
Melihat gulungan kontrak yang ada di hadapannya, Martin pun bertanya dengan tiba-tiba, "Bagaimana jika aku tidak mau menandatangani kontrak ini?"
Di sini adalah istana dan wilayahnya. Bahkan jika Uriel lebih kuat dari Martin, dia tidak akan bisa mengalahkan ribuan pasukan Kota Matahari.
Uriel berkata, "Walaupun aku tidak bisa menghancurkan seluruh Kota Matahari, tapi aku bisa menggunakan hidupmu, sebagai ancaman untuk membiarkan para Orc yang ada di luar melepaskan kami."
Setelah selesai berkata seperti itu, pola bintang di pinggangnya segera bersinar.
Saat melihat hal itu, ekspresi Martin terlihat sangat terkejut, dia bisa merasakan roh dan nafas Binatang Buas putranya yang terekspos. Kemudian dia bertanya, "Ka kamu.. sudah di promosikan naik menjadi lima bintang?"
"Padahal dia baru saja kembali ke istana saat masih hanya bintang empat, tapi dalam empat hari saja, dia benar-benar telah naik menjadi lima bintang?! Kecepatan peningkatan yang seperti ini belum pernah ada sebelumnya. Hal seperti ini sungguh sangat mengerikan! Jika dia diberi waktu beberapa tahun lagi, dia pasti akan menjadi Orc dengan roh Binatang Buas paling kuat di Kota Matahari!"
Setelah berpikir seperti itu, Martin menatap putranya dengan sorot mata yang dalam dan berkata, "Jika kamu benar-benar melakukan sesuatu pada ayah, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke Kota Matahari. Apakah layak melepaskan status bangsawanmu sebagai Pangeran, demi seorang wanita?"
"Tanpa identitas seorang Pangeran, saya masih bisa hidup dengan baik, tapi saya tidak bisa hidup tanpa Lina." Jawab Uriel tegas.
"....." Saat mendengar itu, Martin hanya bisa terdiam.
Uriel lanjut berkata lagi, "Saya tidak punya pilihan lain, saya juga tidak ingin melawan ayah. Ayah adalah ayahku. Sampai kapanpun, aku akan selalu menghormati ayah."
Martin masih terus menatap putra keduanya.
Saat Lina berpikir kalau ayah dan anak akan benar-benar akan saling memulai untuk berseteru, tiba-tiba saja Martin mengangkat tangannya dan menekan sidik jarinya pada gulungan kontrak tersebut.
"CRING!"
Setelah itu, Uriel pun menyimpan kembali gulungan kontrak tersebut lalu berkata, "Kontrak telah dibuat! Terima kasih atas pengertian ayah."
"Hhhh.. Lina sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan ayah. Sudah pasti ayah akan berjanji tentang hal ini. Ayah hanya ingin memastikan sebesar apa kasih sayangmu pada Lina. Sekarang Ayah sudah melihatnya sendiri, sepertinya kamu benar-benar sangat menyayanginya." Setelah berkata seperti itu pada Uriel, dia pun menatap Lina dan berkata, "Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Uriel berdua saja."
Lina segera menatap Uriel. Saat melihat Uriel sedikit mengangguk, Lina pun berkata, "Baiklah, kalau begitu saya keluar dulu. Saya akan menunggu di luar."
Dia pun segera berjalan keluar kamar dan menutup kembali pintunya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Martin menatap putranya yang kini semakin terlihat kuat. Setelah lama terdiam, dia pun mulai membuka mulutnya dan berkata, "Di usiamu yang masih muda, kamu telah mencapai bintang Lima. Ayah percaya kalau waktunya telah tiba, kekuatanmu pasti akan jauh lebih baik daripada ayah! Dan cara berpikirmu juga sangat teguh, selain itu, kamu selalu menangani berbagai hal dengan sangat hati-hati. Jika Kota Matahari aku serahkan padamu, ayah pasti akan merasa tenang saat ayah mati!"
Tapi Uriel berkata untuk meyakinkan ayahnya, "Sekarang tubuh ayah telah disembuhkan, dan Kota Matahari akan lebih kuat di bawah kepemimpinan ayah. Ayah tidak perlu tergesa-gesa untuk membuat keputusan, tentang siapa yang akan meneruskan tahta."
Martin melambaikan tangannya dan tampak mulai kelelahan sambil berkata, "Penyakit ayah tidak berasal dari tubuh.. Tapi dari jiwa.."
"Ayah.."
"Sejak kematian ibumu, ayah telah digigit balik oleh kontrak pasangan ayah. Ayah bisa bertahan hidup sampai sekarang, itu karena air suci. Bahkan jika kamu membantuku menyembuhkan tubuhku, dengan bantuan dari Lina, jiwa ayah yang sudah hancur tidak akan bisa disembuhkan.. Ayah sudah tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.." Saat berkata seperti itu, suara Martin terdengar pelan dan semakin pelan, dan sinar di matanya mulai terlihat semakin redup.
Tiga tahun yang lalu, pasangannya yang juga Orc Harimau, meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Setelah kejadian itu, Uriel memilih untuk pergi meninggalkan Kota Matahari seorang diri.
Setelah kematian pasangannya, Martin sempat terluka parah karena gigitan kontrak, tapi kemudian dia selamat.
Tapi sepertinya, dia tidak berbeda dari Orc normal yang lainnya. Semua orang pun berpikiran kalau dia tidak terkena gigitan jiwa dari kontrak pasangannya.
Yang mengejutkan, dia tidak ingin memperlihatkan hal itu kepada orang lain. Dia juga menggunakan air suci untuk menunda konsekuensi buruk, yang ditimbulkan dari gigitan kontrak.
