Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 37 - Jangan Takut


__ADS_3

Saat Lina menerima daging yang Saga berikan untuknya, dia melihat kalau jari Saga melepuh.


"Sepertinya jari Saga tidak sengaja terbakar oleh api, saat dia sedang memanggang barbekyu."


"Tanganmu.."


Saga menatap ujung jarinya, kemudian berkata dengan ekspresinya yang datar, "Tersiram air panas."


Nadanya sangat hambar, seolah-olah dia tidak tersiram air panas. Dan dia pun tidak mempedulikannya sama sekali.


"Apa terasa sakit?" Lina bertanya.


"Aku tidak merasakan apa-apa."


Saga kemudian duduk menjauh dari api. Dia merobek daging mentah yang tersisa menjadi beberapa bagian, memasukkannya ke mulutnya dan memakannya dengan santai.


Lina yang menatap Saga sedang memakan daging mentah seperti itu dan dengan ekspresi wajahnya yang datar, merasa sedikit merinding, "Apa kamu tidak suka makan daging yang dimasak?"


"Aku tidak menyukai hal-hal yang panas." Jawab Saga.


Kemudian tanpa sadar, Lina menatap ke arah api yang menyala, "Apinya juga panas.."


"Aku juga tidak suka api." Jawab Saga lagi.


"Bukankah tadi kamu baru saja memanggang daging di atas api?"


Kemudian Saga melirik Lina dengan ekspresi datarnya, "Ya. Karena kamu ingin makan daging yang dimasak."


Karena gadis kecil itu ingin makan daging yang dimasak, jadi dia bisa menahan rasa takut akan api dan memanggangkannya daging.


Mendengar itu, membuat Lina sedikit tergerak hatinya.


Dia tiba-tiba merasa bahwa pria yang tampak dingin di depannya ini, tidaklah sedingin apa yang dia tunjukkan. Mungkin dia hanya tidak pandai mengekspresikan dirinya.


Lina sudah menghabiskan daging panggang yang ada di tangannya dan bangkit dari tempat dia duduk, kemudian berjalan menuju pintu masuk gua.


Dengan segera, saga menatapnya dan bertanya, "Mau kemana kamu?"


Lina membalikkan badannya dan menunjukkan kedua telapak tangannya yang penuh dengan minyak daging kepadanya, "Aku akan mencuci tanganku." Kemudian Lina segera berjalan keluar, mencari tempat untuk dia mencuci tangan.


Saga meletakkan daging yang sedang dia makan, bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu gua. Dari situ, dia selalu memperhatikan setiap gerakan Lina.


Dengan kelakuan Saga yang seperti itu, membuat Lina merasa sangat tidak berdaya, dia menoleh ke arah Saga yang sedang berdiri di mulut gua.


"Kamu tidak perlu mengawasiku sampai sebegitunya. Kalau pun aku ingin lari juga tidak akan bisa lari, apalagi sekarang sudah tengah malam."


Saga tetap berdiri diam tanpa ekspresi tanpa suara, matanya yang gelap selalu menatapnya dengan sorot matanya yang seolah tidak menerima bentuk kompromi apa pun.


Lina tidak bisa berbuat apa-apa Lagi, dia juga tak punya pilihan lain.


Dia kemudian berjongkok di depan gundukan salju, memasukkan tangannya kedalam gundukan itu dan mencuci tangannya yang berminyak, dari satu tangan ke tangan yang satunya lagi secara bergantian hingga bersih.


Sebelum dia kembali ke gua, dia mengambil kristal es yang bersih dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Aku sudah makan beberapa barbekyu. Di mulutku juga rasanya berminyak. Sepertinya makan beberapa es ini akan membuat mulutku jadi terasa segar."

__ADS_1


Lina yang melihat Saga sedang menatap mulutnya, berpikir kalau dia juga ingin memakan es, dia kemudian menyodorkan sepotong kristal es kepadanya dan bertanya, "Apa kamu juga mau?"


"Aku tidak suka hal-hal yang dingin."


Lina bingung dengan apa yang baru saja dia katakan.


