
Robin yang melihat Adi dengan tatapan lega tidak seperti biasanya. Membuat dia merasa senang karena beban selama ini yang ada di dalam hatinya sudah berkurang satu. Cita yang sudah mati dengan anak buah yang dia bawa. Adi bersama dengan Robin pergi untuk mencari tempat untuk istirahat. Anak buah Adi dan Robin yang membersihkan semua kekacauan yang ada. Robin yang sudah membersihkan tangan Adi yang berlumur darah.
“Kita pulang sekarang,”ucap Robin. Adi hanya menganggukan kepalanya dan mereka berjalan meninggalkan lokasi berdarah bersama dengan Cita dan anak buahnya. Sampai di kontrakan Seta dan Mizan yang masih di kontrakan melihat mereka berdua.
Tapi mereka berdua mencium bau darah di tubuh Adi dan Robin.”Apa yang sedang terjadi, sampai kalian berdarah?,”kata Mizan.
“Itu karena Cita datang dan membuat Putra marah,”kata Robin. Adi yang berjalan ke kamar mandi setelah meletakan tas dilantai. Tapi wajah Seta dan Mizan yang terlihat sedikit cemas dengan Adi yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
“Apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka berdua bisa bertemu?,”kata Seta yang penasaran. Mizan juga ikut menatap Robin yang ada didepannya.
“Itu karena beberapa hari ini Putra selalu diawasi oleh Cita. Malam ini dia juga datang membawa anak buahnya untuk membawa Putra. Tapi Putra tidak mau sampai Cita mengatakan kata yang membuat dia marah sampai dia menyuruh anak buahnya datang berkumpul untuk mengepung mereka,”kata Robin.
“Lalu apa terjadi perkelahian,”kata Mizan.
“Tidak bisa dibilang perkelahian kalau aku melihat. Karena kemampuan anak buah Adi dengan anak buah Cita berat sebelah,”kata Robin.
“Lalu bagaimana dengan Cita?,”kata Mizan.
“Dia sudah mati bersama dengan anak buahnya. Putra yang menusuknya sendiri,”kata Robin.
“Jadi Cita sudah tiada ya tinggal orang dibaliknya yang belum diselesaikan,”kata Seta.
“Itu benar. Tapi kenapa kalian bisa ada di sini,”kata Robin mengubah topik pembicaraannya.
“Kenap tidak boleh jika kami datang untuk berkunjung. Kami datang ke sini juga untuk membantu Putra,”kata Mizan.
“Itu banar. Tapi sekarang bagaimana dengan rencananya,”kata Seta.
__ADS_1
Sem yang datang dari balik pintu tidak salah mendengar perkataan mereka dan berkata.”Kita akan tetap pada rencananya karena tidak ada yang berubah jika Cita mati. Tapi yang terpinting adalah bagaimana kabar ini akan menyebar,”kata Sem.
Robin menoleh ke belakang dan menatap Sem yang masuk ke dalam ruangan.”Kenapa kamu ada disini?,”kata Robin.
“Kenapa karena ada kabar Putra membunuh rubah jelek itu. Makanya aku ingin melihat ke lokasi dan sampailah ke sini,”kata Sem yang langsung duduk.
“Tapi dimana Putra?,”kata Sem yang melihat kesegala arah.
“Dia mandi,”kata Seta.
“Baguslah karena mulai sekarang. Adi harus fokus pada ujian kenaikan kelas,”kata Sem.
“Betul itu sudah waktunya ujian ya,”kata Mizan sambil menggenggam tangannya dan memukul satu telapa tangannya yang terbuka.
“Jika seperti itu kurasa ada waktu untuk Adi cuti untuk belajar,”kata Robin.
“Tidak kami sedang membahas proses belajar kamu untuk menghadapi ujian kenaikkan kelas,”kata Seta.
“Ohh soal itu,”ucap Adi yang acuh tak acuh.
“Kenapa kamu berwajah datar saja inikan mengikat masa depan kamu Putra,”kata Mizan.
“Iya aku tahu. Tapi soal SMP sudah aku pelajari jadi bagiku mudah saja hanya sedikit memanipulasi hasil jawaban saja agar bisa rata-rata saja agar tidak menonjol,”kata Adi yang mengambil tasnya.
