
Saat mereka semua sedang makan malam, Wiro berkata kepada Lina, "Makan lebih banyak daging, tunggu sampai kamu sudah memiliki tenaga, setelah itu kita mulai k*w*n."
Lina sangat marah mendengar apa yang Wiro katakan. Dia sangat ingin menaruh barbekyu yang masih panas di pringnya ini, ke muka serigala itu.
Lina memelototinya dengan marah.
"Aku tidak ingin k*w*n denganmu!"
"Tapi kamu kan sudah berjanji padaku unt ..."
Lina segera memotong perkataan Wiro, "Bahkan jika aku berjanji untuk menikah denganmu, bukan berarti harus sekarang!"
Wiro mencoba membujuk, "Sekarang kan musim dingin, ini waktu terbaiknya Orc untuk k*w*n. Kalau bayi kita bisa lahir di musim semi, akan ada banyak makanan yang tersedia. Anak-anak kita pasti akan sangat sehat dan kuat!"
Lina tak mau kalah dengan bujukannya.
"Tidak, aku tak akan k*w*n denganmu sekarang."
"Kalu kamu tak ingin k*w*n denganku sekarang, lalu dengan siapa kamu akan k*w*n?" Wiro sangat marah, barbekyu yang ada di tangannya dia remas hingga padat menggumpal.
Lina yang terkejut dengan pertanyaan Wiro, tanpa sadar matanya tertuju ke arah Uriel.
Bahkan jika Lina sendiri yang menginginkan untuk k*w*n, dia akan memprioritaskan Uriel.
Uriel adalah Orc pertama yang dia temui ketika dia datang ke dunia ini. Dia juga selalu baik padanya, posisinya di hatinya tak akan bisa tergoyahkan.
Hadirnya Wiro dalam hubungan mereka ini, membuatnya merasa bersalah terhadap Uriel.
Dia ingin menebus rasa bersalahnya kepada Uriel sebanyak mungkin.
Uriel juga menatapnya, melihat Lina yang sedang menatap kearahnya, dia kemudian tersenyum lembut.
"Apa kamu sudah kenyang?"
Dia sesungguhnya sangatlah tampan, sekarang dia sedang tersenyum, yang membuatnya lebih tampan lagi.
Lina tidak bisa menahan diri untuk tidak tersipu.
"Yah, aku sudah kenyang."
"Kalau begitu, sekarang pergilah istirahat. Aku yang akan membersihkan semuanya ini." Kata Uriel.
"Aku akan membantumu." Lina menawarkan diri untuk membantu.
Wiro melihat interaksi di antara mereka seperti ada isyarat dalam hati mereka, supaya orang lain tidak usah ikut campur apa yang akan mereka lakukan.
Hal ini membuat Wiro terasa seperti orang yang tidak diinginkan.
Hati Wiro tiba-tiba merasa bingung.
Dia meraih pergelangan tangan Lina, dengan mata hijau gelapnya menatap Lina dengan sorot mata yang dalam.
"Kamu ingin melahirkan anak untuk Uriel dulu kan?"
Lina tak bisa menjawab, wajahnya penuh rasa malu.
Melihat Lina yang menundukkan wajahnya, hati Wiro segera tenggelam ke dasar lembah yang dalam.
Tak perlu baginya untuk berbicara lagi, tanggapan gadis itu telah memberikan jawaban yang pasti.
Wiro melepaskan pegangannya dan pergi dalam diam.
Lina tak ada niatan untuk mengejarnya.
Bagaimanapun juga, masalah seperti ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Jika dia tidak bisa menerimanya, maka setelah tiga bulan, kontrak nikah antara keduanya akan secara otomatis tak berlaku lagi dan dia dapat melanjutkan kebebasannya lagi.
__ADS_1
Seperti hari-hari sebelumnya, Uriel akan selalu menyiapkan tempat tidur untuk Lina, sebelum gadis kecilnya itu beranjak ke dunia mimpi indahnya.
