Aku Selalu Melihat Kamu

Aku Selalu Melihat Kamu
ASMK 6


__ADS_3

Ben yang awalnya ingin keluar mencari udara segar setelah dia makan malam tidak sengaja melihat Mia yang datang berkunkung. Tapi dia tidak jadi langsung pergi begitu saja. Karena merasa aneh dengan sikap Mia, Ben menghampiri Mi ada berkata,”Kamu kenapa Mia datang ke rumahku?.”


Tapi saat Ben melihat wajah Mia yang matanya bengka dan memerah membuat dia bingung dan di tangannya dia membawa berkas yang Ben tidak tahu. Ben yang bingung membawa Mia masuk ke dalam rumah.


“Ibu teman Ben datang,”ucap Ben yang memanggil orang tuanya. Orang tua Ben dan adiknya datanf dan ingin menyapahnya tapi ekspresi wajah yang diberikan oleh Mia. Membuat keluarga Ben salah paham.”Apa yang kamu lakukan Ben membuat gadis orang menangis,”ucap Ibunya yang langsung merangkul Mia.


Tapi Mia yang tidak tahu harus berkata apa hanya bisa menangis den memeluk ibu Ben tanpa dia sadari. Mia yang menangi sejadinya membuat keluarga Ben bingung dan menatap ke arah Ben yang membawanya.


“Bukan aku,”ucap Ben yang merasa di tindas dalam keluarganya.


“Nak apa yang terjadi dengan kamu. Kenapa kamu menangis,”ucap Ben.


“Kamu menangis bukan karena soal cinta bukan,”ucap Ben dengan suara kecil. Tapi Mia yang tidak perduli dengan ucapan Ben masih menangis sampai ponselnya berbunyi Mia yang melihat langsung mengakatnya.


“Halo,”ucap Mia.


“Maaf apa ini benar dengan putri dari korba Satya dan Sita,”ucap perawat.


“Benar ini dengan siapa ya?,”ucap Mia yang masih terhisak.


“Kami dari rumah sakit jaya indah ingin mengkonfimasikan kedua orang tua anda sudah kamu keremasi. Jika anda ingin ingin melihatnya silakan datang ke rumah sakit jaya indah,”ucap perawat.


Ponsel telah di tutup Mia yang tidak tahu harus berkata apa hanya bisa meminta tolong kepada ibu dan ayah Ben.”Maaf paman bibi Mia bisa minta tolong tidak,”ucap Mia sambil mencoba tegar dan mencoba tenang.


“Apa yang terjadi nak?,”ucap Ibu Ben.


“Bisa antar saya ke rumah sakit jaya indah,”ucap Mia.

__ADS_1


“Rumah sakit jaya indah,”ucap Ayah Ben yang baru saja melihat berita soal korban kecelakaan pesawat.


“Kami antar nak jangan menagis,”ucap Ayah Ben yang keluar dan menuju bagasi.


Ibu Ben yang tahu Mia dalam kondisi tidak baik membantu dia keluar sampai mobil keluar dari bagasi.”Ben kamu jaga adik kamu. Jangan pergi kemana-mana mengerti,”ucap Ibu Ben kepada putranya.


Mobil yang sudha keluar darai bagasi Mia masuk bersama dengan Ibu Ben dan menuju ke rumah saki Jaya indah dimana ayah ibu Mia berada.Di dalam mobil yang melanju ibu Ben yang masih merangkul Mia dan mencoba membuat Mia tenang. Sampai di rumah sakit Jaya Indah dimana banyak orang berdatangan.


Ayah Ben yang sudah memarkirkan mobil bersama masuk ke dalam rumah sakit sampai perawat menayakan keperluannya. “Bisa saya bantu,”ucap perawat.


“Saya ingin melihat orang tua saya korban kecelakaan pesawat atas nama Satya dan Sita,”kata Mia yang mencoba tenang. Ayah dan ibu Ben yang mendengarnya merasa terkejut kalau orang tua Mia adalah salah satu koran kecelakan pesawat tadi pagi.


“Apa anda bisa memperlihatkan identitas anda,”ucap perawat.”Ini,”ucap Mia yang mengambil identitas Mia.


Perawat yang sudah memeriksa mengantar mereka bertiga menuju tempat dimana para korban sudah dikrimasi. Di sepanjang jalan melewati lorong menuju tempat orang tua Mia yang didampingi oleh ayah dan ibu Ben.


Mia yang tidak tahu harus bagaimana dengan mereka berdua. Mia hanya bisa memeluk ayah dan ibunya yang dingin bagaikan es. Mia yang menangis sejadinya sementara ayah dan ibu Ben yang melihat merangkul Mia dari belakang sambil menghibur Mia yang sudah kehilangan orang tuanya.


