Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 87 - Kenapa Kamu Menyelamatkan Aku?


__ADS_3

Harimau Putih pun segera membawa Saga di punggungnya.


"Bertahanlah, kami akan segera membawamu kembali!"


Melihat Saga yang diselamatkan oleh para Orc, keempat Ular Cincin itu segera tampak menggila. Mereka tak henti-hentinya mengusir para serigala dan dengan cepat mencoba untuk mengejar harimau putih.


Serigala es segera melompat dan mendarat dalam jarak sepuluh meter dari keempat Ular Cincin itu, dan saat itu juga mengeluarkan gelombang dinginnya.


Namun sayangnya, gelombang dingin Serigala Es hanya bisa membekukan tubuh bagian bawah keempat Ular Cincin besar itu.


Begitu dia selesai melakukan aksinya, Serigala Es pun segera memimpin dua puluh Orc Serigala untuk segera mengejar Harimau Putih.


"Cepat kita kejar Harimau itu, esku tidak akan membeku lama pada mereka! Mereka akan segera menyusul kita," ucap Serigala Es.


"PIAR! PIAR! PIAR! PIAR!"


Benar saja, begitu Serigala Es selesai berbicara, keempat ular itu telah melepaskan diri dari kurungan es, dan mulai mengejar mereka lagi.


Hujan masih turun, dan rerumputan menjadi sangat basah. Kondisi seperti ini merupakan keuntungan terbaik bagi para Ular.


Kecepatan mereka saat mengejar menjadi semakin cepat, dan semakin mendekati Harimau Putih dan para Serigala.


"DRAP DRAP!"


"DRAP DRAP!"


"DRAP DRAP!"


Sembari mereka berlari, Harimau Putih pun segera berseru, "Kamu kembalilah terlebih dulu dan bawa Saga! Aku yang akan mengalihkan keempat ular itu!"


Mendengar apa yang Harimau Putih katakan, masih dengan sambil berlari, Serigala Es pun langsung melolong, "Kita harus keluar dari sini! Jika sesuatu terjadi padamu, Lina sudah pasti akan mengusirku dari rumah! Aku tidak akan mendengarkan perintah b*d*hmu, yang bisa menyebabkan Lina akan membenciku!"


"Apa yang kamu katakan?!"


"Di depan ada area dengan lumpur hisap, lebih baik kita segera menuju ke sana!" Ucap Serigala Es.


Harimau Putih segera memahami niat dari Serigala Es.


"GROAAARR!"


Harimau Putih mengaum, sebagai tanda bahwa dia setuju dengan rencana Serigala Es.


"Auuu.."


Serigala Es segera melolong kepada Serigala lain yang ada di belakangnya, menyuruh mereka untuk lebih mempercepat lagi laju lari mereka.


Mereka semua kini berlari seperti kilat melintasi hutan. Dengan Empat Ular yang mengejar dan mulai semakin mendekati mereka.


Saat sudah dekat dengan area berlumpur, Serigala Es segera berlari lebih cepat lagi untuk memimpin, dan melompat ke area yang berlumpur.


Saat cakar serigala menyentuh permukaan lumpur, seketika itu juga permukaan lumpur itu segera membeku.


Seekor Harimau Putih dan dua puluh Serigala segera mengikuti di belakangnya, dan berlari melalui lumpur yang membeku.


Keempat Ular yang juga semakin cepat dalam mengejar, saat mereka telah berada di atas lumpur membeku, Serigala Es dan para Serigala lainnya tiba-tiba berbalik dan menghancurkan permukaan lumpur yang membeku!


"BRAK! BRAK! BRAK!"


"KRAK! PIAR!"


Permukaan lumpur yang membeku pun pecah, dan keempat Ular Cincin jatuh ke dalam rawa, dan berteriak ketakutan!


"Aah!"


"Jangan.."


"Selamatkan kami.."


Mereka berjuang mati-matian, tetapi semakin mereka banyak bergerak, semakin cepat tubuh mereka terhisap dan tenggelam.

__ADS_1


"Ahhlblebebeb!"


Tidak lama kemudian, suara mereka sudah tidak terdengar lagi. Keempat Ular Cincin itu telah tenggelam ke dalam lumpur hisap.


Keheningan segera pecah, dengan terdengarnya auman Harimau Putih.


"GROAR!"


"Kita harus segera pulang!"