Selesai Uriel merapikan kamar untuk Lina, dia berbalik dan bersiap berjalan untuk menuju ke kamar yang ada di sebelahnya, untuk pergi tidur.
Tapi tiba-tiba Lina meraih lengannya.
"Tunggu sebentar."
Uriel berhenti dan menoleh.
"Ada apa?"
Lina menghindari pandangannya, wajahnya memerah menunduk ke arah tanah, suaranya sangat ringan sehingga dia sendiri hampir tak bisa mendengar suranya sendiri, "Kamu.. Tetaplah di sini."
Dengan pendengarannya yang tajam, Uriel pun terkejut.
"Apa kamu tak takut aku akan melakukan hal itu lagi padamu?"
Lina tergagap.
"A aku.. Aku tidak takut melakukan hal itu denganmu, aku hanya takut sakit.."
"Maafkan aku, waktu itu aku sudah menyakitimu." Uriel tidak hanya merasa sangat bersalah, tetapi juga sangat tertekan.
Lina mengeluarkan buah sumber yang dia simpan di dalam tas pinggangnya dan berkata dengan datar, "Meli memberitahuku kalau buah sumber ini bisa menghilangkan rasa sakitku, jadi aku akan mencobanya dulu denganmu."
Karena Lina sudah memutuskan untuk menjadi pasangan Uriel selama hidupnya, tidur bersama tentu tidak bisa dihindari.
Lina mengumpulkan keberanian untuk mengatakan ide yang ada di dalam hatinya itu, meskipun inisiatif untuk membicarakan hal itu telah membuat Lina merasa sangat malu.
Uriel sudah sangat baik padanya dan Lina pun juga bersikap baik padanya.
Hati Uriel merasa kacau, dia sangat paham apa maksud dari perkataan gadis kecilnya itu.
Dia memegang gadis kecilnya di lengannya, gerakannya sangat lembut, seolah-olah sedang memegang harta paling berharga di dunia, yang kini sedang ada dalam pelukannya.
Mendengar apa yang sudah Uriel katakan, seketika membuat mata Lina menjadi merah.
"Apakah kamu mencintaiku?" Lina bertanya dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Dengan suara lembut dan tulus, uriel berkata, "Tentu saja, kamu adalah segalanya bagiku."
Selama hidupnya, Lina mendapatkan terlalu sedikit cinta dalam hidup ini, jadi dia akan menghargai setiap cinta yang Uriel berikan padanya.
"Terima kasih mau mencintaiku."
Lina memeluk leher Uriel, mengangkat kepalanya dan dengan kikuk menciumi wajahnya.
Bibir lembutnya menyentuh pipi, membuat hati Uriel bergetar.
Meskipun dia harimau yang ganas, tapi dia penuh dengan cinta dan perasaan yang lembut.
Dengan penuh kelembutan, Uriel meletakkan gadis mungil berkulit halus dan lembut itu, di atas kulit binatang yang beralaskan tempat tidur batu.
Rona merah menyelimuti kulit wajahnya yang halus dan kenyal. Bulu matanya yang panjang bergetar, mengikuti tiap kedipan matanya yang menahan rasa gugup dari hatinya.
Uriel mencium bibirnya, suaranya dalam dan halus, "Jika kamu merasa tidak nyaman, katakan padaku, aku akan segera berhenti."
Lina tak berani menatap wajah Uriel. Dia menutup matanya dan menjawab, "Baiklah.."
Dengan bibir mereka yang saling beradu, satu tangan Uriel mulai bermain. Punggung tangannya bergerak halus menyusuri setiap sudut tubuh gadis mungil itu.
Perlahan tangan itu terus bergerak, hingga berhenti pada rok bulu yang ada pada tubuh gadis mungilnya. Menunggu sebentar, seolah seperti akan membuka sebuah hadiah.
Hasrat dan n*fs* Uriel semakin dalam dengan cepat, tapi kali ini dengan pengendalian diri yang kuat, membuatnya tetap tersadar dalam bentuk manusianya.
