Aku Selalu Melihat Kamu

Aku Selalu Melihat Kamu
ASMK 144


__ADS_3

Chen yang sedang berpikir dengan pertanyaan tamu yang menayakan darai mana asal nama menu ini berasal. Tapi Chen yang tidak membaca buku mana dia tahu kalau ada nama yang sama seperti di komik dan novel. Karena inspirasinya dari dia berpetualangan di tempat yang berbeda dari tempat ini.


“Kenapa diam saja kak,”ucap Rey.


“Itu pertanyaan yang membuat kakak bingung dek,”ucap Chen.


“Bingung dari mananya,”kata Rey.


“ Mungkin saja inspirasinya bukan dari novel datau komik Guntur tapi dari pengalaman yang tidak mengenakan. Seperti itukan kak,”ucap Roy.


“Ita itu benar,”ucap Chen. “Tapi kakak pengalaman apa sampai kakak tidak mau mengubah nama menunya,”kata Satya.


Chen hanya tersenyum saja dan meninggalkan tempat mereka berempat karena dia harus kembali ke ruangannya.”Maaf kakak harus kembali berkerja, nikmati saja makanan kalian,”kata Chen yang meninggalakan mereka pergi.


“Baik kakak, maaf mengganggu kesibukkan kakak,”kata Roy. Kembali mereka menikmati makanan yang mereka pesan. Postingan yang dibuat oleh Rey juga sangat bermanfaat bagi cafe nanti karena respons yang diberikan oleh pembacan sangat baik.


Tapi disela mereka menikmati cemilan mereka ada tamu datang dan dia berpakaian sangat tidak asing bagi mereka berempat. Karena merasa penasaran mereka melihat sampai mereka menyadari sesuatu dari penampilan mereka.”Bukan itu adalah anak buah Cita ya,”ucap Roy dengan berbisik ke telinga Rey. Rey yang mengangguk kepada Roy tapi mata Satya dan Guntur yang melihat sikap dari Roy dan Rey agak berbeda hanya menebak saja.


Kalau yang datang itu bukan orang baik tapi yang membuat mereka berdua penasaran adalah siapa anak yang bersama dia itu.”Siapa anak itu?,”kata Satya.


“Bukan dia anak yang sama saat dimuseum ya,”kata Guntur yang mengingat orang dengan baik.


“Dia Cahya,”ucap Roy.


“Cahya,”kata Satya.


“Bukan kalian tahu dia anak yang dibawa oleh Cita untuk merebut warisan,”kata Rey. Satya dan Guntur menganggukan tanda mereka paham. Tapi mereka kemballi menghabiskan makanan yang mereka pesan sambil melihat ke arah binatang.


Tapi mereka yang masih menatap rubah sembilan ekor yang melihat ke arah mereka.”Kenapa aku merasa kalau binatang itu melihat kita terus ya,”kata Guntur.


“Emang bukan perasaan tapi kenyataan rubah itu melihat kita. Aku juga tidak tahu kenapa dia menatap kita, tapi biarkan saja asalkan tidak membawa malapetaka bukan,”kata Roy.

__ADS_1


“Bicara mala petak kenapa rubah sembilan ekor ada disini bukan dia sangat langkah di tambah lagi rubah itu bukan hanya legenda saja ya,”kata Satya.


“Secara spesifik iya. Tapi setelah melihat dengan mata kita sendiri bagaimana dong,”kaa Rey sambil menunjuk ke arah rubah.


“Itu benar juga,”kata Satya. Mereka hanya menghela nafas dengan suasana cafe mulai sedikit berbeda.”Kita mau pesan untuk dibawa pulang atau tidak,”kata Guntur.


“Kurasa tidak adikku tidak ada di kamarnya,”ucap Roy.


“Kemana emangnya dia pergi,”kata Guntur.”Dia tidak bilang hanya mau jalan-jalan melihat buku,”kata Roy.


“Apa dia pergi ke perpustakaan yang ada disekitar sini,”ucap Satya.


“Emangnya ada kah,”kata Rey.”Ada, mau pergi ke sana,”kata Satya. Mereka bertiga sorak berkata tidak karena mereka ingin segera kembali ke hotel.


Satya yang melihat sikap mereka hanya bisa menghela nafas.”Kita kembali sekarang,”ucap Satya yang melihat jam tangan.


“Sudah waktunya kita kembali ya. Ayo,”ucap Guntur. Rey dan Roy yang berdiri dan disusul oleh Satya dan Guntur menuju kasir dimana mereka harus membayar makanan yang mereka pesan.


“Kakak semuanya berapa,”kata Roy.


“Sudah ini notanya. Terima kasih atas kunjungannya datang lagi yang dek,”kata pelayan kasir.