"Sebetulnya kamu tidak suka hal-hal yang panas atau yang dingin? Apakah ada hal lain di dunia ini yang kamu suka?"


"....." Saga hanya menatap wajah gadis itu dan tidak berbicara untuk waktu yang lama.


Kini Lina sudah terbiasa dengan sikap diamnya dan tidak mempedulikannya.


Dia kembali masuk ke dalam gua, merapikan tumpukan jerami dan berbaring.


Saga duduk tidak jauh darinya. Dia mulai menyandarkan kepala dan tubuhnya ke dinding gua.


Wajahnya yang terlihat pucat, seolah tak ada setetes pun darah yang mengalir dalam dagingnya.


Bulu matanya yang tebal dan panjang mulai bergerak turun, mengikuti kelopak matanya yang kian menutup detik demi detik dan menghapus sorot matanya yang gelap.


Rambut panjangnya yang hitam sehitam malam terurai jatuh melewati pipinya dan setiap helai ujung rambutnya yang menyentuh tanah.


Angin dingin bersalju tiba-tiba berhembus masuk ke dalam gua, menggetarkan nyala api yang mereka gunakan untuk menghangatkan tubuh mereka.


Merasakan ada hembusan angin yang dingin, Saga mengerutkan keningnya dan segera membuka matanya. Dia melihat kini Lina telah terlelap, dengan posisinya menyamping menghadap ke pintu masuk gua, sambil meringkukkan tubuhnya karena merasakan hawa dingin yang masuk ke dalam gua.


Saga bergegas bangkit menuju ke pintu masuk gua, segera melepas jubah abu-abunya dan membuangnya ke samping. Tubuhnya terlihat ramping dan juga pucat.


Kini dia telah berubah ke bentuk aslinya.


Di bagian kepala, tepat di tengah antara kedua alisnya, terdapat Permata berwarna hitam.


Tubuhnya dia lingkarkan untuk menutup pintu masuk gua, kemudian dia menyandarkan kepalanya di atas tubuhnya yang melingkar. Pupil matanya yang gelap, tak pernah beranjak sedetik pun dan selalu memperhatikan Lina yang sedang tertidur.


Kini angin yang dingin dari luar gua, sudah terhalang oleh tubuhnya, membuat ruangan menjadi lebih hangat. Lina kini terlihat sudah mulai tenang dengan tidurnya.


Keesokan harinya, Lina bangun dari tidurnya.


Hal pertama yang dia lihat, saat pertama kali membuka matanya adalah, kepala yang besar berwarna hitam!


Spontan saja membuatnya sangat kaget, gemetar dan sangat takut!


Dengan nyawanya yang masih belum terkumpul seluruhnya, dengan cepat dia segera mengguling-nggulingkan tubuhnya hingga turun dari tumpukan jerami dan terus berguling jauh sampai ke tanah untuk menjauh dari kepala yang berwarna hitam itu!


Saga yang juga sudah bangun dari tidurnya, ketika dia membuka matanya, dia melihat Lina sedang berguling-guling cepat di tanah. Dia lalu mengulurkan ekornya, melilitkan ekornya ketubuh Lina dan dengan lembut meletakkannya kembali ke tumpukan jerami.


Lina dengan gugup menatap mahkluk yang ada di depannya. Matanya berhenti untuk waktu yang lama pada permata hitam di antara kedua alisnya, kemudian dia bertanya dengan ragu, "A apakah ka kamu Saga?"


Mahkluk itu tidak membuka mulutnya, tetapi dia bisa mengeluarkan suara dari perutnya.


"Iya. Ini aku."


Lina tidak menyangka bahwa bentuk asli Saga adalah Ular. Dia adalah Ular Piton raksasa berwarna hitam!


Hewan yang paling Lina takuti di dunia ini adalah ular. Sekujur tubuhnya merinding ketika menatap ular piton yang ada di depannya ini, Dia memberanikan diri untuk bertanya, "Bu bukankah ular juga harus berhibernasi? Tapi ke kenapa kamu tidak?"

