Aku Selalu Melihat Kamu

Aku Selalu Melihat Kamu
ASMK 17


__ADS_3

Irma yang kecepelosan berkata seperti itu hanya memalingkan wajahnya kepada Mia.”Kenapa kamu diam saja Irma,”kata Mia yang menahan tangis.


Mia yang bisa melupakan ornag tuannya kini dia mengingar rasa sedih yang dia alami sampai kepala Mia merasa sakit. Tapi Mia menahan rasa sakitnya dengan menenangkan dirinya setelah dia menghela nafas.


Irma yang tidak ingin mengatakannya hanya bisa menari Jordan untuk pergi dari mereka berdua. Tapi Mia menahan tangan Irma karena dia ingin tahu kebenarannya.”Irma kamu mau kemana. Kamu harus menjelaskan kepadaku kenapa kamu bisa tahu kalau orang tuaku tidak ada,”kata Mia yang masih menahan tangan Irma.


Tapi irma yang berakting di hadapan Jordan dengan air mata yang mengalir karena kesakitan oleh Mia. Sementara Mia yang tidak memegang tangan Irma dengan erat. Mendapatkan tatapan dingin oleh Jordan sampai Mia di dorong olehnya dengan sangat kuat.


“Kamu menyakiti Irma,”kata Jordan yang mendorong Mia. Mia yang terdorong jatuh ke lantai Ben yang ada didekatnya langusng membantu Mia.


“Kamu tidak apa-apa Mia,”ucap Ben yang khawatir. Mia hanya menggelengkan kepalanya sampai dia merasakan tubuhnya sakit semua. Mia yang menahan rasa sakit itu hanya bisa pulang kerumah diantar oleh Ben. Sampai di rumah Ben yang masih khawatir dengan Mia hanya menatap saja.


Tapi Mia yang mencoba menyembunyikan rasa sakit itu langsung masuk ke dalam kamar. Mia yang langsung berbaring di atas kasur karena kepalanya yang mulai sakit dan tubuhnya seperti tertusuk oleh jarum. Mia yang tidak tahu malam itu langsung tertidur karena rasa sakit yang dia miliki.


Mia yang terbangun di pagi hari denga tubuh yang lemah membuat dia harus menenagkan dirinya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi wali kelasnya kalau dia izin tidak masuk kelas hari ini karena tidak enak badan. Mia yang mencoba untu berjalan dengan tubuh yang lemah pergi ke rumah sakit.


Karena dia sudah membuat janji dengan dokter kalau dia akan datang berkunjung. Mia yang pergi sendiri tanpa ada yang tahu Mia masuk ke ruang dokter.


“Kamu sudah datang Mia,”ucap dokter Petra.


“Iya dok,”ucap Mia yang lemas dan pucat. Dokter petra yang melihat langsung menghampiri Mia yang terlihat tidak baik.”Kamu baik saja kenapa tubuh kamu dingin,”ucap Dokter Petra.


“tidak mungkin terlalu banyak beban pikiran,”ucap Mia yang tiba-tiba dia pinsan di hadapan dokter Petra.

__ADS_1


Dokter Petra yang melihat Mia tiba-tiba pinsan dengan sigap dia langsung membawa dia ke kasur pasien dan memeriksanya. Tapi dokter Petra yang dengan tenang sudah memeriksa hanya menghela nafas.”Kenapa anak ini samakin parah saja penyakitnya,”ucap dokter petra yang mengambil obat infus untuk diberikan kepada Mia.


Mia yang masih berbaring lemas membuka matanya dan melihat dokter petra yang ada disampingnya.”Kamu sudah sadar,”kata dokter petra yang menuggu Mia bangun dari pinsannya.


“Maaf membuat kamu gelisah dok,”kata Mia yang merasa bersalah.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu sampai kamu mendapatkan lukas di tambah lagi hasil ronsen kamu sudah keluar,”kata dokter Petra.


“Apa hasilnya tidak baik,”ucap Mia yang bisa menebak. Dokter petra hanya menghela nafas,”Aku harus bertemu dengan wali kamu Mia.”


Mia yang mendengar itu hanya bisa melihat ke arah lain.”Kenapa kamu diam saja,”ucap Dokter petra. Mia yang mencoba tenang langsung mengatakan kepada dokter petra kalau kedua orang tuanya sudah tidak ada karena kecelakaan pesawan beberapa bulan yang lalu.


Dokter petra yang mendengarnya merasa bersalah dengan Mia sudah menayakan hal yang sensitif. Tapi Mia hanya tersenyum dan berkata kalau dirinya tidak apa-apa. Sampai Dokter mengatakan hasil ronsenya kalau Mia mengalami kangker otak stadium awal. Jadi bisa melakukan terapi sederhana dan memakan obat yang teratur.


