
Pak Wibowo sepertinya terkejut dengan pertanyaanku. Padahal ini hanya pertanyaan biasa.
"Adakah yang aneh terhadap sahabatku?"
"Tidak ada."
Pak Wibowo sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Dia bilang tidak ada apa-apa, tapi mimik wajahnya seperti mengiaskan sedang ada apa-apa.
***
Setelah berkendara dengan mobil pribadi selama dua jam, kami sampai di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Kemudian naik pesawat selama 10 menit, dan sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, pukul sebelas.
Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, kami dijemput mobil pribadi. Kami kembali menempuh perjalanan sekitar 18 km dan sampai di sebuah hotel mewah. Bulgari Resort namanya.
Hotel Bulgari Resort Uluwatu berjarak 150 meter di atas permukaan dan menyuguhkan pemandangan Samudera Hindia. Menariknya, pantai sepanjang 1 km hanya dapat diakses melalui lift bukit di resort mewah ini.
Arsitektur bangunan resort bintang 5 ini adalah desain tradisional Bali dan modern untuk area dalam bangunan. Interior bangunan menggunakan warna alam seperti beige dan cream. Perabotan dan hiasan kayu ekslusif menonjol diberbagai sudut ruangan.
Lokasi resort mewah yang unik ini yakni di atas tebing, yang tentu memiliki pemandangan alam yang sangat cantik. Terlebih ketika cuaca cerah, kita dapat menikmati sinar matahari untuk berjemur, bermain di pantai hingga melihat sunrise atau sunset.
Perjalanan cukup melelahkan dan begitu sampai di kamar hotel, aku pun memilih istirahat dan tidur sejenak.
***
Pukul tiga sore aku bangun dan mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan rapi, aku keluar melihat pemandangan luar biasa indah. Resort yang menyajikan pemandangan samudera Hindia secara langsung. Kolam renang tak bertepi yang menghadap langsung ke laut. Sungguh, indah sekali. Mataku tak hentinya terpukau akan keindahan alam ini.
"Indah sekali, ya."
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara berat ala lelaki dewasa yang sudah berada tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku menoleh dan beliau menghampiriku. Kami pun duduk di kursi yang sengaja disediakan di tepi kolam.
"Kau suka berada di sini?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Sangat. Ini indah sekali," ucapku.
"Putraku juga sedang membangun sebuah resort di Bali."
Aku langsung menatap pak Wibowo dengan terkejut. Siapa putra yang dia maksud? Apakah ... Dimas? Atau kakaknya Dimas?
"Kenapa terkejut begitu?" tanyanya melihat ekspresi wajahku.
Aku segera menundukkan kepala. "Tidak ada apa-apa, kok, Pak."
"Apa kau masih mencintai putraku?"
Aku mendongak, kembali menatapnya. "Tidak. Aku sudah move on darinya."
"Baguslah. Sebentar lagi Dimas akan menikahi dokter Vanessa."
Terasa nyeri di dadaku ketika mendengar hal tersebut.
"Apa kau ingin melihat sunset?"
Aku menatapnya sesaat dengan heran. Baru kali ini pak Wibowo memperlihatkan raut wajah yang hangat padaku. Apa mungkin, ini efek terbawa suasana indah di resort ini?
"Ikut aku!"
Pak Wibowo berdiri dan aku mengekornya menuju lebih dekat ke arah laut. Kami pun berdiri menghadap laut. Untuk sejenak, suasana hening. Kelembutan angin menyejukkan pikiran dan hati. Membuatku membayangkan, andai ada Dimas di sisiku saat ini.
"Maaf ... membuat cinta kalian menjadi sangat sulit."
Aku langsung menatap pak Wibowo yang berdiri di sampingku. Aku benar-benar terkejut mendengar pernyataan 'maaf' darinya. Apa arti dari kata 'maaf' itu?
"Aku dan ayahnya Vanessa bersahabat dekat. Sejak kecil, kami sepakat untuk menjodohkan Dimas dan Vanessa. Lagi pula, mereka memang sangat cocok, bukan?"
"Ya, mereka sangat cocok."
"Kudoakan, kau bisa mendapatkan jodoh yang terbaik."
"Terima kasih."
Pak Wibowo menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. "Aku tahu persis rasanya dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak kita cintai."
Aku kembali menatapnya terkejut. Pria paruh baya ini benar-benar memberikan ekspresi yang sangat berbeda dari biasanya. Ia tampak hangat dan lembut.
"Apa ... itu ... dengan mamanya Dimas?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Awalnya kupikir, aku bisa mencintainya selama waktu terus berjalan dan membawa kami untuk terus menerus berdua. Pada kenyataannya, tidak. Aku sudah tidak bisa mencintai lagi. Aku hanya berusaha menyayangi istriku dan menyayangi ketiga anak-anakku."
Wajah pak Wibowo tampak sayu. Meski biasanya terkesan begitu dingin dan menakutkan, tapi kali ini ... ia tampak hangat dan sendu.
