
Robin yang juga mendengar kalau ponsel Adi berbunyi melihat ke arah Adi. Tapi melihat Adi yang terdiam saja membuat Robin bertanya,”Kenapa tidak kamu angkat?.”
“Kenapa tidak aku angkat. Karena yang menelepon adalah Satya,”ucap Adi.
“kenapa dengan anak itu menghubungi kamu,”kata Robin sambil berpikir.
“Apa mungkin dia menayakan tentang undangan ini,”kata Robin sambil memperlihatkan undangan pernikahan Jordan dan Jesi.
“Bukan bisa ditebak pikirkan Satya. Kenapa dia menghubungiku,”kata Adi.
“Jadi kamu tidak ingin mengangkatnya,”kata Robin yang hanya bisa menatap Adi saja.
“Mau angkat pasti besoknya dia datang ke kontrakanku. Jika diangkat pasti dia akan pertanya dengan berbagai macan hal,”ucap Adi yang masih bingung mau diangkat atau tidak.
“Angkat saja. Mungkin saja hal lain yang ditanyakan kepada Satya. Apa aku saja yang mengangkatnya?,”kata Robin yang memberikan usul.
Adi masih saja terdiam sampai ada panggilan lain bukan dari satya tapi dari Guntur. Adi kembali menghela nafas, Robin yang melihatnya mengambil ponsel Adi yang ada didepannya. Robin melihat ke layar ponsel kalau yang memanggil sekarang adalah Guntur.”Kurasa hanya dua orang ini saja yang berusah mengenal diri kamu yang sekarang Putra,”kata Robin.
“Iya tapi untuk kedua kakak kamu masih mencari keberadaan kamu. Tapi sampai sekarang masih tidak menemukan kamu.Kamu akan baik-baik saja dengan semua ini,”kata Robin yang merasa kalau kehidupan Adi sangat rumit.
“Itu lebih baik kalau kedua kakaknya tidak tahu kabar dari Putra bukan,”kata Mizan yang masuk ke dalam ruangan Robin bersama dengan Seta. Adi meneoleh dan melihat Mizan dan Seta datang ke cafe.
“Kalian berdua kenapa ada disini,”ucap Robin.
“Kenapa emangnya tidak boleh kami datang ke sini. Kami juga ada perlu dengan Putra kali,”kata Mizan.
“Katanya Sem kamu mendapatkan undangan dari Jordan dan Jesi ya Putra,”kata Seta.
__ADS_1
“Iya ini dia,”kata Robin sambil memperlihatkan undangan tersebut. “Kamu mau datang ke pernikahan kedua orang tua kamu Putra,”kata Seta. Adi hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Kenapa mungkin saja kamu bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya,”kata Mizan. Tapi Robin yang mendengar ucapkan dari Mizan membuat Robin curiga.
“Apa yang kalian katakan barusan Mizan. Hari terakhir, apa maksud kamu?,”kata Robin.
“Apa emangnya ada yang salah dengan apa yang aku katakan dengan hari terakhir. Tidak ada bukan. Aku hanya mengatakan kondisi Adi yang mengalami penurunan,”kata Mizan yang tidak bisa menyembunyikan semuanya.
“Mizan bisa kamu tutup mulut,”kata Adi dengan tajam. “Kenapa mereka berhak tahu kondisi kamu Putra,”kata Seta yang membela Mizan. Tapi pada saat yang sama semua anggota yang juga mendengar perkataan Mizan dan Seta dari balik dinding hanya diam saja. Mereka yang tidak tahu apa maksud dari Mizan dan Seta berkata kalau kondisi Adi mengalami penurunan.
“Mizan Seta apa yang kalian sembunyikan dari kami semua,”kata Robin dengan tegas.
Anggota khusus yang ada dibalik dinding hanya diam saja menuggu mereka berbicara.Mizan dan Seta hanya memandang Adi disamping mereka berdua.”Putra,”ucap Robin dengan dingin. Adi yang menghela nafas kalau dia tahu semua anggota sedang berkumpul dan bersembunyi di dekat cafe dan mendengarkan pembicaraan Adi bersama ketiga anggota khusus.
“Kalian sampai kapan akan terus bersembunyi,”kata Adi yang sudah tahu kehadiran mereka. Mereka semua yang sedang bersembunyi muncul dari jendela dan pintu. Adi hanya menatap mereka semua yang masuk ke dalam ruangan Robin di cafe.
