BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Penolakan Keras


__ADS_3

Sontak aku menggeser tubuh, menjauh darinya. Untung Dokter Susan sepertinya tidak memperhatikan kami. Dia masih sibuk memeriksa Arka. Kemudian dia memintaku untuk duduk. Dokter Susan menjelaskan tentang keadaan Arka.


"Putera Ibu masuk angin, kelelahan, dan sepertinya dia akan terserang flu. Saya akan menuliskan resep obat untuknya. Silakan ditebus obatnya, ya?"


"Ya, Dok."


Dokter bernama Susan itu menuliskan resep di atas secarik kertas, lalu memberikannya kepadaku.


"Terima kasih, Dok," ucapku.


Aku pun keluar untuk menebus obatnya. Arka tampak sangat lemah. Dia tertidur dalam gendonganku. Sedangkan Dimas terus saja mengikutiku. Hingga aku pun menghentikan langkah dan bertanya padanya, "Bukankah kau harus bekerja? Untuk apa mengikutiku?"


"Aku ingin menemanimu," jawabnya santai.


"Aku tidak perlu ditemani. Terima kasih," ujarku ketus.


Dan sudah bisa ditebak. Dimas itu keras kepala. Dia tetap saja mengikutiku, sampai aku selesai. Dia juga yang membayar biaya pengobatan Arka. Setelah itu dia pun mengantar kami untuk pulang.


Aku berjalan tergesa-gesa, takut ada orang yang melihat kebersamaan kami. Khawatir jika kebersamaan kami akan menimbulkan salah paham. Dimas segera mengambil mobilnya, kami pun masuk dan duduk di sampingnya. Lalu ia mengantarkan kami pulang. Sebenarnya, bukan karena aku tidak bisa menolak. Hanya saja, Dimas itu nekad. Aku malas berdebat dengannya dalam situasi seperti ini. Lagi pula, bukankah Nessa juga bertugas di rumah sakit ini? Mendadak aku teringat perkataan Nessa waktu itu. Di puncak Bogor, saat itu ....


(Flash Back Episode 39)


"Awalnya, sempat terpikirkan olehku. Bahwa kamu akan merebut cinta Dimas dariku. Bukankah itu konyol? Aku sempat tak ingin mempercayaimu. Bahkan, sejak berjumpa denganmu pertama kali, aku sudah membencimu."


Kata-kata Nessa masih teringat jelas dalam memoriku. Dia sempat tidak mempercayaiku. Bahkan sempat membenciku.


"Ya, kamu adalah orang yang berhasil masuk ke dalam hati Dimas. Bahkan, sampai sekarang. Hingga sampai saat ini, sepertinya belum ada celah bagiku untuk masuk."


Kalimat-kalimat Nessa tersimpan rapi di memoriku. Benarkah, Dimas tak membiarkan Nessa untuk masuk ke dalam hatinya?


"Saat itu kami hanya sepasang sahabat. Hingga kami pun akhirnya bertunangan. Aku sangat mencintainya. Dia juga menyayangiku. Hanya saja, hatinya masih tertuju padamu."


Benarkah di dalam hati Dimas hanya ada diriku?


"Kami dijodohkan!"


"Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku mencintainya. Sayangnya, Dimas belum pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku."


"Apa yang membuat hatiku senang, dia pasti akan menyetujuinya. Dia sangat sayang padaku. Aku yakin dia juga mencintaiku. Hanya saja, Dimas masih enggan mengakui. Terlebih lagi, ia belum bisa mengusir masa lalunya. Yaitu kamu."


"Aku sudah berkeluarga. Aku tidak akan menerima laki-laki lain. Dimas hanya masa laluku. Dia sudah kubuang jauh-jauh sebelum aku memutuskan untuk menikah. Jadi, kau tak usah khawatir. Aku sudah tidak mencintainya." Itu janjiku. Janji yang terucap langsung dari bibirku.