...........


Saat ini Lina sedang berdiri di dekat api, dan menatap sup panas yang ada di dalam panci.


Jika apinya akan padam, dia segera menambahkan kayu. Jika air supnya mulai menyusut, dia akan menambahkan sedikit air lagi.


"Aku sendiri tidak tahu, sudah berapa kali aku menambahkan air dan kayu."


Lina memegang cincin di jari manis tangan kirinya, dan dalam diamnya berdoa untuk mereka semua.


Tiba-tiba Meli bergegas masuk bersama dengan sembilan anak serigalanya.


"Mereka semua sudah kembali!"


Lina segera bangkit dan berlari ke pintu masuk gua.


Dua puluh tiga Orc yang basah kuyup, terlihat sedang berlari menuju pintuk masuk gua, dan pria yang berada paling depan adalah Wiro.


Lina bergegas berlari ke dalam pelukannya, wajah kecilnya yang bersemangat terlihat memerah.


"Akhirnya kamu kembali!"


Tapi kemudian, dengan cepat Wiro mendorongnya menjauh.


"Tubuhku penuh dengan air, kamu tidak boleh menyentuhku, nanti kamu bisa jatuh sakit."


Dan Uriel yang saat ini sedang membopong Saga segera berkata, "Saga terkena racun, kita harus segera menghilangkan racunnya."


Kemudian Lina cepat-cepat berkata kepada Meli, "Tolong aku, bantu aku untuk membagikan sup untuk para Orc jantan, supaya tubuh mereka hangat dan tidak jatuh sakit."


"Oke, serahkan padaku," kata Meli.


Anak-anak Serigala yang mengikuti Meli berputar-putar di sekelilingnya, mereka mengibaskan ekornya dengan penuh semangat.


"Kami juga akan membantu!"


Meli menyentuh kepala kecil berbulu mereka.


"Bagus.. Anak-anak pintar.."


Mereka pun segera pergi untuk membagikan sup pengusir dingin, dan Lina saat ini sudah menaruh semua perhatiannya pada Saga yang sedang terkena racun.


Saat ini Saga sudah berbaring di tempat tidur.


"Racunnya telah menyebar ke seluruh tubuh, kulitnya kini terlihat berwarna abu-abu, matanya yang hitam semakin terlihat menghitam, bibirnya terlihat ungu dan napasnya pun sangat lemah."


Sambil menyeka tubuh Saga yang basah kuyup, Lina berkata, "Racunnya sudah menyebar, ramuan biasa tidak akan bisa menyelamatkannya."


Uriel dan Wiro mengerutkan keningnya, mereka juga sangat memahami kondisi Saga pada saat ini.


"Ketika sudah seperti ini, hanya bisa menggunakan cara itu!"


Setelah berpikir sejenak, kemudian Lina mengeluarkan pisau tulang dan membuat sayatan di telapak tangannya, darahnya pun segera mengalir keluar.


Uriel segera mengambilkan mangkuk kayu untuk menampung darah Lina.


Dalam hati Uriel dan Wiro sangat tidak menginginkan bila Lina melakukan hal seperti itu, tapi mereka juga tidak mampu bersuara untuk menghentikannya.


"Cara Ini adalah pilihan terakhir."

__ADS_1


Sampai mangkuk kayu hampir penuh dengan darah, Wiro pun segera mengingatkan Lina.


"Cukup cukup! Saat ini kamu sedang hamil. Kamu tidak boleh sampai kekurangan terlalu banyak darah. Akan sangat tidak baik untukmu dan anak-anak kita!"


Melihat Lina yang telah selesai menampung darahnya, Uriel segera merobek selembar kulit binatang, mengolesi telapak tangan Lina dengan pasta buah harum segar, dan membalutnya erat dengan kulit binatang.


Lina yang kehilangan terlalu banyak darah, kepalanya mulai terasa pusing, dan tangannya yang sedang memegang mangkuk kayu bergetar.


Uriel pun dengan cepat segera mengambil mangkuk kayu yang dipegang oleh Lina.


"Biar aku saja, aku yang akan menyuapi Saga."


Lina melepaskan pegangannya dan bersandar ke dinding untuk beristirahat.


Wiro juga segera ikut membantu Uriel dengan menopang punggung dan kepala Saga. Kemudian Uriel membuka mulut Saga dan memaksa supaya darah di mangkuk bisa masuk dan tertelan olehnya.


