
Guntur yang masih penasaran dengan Adi bertanya lagi di saat Adi didapur.”Hai Putra kamu tinggal disini selama ini?,”ucap Guntur.
“Bisa dibilang iya selama aku sekolah di wilayah C ini. Tapi sebelum kamu mencari tahu tentang apa yang aku lakukaN. Jangan bilang kepada kedua kakaknya kalau tidak meraka dalam bahaya,”kata Adi.
“Aku tahu. Aku tidak akan memberitahukan kepada mereka. Tapi terima kasih sudah mau membantu aku dan pamanku. Tapi kenapa kamu bisa bersembunyi selama ini,”kata Guntur.
“Pertanyaan kamu aneh Guntur dari pada kamu memikirkan aku. Lebih baik kamu memikirkan diri kamu yang bisa dikejar oleh Won,”kata Adi yang kembali duduk.
“Itu ya. Saat aku dan pamanku bersama teman paman. Kami sedang mengikuti pesta, tapi tidak tahu kenapa ada sekelompok anak buah Won yang datang menyerang. Kamu tahukan kalau pamanku tidka membawa banyak anak buah saat menghadiri pesta,”kata Guntur.
“Aku tahu itu tapi apa alasannya,”kata Adi.
“Aku tidak tahu, tapi tidak hanya kami saja ada beberapa anak buah Cita yang juga menyerang keluarga kamu termasuk kakek kamu Tomas,”kata Guntur.
“Apa dia ingin membuat semua yang berkaitan dengan diriku dan ibukukah,”kata Adi. Guntur yang tidak tahu hanya bisa terdiam sambil menikmati cemilan dan makanan yang ada didepan dia.
“Tapi bukan kamu harus pergi ke rumah sakit. Tapi kenapa kamu ada disini, bukan nanti paman kamu mencari kamu,”kata Adi.
“Tidak, dia tidak akan tahu kalau aku ada disini,”ucap Guntur dengan senyum liciknya.
“Karena dia tidak tahu, dia akan khawatir dimana otak kamu,”kata Adi dengan dingin.
“Ayolah akukan hanya ingin bersama kamu. Tapi bagaimana kondisi kamu setelah berpisah dengan keluarga Jesi. Apa kamu baik-baik saja,”kata Guntur. Adi terdiam sambil berpikir dengan posisi menatap ke arah Guntur yang juga melihat dia.
“Kamu ingin tahu aku baik-baik saja atau tidak. Melihat aku didepan kamu menurut kamu bagaimana?,”kata Adi.
Guntur hanya tersenyum saja sampai menundukan kepalanya karena malu.”Kenapa diam saja kamu,”kata Adi.
__ADS_1
“Aku tahu salah. Tapi kematian kamu itu membuat orang lain khawatir tahu tidak,”kata Guntur.
“Siapa juga yang membuat kematian yang mengerikan. Tapi apa yang kalian dengar saat aku tidak ada aku ingin mendengarnya,”kata Adi. Guntur hanya diam saja dan melihat Adi dengan tatapan penasaran.
“Kamu ini menyebalkan Putra. Baiklah aku akan memberitahu saja intinya saat kamu tidak ada kedua kakak kamu diserang di tempat yang berbeda pada hari saat kamu menghilang. Tapi setelah itu ada hari tenang untuk beberapa bulan. Tapi setelah itu dari orang yang kamu kenal sudah dbuat kacau oleh Cita. Karena dia mendapatkan kabar kalau kamu masih hidup, untuk memastikan itu Cita mencari tahu dengan orang yang dekat dengan kamu,”kata Guntur yang berhenti sejenak.
“Lalu bagaimana dengan kedua kakakku dan mama Jesi. Katanya mereka juga diserang. Tapi bisa diselamatkan pada waktu yang tepat oleh bantuan Ayahku. Apa itu benar?,”kata Adi.
“Itu benar. Tapi kurasa tidak hanya itu saja setelah kecelakan di rumah sakit. Ayah kamu selalu melindungi kelurga baru kamu,”kata Guntur.
“Jadi sejak hari itu,”kata Adi sambil berpikir. Guntur yang memperhatikan Adi dengan seksama melihat kalau dia sudah tahu soal penyerangan yang dihadapi mereka. Tapi Guntur masih tidak percaya kalau dia bisa selamat dari tebing.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu. Apa ada yang membuat kamu penasaran lagi dengan diriku yang bisa bertahan dari tebing dan tembakan,”kata Adi.
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ingin tahu tentang itu Putra,”ucap Guntur.