"Kumohon ... jangan biarkan Dimas meninggalkanku. Aku tidak tahu berapa kali Dimas akan menggodamu agar kembali padanya. Akan tetapi, aku percaya sepenuhnya padamu. Tolaklah Dimas! Dia takdirku! Dia jodohku! Kami terlahir untuk bersama selamanya. Jangan pernah kembali pada Dimas. Jangan pernah berkhianat padaku. Berjanjilah, untuk tidak kembali ke masa lalumu! Atau aku benar-benar akan membencimu! Berjanjilah! Kumohon, Imania ...."


Ya, Tuhan ... mengapa aku menjadi serba salah. Aku memang selalu ingin menjauhi Dimas. Tetapi Dimas selalu saja menempel padaku. Di mana aku terlihat, di situlah dia akan menangkapku.


"Nia," panggilnya lirih. Dan aku tidak mendengar.


"Nia," panggilnya lagi.


"Nia, ada telepon di handphone-mu!"

__ADS_1


Aku kaget. Suara Dimas sontak membuyarkan lamunanku. Aku pun mengambil handphone dari dalam tas.


"Hallo, Mas."


"Kau di mana?" Suara mas Bastian.


"Aku baru pulang dari rumah sakit, Mas. Tadi aku menghubungimu. Tapi--"


"Aku baru membuka handphone. Syukurlah kalau kau sudah periksakan Arka."


"Iya, Mas."


"Bagaimana keadaan Arka kata dokter?"


"Dia hanya masuk angin. Tidak usah cemas," kataku agar mas Bastian tidak terlalu khawatir.


"Ya, sudah. Aku akan melanjutkan bekerja. I love you," katanya dari dalam telepon.


"I love you too," balasku.


Tiba-tiba Dimas mengerem mobilnya mendadak. Aku sedikit terhuyung, dan tentu saja aku langsung memarahinya.


"Apa yang kau lakukan! Ini berbahaya!" omelku kesal.


Ia menoleh dan menatapku dengan tatapan mata elangnya. "Kau yang memecah konsentrasiku."


"Hei! Kau yang hampir mencelakakan kami. Kau malah menyalahkanku?"


Ia mendekatkan wajahnya beberapa sentimeter dari wajahku. "Jangan mengucapkan kalimat-kalimat cinta lagi untuk Bastian!"


"Masalahku adalah ... kau ... hanya pantas mencintaiku," ucapnya sesuka hati.


Aku tertawa kecil. "Sudahlah, lupakan diriku. Aku juga sudah melupakan semua tentang kita."


"Mengapa? Mengapa aku yang harus tersiksa dengan perasaan seperti ini? Mengapa aku tidak bisa memilikimu? Mengapa aku tidak bisa melupakanmu?" Ia berkata sambil terus menatapku.


Menatap wajahnya sedekat ini, membuat jantungku berdetak sangat kencang. Aku menelan salivaku sendiri. Dimas ... bukan hanya kau yang tersiksa. Bahkan, aku juga. Aku tersiksa, bila kau terus memaksaku untuk kembali padamu.


"Nia, asal kau tahu. Aku tidak mencintai Nessa sedikitpun. Aku hanya mencintaimu. Hanya kamu!" ucapnya dengan nada bergetar.


"Di, kau jangan membohongi diri sendiri. Aku tahu kau mencintai Nessa. Aku yakin kau memiliki perasaan cinta terhadap Nessa. Hanya saja, kau belum bisa menyadarinya. Kau terlalu larut dalam kisah masa lalu. Hingga kau sulit memikirkan masa depanmu dengan jernih," kataku seraya menatapnya. Jantungku serasa mau copot. Ditatapnya seperti itu membuatku semakin tak keruan.


"Aku tidak mencintai Nessa."


"Kau mencintainya."


"Tidak!'


Aku menghela napas panjang, memalingkan wajah dari pandangannya. Kuperbaiki posisi Arka di pangkuanku. Arka masih tertidur.


"Tataplah aku, Nia," ucapnya seraya meraih daguku perlahan. Kini, kami kembali bertatapan. Lima sentimeter dari wajahku. Sungguh, jantungku sepertinya mau meledak.

__ADS_1


Aku tidak pernah merasakan jantungku seaktif ini, bahkan dengan suamiku.


"Aku mencintaimu ...."


"Kau sangat keras kepala."


"Aku melihat, masih ada cinta untukku di matamu yang indah ini."