“Putra apa yang kamu sembunyikan dari kami semua,”ucap Prita.
“Bukan kita keluarga,”kata Odi.
“Itu benar kita sudah menjadi sudarakan,”kata Mon.
“Apa itu sesuatu yang tidak bisa kamu katakan kepada keluarga dan sudara kamu Putra,”kata Sem.
“Ayolah kenapa kalian menekan Putra kaya gitu. Mungkin saja dia tidak bisa mengatakannya karena kita keluarga dan saudara dia,”ucap Blue.
“Tapi bukan lebih baik jika kamu mengatakan kepada kita semua. Mungkin saja kita bisa membantu kamu Putra. Jika kamu ada masalah,”kata Bon.
__ADS_1
Red yang mendekat kepada Adi yang masih duduk disofa. Dari belakang Red memeluk Adi.”Jika itu yang kamu mau kami tidak akan memaksa,”kata Red dengan lembut. Tapi Adi yang mendengar itu merasa terhibur sampai Seta dan Mizan memengang tangan Adi disamping mereka.
Adi melihat Seta dan Mizan yang setuju dengan mereka. Kalau Adi berhak memberitahu mereka dan berhak untuk menyembunyikannya. Tapi melihat mereka yang sayang dan selalu menjadi keluarga Adi. Mereka mendukung apa yang ingin Adi lakukan.
“Kenapa kalian menatapku dengan tatapan itu. Membuat aku tidak bisa berkata tidak tahu tidak,”ucap Adi. Adi yang menghela nafas melihat ke arah Seta dan Mizan soal kondisi dirinya.”Kalian berdua saja yang mengatakan saja. Tapi yang aku inginkan kalian bisa selalu bersama jika suatu saat nanti aku tidak ada,”kata Adi.
“Kenapa kamu berkata seperti itu,”ucap Blue.
“Itu benar seperti kamu mau pergi jauh saja,”kata Red. “Apa yang dikatakan oleh Putra ada benarnya. Kami berdua akan memberitahu kondisi Putra sekarang,”ucap Mizan.
Semua anggota khusus yang ada di ruanga sedikit menatap ke arah Mizan dan Seta.”Apa ini ada kaitannya dengan Putra jatuh dari tebing saat kecil,”ucap Sem.
Seta dan Mizan menganggukan kepalanya.”Apa ada kondisi dimana kalian melihat Putra menyembunyikan perilaku kalian kepada kalian semua?,”kata Seta.
“Ada tapi itu aku pikir kalau Putra hanya dalam kondisi tidak baik saja,”ucap Red.
“Itu benar kondisi Putra tidak baik. Ada racun dingin yang ada didalam tubuh Putra. Itu penyebabnya adalah penturan dari ketinggian dimana Putra jatuh dari tebing dan menghantam air laut yang dengan deras bersamaan dengan air laut yang dingin. Jika waktu itu kami tidak datang tepat pada waktunya mungkin saja Putra tidak ada sekarang,”kata Seta.
“Sejak kapan racun dingin itu ada didalam tubuh Putra,”kata Prita.
“Sejak kami selamatkan Putra. Waktu itu kondisi Putra sangat kacau. Apa lagi dengan bekas tembakan di jantung Putra,”ucap Mizan.
“Kami sudah membuatkan obat yang kedua. Tapi hanya bisa bertahan sampai 9 tahun saja atau tidak bisa saja kurang dari 9 tahun,”ucap Seta.
“Putra,”icap mereka semua yang sedikit marah terkejut menatap Adi.”Kenapa kamu tidak mengatakan hal yang berbahaya seperti itu kepada kami. Bukan kita sudah menjadi bagian keluarga kamu. Kamu itu adalah adik kami semua,”ucap Rabbit.
“Maaf aku tahu kalau kalian akan marah makanya aku tidak ingin memberitahukan kepada kalian. Jika semuanya belum selesai,”kata Adi.
__ADS_1
“Apa kamu hanya memikirkan rencana saja dari pada kondisi kamu sendiri. Kami ada disini selalu dibantu oleh kamu. Kami ingin menjadi kakak kamu yang baik Putra,”kata Blue.
“Iya aku minta maaf tapi sekarang kalian sudah tahu bukan. Tapi aku tidak mau dikasihani oleh kalian yang sudah menjadi keluargaku. Aku ingin seperti biasaya,”kata Adi. Semua hanya terdiam dan memalingkan wajah mereka dengan pikirkan mereka yang berbeda-beda.