"Ini adalah darah yang sangat berharga dari tubuh Lina." Ucap Uriel.


"Tidak boleh ada setetes pun darah Lina yang disia-siakan!" Ucap Wiro.


Seluruh darah dalam mangkuk kini telah bersih diminum.


Wiro juga sudah membaringkan Saga kembali di tempat tidur.


Kemudian Lina berkata dengan serius kepada Uriel dan Wiro, "Kalian juga segeralah minum sup untuk mengusir dingin, mandi air panas dan mengganti pakaian kalian yang basah. Biar aku yang menunggu Saga. Atau kalian juga akan jatuh sakit."


Uriel menyentuh dengan lembut wajah gadis kecilnya yang terlihat agak pucat.


"Kamu baru saja mengeluarkan begitu banyak darah, cepatlah beristirahat."


Lina berkata, "Aku baik-baik saja. Kamu makanlah supnya dulu. Aku juga sudah menghabiskan banyak waktu untuk memasak sup itu."


Uriel dan Wiro tidak punya pilihan lain selain pergi ke dapur untuk minum sup dan obat-obatan, lalu dengan cepat mengeringkan tubuh mereka dan mengganti roknya yang basah dengan rok bulu yang kering.


Sebelum beranjak untuk menemui gadis kecilnya, Uriel terlebih dulu mencuci sebaskom beri merah, barulah kemudian dia membawakannya untuk gadis kecilnya.


"Makanlah ini untuk mengembalikan darahmu yang hilang."


"Humm.. Terima kasih.." Jawab Lina sambil menganggukkan kepalanya.


Uriel mengusap-usap lembut kepala gadis kecilnya dengan penuh rasa kasih sayang, kemudian mengecup keningnya.


Lina pun segera memakan buah beri merah itu, dan kini wajahnya mulai terlihat lebih baik.


Saat Wiro sedang memperhatikan luka pada tubuh Saga, dia melihat luka tersebut sedang dalam proses penyembuhan, dia pun terkejut.


"Hah! Ternyata benar, darah Lina juga sangat berguna!"


Tak lama kemudian, Saga pun terbangun.


Dia bangkit dan duduk di tempat tidur, kemudian meludahkan seteguk darah berwarna hitam di telapak tangannya.


"Hueek!"


Melihat hal itu, Lina menghela napasnya dan hatinya mulai merasa tenang.


"Hhhh.. Syukurlah, darah yang beracun sudah keluar dengan lancar."


Sambil duduk, Saga menyeka noda darah yang ada di mulutnya. Saat dia menyadari dan melihat ada Uriel, Lina dan Wiro ada di depannya dan sedang menatap dirinya, dia pun tertegun sejenak.


"Kenapa aku ada di sini? Kenapa mereka menatapku seperti itu?"


Yang dia ingat, dia telah diam-diam meninggalkan Gunung Batu.


Sekilas Uriel melihat ada kebingungan pada diri Saga, kemudian dia mengambil inisiatif untuk menjelaskan, "Setelah kamu pergi dari rumah, aku dan Wiro pergi mencarimu. Saat itu kami melihat dirimu yang sedang dikepung dan berkelahi dengan empat Ular. Aku dan Wiro bergegas menyelamatkan dan membawamu kembali kerumah. Lina juga telah berkorban untuk melarutkan racun yang ada di dalam tubuhmu."


"Sekarang kami semua adalah penyelamatmu. Kamu juga tidak perlu meneteskan air mata. Kamu hanya perlu memastikan, kalau kamu tidak akan pernah lagi menyelinap dan pergi diam-diam dari rumah." Ucap Wiro dengan nada suara arogannya.


Saga memandang mereka sesaat dan kemudian melihat telapak tangan Lina yang terbungkus dengan tebal oleh kulit binatang. Otaknya secara bertahap mulai memikirkan hal-hal yang terjadi, saat dia tak sadarkan diri karena terkena racun.

__ADS_1


Pupil mata hitam vertikalnya, menatap dalam pada mata Lina. Jantungnya yang berdetak karena merasa putus asa, tiba-tiba berdebar dengan kencang.


Kemudian dia berkata dengan suaranya yang terdengar serak, "Kenapa kamu bertekad untuk menyelamatkan aku?"


__ADS_2