berjatuhan.


Selain lokasi di mana Leon terbang, tempat-tempat lain disekitarnya tampak sangat gelap gulita, hingga tidak ada yang bisa dilihat dengan jelas.


Dengan tubuhnya yang basah kuyup dan terkena terpaan angin, Lina pun mulai menggigil kedinginan.


"Hiiiii.."


Merasakan tubuh Lina yang bergetar karena menggigil, Leon segera mengeluarkan hawa panas dari tubuhnya, untuk mengeringkan pakaian serta rambut mereka berdua.


"Akhirnya, aku berhasil keluar dari dalam air!" Batin Leon yang saat ini merasa sangat lega.

__ADS_1


Leon benar-benar tidak pandai berenang. Jika bukan demi untuk menyelamatkan Lina, sedikitpun dia tidak akan mau untuk menyelam ke dalam laut!


Kemudian, dia mencoba untuk menenangkan napasnya, setelah itu bertanya, "Bagaimana kamu bisa kenal dengan laki-laki itu?"


Lina tidak menjawabnya, tapi malahan balik bertanya, "Laki-laki yang mana?"


"Bocah yang baru saja hampir menyeretmu ke dalam kematian." Jawab Leon.


"Maksudmu Star?" Setelah berkata seperti itu, suasana hati Lina pun segera berubah sangat kompleks, lalu dia lanjut berkata lagi dengan nada suaranya yang terdengar sedih, "Aku juga tidak mengerti, kenapa dia sampai melakukan itu.."


Saat mendengar apa yang Lina katakan, Leon pun segera mengerutkan alisnya.


"Dia memberitahumu, kalau namanya adalah Star?" Tanya Leon yang saat ini sedang sedikit terkejut.


Lina pun mengangguk, sebagai tanda kalau dia meng "Iya" kan apa yang Leon tanyakan padanya.


"SYUUUT! BLAK! BLAK! BLAK!"


"Seingatku, bocah itu tidak memiliki nama. Heh! Tidak aku sangka, setelah bertahun-tahun lamanya, dia bahkan menamai dirinya sendiri dengan sebutan Star.." Kata Leon.


Yang tidak Lina ketahui, Leon berkata seperti itu sambil tersenyum.


Apakah Leon menertawakan nama bocah itu? Atau diri bocah itu? Entahlah..


Setelah mendengar apa yang Leon katakan, Lina pun merasa sangat terkejut dan bertanya, "Apa kamu mengenal Star?"


"BLAK! BLAK! BLAK!"


"Aku tidak mengenalnya. Bertahun-tahun yang lalu, aku pernah melihatnya dari kejauhan. Pada saat itu, aku dengar kalau dia sudah melakukan kesalahan besar dan di kurung di lautan kesombongan oleh para Dewa, sebagai hukuman atas perbuatannya. Aku pikir dia sudah mati di lautan kesombongan ini. Tidak pernah aku sangka, meskipun setelah bertahun-tahun lamanya, dia masih tetap hidup. Jika para Dewa mengetahui ini, mereka pasti akan sangat tertarik saat mengetahui kalau bocah itu masih hidup." Kata Leon sambil tersenyum sinis.


"Dari nada bicaramu, seolah-olah sepertinya kamu membencinya?" Tanya Lina.


Leon pun sama sekali tidak menyangkalnya, "Yah. Aku hanya suka melihat pertunjukkan yang bisa membuat hatiku senang."


Sebetulnya Lina ingin bertanya pada Leon, bagaimana dia bisa sampai ke tempat ini. Tapi situasinya mendesak, bukan waktunya untuk membicarakan hal-hal seperti itu.


"Ayo kita segera pergi dari tempat ini." Kata Lina.


Leon pun segera mempercepat laju terbangnya, hingga angin menerpa kepala mereka berdua dengan kencang.


"BLAK! BLAK! WUUSSSHHH!"


Tiba-tiba saja, sebuah gelombang air laut yang tinggi, yang membentuk seperti cakar, menuju ke arah Leon dengan sangat cepat!


"BURRRR!"


"B*ngs*t!" Setelah berkata seperti itu, Leon pun segera memeluk Lina lebih erat lagi, untuk menghindari serangan cakar air itu!


"BLAK! BLAK!"


Pada saat yang bersamaan, bola-bola bintang yang berjatuhan, segera berubah arah dengan sangat cepat!


"SYUUUTT! SYUUTTT SYUT!"


Melihat hal ini dan tidak bisa menghindar lagi, Leon pun segera menggunakan sayapnya yang lebar, dan menggunakan bulu-bulu sayapnya yang berwarna merah dan sangat tajam, untuk membelah semua bola-bola batu bintang itu!


"CRAK! CRAK! CRAK! CRAK!"


Jika dilihat dari bawah, akan bisa terlihat kelebatan terang berapi-api di udara, yang terkadang meredup, terkadang juga akan sangat terlihat terang seterang meteor!


"BLAK! CRAK! CRAK! BLAK! BLAK!"


Leon yang tidak menyerah, masih terus memegang Lina dengan sangat erat, sambil terus menghancurkan bola-bola batu bintang!


Saat Lina melihat ke bawah, tiba-tiba dia melihat Star yang sedang berdiri di permukaan air laut, dengan tubuhnya yang basah kuyup, dan air yang terus menetes jatuh dari rambut pendeknya yang berwarna abu-abu.


Bola matanya yang berwarna kuning, berangsur-angsur diwarnai dengan warna merah tua.


Pada saat ini, Star terus menatap Lina.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Aku ingin kamu tetap tinggal di sini bersamaku, selamanya."

__ADS_1


__ADS_2