Aku mengangkat satu sudut bibir, memalingkan wajahku darinya. "Kau salah! Aku sama sekali sudah tidak mencintaimu." Terasa nyeri di dada saat kukatakan itu.


"Betapa menyedihkannya diriku. Kau menolakku berkali-kali," ucapnya seraya tertawa.


"Jangan mengejarku lagi. Kejarlah masa depanmu!"


"Masa depanku adalah kau!"


Aku semakin kesal berdebat dengannya. Dia tidak pernah kehabisan kata-kata untuk memojokkanku.


"Nia, aku tidak bisa menikah dengan Nessa. Aku tidak mencintainya."


Aku menghela napas dalam, mengembuskannya perlahan. Lalu kembali menatapnya, masih dengan dada berdebar-debar. "Jika kau tidak mencintainya, kau tidak akan sepanik itu saat Nessa pingsan waktu itu! Sebenarnya, kau memiliki perasaan cinta terhadap Nessa. Tapi kau terus menerus menyembunyikannya!"


"Siapa yang menyembunyikan cinta? Bukankah itu adalah kau. Percuma berlari, Nia. Karena cinta tak dapat sembunyi. Sampai kapanpun!"


"Aku ingin turun di sini. Aku bisa pulang sendiri."


Aku mencoba membuka pintu mobil, tapi Dimas menahan lenganku. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku yang tertutup pashmina. "Tentang kekhawatiranku pada Nessa, itu tak lebih hanyalah sebatas kekhawatiran terhadap seorang sahabat. Aku tidak mencintainya, hanya menyayanginya saja. Apa kau mengerti?" bisiknya lembut.


"Itu bukanlah urusanku. Yang jelas, aku tidak bisa mencintaimu lagi."


Ia meraih daguku lagi, menghadapkan wajah ini padanya. "Apa aku harus mengenyahkan Bastian terlebih dahulu, agar kau bisa menerimaku?"


Mataku membulat mendengar pertanyaannya. "Jika kau menyakiti suamiku, aku tak segan membunuhmu!"


"Ya, bunuhlah aku, tapi dengan cintamu. Aku rela!" katanya seenaknya.


"Kau gila!" desisku.


"Ceraikan Bastian! Jadi, aku tak perlu menghabisinya!"


Konyol! Dia sepertinya sudah kehilangan akal. "Jangan pernah menyentuh suamiku, sedikitpun!" Kuacungkan telunjukku di depan wajahnya. Dengan amarah yang tidak bisa tertahan lagi, akhirnya aku pun mendampratnya habis-habisan.


"Kau hanyalah lelaki tidak waras! Jangan pernah mendekatiku lagi! Berhenti menggangguku! Tidak usah sok baik lagi pada suamiku! Kau tidak lebih dari seorang teman makan teman! Aku sudah sangat menahan emosiku! Jadi, tinggalkan segala kenangan kita! Pergilah menjauh dariku!"


Aku pun beranjak dari mobil, setelah puas memakinya. Namun, dia kembali menahan lenganku. Meraih daguku dan ....


Cup!


Dengan penuh amarah, dilekatkannya bibir itu padaku. Intonasinya begitu lembut dan cepat. Sehingga aku tak dapat melawannya. Lagi pula ada Arka yang masih terjaga dalam pangkuanku. Dalam mata terkejut dan terbuka, aku merasakan amarah yang tertumpah dari bibirnya. Yang menyapu lembut tiap sudut bibirku. Irama Jantungku seakan berhenti berdetak. Tak mampu menahan perasaan sekuat ini. Pelan-pelan mataku terpejam. Bulir-bulir bening itu kembali meluncur ke pipi. Mengeluarkan segenap resah di hati. Aku tiada mampu menolaknya, mengapa?


Setelah beberapa menit, ia pun melepaskan bibirnya. Segera kuambil kesempatan itu untuk melarikan diri darinya. Aku pun membuka pintu tersebut, dan keluar dari dalam mobil dengan wajah yang basah. Aku berlari menyusuri jalanan yang terik. Jarak rumahku masih cukup jauh. Namun, aku terus berjalan, seraya menjaga Arka yang masih tertidur dalam gendonganku.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --



__ADS_2