“Mereka sudah persi ke sisi penciptanya nak Mia. Biarkan mereka pergi,”ucap Ibu Ben.


“Apa kamu memiliki saudara yang bisa membantu kami Mia,”ucap Ayah Ben. Mia menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong Mia masih menangis. Sampai petugas datang,”Apa anda dengan Mia Sarawati putri dari pak Satya dan Ibu Sita.”Mia hanya menganggukan kepala kepada petugas sampai petugas itu memberikan lembaran kertas yang harus di isi.


Mia yang mencoba tenang mengisi formulir pengambilan jenaza korban. “Anda bisa menmbawa orang tua anda untuk dikebumikan,”ucap Petugas.”Kami mengucapkan salam duga atas kepergian orang tua anda,”kata petugas yang langsung pergi setelah menyampaikan duganya kepada para korban yang di tinggalkan.


Ayah Ben yang keluar untuk bertanya kepada petugas bagaimana mereka bisa membawa jenaza korban. Sementara Ibu Ben yang masih menemani Mia yang menangis dipelukan orangtaunya yang dingin. Hingga hati Mia yang sudah tenang melepaskan orang tuanya Mia berbicara kepada Ibu Ben.”Terima kasih bi sudah mengantar saya ke rumah sakit,”ucap Mia yang mencoba tegar.


Tapi ibu Ben yang melihat penderitaan Mia yang sudah kehilangan orang tuanya hanya bisa memelukanya.”Kamu tidak usah minta maaf atau berterima kasih kitakan tetangga,”ucap Ibu Ben. Yang juga ikut menangis karena kesedian yang di alami Mia yang sudah kehilangan orang tuanya di masa remaja.

__ADS_1


Setelah ayah Ben mengurus pemakanan orang tua Mia masuk ke dalam yang ada Mia dan istrinya.”Sayang bagaimana apa kamu sudah mengurusnya,”ucap Ibu Ben.


“Semua sudah selesai tinggal kita meminta persetujuan nak Mia,”kata ayah Ben yang duduk di depannya.


“Nak apa kamu mau kami bantu,”ucap ayah Ben. Mia yang tidak bisa melakukannya sendiri hanya bisa meminta bantuan orang tua Ben.”Maaf merepotkan paman dan bibi,”ucap Mia.


“Untuk apa kamu berkata seperti itu kamu adalah tetangga kami. Kami berhak membantu kam Mia,”ucap ayah Ben.


“Semua administrasi sudah bapak selesaikan tinggal kita besok memakamkannya saja. Apa kamu tidak masalah dengan ini,”ucap ayah Ben.


Mia yang menggelengkan kepalanya kalau dia tidak keberatan dengan apa yang di katakan oleh ayah Ben yang sudah membantu Mia. Setelah pembicaraan administrasi Mia yang ingin bersama dengan orang tuanya di sini tidak ikut dengan ayah dan Ibu Ben kembali. Tapi mereka berdua yang tidak tega untuk meninggalkan Mia sendirian membuat mereka bimbang.


“Jika paman sama bibi ingin pulang tidak apa-apa,”ucpa Mia yang mencoba tenang.


“Bagaimana bisa kami meninggalkan kamu sendirian di sini,”ucap Ibu Ben yang khawatir.


“Biarkan bibi yang menemani kamu di sini,”ucap Ibu Ben.”Tapi,”ucap Mia yang merasa ragu karena telalu banyak menyusahkan.


“Untuk apa kamu berpikir panjang bibi akan di sini. Ayah kamu bisa kembali,”ucap  Ibu Ben.


“Baiklah besok pagi-pagi ayah akan datang ke sini lagi,”ucap Ayah Ben. Sampai ada pemberitahuan kalau para korban tidak boleh menuggu di rumah sakit karena akan ada banyak korban yang yang akan datang lagi dan para korban yang ingin mengidentifikasi korban yang sulit untuk di kenali.


Mia yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pulang bersama dengan orang tua Ben.”Nak jika kamu takut kamu bisa tinggal di rumah kamu,”kata Ibu Ben di perjalanan pulang.


Mia menggelengkan kepalanya dan tetap akan tinggal di rumahnya sendiri sampai di depan rumah Mia turun. Sampai ibu Ben berkata,”Nak apa kamu akan baik saja jika di rumah sendiri.”


Ibu Ben yang gelisah, tapi jawaban Mia tetap sama kalau dia akan baik saja. Setelah berterima kasih kepada orang tua Ben Mia masuk ke dalam dan menyalakan rumah.

__ADS_1


__ADS_2