Martin mencoba untuk tetap menatap putranya, dan berkata dengan suaranya yang bermartabat.
"Apa kamu ingin menjadi raja untuk Kota Matahari?"
...........
Pada saat ini Alan Rebes si imam besar, sedang berjalan bersama para pelayannya untuk kembali ke Kuil. Dalam perjalanan mereka, dia bertemu dengan Azka yang sedang bergegas untuk kembali ke istana.
Begitu Azka melihat Alan Rebes, dia segera menghentikannya dan bertanya dengan terengah-engah, "Kenapa anda tidak merawat ayah di istana? Tapi kenapa anda malahan berada di sini?"
Mendengar itu, Alan memandang Azka dengan sorot matanya yang terlihat iba, "Yang Mulia Raja akan segera meninggal. Para Dewa juga sudah tidak bisa lagi menolongnya. Saya harap Pangeran ketiga bisa menerima apa yang akan terjadi pada Yang Mulia Raja."
Mendengar apa yang imam besar katakan, seketika itu juga wajah Azka menjadi pucat.
__ADS_1
“Tidak! Anda pasti sedang berbicara omong kosong. Ayahku akan baik-baik saja!” Ucap Azka dengan marah.
Alan melambaikan tangannya untuk menyuruh para pelayan yang ada di belakangnya pergi. Setelah kini hanya tinggal ada Azka dan imam besar yang sedang berada di koridor, imam besar pun berkata, "Pangeran ketiga pasti tahu betul, kalau tubuh Yang Mulia telah menderita untuk waktu yang lama. Hidupnya kini lebih tersiksa, daripada kematian karena kontrak pasangannya. Jika Yang Mulia Raja pergi lebih awal, hal itu pasti akan melegakan bagi dirinya."
"Ka ..." Azka ingin membantah, tapi segera ditahan oleh Alan Rebes. Alan lanjut berkata lagi, "Aku tahu kalau Pangeran ketiga sangat mencintai Yang Mulia Raja, tapi itu saja tidak akan membantu. Pangeran juga harus bisa menerima kenyataan, bahkan jika anda merasa tidak rela. Sebentar lagi Rajaku akan segera pergi, dan Kota Binatang buas ini tidak mungkin tetap berdiri tanpa seorang Raja. Siapa yang akan bisa menjadi Raja berikutnya? Sang penerus baru, anda atau Pangeran kedua?"
Mendengar itu, Azka mengepalkan tinjunya lalu berkata, "Ayah pasti akan menunjuk ahli waris. Masalah ini tidak perlu anda pikirkan."
"Hhhh.. Apakah menurut Pangeran ketiga, Rajaku akan menyerahkan tahtanya kepada anda?" Alan berkata seperti itu sambil menatap Azka dengan sorot matanya yang terlihat penuh simpati, lalu dia lanjut berkata lagi, "Sedari kecil hingga sekarang, Rajaku terlihat selalu berpihak pada Pangeran kedua. Apakah itu karena kekuatannya, bakatnya, ataukah karena mentalnya? Sepertinya anda hanya bisa menjadi pilihan terakhir setelah Pangeran Uriel. Kesenjangan antara Pangeran kedua dan Anda sangat terlihat jelas."
"....." Azka tidak berbicara, hanya tinjunya yang semakin erat mengepal, hingga buku-buku jarinya terlihat memucat.
Alan berjalan pelan dan mondar-mandir di samping Azka, sambil terus berkata lagi, "Jelas anda juga telah berusaha keras. Dari mulai membangkitkan roh Binatang Buas anda hingga naik ke bintang dua, dan tetap terus berusaha keras akan hal-hal yang lainnya selangkah demi selangkah! Setelah kematian Ratu, anda juga selalu bersama dengan Yang Mulia Raja. Tapi, kenapa di mata semua orang hanya melihat Pangeran kedua? Hal seperti ini sama saja dengan anda yang hanya bisa hidup dalam bayangannya selamanya. Apakah anda benar-benar bersedia menjalani kehidupan anda yang seperti itu?"
Azka sudah tidak tahan lagi. Dia pun berkata dengan marah, "Diam!"
Alan menatap mata biru Azka yang kini terlihat memerah dan tahu kalau kini pikirannya mulai terpengaruh. Jadi, dia pun menambahkan lagi api yang terakhir.
"Apakah anda ingin duduk di atas singgasana? Saya bisa membantu anda."
...........
Saat ini Lina sedang duduk di tangga yang ada di luar kamar, sambil kedua tangannya memegangi kedua pipinya, dan memandangi koridor yang ada di depannya dengan tatapannya yang seperti sedang menerawang.
"Aku tidak tahu apa yang sedang Uriel dan ayahnya katakan di dalam kamar."
Setelah berpikir seperti itu, dari ujung koridor terlihat ada seorang Orc pria yang sedang berjalan mendekat. Lina pun segera memfokuskan pandangannya, dan melihat kalau Orc pria tersebut adalah Azka.
"Azka memang terlihat mirip seperti Uriel, tapi rambutnya lebih pendek dari Uriel."
Setelah dekat dengan Lina, Azka pun segera berhenti, lalu menatap Lina dan bertanya, "Kenapa kamu duduk di sini? Di mana kakak?"
Lina pun menunjuk ke arah pintu yang tertutup, yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Dia dan Yang Mulia Raja sedang berbicara di dalam."
Mendengar itu, Azka menatap pintu kamar sejenak, dan tiba-tiba saja bertanya, "Menurutmu, siapa yang lebih cocok untuk duduk di singgasana Raja? Kakakku atau aku?"