“Jika aku mengatakan kamu jangan pinsan ya,”kata dokter petra. Mia hanya menganggukan kepalanya sampai Mia mendengar kata dokter Petra kalau jumlah biaya obat dan terapinya sampai 10 juta ke atas. Mia yang mendenganya merasa terkejut tapi dia tahan agar dokternya tidak khawatir.


“Aku tahu kalau ini mahal, aku bisa membantu meringankan beban kamu jika kamu mau,”kata Dokter Petra.


“Aku akan memikirkannya dulu,”ucap Mia yang masih harus kerja keras mencari uang untuk obat dirinya. Mia yang sudah tiga hari di rumah sakit untuk perawatan keluar dengan membayar semua biaya administrasi.


Mia yang keluar dari rumah sakit dengan berbagai kebohongan yang dia buat agar keluarga Ben tidak khawatir  dengan dirinya. Mia yang sudah tenang melihat Ben yang ada didepan rumahnya.”Apa yang kamu lakukan di sini Ben?,”ucap Mia dari samping.


Ben yang terkejut karena Mia ada di sampingnya,”Kamu sudah pulang dari jalan-jalannya.”

__ADS_1


“Iya,”ucap Mia dengan santai.”Mau masuk,”ucap Mia. Tapi respon yang diberikan oleh Ben adalah penolakan sampai dia memberikan kertas kepada Mia. Mia yang tidak tahu apa isinya hanya melihat Ben yang sudah pergi.


“Apa isinya,”ucap Mia yang membuka dan membacanya.


Berjalan masuk ke dalam rumah dan menuju kamar meletakkan semua barang yang dibawa Mia. Setelah semua ditata rapi Mia duduk di kasur sambil membuka surat dari Ben. Perlahan dan pasti Mia membaca isi surat yang memberitahukan kalau Ben akan kuliah di kota b dan jauh dari rumah. Di dalam surat yang di tulis juga memberitahukan kalau Jordan juga akan kuliah di kota b tapi berbeda universitas.


Tapi Mia yang membaca bagian akhir dari isi suratnya kalau Jordan dan Irma akan bertunangan dua bulan lagi. Mia yang membaca itu hanya bisa terdiam dan melipat kembali isi surat Ben dan melihat ke arah jendela kamarnya.


“Aku tidak boleh menangis,”ucap Mia yang melihat ke arah langit.


Semoga mereka bahagia dengan Mia yang menagis karena Jordan juga akan bahagia. Mia yang merasakan kepalanya sakit meminum obatnya dan berbaring.


Sampai malam tiba Mia mendapatkan pesan masuk dari editor kalau novelnya laku banyak den royalitasnya sudah dikirim ke rekening Mia. Mia yang melihat rekeningnya kalau hasil dari novelnya telah masuk dengan jumlah uang 20 juta. Mia sangat senang dengan hasil yang diperoleh sebagian dari uangnya bisa dia gunakan untuk membeli obatnya dan sebagain untuk kehidupan kesehariannya sampai dia bisa lulus.


Mia yang sudah mendapatkan kabar itu mencoba menenangkan dirinya sampai hari demi hari Mia fokus mencari uang dari novel sampai penjualan baju online. Hingga Mia menginjak kaki di kelas 3 dimana Mia sibuk dengan kegiatan klub sampai ujian kelulusan.


Mia yang sudah tiga tahun hidup dalam kesendirian dan mandiri. Sampai dia juga melihat orang yang dia sukai bertunangan dengan wanita lain. Tapi Mia yang tidak ingin mempermasalahkan semua itu hanya bisa menjalani hidupnya dengan normal dan rasa syukur. Sampai dimana Mia haru kontrol ke rumah sakit.


“Sudah waktunya ya,”ucap Mia yang telah selesai dengan urusan akademi waktu itu. Mia yang pulang dari sekolah menuju rumah sakit dimana dia akan kontrol. Mia yang menuju rumah sakit dengan santai dengan hati terkontrol. Tapi tidak ada yang tahu kalaua da beban berat yang akan datang menghampiri Mia saat insiden itu terjadi. Dimana Mia bukan pelakunya tapi harus membayar semua kerugian yang harus dilakukan.


Sampai di rumah sakit dia menuju ke ruang kasir yang menayakan dokter petra apa sudah ada di ruangannya. Setelah dia mendapatkan informasi dari perawat kalau dokter Petra sudah menuggu. Mia berjalan menuju ruang dokter petra yang tidak tahu dia melihat Irma bersama wanita lain. Tapi Mia yang tidak tahu siapa dia  hanya mengabaikannya karena dia tidak ingin ikut campur dalam urusan Irma lagi. Setelah apa yang terjadi denganya beberapa tahun yang lalu. Mia yang masih melanjutkan berjalan menuju ruang dokter petra.


Mia yang tidak tahu kalau Irma melihat dia berjalan tanpa membantu dia. “Mia,”kata Irma yang mendapatkan tamparan dari adiknya.

__ADS_1


__ADS_2