Aku Selalu Melihat Kamu

Aku Selalu Melihat Kamu
ASMK 7


__ADS_3

Mia yang sudah masuk ke dalam rumah langsung dudul lemas di depan pintu sambil menangis. Orang tua Ben yang mendengar dari luar tidak bisa berbuat apa-apa.”Anak yang malang,”ucap ayah Ben sambil mengemudikan mobil menuju rumah. Sampai di rumah mobi sudah masuk ke dalam bagasi.


Ben yang masih di ruang tamu menuggu orang tuanya datang sementara adiknya lakinya yang sudah tidur karena lama menuggu.Ben yang mendengar suara mobil menuju bagasi. Melihat orang tuanya yang keluar Ben yang mencari Mia tidak melihat. Tapi raut wajah orangtuanya membuat Ben bingung.


“Ayo kita masuk dulu,”ucap Ayah Ben. Ayah dan ibu masuk bersama dengan Be sampai ibu berkata menayakan adiknya.”Adik sudah tidur di kamar,”ucpa Ben.


Sampai di ruang tamu Ayah dan Ibu duduk Ben yang tidak tahu harus bertanya apa hanya bisa terdiam sampai orangtuanya berbicara. Dua menit telah berlalu ibu berkata kepada Ben kalau temannya Mia mengalami duka dalam karena orang tuanya merupakan salah satu korban yang tidak selamat. Ben yang mendengar cerita ayah dan ibunya merasa prihatin dengan Mia yang mengalami luka batin setelah kepergian orang tuanya.


“Lalu dimana dia ayah ibu,”ucap Ben.


“Dia tinggal di rumah sendiri. Ibu sudah mengajaknya tapi dia menolaknya. Kurasa nak Mia membutuhkan waktu untuk sendiri makanya ayah dan ibu tidak ingin memaksa dia,”ucap Ibunya.


“Lalu kapan orang tua Mia akan dikebumikan,”ucap Ben.


“Besok,”ucap Ayah.”Apa Mia tidak memiliki keluarga dekat, bukan tidak baik jika dia tinggal sendirian setelah orang tuannya tidak ada,”ucap Ben.


“Dia tidak memiliki keluarga dekat jika Mia mau bisa tinggal dengan kita di sini,”ucap Ayah dan ibu yang sudah berunding.


Setelah pembicaraan selesai ayah dan ibu Ben beristirahat di kamar sedangkan Ben yang masih di ruang tamu masih termenung. Dengan apa yang terjadi dengan Mia,”Kenapa dia selalu menderita ya.”


Ben yang merasa tidak nyaman keluar dari rumah dan menuju rumah Mia di luar rumah Mia dia ingin masuk tapi dia urungkan. Karena dia mendengar Mia menangis sejadinya sambil menyembuat ayah dan ibunya yang tidak ada. Ben yang bersimpati dengan apa yang di alami oleh Mia hanya bisa bersandar di dinding pintu rumah Mia.


Sampai satu jam telah berlalu Ben tidak mendengar tangisan Mia. Ben yang sudah menuggu hanya bisa kembali ke rumah meninggalkan Mia sendirian. Setelah Mia tenang dia mencoba untuk berdiri dan mencari minuman atau makanan untuk mengisi perutnya.


“Aku harus kuat walaupun aku sudah tidak memiliki ayah dan Ibu. Karena mereka aku bis alahir, aku harus membuat mereka bangga kalau aku bisa mandiri dengan tinggal di rumah sendirian,”ucap Mia yang kemudian menangis lagi.

__ADS_1


Tapi Mia yang menguatkan hatinya harus bisa hidup bahagia. Mia yang menyemangati dirinya sendiri sampai masakan yang dia buat jadi. Mia mengisi perutnya walaupun dia merasa kalau semua masakannya hampar karena tidak nafsu makan. Selesai makan dan minum Mia membersihan peralaannya dan menuju ke kamar orang tuanya. Melihat apa yang harus dia bawa untuk dikubur bersama dengan mereka berdua.


Mia yang melihat foti di atas lemari kecil dekat kasur sambil memeluk foto tersebut Mia menangis dan tertidur. Hingga dia terbangun karena dia harus menghubungi wali kelasnya karena dia tidak bisa masuk besok.


Mia yang mencoba untuk tenang lalu dengan suara biasanya dia menghubungi wali kelas. Setelah terhubung dan membicarakan kepda walinya apa yang sedang terjadi. Selesai menceritakannya Mia meminta wali kelasnya untuk tidak mengatakannya kepada anak yang lain karena dia tidak ingin dikasihan.