“Iya kak,”kata Rey. Roy yang sudah berjalan lebih dulu menuju pintu keluar bersama dengan Satya. Tapi saat yang sama Cahya melihat mereka berempat yang tidak perduli dengan Rey dan Roy. Karena Cahya belum mengenal mereka berdua.


Tapi saat Roy membuka pintu dari dalam untuk keluar. Ada yang masuk dari luar yang membuat Roy sedikit menghindar tapi Roy sedikit merasakan aura pembunuh didepan dia. Yang membuat Roy mendongkak melihat ke arah depan. Mata Rey bersama dengan Satya dan Guntur juga melihat ke depan.


“Halo adik kecil kenapa kamu bisa ada disini,”kata Won yang kebetulan ingin bersantai dan bertemu dengan Rey dan Roy.


“Halo kakak, kami ingin keluar bisa memberikan jalan untuk kami pergi dari pada mengganggu tamu yang lain,”kata Roy yang dingin. Won yang juga mengenal ke empat anak didepannya adalah kakak dan teman dari Adi.


“Tentu saja, hati-hati dijalan ya,”ucap Won yang memberikan sedikit jalan agar mereka bisa keluar.

__ADS_1


Rey, Roy , Satya dan Guntur yang pergi keluar cafe alam. Dimana mereka merasa kalau ada yang mengikuti mereka.”Kurasa mereka menyuruh orang lain untuk mengikuti kita, bagaimana sekarang,”kata Rey.


“Mau bagaimana lagi kalian berdua bisa berkelahi bukan,”kata Satya.


“itu benar tapi bagaimana dengan kalian berdua. Apa mau ikut juga dalam pertingkaian,”kata Roy.


“Aku sih tidak mau. Tapi kalau mereka yang bertindak lebih dulu mau bagaimana dong,”ucaP Satya.


“Aku ma terserah saja karena kita sudah terkepung,”kata Guntur.


“Sejak kapan mereka ada disini,”kata Rey. Musuh yang siap untuk membunuh mangsanya. Karena sesudah mereka keluar dari cafe alam. Won memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mereka dan jika ada cela untuk menghabisi keempat anak itu untuk memberitahukan kepada Adi siapa musuhnya.


Roy bersama dengan ketiga  orang yang mengikutinya sudah terkepung di dalam gang yang sepempit dan sepi.”Hai Satya coba kamu hubungi kakak kamu untuk datang ke sini,”kata Rey.


“Baiklah aku akan menghubungi kakakku. Tapi kalian bisa menghadapi mereka semua untuk mengulur wkatu agar kakakku bisa datang ke sini,”kata Satya.


“Tentu saja bisa. Guntur bagaimana dengan kamu apa bisa membantu,”kata Roy. Guntur yang sudah memasang sarung tangan yang selalu dia bawa. Jika disaat seperti ini dia dalam kondisi tidak baik atau musuh datang mencarinya karena pamannya.


“Kamu tidak usah khawatir aku bisa menjaga Satya,”kaa Guntur.


“Baiklah jika tidak sanggup bilang ya,”kata Roy.


“Ok,”kata Guntur. Musuh yang berbadan besar mengepung anak SD yang masih kecil-kecil.”Apa bos serius untuk mengalahkan mereka yang tidak bisa berkelahi ini dengan jumlah yang banyak ini,”kata anak buah Won yang baru saja masuk dalam organisasi.


“Kamu jangan meremehkan anak itu. Mereka bisa berkelahi ya,”kata musuh yang lain yang satu profesi.


“Serang mereka,”kata pimpinan penyergapan. Rey dan Roy yang mulai menyerang dengan hati-hati. Guntur yang bersama dengan Satya yang mencoba menghubungi kakaknya. Tapi tidak ada jawaban,”Kemana kakak pergi dalam kondisi hidup mati kakak tidak angkat.” Satya yang mencoba menghubungi Kakaknya kembali dan tersambung.


“Kakak dimana kenapa baru diangkat sekarang. Cepat datang ke sini kakak, kami terkepung,”kata Satya yang melihat Guntur sedang berkelahi dengan musuh yang lebih besar dari dirinya.


“Guntur awas belakang kamu,”kata Satya. Yesa yang masih terhubung dengan Satya mendengarnya dan langsung bergerak menuju tempat adiknya.

__ADS_1


“kamu dimana sekatang,”kata Yesa. Tapi ponsel mati karena Satya diserang oleh musuh. Guntur yang melihatnya langsung manarik Satya dan menendang musuh yang mencoba melukai Satya.


“Kamu tidak apa-apa,”kata Guntur.


__ADS_2