
Mia yang tertidur lelap bermimpi bertemu dengan orang tuanya yang meminta maaf karena harus meninggalkan Mia sendiri di kehidupannya. Mia yang melihat orang tuanya menjauh dia memanggil ayah dan ibunya sampai di dunia nyata Meri terbangun lalu menangis.
“Ayah ibu aku ingin bertemu denganmu,”ucap Mia sambil menangis.
Mia yang ada dalam kamar sedang merindukan orang tuanya yang tidak ad. Tanpa dia sadari kalau Ben yang mengantarkan makanan untuk dia mendengar Mia menangis. Tapi dia tidak ingin meneminya apa lagi kabar buruk akan datang kepadanya lagi.
“Semoga saja teman dia tidak mengatakan kalau dia menerima tembakan dari Jordan,”ucap Ben yang gelisah.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Di tempat lain Irma dan Jordan yang malam itu pulang bersama dan makan bersama semakin nyaman sampai mereka mengobrol satu sama lain. Hingga pagi Jordan menjemput Irma ke sekolahan. Seperti biasa dia menuggu Mia untuk berangkat bersama tapi Mia yang selalu menuggu tidak ada di persimpangan. Hanya bertemu dengan Ben,”Hai Ban mana Mia.”
“Mia,”ucap Ben yang tidak tahu.”Bukan kalian satu blok yang sama, masak kamu tidak tahu dia ada dimana,”kata Irma yang merasa khawatir dengan Mia.
“Aku tidak tahu dimana dia rumahnya juga kosong,”ucap Ben yang berbohong.”Apa kamu yakin tidak tahu?,”ucap Jordan yang membantu Irma.
“Serius aku tidak tahu, tapi kenapa kalian bisa bareng kali ini. Apa kalian sudah jadian?,”ucap Ben yang spontan.
Irma dan Jordan yang mendengar itu dengan serentak berkata,”Tidak ya.” Lalu mereka berdua saling bertatapa satu sama lain dan kemudian Ben yang melihat itu hanya berjalan saja tanpe menghiraukan mereka.”Hai Ben tunggu,”ucap Jordan yang langsung berlari ke arah ben yang sudah mendahuluinya.
Di perjalanan menuju sekolah Jordan berbicara dengan Ben kalau dia akan menembak Irma dauhari lagi. Ben yang mendengarnya hampir terkejut tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia dalah teman dekatnya. Dia hanya bisa mendukung apa yang dia inginkan karena baru pertama kali dia menyukai gadis lain.
__ADS_1
Iram yang dibelakang mencoba menghubungi Mia tapi tidak ada respon apa-apa. ”Apa terjadi sesuatu kepada dia ya,”ucap Irma dalam hati. Irma yang tidak tahu hanya bisa menuggu kabar dari Mia. Sampai di sekolahan tidak ada pemberitahuan apa-apa tentang Mia, hanya wali kelas memberikan kalau Mia Ijin bertemu dengan orang tuanya.
Irma yang mendengar kabar itu merasa lega kalau dia pasti menjemput ayah dan ibunya dibandara. Irma yang tidak tahu kalau Mia yang mengalami sakit batin karena kehilangan orang tuanya. Di sore hari dia bertemu dengan Jordan. Mereka yang saling akrab dan saling bertukar pikiran bersama. Dua hari telah berlalu dimana Jordan akan menembak Irma di taman sekolahan setelah dia balik dari klub.
Mia yang sudah mulai tenang melakukan aktifitasnya biasa dan masuk sekolah. Seperti biasa Meri yang sudah menyiapkan bekal dan buku yang akan dia bawa. Menghela nafas,”Ayo Mia mulai jalan baru dimulai.”
Mia yang membuka lembaran baru dengan hidup sendiri kleuar dari rumah. Tapi di depan rumahs udah ada Ben yang menuggu.”Mau berangkat,”ucap Ben melihat ke arah dia
“Tentu saja,tapi kenapa kamu di sini kak,”kata Mia yang tidak tahy.
“Kenapa aku hanya kebetulan saja ingin berangkat. Ayo berangkat,”ucap Ben. Mereka berdua yang berangkat bersama sampai di persimpangan Mia bertemu dengan Irma dan Jordan yang sudah mulai akbra.
“Mereka semakin akur saja,”ucap hati Mia yang menahan rasa. Mia yang menyapa mereka berdua seperti tidak terjadi apa-apa.”Pagi Irma pagi Jordan,”ucap Mia yang tersenyum.
“Maaf beberapa hari ini aku bersama dengan orang tuaku,”ucap Mia yang berbohong. Ben yang mendengarnya hanya bisa terdiam dan berjalan menuju sekolah.