Adi yang mengeluarkan buku catatan dia karena ada pekerjaan rumah yang harus dia kerjakan. Tapi sebelum masuk ke dalam kamar Adi meminta Mizan untuk membuat cemilan untuk dia.”Mizan buatkan aku cemilan ya nanti bawa ke kamarku. Ada pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan,”kata Adi yang bersikap pada anak pada umumnya.
“Baik Putra kamu masuk saja nanti aku buatkan cemilan untuk kamu,”kata Mizan yang berdiri dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
“Kurasa sudah lama tidak melihat pemandangan ini dari Putra ya,”kata Robin.
“Itu benar,”kata Sem yang juga sangat senang. Seta dan Mizan yang tidak tahu apa yang mereka kagumi hanya bertanya.”Emangnya dulu Putra bagaimana?,”kata Seta.
“Dulu ya dia sangat waspada dan berhati-hati karena banyak orang yang mengincar nyawa dia setelah kematian ibunya Mia,”kata Sem.
“Jadi dulu Putra tidak bahagia ya. Tapi bagaimana dengan ayahnya sendiri?,”kata Seta.
“Ayahnya ya dia baru sadar setelah kematian ibu Mia. Dia berusaha mencari tahu keberadaan Putra sampai sekarang. Tapi setelah kematian palsunya mungkin saja ayahnya sudah mengganti dengan anak orang lain dan wanita lain,”kata Robin.
“Tapi kenapa Putra tidak mencari ayahnya?,”ucap Mizan.
“Itu karena Putra tidak ingin bertemu dengan ayahnya. Tapi Putra selalu mengawasi ayahnya dari jauh apa yang dia lakukan sama seperti ibunya dulu mengawasi dari jauh,”kata Sem.
“Putra mengawasi ayahnya tapi tidak mau bertemu kenapa?,”kata Seta.
“Itu mungkin saja karena kebencian ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Kami juga tidak tahu,”kata Sem. Mizan yang sudah selesai membuat cemilan dan minuman segera berjalan ke amar Adi. Mizan mengetuk pintu yang kemudian masuk ke dalam dan menaru cemilan dan minuman yang sudah dibuat oleh Mizan.
Mizan yang didalam kamar Adi hanya bisa terdiam melihat Adi mengerjakan tugas sekolahnya. Selesai mengantarkan cemilan dan minuman Mizan kembali keluar berbicang kembali bersama dengan Sem dan Robin.
Sementara Adi dia dalam kamar yang menyelesaikan pekerjaan rumah dengan setiap mata pelajaran ada tugasnya. Adi menyelesaikan pekerjaannya dan membuka laptop melihat ada email atau tidak. Adi yang melihat ada email masuk dia membacanya ternyata dari penerbit kalau dia akan mencetak komik kedua yang dibuat oleh Adi.
Adi hanya tersenyum saja sampai dia mekana cemilan yang dibuat oleh Mizan. Sambil membaca buku pelajaran tingkat universitas. Karena Adi telah menyelesaikan tugas sekolah dengan mudah. Tapi saat Adi membaca terlintas satu ide yang membuat dia ingin menulis novel terbarunya. Adi kembali memengang laptopnya dan mulai menulis apa yang dia pikirkan.
Adi yang menulis novel sambil makan cemilan dan meminum jika haus. Hati Adi yang bisa lepas dengan satu permasalahan yang ada. Tapi pada saat sedang hati baik Adi batu darah yang membuat Adi termenung.”Ohh iya masih ada satu hal lagi dengan kondisiku yang belum kembali pulih. Tapi apa dengan rencana yang aku buat bisa terselesaikan dengan baik. Sebelum aku pergi,”kata Adi membersihkan darah yang ada di tangan dan mulutnya.
Adi yang tidak ingin Robin dan Sem tahu tentang penyakitnya. Karena masih ada waktu yang dia butuhka untuk semuanya selesai. Adi harus bisa bertahan dengan rasa sakit yang dia rasakan.”Aku ingin segera semua ini berakhir,”ucap hati Adi sambil menatap keluar jendela kamar.
__ADS_1
Dimana Adi bisa melihat bintang yang bercahaya. Karena udaranya sangat bagus Adi mengambil laptopnya sambil merasakan suasana malam yang penuh dengan bintang.