__ADS_1


"Ketika binatang berevolusi menjadi orc, mereka tidak perlu berhibernasi." Jawab Saga.


"Bisakah kamu berubah kembali ke bentuk manusia?" Pinta Lina dengan suara pelan dan rendah. "Kamu sangat menakutkanku.."


Saga menundukkan kepalanya dan menjulurkan kepalanya ke arah Lina, kini jarak kepala ular itu dengan tubuh lina hanya berjarak satu kepalan tangan saja. Pupil matanya yang hitam menatap tajam ke arah Lina.


"Apakah menurutmu aku terlihat jelek dengan bentuk seperti ini?"


Wanita pada umumnya takut dengan ular. Saga sudah sering di pandang dengan jijik oleh Orc yang melihatnya. Mereka yang tidak menyukai dan memandang jijik dirinya, semuanya berakhir dengan sangat mengenaskan.


Lalu, bagaimana jika gadis kecil itu tidak menyukai penampilannya?


Saat Lina menatap kulit kepala ular itu, dia merasakan tubuhnya mulai dingin, darah di seluruh tubuhnya seperti membeku, kulitnya seperti mati rasa karena merinding yang tak kunjung henti!


Dia menggigil sambil berkata, "Kamu tidak jelek.. Hanya sedikit menakutkan.."


Saga berpikir sejenak, kemudian berkata, "Apa kamu takut ular?"


Lina mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali sambil dengan cepat mengakui, "Ya, ya, ya, ya. Aku takut.."


Lina hampir pingsan karena sangat ketakutan.


Ular piton itu sedikit membuka mulutnya, menjulurkan lidah bercabangnya dan dengan lembut menyapu wajah gadis kecil itu, kemudian berkata, "Tak perlu takut padaku."


Bisa dikatakan, Lidah ular adalah bagian terlembut dari ular. Jejak sapuan lidahnya, meninggalkan bekas basah di wajah Lina.


Lina menutupi pipinya, dan matanya terbelalak melebar.


"Sangat imut." Gumam Saga dalam hatinya.


Dia merentangkan ekornya lagi, melilitkannya kembali ketubuh Lina, kemudian membawanya kedalam pelukan lingkaran tubuhnya. Dia menjulurkan kepalanya dan dengan lembut menggosok-nggosokan kepalanya di pipi gadis kecil itu, "Aku tidak akan menyakitimu."


Seolah merasakan kebaikannya, Lina mencoba meredakan rasa takutnya.


Dia menatap ke arah kepala ular itu, kemudian dengan hati-hati mengulurkan tangannya dan menyentuhnya.


Sisiknya yang terasa dingin dan licin membuatnya sedikit terkejut dan menarik tangannya sedikit menjauh.


Ular piton itu memandangnya dengan penuh semangat di matanya.


Lina menelan air liurnya, dengan jantung yang berdetak karena penasaran, sekali lagi dia mengulurkan tangan untuk menyentuh kepalanya. Kali ini sentuhannya diam di situ lebih lama lagi.


Saga menggerakan kepalanya untuk menggosok telapak tangan Lina yang sedang menyentuh kepalanya.


Melihat penampilannya yang tenang, Lina tidak bisa menahan dirinya untuk menyentuhnya lagi.


Saga melilitkan seluruh tubuhnya ke tubuh Lina, pupil ular yang hitam itu terlihat penuh perhatian dan kasih sayang.


Kemudian, Lina mencoba menyentuh lidah ular itu untuk pertama kalinya.


"Terasa sangat aneh."


Dia memegang lidah itu dengan kedua telapak tangannya dan dengan salah satu tangannya yang berada di atas lidah, dia menggaruknya dengan lembut menggunakan jarinya.


Seluruh tubuh Piton itu menggigil, warna merah gelap muncul di matanya yang hitam. Dia melilit tubuh gadis kecil itu lebih erat lagi.

__ADS_1


Dengan begini, tidak ada yang bisa mengambil gadis ini. Gadis ini hanya akan boleh menjadi miliknya.


__ADS_2