BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Who Is 'Ve'?


__ADS_3

Lelaki itu masih menatapku dengan penuh selidik. Hingga langkahku pun terhenti lima meter darinya. Lelaki itu bertubuh besar, rambutnya cepak, dan sudah banyak ditumbuhi uban. Wajah lelaki itu tampak menua, mungkin disebabkan efek lelah karena terus menerus bekerja. Sejenak kami pun saling bertatapan.


Beberapa karyawan yang sudah datang pun memandang ke arahku. Semua mata memandang dengan mata yang asing. Mungkin, seperti ini rasanya masuk sebagai orang baru. Ini lebih menakutkan dari MOS (masa orientasi siswa) yang pernah kulakukan sewaktu masuk SMP dan SMA. JIka dulu aku takut dengan kakak-kakak senior yang galak. Kali ini aku lebih takut karena ada satu mata yang tampak galak. Ya, dia Pak Wibowo, ayah dari seorang Dimas Adi Wibowo.


"Siapa kau?"


Suara itu pernah sekali menghubungiku. Suara yang terdengar berat, karena di setiap kalimat-kalimat yang muncul saat itu berisi larangan-larangan, dan ancaman. Agar aku menyerah. Agar aku mundur. Agar aku tidak lagi mencintai putranya itu.


"Siapa kau?! Mengapa diam saja?"


Mengapa kakiku terpaku? Seharusnya aku melanjutkan langkah. Menghampirinya, lalu berkenalan dengannya. Melempar senyum manis, atau senyum tipis-tipis. Tapi sekarang, jangankan tersenyum. Menatapnya saja aku takut.


"Hei!!"


Dia tahu namaku. Seharusnya bukan seperti itu cara memanggilku. Atau mungkin dia lupa, bahwa aku adalah gadis, yang pernah ia ancam dengan sadis. Yang pernah ia lukai perasaannya. Yang pernah ia larang mencintai putranya.


Dan saat aku sedang menunduk. Seseorang yang lebih asing di mataku pun datang, menghampiriku.


"Imania Saraswati?"


Sontak aku membelalakkan mata. Wanita itu tahu namaku. Wanita itu memanggil namaku. Siapa lagi dia?


"Kau, Imania Saraswati, kan?"


"I-iya. Aku ...."


Aku kembali memberanikan diri untuk menatap laki-laki tinggi besar yang berdiri di depan meja lobi. Dia seperti sedang berpikir. Matanya seakan sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Aku, Vera Amalia. Panggil saja aku 'Ve'." Wanita tersebut mengulurkan tangannya.


"Sekertaris Ve?" ulangku memanggilnya. Kemudian menjabat tangannya.


"Ya, kau bisa ikut denganku terlebih dahulu."


"Baiklah," jawabku seraya melepas jabatan tangannya.


"Ve, siapa dia? Aku sepertinya tidak asing dengan namanya?" tanya lelaki yang usianya tentu sudah lebih dari setengah abad tersebut.


"Dia adalah karyawan baru di sini, Pak?" jawab sekertaris Ve.

__ADS_1


Pak Wibowo pun beranjak masuk ke dalam ruangannya. Sesaat ia menoleh kepadaku. Apa dia lupa bahwa aku adalah seorang gadis yang pernah ia damprat bertahun-tahun silam?


"Ikutlah denganku!"


Aku pun mengikutinya menuju kantor bagian dalam. Sekertaris Ve memberitahuku tentang berbagai hal terkait dengan pekerjaan yang akan aku lakukan. Wanita yang kuperkirakan usianya sekitar 40 tahun-an ini menjelaskan peraturan-peraturan selama bekerja di bank swasta ini.


Selain itu, dia memberitahukanku bahwa aku akan dimasukannya melalui jalur Program MT (Management Trainee), ODP (Officer Development Program), atau PPS (Program Pengembangan Staff). Sekertaris Ve mengatakan bahwa kualifikasi masuk jalur ini sudah berdasarkan ijazah S-1 yang kumiliki. Semua dijelaskan oleh sekertaris Ve dengan sangat baik.


"Mengerti?"


"Mengerti, Kak Ve," jawabku.


"Kau memanggilku dengan sebutan 'kakak'?" tanya sekertaris Ve yang sedang duduk berhadapan denganku di meja kerjanya.


"Maaf ... jadi aku harus memanggilmu apa?" tanyaku.


"Panggilan itu persis seperti panggilan Dimas terhadapku," jawabnya seraya tersenyum. "Apa Dimas yang memintamu memanggilku seperti itu?"


Aku menggeleng pelan.


