
Adi yang bingung dengan sistem sekolah di tempat ia masuk. Dari apa yang dia ketahui kalau buku pelajaran itu gratis untuk semua siswa. Tapi kenapa malah sebaliknya dari siswa yang sudah ada di tempat ini. Adi tidak tahu apa yang terjadi dengan sekolah ini sama dengan apa yang terjadi. Saat dia masuk ke sekolahan ini.”Ada yang tidak beres?,”kata Adi dalam hati.
“Itu terjadi karena sistem peraruran yang baru saja terjadi. Makanya siswa yang ingin mendapatkan buku pelajaran harus membayar,”kata Dev.
“Kenapa beda dengan informasi yang aku dapatkan ya. sebelum aku masuk ke sekolahan ini,”kata Adi.
“Itu hanya untuk menarik siswa saja. Kamu sudah masuk ke dalam perangkap pemasaran sekolahan ini,”kata siswa di depan.
“Itu benar,”kata siswa didepan sampingnya.
“Apa perkelahian yang di tontonkan tadi juga termasuk peraturan yang baru,”kata Adi. Semua siswa yang mendengarkan Adi hanya terdiam saja. karena apa yang dikatakan oleh Adi akan menjadi pelanggaran berat. Bagi siswa yang mengatakannya, tapi Adi yang melihat sikap wajah mereka merasa ada yang ditakutkan oleh mereka.
“Jika tidak ingin memberitahukan juga tidak masalah kok,”kata Adi yang tersenyum.
Siswa yang ada di kelas merasa tidak enak hati dengan Adi. Karena dia baru saja di sekolahan ini tapi sudah melihat sesuatu hal yang buru.”Kenapa kalian menatapku seperti itu, aku baik-baik saja,”kata Adi yang santai.
“Kurasa dia benar tidak apa-apa kalau tidak mengatakan apa-apa,”kata Dev yang ada disampingnya. Saat mereka berbincang guru matematika datang masuk ke kelas. Karena sudah waktunya kelas matermatika dimulai.”Anak-anak buka halaman 125. Kita akan membahas tentang peluang,”kata guru matermatika.
Adi yang masih tidak memiliki buku pelajaran dibantu oleh Dev. Sampai guru matermatika yang melihat Dev berbagi buku dengan Adi melihatnya.”Putra kerjakan soal ini,”kata guru matermatika.
“Sudah dijadikan pelampiasan wali kelas A,”bisikkan siswa yang memperhatikan Adi. Adi yang santai berbiri yang kemudian dia berjalan ke depan. Tapi belum melangkahkan kaki guru matematika itu berkata kepada Adi.”Jika kamu gagal menjawab soal ini, kamu harus keluar kelas sampai kelas bapak selesai. sebagai hukumannya,”kata guru matematika.
Adi yang mendengarnya hanya tersenyum layaknya siswa yang lain. sampa didepan guru matematika yang memberikan alat tulis papan. Adi yang melihat soalnya merasa sangat mudah baginya yang sudah mempelajarinya. Dengan santai Adi mengerjakan soal yang ada dipapan tulis dengan santai.
Dalam hitungan detik Adi telah selesai mengerjakan soal yang diberikan.”Sudah pak,”kata Adi.Guru matematika dan siswa yang melihat sedikit terkejut dengan Adi yang telah selesai dengan soal yang diberikan. Guru matematika yang memeriksa jawaban dari Adi membuat dia tercengang.”Apa saya boleh kembali duduk,”kata Adi dengan santai.
__ADS_1
“Kamu boleh duduk,”kata guru matematika yang tidak bisa membantah jawaban dari Adi. Karena jawaban yang diberikan oleh Adi benar. Adi berjalan ke belakang dimana tempat duduknya berada. Adi yang sudah duduk di kursinya dimana Dev dan siswa yang lain masih melihat ke arah Adi.”Bagaimana kamu bisa mengerjakan soal itu Adi, bukan itu sangat sulit,”kata Dev.
“Itu benar aku saja tidak bisa mengerjakan soal itu,”kata siswa disamping Adi.
“Sulit dari mana,”kata Adi yang merasa ada yang salah di sekolahan ini. Soal yang didapatkan emang standar pembelajaran di sekolahan ini. Tapi kenapa aku merasa kalau siswa disini tidak bisa mengerjakan soal itu. Sama halnya mereka mengerjakan soal SMA bukan soal SMP. Karena merasa bingung dan pelajaran selesai Adi berkumpul dengan siswa yang adai di kelas C untuk bertanya.