“Sudah bisa ditebak dari wajah kamu yang menatap diriku. Aku bisa selamat karena ada yang membantunku secara diam-diam. Aku juga tidak menyangka kejadian waktu itu terjadi padaku,”kata Adi.
“Soal itu karena ada dua orang yang mengwasiku tanpa aku diberitahu,”kata Adi dengan santai.”Apa?,”ucap Guntur yang masih tidak percaya.
“Tapi kamu tahu tidak rasanya tertusuk dan dingin saat didasar laut yang penuh dengan terumpung karang yang tajam. Aku tidak tahu kapan dan bagaimana jika aku terjatuh dari sana,”kata Adi.
“Jadi itu benar kamu jatuh dari tebing setelah tertembak,”kata Guntur yang dengan suara kecil. Adi hanya menganggukan kepalanya saja sambil melihat ke arah Guntur yang merasa menyesal.
Adi hanya tersenyum saja melihat Guntur bersikap seperti itu. Sampai hari beranjak pagi mereka berbincang dengan kondisi yang tidak terduga.”Kalian tidak tidur,”ucap Robin yang datang dari pintu belakang.
“Lupa,”ucap Adi dengan singkat. Tapi mata Robin yang tahu hanya bisa menghela nafas saja.”Tapi ke apa kamu datang ke sini. Apa terjadi sesuatu,”kata Adi yang berdiri.
__ADS_1
“Tidak ada aku hanya membawa bahan makanan untuk bulan ini saja. Lalu bukan kamu akan pergi kepelelangan besok,”kata Robin.
“Iya. Tapi kamu bisa bawa anak ini ke rumah sakit. Pasti pamannya mencarinya dan satu lagi tambah pengawasannya sampai kondisi mereka pulih,”kata Adi.
“Jadi hanya sebentar saja kita akan bertemu Putra,”kata Guntur yang merasa sedih karena akan berpisah lagi dengan Adi.
“Untuk sekarang iya. Tapi kamu harus menepati janji kamu untuk tetap diam,”kata Adi.
“Baiklah aku mengerti,”ucap Guntur yang segera pergi dari kontrakan Adi bersama Robin.
Guntur yang bersama dengan Robin didalam mobil.”Kamu siapanya Putra sampai dia tidak waspada kepada kamu,”kata Guntur yang belum tahu siapa Robin. Walaupun dia sudah mendengar namanya dari Adi.
“Aku siapanya Putra. Mungkin kekasihnya,”ucap Robin yang berwajah polos dan cantik. Tapi respons yang diberikan oleh Guntur adalah kebalikannya karena sikap yang diberikan Robin membuat dia ingin muntah.”Kenapa anda berwajah pucat, apa anda sakit,”kata Robin.
“Tidak hanya merasa jijik melihat wajah kamu saja,”kata Guntur yang terus terang. Tapi Robin hanya tersenyum saja di samping Guntur.
“Jadi apa yang anda mau dari saya. Kenapa anda ingin tahu siapa saya,”kata Robin.
“Aku tidak ingin Adi dihianati oleh mereka yang dekat dengan Adi,”kata Guntur.
“Adi yang kamu maksudnya siapa. Yang saya tahu itu adalah Putra bukan Adi di wilayah C ini,”kata Robin.
“Ohh iya Putra salah ucapk,”kata Guntur.
“Sekarang katakan kepadaku kamu siapanya Putra,”kata Guntur.
“Saya adalah sekertaris,atasan, teman dan rekan yang satu arah dengan Putra,”kata Robin. Guntur yang mendengarnya terdiam dan menatap ke arah Robin.”Kenapa banyak sekali status kamu saat bersama dengan Putra,”kata Guntur.
__ADS_1
“Itulah saya dan Putra. Apa ada lagi yang ingin anda katakan kepada saya. Jika tidak ada. Kita sudah sampai di rumah sakit dimana paman kamu dirawat,”kata Robin.
Guntur yang melihat keluar jendela mobil yang sudah berhenti.”Baiklah. Ayo bertemu dengan pamanku,”ucap Guntur yang membuka pintu. Robin yang juga ikut membuka pintu berjalan di samping Guntur masuk ke rumah sakit. Dimana mereka sudah sampai didepan ruang tapak darah. Robin mempersilakan Guntur masuk ke dalam. Karena Robin tidak ingin masuk ke dalam karena masih ada pekerjaan yang harus diurus.”Kamu langsung pergi saja, apa tidak mau masuk dulu,”kata Guntur melihat ke arah Robin. Tapi Robin tidak menjawab dan langsung pergi dari rumah sakit.