"Kalau begitu, panggil saja seperti itu. Aku bosan, kebanyakan karyawan di sini memanggilku 'aunty'. Bukankah itu terlalu tua? Padahal aku sudah bilang pada mereka agar memanggilku 'kakak' saja. Tetapi mereka tetap memanggilku 'aunty'. Meski ada beberapa yang mempelesetkan sebutan untukku, yaitu 'Miss Ve'," keluhnya seraya mengerucutkan bibir bergincu merah menyala itu.


"Kau cantik, pantas Dimas menyukaimu," katanya tiba-tiba.


"Kak Ve ...." Aku menatapnya tidak mengerti. Bagaimana dia bisa tahu tentang hubungan kami?


"Aku dan Dimas dulu sangatlah dekat. Tidak heran bahwa aku tahu hampir semua tentang kalian berdua," katanya lagi.


Ini mengejutkan. Wanita ini hanya seorang sekertaris di bank ini. Tetapi dia tahu tentang hubungan kami. Bahkan, dia pernah sangat dekat dengan Dimas.


Wanita tersebut seakan mengetahui tentang apa yang tengah kupikirkan. Ia menatapku dengan seksama dan penuh perhatian.


"Aku dulunya hanya seorang baby sitter di keluarga Pak Wibowo. Itulah sebabnya, aku dan Dimas sangat dan sangat dekat. Dia sudah seperti anak atau adikku sendiri. Hingga Dimas remaja, ia sering bercerita tentang kekasihnya padaku. Yaitu kau."


Aku sempat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi entah mengapa, suara tak mau keluar dari kerongkonganku. Tatapan mata wanita ini sudah cukup mengisyaratkan, bahwa dia tahu cukup banyak tentangku.


"Dimas sangat mencintaimu. Dia tidak mencintai Dokter Vanessa," ungkapnya seraya menatapku lembut.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi, aku hanya diam sembari mendengarkannya bicara.

__ADS_1


"Dimas laki-laki yang sulit jatuh cinta. Namun, ketika dia sudah menyukai seseorang. Dia akan sulit untuk melupakannya. Dia sangat mencintaimu." Sekertaris Ve mengulum senyum padaku.


"Anda mengetahui banyak tentang kami," kataku seraya membalas senyuman lembut dari bibirnya yang sensual.


Wanita dengan style rambut pixie wavy tersebut beranjak dari tempat duduknya, kemudian menghampiriku. "Aku tidak hanya tahu tentang kalian. Bahkan tentang keluarga Wibowo, aku tahu hampir segalanya," katanya seraya menyandarkan pantatnya di meja hadapanku. Sehingga kakinya yang putih menjuntai indah di depan mataku.


"Aku sudah sangat lama berada di lingkungan keluarga Wibowo. Dari seorang baby sitter, hingga menjadi sekertaris seperti saat ini," lanjutnya.


"Wah, tidak heran Anda tahu begitu banyak," ucapku seraya tersenyum.


"Dan ... tentunya kau mengerti, kenapa aku yang mengurus dirimu di sini, bukan?"


"Ya, itu karena keinginan Dimas, kan?"


Wanita yang tampak keibuan tersebut tersenyum seraya mengangguk. "Benar. Dimas yang memintaku untuk mengurusmu di sini. Dan kau tahu? Pak Wibowo adalah Pimpinan Direksi di sini, sekaligus pemilik bank swasta ini. Dia sangat galak. Kau harus kuat mental menghadapinya. Apalagi ... dia tidak menyukaimu."


Aku sangat terkejut mendengar pernyataan sekertaris Ve. "Anda juga tahu bahwa Pak Wibowo tidak menyukaiku?"


"Tidak mudah mengambil hatinya. Sebenarnya, keputusan membawamu ke dalam kantor ini bukanlah keputusan yang tepat."


"Kenapa?"


"Karena ... jika kau tidak pandai mengatur emosimu. Kau hanya akan dipermalukan di sini."


"Apa maksud Anda?" tanyaku tak mengerti.


"Keluarga Wibowo bukanlah orang sembarangan. Untuk masuk dalam keluarga itu juga tidaklah sembarangan. Aku harap ... kau dapat mencerna dengan baik kata-kataku ini."


Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Tapi sekertaris Ve langsung turun dari meja hadapanku. Dan berdiri di sampingku duduk.


"Aku akan memberikanmu seragam kerjanya besok. Jadi, untuk sementara, kau pakai pakaian seperti itu dulu," kata wanita dengan penampilan seksi tersebut.


Jadi ... di sini ada seragam khusus untuk bekerja? Lalu kenapa Dimas memintaku berbelanja banyak kemarin? Apa dia sengaja ingin mengubah cara berpakaianku?


"Jika sudah mengerti, mari ikut aku ke tempat kerjamu. Akan kutunjukkan tugas-tugasnya secara lebih detail."


Wanita itu beranjak ke luar ruangan. Dan aku pun mengikuti langkahnya.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2