“Apa ada tugas saat aku tidak berangkat Irma?,”ucap Mia yang mengubah topik.
“Ada, nanti aku akan pinjamkan catatan untuk kamu selama beberapa hari ini,”ucap Irma yang merangkul Mia.
Mia yang meliha perubahan Irma hanya bisa tersenyum kalau temannya bahagia. Tapi Mia yang tidak tahu apa yang membuat Irma bahagia sampai seperti ini. Tapi jika itu baik untuknya aku hanya bisa mendukung dia. Tanpa Mia sadari kalau Jordan melihat ke arah Irma saat menuju ke sekolahan. Mia yang melihat mata Jordan hanya bisa menebak saja.”Mungkin aku harus melupakannya,”ucap Mia yang sudah menderita.
__ADS_1
“Biarkan mereka bahagia selama mereka juga bahagia,”kata Mia dalam hati. Sampai mereka sampai di sekolahan Mia dan Irma menuju kelas. Tapi Mia yang ingin menuju kelas harus bertemu dengan wali kelas terlebih dahulu.”Irma kamu pergi dulu saja, aku ingin pergi ke ruang guru dulu,”kata Mia.
“Ok,”ucap Irma yang bersama mereka berdua pergi ke kelas. Mia yang lewat lorong yang berbeda mejuju ruang guru dan bertemu dengan walinya.
“Maaf pak sudah ijin selama dua hari ini,”ucap Mia. Tapi respon yang diberikan oleh walinya langsung memeluk Mia yang ada dihadapanya.”Untuk apa kamu meminta maaf. Jika ada masalah bilang ke bapak, nanti bapak bantu. Sekarang kamu harus memulai hidup yang baru tanpa orang tua kamu. Bapak ikut berduka soal orang tua kamu,”ucap Wali kelasnya.
“Terima kasih pak, tapi Mia baik saja,”ucap Mia yang tersenyum.”Jika ada apa-apa kamu bilang ke bapak nanti bapak bantu jangan sungkan untuk bertanya,”kata walinya. Mia hanya bisa berterima kasih kepada wali kelasnya sampai bel berbunyi Mia ijin untuk keluar untuk mengikuti pelajaran.
Wali kelasnya yang mengijinkan Mia untuk keluar. Tapi tidak tahu kenapa Mia yang tidak ingin lewat gedung belakang ingin lewat gedung belakang. Mia yang berjalan sambil menikmati angin yang berhembus sampai dia mendengar suara yang tidak asing. Dari jauh dia melihat Irma bersama orang lain. Awalnya Mia ingin memanggil dia setelah lebih dekat tapi dia melihat orang yang disampingnya adalah Jordan.
Mia langsung sembunyi dan melihat apa yang mereka lakukan.”Maaf Irma aku mengaja kamu datang ke sini. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu,”ucap Jordan yang sediki ragu.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?,”kata Irma yang juga merasa malu.
“Nanti habis selesai klub apa kita bisa bicara di tempat ini. Berdua saja,”ucap Jordan.
Irma hanya menganggukan kepalanya saja sampai Jordan pergi dari tempat mereka berdua. Setelah pembicaraan itu Irma dan Jordan pergi bersama menuju kelas. Tapi Mia yang tidak sengaja mendengarnya hanya bisa berdiam diri sambil bersembunyi.
“Apa Jordan ingin menembak Irma?,”ucap Mia sambil menebak. Tapi tanpa sadar Mia meneteskan air mata setelah tahu kalau sikap yang diberikan oleh mereka berdua berbeda. Mia yang mencoba untuk tenang dan berjalan kembali menuju ke ruang kelas. Tapi Mia yang tidak fokus karena menghapus air matanya menabrak seorang.
“Maaf,”kata Mia yang melihat kedepan. Tapi yang Mia lihat adalah Ben,”Kenapa kamu di sini?.”
__ADS_1
“Aku yang harusnya bertanya kenapa kamu di sini dan mata kamu merah. Apa kamu menangis lagi?,”ucap Ben yang melihat apa yang sedang terjadi di belakang gedung.
Mia hanya tersenyum saja kepada Ben tapi dengan tangan satu jari menutup ke arah bibirnya. Untuk Ben tidak mengatakan apa-apa kepada orang lain. Ben hanya menghela nafas,”Sana pergi ke kelas.” Mia pergi ke kelas yang ditemani oleh Ben.”Jika ada masalah kamu boleh cerita,”ucap Ben sambil memegang kepalanya. Mia yang melihat hanya masuk ke d