Aku Selalu Melihat Kamu

Aku Selalu Melihat Kamu
ASMK 10


__ADS_3

Mia yang sudah sampai di rumahnya langsung menuju kamar setelah hari yang panjang. Mia yang meletakan barang orang tuanya di meja. Mia yang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sampai dia selesai. Mia yang sudah selesai di kamar membawa barang milik orang tuanya dan menuju lantai dasar. Mia yang masih bisa merasakan kalau orang tuanya masih ada saat dia masuk ke dalam kamar ayah dan ibunya.


Mia yang menatap setiap ruangan yang ada hanya bisa termenung sambil berkata,”Kenapa nasibku selalu sial ya.”


Mia yang tidak tahu menaruh barang milik ayah dan ibunya dan menuju dapur untuk melihat apa yang bisa dia masak. “Tinggal sedikit ini, aku harus pergi belanja besok pagi,”ucap Mia yang melihat barang apa saja yang sudah habis.


Mia yang melihat dan mencatatnya dalam buku kecil untuk dia pergi ke supermarket. Setelah melihat semua barang yang habis Mia melihat catatannya.”Banyak juga yang harus di beli,”ucap Mia.


Mia yang ingin meminta tolong kepada Irma tapi dia masih belum tahu kondisi dia sekarang hanya bisa menghubungi Ben. Tapi dia tidak memiliki nomornya,”Apa nanti aku telepon lewat nomor rumah saja.”


Mia yang masih sibuk membuat makanan, tapi belum selesai dia memaksa satu jenis masakan. Ada suara ketukan pintu membuat Mia berjalan ke arah pintu.


“Iya sebentar, siapa ya?,”ucap Mia yang membuka. Dan Mia melihat Ben dan adiknya yang datang.”Ayo masuk,”ucap Mia yang mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam rumah.


“Apa kami mengganggu,”ucap Ben.


“Tidak, tapi kenapa kalian datang ke sini,”ucap Mia yang tidak tahu kedatangan mereka berdua.


“Ibu meminta kami untuk membawakan ini untuk kamu,”ucap Ben yang memberikan makanan jadi yang dibuat oleh ibu Ben.


“Ini,”ucap Mia.

__ADS_1


Mia yang tidak tahu kalau ibu Ben menyiapkan makanan yang sudah jadi kepada Mia. Mia yang merasa senang berterima kasih kepada Ben dan orang tuanya karena sudah perduli dengan Mia. Sampai Mia sadar soal barang kebutuhannya.”Bau kosong apa ini,”ucap Adik Ben.


Mia yang baru sadar langsung berlari ke dapur dan melihat masakannya yang hangus.”Apa kamu baik saja Mia,”ucap Ben dan adiknya yang iku dari belakang.


“Aku baik saja hanya saja masakkanku hangus,”ucap Mia yang sedih.


“Kan masih ada masakan ibuku kak,”ucap Adik Ben yang menenangkan Mia.


“Terima kasih,”ucap Mia dengan nada kecil. Ben yang melihat Mia sedih membuat dia frustasi dan hanya bisa berkata.”Untuk apa kamu tangisi sudah hangus juga masakan kamu, makan ini saja dari ibuku yang lebih enak,”ucap Ben.


“Iya aku tahu. Tapi kamu menginsyaratkan kalau masakanku tidak enak ya,”ucap Mia yang menoleh ke arah Ben.


“Siapa bilang?,”ucap Ben yang bingung. Sampai dia menoleh ke arah adiknya tapi adaiknya menoleh yang lain. Sampai Ben merasa bersalah berkata seperti itu meminta maaf dan Mia memaafkan ucapan Ben.


“Tidak ada apa,”ucap Ben yang melihat ke arah Mia sambil meletakan makanan yang dia bawa bersama adiknya.


“Aku bisa minta tolong kamu,”ucap Mia.”Minta tolong apa,”kata Ben.


“Besok temani aku belanja ya ada barang yang harus aku beli karena ada sebagian barang sudah habis,”kata Mia.


“Apa banyak tidak barang belanjaannya,”ucap Ben.

__ADS_1


“Lumayan,”ucap Mia yang ragu sambil memberikan catatan yang dia tulis. Ben yang melihat catatan itu sedikit kaget dengan barang yang harus dibeli.”Lumayan kata kamu. Ini banyak Mia,”ucap Ben.