"Bagaimana mungkin, Anda tidak mencintai mamanya Dimas?" tanyaku tak mengerti.
"Aku hanya mencintai seorang wanita dalam hidupku."
"Siapa?"
"Seseorang yang kutinggalkan begitu saja. Padahal aku sudah mengambil mahkotanya yang paling berharga," katanya dengan mata yang meredup.
"Kami menjalani hubungan selama tiga tahun. Di tahun ketiga itu, cinta bagaikan surga bagi kami. Itu terasa ... indah sekali. Aku sangat mencintainya, begitupun dia yang sangat mencintaiku. Hingga saat sedang mekar-mekarnya asmara kami. Aku meminta bunga itu darinya. Dengan ikhlas, ia menyerahkannya padaku. Dan ... terjadilah kesalahan paling fatal yang saat ini terus menerus kusesali."
Mataku terus memperhatikan raut wajah pak Wibowo. Kedua netra elang yang persis dimiliki putranya itu berkaca-kaca. Baru kali ini aku mendapati pak Wibowo serapuh ini.
"Dia hamil?" tanyaku.
Pak Wibowo mengangguk. Sembari menahan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk mata elangnya.
"Apa dia juga menyesal karena telah melepaskan kehormatannya?"
Pak Wibowo menggeleng pelan. Matanya menengadah ke atas, agar bulir-bulir bening itu dapat tertahan. Ia menatap langit sore yang mulai menguning. "Sorenya kami bertemu di pantai. Dia berdandan begitu cantik seperti biasanya. Senyum mengembang di wajahnya, menyambutku dengan hangat dan ceria seperti biasanya. Sedangkan aku ... aku hanya menatapnya dengan tatapan menyedihkan."
Flashback Episode Pak Wibowo Dan Arumi. (POV 3)
Seorang gadis dengan rok sepanjang lutut berpadu blouse putih bunga-bunga menghampiri seorang laki-laki tampan bermata elang yang sedari tadi tengah menunggunya di pantai.
Gadis itu berlari kecil dan memeluk dari belakang tubuh pria yang tengah berdiri menghadap pantai.
"Aku datang!" katanya dengan sangat ceria.
Berbeda dengan Arumi, Adi justru menampakkan mimik sedih di wajahnya, sehingga Arumi segera mencubit hidung laki-laki yang sangat ia cintai itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Arumi sembari mengeratkan pelukannya dari belakang.
Adi melepaskan tangan Arumi yang melekat erat di pinggangnya. Kemudian menghadapkan tubuhnya dengan wanita berparas cantik, berambut ikal yang tiap helainya dengan indah menari-nari dibelai angin sejuk pantai.
Gadis itu menyunggingkan senyum lebar. "Aku punya kabar gembira," katanya.
Adi menatap wanitanya sendu. Arumi akan mengatakan kabar gembira, sedangkan ia sendiri akan memberitahukan kabar paling memilukan yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
"Rumi."
"Sebentar ... kau harus tahu secepatnya!" kata Rumi dengan semangat. Lalu ia menggenggam sesuatu yang ia ambil dari tasnya.
"Sayang ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Arumi lagi tanpa menghilangkan senyum indah di wajahnya.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu."
Arumi mulai menyadari wajah lelaki di hadapannya tidak seperti biasanya. Ia melihat kedua netra elang yang biasanya tampak terang nan indah itu, kini tampak sendu dan meredup.
"Ada apa denganmu? Katakan saja padaku. Kau bisa bercerita apapun padaku. Aku siap menjadi tempatmu berbagi, bukan? Ayo, ceritakan saja. Apa yang tengah kau pikirkan?"
Adi terdiam sejenak, menatap nanar wajah wanitanya itu.
Arumi meletakkan tangan kirinya ke dada bidang Adi. Sedangkan tangan kanannya tengah menggenggam kejutan yang akan ia berikan kepada Adi.
"Wahai, hati ... jangan bersedih. Ceritakan segalanya padaku," ucap Arumi sembari memejamkan kedua matanya. Sedangkan tangan kirinya diletakkannya ke dada Adi.
Arumi membuka kedua matanya. Dan Arumi segera menyadari kedua mata elang yang sudah membendung air itu.
"Kau kenapa? Katakanlah padaku. Kita sudah berjanji untuk saling berbagi, hidup bersama dalam suka maupun duka. Ayo, ceritakan perihal masalahmu itu padaku. Aku mencintaimu. Aku sangat menyayangimu. Aku akan selalu ada bersamamu," ucap Arumi yang justru semakin membuat air mata Adi turun berderai.
"Rumi."
Arumi sibuk mengusap wajah basah kekasihnya itu. Sedangkan Adi sibuk memikirkan bagaimana cara mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Sst ... jangan menangis. Aku di sini." Arumi menempelkan telunjuknya ke bibir Adi, lalu mengusap air mata yang berderai dari kedua mata elang Adi lagi.