“Tadi kalian berkata kalau soal yang diberikan sulit. Benarkan, tapi bukan soal itu emang standar untuk pembelajaran di SMP ya,”kata Adi.
“Itu banar, kami tidak bisa mengerjakan soal itu. Karena guru matematika tadi hanya bisa memberikan soal saja dan tidak memberikan penjelasan kepada kita semua,”kata siswa.
“Iya tu benar sekali. Maka sangat terkut kamu bisa mengerjakan soal tadi,”kata Dev.
“Apa selama ini kalian tidak diberikan materi pengarahan bagaimana menyelesaikan soal tersebut,”kata Adi. Mereka semua menggelengkan kepala kepada Adi. ”Jadi selama ini kalian belajar matematika apa yang kalian dapatkan,”kata Adi.
“Kamu ingin tahu, ini aku perlihatkan buku catatan kami,”kata siswa wanita didepan Adi. Adi yang melihat catatan temannya sedikit terkejut dengan apa yang dilihat oleh Adi. “Kalian serius ini yang kalian dapatkan selama belajar di sini,”kata Adi.
“Kenapa kalian tidak laporkan ini kepada wali kelas atau kepala sekolah,”kata Adi.
“Bagaimana bisa kami sudah melaporkan hasilnya apa tetap sama saja. karena wali kelas kita tidak bisa bersaing dengan wali kelas A,”kata Siswa pria.
“Sehabat apa kelas A, hanya ada elit dari perusahan dan nama orang tua yang terkenal dan memiliki uang sajakan,”kata Adi yang tahu.
“Karena itulah yang mereka miliki. Mereka bisa membayar semua guru disini,”kata Dev.
“Lalu soal ujian bagaimana dong?,”kata Adi.
__ADS_1
“Dengan uang jika kita membayar dengan hasil uang yang kita dapatkan. Kita akan mendapatkan nilai bagus, tapi sebaliknya bagi kita yang tidak bisa membayar hanya bisa mengerjakan soal yang tidak kita bisa kerjakan dan kita tidak pelajari,”kata Dev.
“Hai Putra bukan kamu mau ambil buku pelajaran ya,”kata Ketua kelas.
“Ohh iya sampai lupa aku,”kata Adi. Adi yang bersama dengan walil ketua pergi ke ruang tata usaha untuk mengambil buku pelajaran. Di perjalanan menuju ruang tata usaha Adi yang melihat siswa yang lain ada yang mengabaikan dan ada yang tidak perduli. Karena suasana yang diberikan disekolahan ini tidak pantas.
“Kamu abaikan saja mereka,”kata wakil ketua.
“Aku ma santai saja kok, tidak terlalu perduli dengan mereka,”kata Adi. Dimana mereka berdua sampai di ruang tata usaha. Adi yang masuk sendiri dan wakil ketua yang tidak ingin masuk ke dalam karena merasa takut.”Kamu tidak ingin masuk juga,”kat Adi.
“Tidak aku akan menuggu kamu disini saja. Kamu berhati-hati saja didalam sana ya,”kata wakil ketua yang sedikit takut saat melihat pintu tata usaha.
“Baiklah aku masuk dulu ya,”kata Adi yang membuka pintu dengan santai. Tapi dalam hati Adi yang melihat sikap wakil ketua yang berbeda hanya membuat dia terpikirkan sesuatu.
“Apa yang dia takutkan dari ruangan ini,”kata hati Adi. Dia berjalan masuk ke dalam ruang tata usaha yang dimana semua pegawai seperti biasa saja.”Ada keperluan apa kamu masuk ke ruang tata usaha?,”kata salah satu pegawai tata usaha.
“Saya mau mengambil buku pelajaran,”kata Adi.
“Apa kamu anak pindahan itu?,”kata pegawai.
“Iya itu saya,”kata Adi dengan ramah.
“Tunggu dulu saya akan mengambil buku pelajaran untuk kamu. Tapi sebelum itu kamu haru pergi ke sana dulu untuk membawa,”kata pegawai sambil menunjuk ke arah satu ruangan.
“Membayar apa?,”kata Adi yang tidak tahu apa-apa. Pegawai yang hendak berjalan mengambil buku kembali terdiam saat Adi tidak tahu kalau harus membayar buku pelajaran yang diambil.
__ADS_1
“Kamu tidak tahu ya peraturan baru ya. Ini aku berikan kepada kamu,”kata pegawai memberikan rincihan yang harus dibayar.