Mia hanya tersenyum,”Jadi bagaimana?.”Mia yang masih menuggu jawaban dari Ben sampai adiknya berkata,”Temani saja kak nanti aku juga ikut bantu.”


“Baiklah aku antar besok. Aku akan bilang kepada ayah dan ibu nanti,”kata Ben. Mia yang senang   mendengarnya berterima kasih kepada mereka berdua sampai makan malam mereka makan bersama di rumah Mia.


Selesai dengan makan malam bersama Ben dan adiknya pulang sebelum mereka pulang Mia titip pesan kepada Ben kalau dia berterima kasih soal makanan yang diberikan kepada dia. Selesai mengatakan itu Ben dan adiknya pergi pulang. Mia yang sudah mengantarkan mereka masuk ke dalam rumah dan membereskan piring dan sisa makanan untuk dimasukkan ke dalam kulkas.


Sampai dia sadar kalau dia belum meminta nomor Ben. Mia yang lupa karena semua beban pikian yang dia dapatkan. Mia yang sudah selesai dengan piring dan perlengkapan masak yang sudah selesai di cuci. Mia masuk ke dalam kamar ayah dan ibunya dan membereskan barang yang belum dia masukkan dalam kardun. Tapi hanya sebagian saja dia masukkan karena Mia masih tidak ingin menyimpannya karena semu ini kenangan dari orang tuanya.


Mia yang sudah selesai menuju kamar dimana dia akan menulis apa yang dia rasakan. Mia yang sudah sampai di kamar duduk di kursi belajar dimana dia bisa menulis semua apa yang ada dalam hatinya.


Di catatan diary yang selalu dia simpan Mia menulis apa yang dia rasakan. Pada lembaran diary yang kosong Mia menulis tentang dirinya yang merindukan orang tuanya karena dia sudah memulai hidup yang baru setelah kepergian orang tuanya.


Dan hari ini Mia menuliskan tentang dirinya yang merasa kalau ini bukan takdirnya dan harus melupakan semua yang ada. Mia yang tidak tahu kenapa saat dia menulis ada satu tulisan yang dia selibkan.


Kenapa aku tidak beruntung, apa aku anak yang nakal. Sampai apa yang aku inginkan sudah tidak ada. Orang tuaku yang pergi lalu orang yang aku sayangi sudah bersama dengan temanku. Hari ini aku melihat mereka sangat serasi saat bersama. Karena dengan mataku sendiri aku melihat Jordan mengatakan cintanya kepada Irma sahabatku. Aku yang sebagai sahabat Irma hanya bisa mengalah dan melihat mereka bahagia sampai akhir. Mungkin ini adalah takdriku yang tidak bisa bersamanya. Semoga hari akan berjalan baik setelah ini.


Mia yang sudah menulis semua curahan hatinya yang ada dalam hatinya. Mia yang sudah menulis semua ini tiba-tiba menangis. Mia yang merasa hatinya sakit setelah hari yang panjang membuat dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Mia yang menangis setelah menulis catatan diarynya. Dia luakan dengan air mata yang jatuh membasahi buku sampai Mia yang tidak bisa membendung rasa rindunya  dan sakit hatinya hanya bisa menju kasur dan menangis sepuasnya.

__ADS_1


Mia yang memegang foto keluarganya sambil menagis dan lama kelamaan dia tertidur. Sampai dia melihat orang tuanya dalam mimpi yang berjalan menjauh darinya. Mia yang mengejar ayah dan ibunya sampai dai jatuh Mia yang terus memanggil ayah dan ibunya. Hingga dia tidak sadar kalau pagi sudah tiba. Mia bangun dari tidurnya,”Ayah ibu.”


Ucap Mia yang bangun dari tidurnya karena merindukan ayah dan ibunya yang sudah tidak ada. Mia yang berjalan perlahan menuju kamar mandi dan melihat ke kaca matanya yang bengka dan merah karena dia menangis. “Aku harus menghilangkannya karena aku harus pergi. Jika Ben dan adiknya tahu kalau aku menagis lagi mereka pasti akan khawatir lagi,”ucap Mia yang mencuci buka untuk mengurangi bengka


__ADS_2