"Rumi." Suara Adi semakin terdengar berat dan bergetar.
"Ya."
"Kita putus."
__ADS_1
"Hah? A-apa aku salah dengar barusan?" Arumi masih tidak percaya atas apa yang ia dengar.
Adi terisak di depan wanitanya. Kemudian berkata lagi, "Aku mau kita putus!"
Bak tersambar petir telinga dan hati Arumi. Ia sama sekali tidak salah dengar. Lelaki tercintanya itu mengucapkan kata 'putus'.
Bibir Arumi bergetar dan berkata, "Kau ... kau ... kau ... a-apa ... ki-kita putus?"
Adi mengangguk pelan. "Kita putus!"
Tubuh Arumi ikut bergetar. Seluruh tubuhnya terasa panas, apalagi hatinya. Baru saja ia akan mengabari sesuatu yang ia pikir begitu membahagiakan. Justru, Adi malah memutuskannya.
"Aku akan menikah dengan wanita pilihan orang tuaku," ungkap Adi lirih.
Arumi hanya terpaku dengan tubuh bergetar dan tatapan berair. Ia masih tidak percaya, lelaki yang sudah berjanji untuk menikahinya, justru akan menikah dengan wanita lain.
"Aku dijodohkan."
"Maafkan aku ... maafkan aku, Rumi. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku harus menuruti kedua orang tuaku."
Kedua mata Arumi mulai menitikkan air mata, tetapi pandangannya kosong. Ia hanya memasang telinga untuk mendengar semua kepiluan itu.
"Aku harap ... kau bisa menerima kenyataan ini. Aku terpaksa harus menerima perjodohan ini. Dan ... kau ... semoga lebih bahagia tanpaku."
Arumi terisak di hadapan Adi. Dan Adi segera meletakkan kedua tangannya di pundak Arumi. Kedua sejoli itu saling meluapkan kepiluan. Kedua sejoli yang saling mencintai itu saling terisak.
"Aku harus segera pergi. Minggu depan, kami akan menikah."
Dada Arumi terasa sesak dan sakit sekali. Kisah cinta yang selama ini terukir manis, akhirnya meracuni dirinya sendiri. Pahit empedu yang ia rasakan kini. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Tapi ... aku .... "
"Maafkan aku, Rumi. Aku tidak bisa melawan keinginan orang tuaku."
"Tapi .... "
"Sekali lagi, aku minta maaf .... "
Adi melepaskan tangannya dari pundak Arumi dan berbalik meninggalkannya. Arumi hanya terpaku dan menatap kepergian lelaki yang sangat ia cintai itu. Arumi sudah rela melepaskan mahkota termahal yang ia miliki demi lelaki tersebut. Namun, lelaki itu justru meninggalkannya.
"Tapi ... tapi aku hamil!" seru Arumi.
Langkah Adi terhenti mendengar hal tersebut. Sesungguhnya ia sangat terkejut, tetapi dia tidak bisa kembali pada Arumi. Dia harus menikah. Jika tidak, ayahnya akan menghabisinya.
"Aku hamil!" kata Arumi sembari terus terisak. Berharap agar lelaki tersebut berbalik dan mengubah pikirannya.
Dari jarak sepuluh meter, Adi masih berdiri membelakangi Arumi. Adi juga terisak. Hatinya terasa sesak. Ia tak mampu memilih pilihannya sendiri untuk menikahi Arumi.
"Aku hamil!" Sekali lagi Arumi berseru dengan suara bergetar. Air matanya terus menuruni pipinya.
Sejenak mereka saling diam, tetapi sayang ... Adi kembali berjalan.
Perasaan Arumi kacau. Ia kembali berseru, "Menikahlah denganku!"
Adi mendengarnya, tetapi ia hanya mengigit bibir bawahnya dengan air mata yang berderai. Ia terus berjalan menjauh. Yang itu berarti bahwa Adi tetap pada kemauan kedua orang tuanya.
"Menikahlah denganku!"
"Bukankah kau sudah berjanji akan menikah denganku?!"
"Adi, kembalilah! Nikahi aku!"
Arumi menangis sejadi-jadinya. Ia remas testpack di genggaman tangan kanannya. Lalu ia luruhkan tubuhnya ke pasir pantai. Ia terus terisak meratapi nasibnya. Kehilangan lelaki yang paling ia cintai dan harus menerima kenyataan bahwa ia hamil buah hatinya.
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Keceh?
Malam ini tidak UP, ya? Itu karena Episode hari ini Author Keceh membuatnya sedikit panjang.
Besok akan UP lagi. Mohon bersabar menanti kisah BP ini sampai END.
Author sedang membuka satu per satu misteri dan akan mengemas secara lembut menuju ENDING.
__ADS_1
Mohon bersabar untuk menunggu dokter elang datang, ya? Yang pasti, Dimas akan kembali hadir dengan sweet. Ending tidak akan mengecewakan. So, stay terus.
Thank you ...!