Mia yang ingin merahasiakan itu kepada temannya sampai dia yang berbicara. Karena setelah ini hidupnya akan berubah tanpa ada ayah dan ibu yang menemaninya. Mia harus bisa mandiri, tidak lama kemudian Mia mendengar suara ketukan pintu. Mia berjalan menuju pintu dan membukannya orang tua Ben dan Ben datang.”Paman bibi Ben. Ayo masuk,”ucap Mia yang masih serak dengan wajah yang kusum dengan mata yang bengka dan merah.


“Kamu kamu sudah makan nak Mia,”ucap Ibu Ben yang membawa makanan.


“Pagi ini belum,”ucap Mia yang jujur.


“Nanti aku banyu kamu ijin ke wali kelas kamu,”ucap Ben.


“Tidak usah baru saja aku menelepon wali kelasku kalau aku tidak berangkat. TapI kak Ben bisa minta tolong,”ucap Mia sambil mencoba tersenyum.


“Rahasiakan kepada Irma dan  yang lain ya soal kondisiku,”ucap Mia.


“kenapa?,”kata Ben yang tidak mengerti. Tapi setelah dia berpikir apa ini ada kaitannya dengan Jordan yang menyukai Irma.”Jika itu mau kamu baiklah,”ucap Ben yang sudah memakai seragam bersama dengan adiknya.


“Ayah ibu kami berangkat dulu,”ucap anak mereka.


“Hati-hati di sekolahan,”ucap ibu.


“Ayo kita masuk,”ucap Ibu.

__ADS_1


“Dimana kamar orang tua kamu. Biar aku membantu kamu mengurus administrasi orang tua kamu,”ucap ayah Ben.


Mia yang berjalan menuju kamar ayah dan ibu dan menunjukan dimana berkas orang tua Mia.”Apa ini saja sudah cukup paman,”kata Mia.


“Sudah, kamu makan sana nanti sakit. orang tua kamu tidak ingin kamu sakit mereka ingin kamu bahagia jadi jangan siakan nyawa kamu ya nak,”ucap ayah Ben.


Mia yang menganggukan kepalanya berjalan ke dapur di temani ayah Ben. Ibu Ben yang sudah menyiapkan makanan untu Mia.”Terima kasih bibi sudah membuatkan saya makanan,”ucap Mia.


“Makan yang banyak,”ucap Ibu Ben.


“Setelah kamu makan dan bersiap-siap kita berangkat untuk melihat orang tua kamu yang terakir kalinya,”kata Ibu Ben.


Mia makan sambil menganggukan kepalanya sambil menahan air matanya. Rasa sakit Mia yang tidak bisa di rasakan oleh orang lain. Setelah semua persiapan sudeh selesai Mia yang turun dengan pakaian hitam menuju Ibu Ben yang menuggu sedangkan ayah Ben yang ada dalam mobil.


“Kita berangkat sekarang,”ucap Ibu Ben ke arah Mia. Mia menganggukan kepalanya dan berangkat menuju ke pemakanan orang tuanya. Setelah di bantu para petugas dan orang tua Ben pemakaman ornag tua Mia berjalan dengan lancar. Mia yang masih menangis di depan gundukan tanah didepannya dan tidak bisa melihat ayah dan ibunya.


Mia yang mencoba tenang di pelukan ibu Ben sampai prosesi selesai Mia dan orang tua Ben kembali ke rumah. Di rumah Mia sendiri sampai ayah dan ibu Ben memberikan usulan agar Mia tinggal dengan mereka. Tapi Mia tidak ingin merepotkan keluarga Ben jadi dia menutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. Dengan jumlah uang asuransi ayah dan ibunya serta tabungan kedua orang tuanya bisa menghidupi Mia sampai dia kuliah.


Orang tua Ben yang tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa berkata,”Jika kamu butuh bantuan datang kerumah bibi ya. Jangan sungkan, kami sudah menganggap kamu anak kami sendiri.”


Mia yang mendengarnya merasa terhibur dengan kata orang tua Ben. Sampai Mia tanpa sadar tertidur dipelukan ibu Ben yang masih memeluknya.


“Anak yang malang,”ucap Ibu Ben.


“Apa dia tertidur,”ucap Ayah Ben. Istrinya menganggukan kepalanya sampai suaminya membawanya ke kamarnya untuk dia bisa beristirahat.

__ADS_1


“Biarkan dia istiraha, pasti melelahkan bagi anak usia 16 tahun untuk kehilangan orang tuanya,”ucap ayah Ben. Orang tua Ben yang turun setelah menaruh Mia ke dalam kamar dan pergi pulang ke rumah. Meninggalkan Mia sendirian di rumah karena dia yang menginginkannya untuk tetap tinggal di rumahnya.


__ADS_2