__ADS_1
Dia menundukkan kepalanya dan menciumi seluruh tubuh gadis mungil itu, dari atas mengarah kebawah, dengan hatinya yang tetap terkendali.
Kulitnya yang sangat lembut dan putih, seputih susu, kini seolah telah dicelup dengan warna merah yang menarik.
Seperti bunga mawar yang mekar, sedang menunggu untuk dipetik.
Uriel mulai memasukkan buah sumber ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dan mengalirkan air jus buah tersebut, ke bagian daging yang seperti terbelah, yang ada di antara kedua p*ngk*l p*h* Lina, dan tertutupi oleh bulu-bulu yang halus.
Aroma buah yang terasa manis pun segera menyebar.
Saat air jus buah yang mengalir, sampai pada pintu kecil milik Lina, dengan segera merangsangnya untuk mengeluarkan cairan yang sedikit kental dan transparan.
Lina mulai merasakan tubuhnya semakin kering dan panas. Dengan posisinya yang masih berbaring terlentang, dia tidak bisa berhenti mengayun-ayunkan pinggangnya ke segala arah. Matanya yang basah, penuh dengan kebingungan dan keinginan.
Uriel mendekatkan wajahnya, ke hadapan wajah gadis mungilnya, dan bertanya dengan suara yang lembut, "Bolehkah aku masuk?"
Lina tidak bisa menutupi rasa malunya, dia hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Boleh.. Masuklah.."
Uriel mencium punggung tangannya, matanya memancarkan kasih sayang.
"Aku akan masuk pelan-pelan sekarang."
Lina bisa merasakan sesuatu yang dengan lembut, sedang berusaha masuk melalui pintu kecil dan sempit miliknya, yang sedikit demi sedikit mulai terbuka. Meskipun sedikit terasa tidak nyaman, tetapi jauh dari rasa sakit seperti yang terakhir kali.
Saat Uriel mulai melakukan gerakan menekannya, dia sambil selalu mengamati ekspresi Lina. Saat melihat kening Lina berkerut, dengan segera dia menghentikan gerakan menekannya, dan menjauhkan ujung benda miliknya dari pintu kecil.
"Ada apa? Apakah terasa sakit?"
Lina menjawab dengan suara yang rendah dan bergetar, menahan keinginannya yang mulai memanas, "Tidak.. Tidak apa-apa.."
Mengetahui bahwa dia tidak terluka, Uriel mulai melanjutkan gerakannya dan akan mencoba kembali, untuk memasuki pintu kecil nan sempit yang tadi sempat terhenti.
Saat ini Lina sudah memberikan jalan, dan siap menampung benda yang besar dan panjang milik Uriel.
Pada detik itu juga, dia merasakan aliran hangat yang mengalir dari dalam. Dia merasa sangat familiar dengan rasa ini.
Dia segera membuka matanya dan mendorong Uriel menjauh darinya.
Hal yang gadis kecil itu lakukan, membuat Uriel tertegun.
"Ada apa denganmu? Apakah aku menyakitimu?"
Dengan satu tangannya, Lina mulai meraba bagian bawah tubuhnya.
Tangannya penuh darah!
"Sialan! Tamu terkutuk itu datang lagi!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[[[ Haha.. jangan berlarut-larut imajinasinya ya bossqu.. ]]]
[[[ Sambil sruput kopinya, kita lanjut lagi dengan sang tamu.. :P ]]]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ketika Uriel melihat darah yang ada di tangan gadis mungilnya itu, jantungnya seketika berdebar sangat kencang, rasa menyesal dengan cepat menghampiri hati dan pikirannya, wajahnya langsung pucat pasi dan sangat gugup.
"A aku.. Aku menyakitimu lagi! Aku ..."
"Itu bukan salahmu!" Lina buru-buru menghapus angan-angan Uriel.
"Ini waktunya aku harus beristirahat lagi, setiap satu bulan sekali, darah ini akan keluar selama beberapa hari. Tidak apa-apa, kamu juga sebelumnya sudah pernah melihatnya, kan."
__ADS_1
Sungguh sangat disayangkan sekali!