
Apa yang saat ini sedang kulihat? Mas Bastian bersanding dengan Bella. Wanita itu tampak cantik dengan riasan make up pengantin di wajahnya. Apa ini? Aku seperti seorang tamu undangan yang paling spesial di sini. Karena saat aku datang, semua orang mengalihkan pandangannya padaku.
Rasa sesak yang tiba-tiba muncul ketika melihat mereka berdua, bukanlah karena cemburu ataupun sakit hati. Aku hanya masih tidak menyangka saja, mas Bastian benar-benar menikahi wanita tersebut. Rasanya, ini begitu cepat. Namun, aku juga sudah memiliki Dimas. Bukankah, ini terasa impas? Kita sama-sama sudah melabuhkan hati pada dermaga masing-masing.
"Imania," panggil Ibu mertuaku seraya menjemputku untuk masuk.
Aku pun langsung menyalami tangan ibu. "Ibu, apa kabarmu?"
"Ibu baik-baik saja, Ima. Bagaimana denganmu?"
"Aku baik, Ibu," jawabku seraya tersenyum. "Aku tidak tahu kalau di sini sedang ada acara."
"Masuklah. Apa yang kau bawa itu?"
"Kupikir, Ayah akan merindukan masakanku," jawabku sembari mengulurkan rantang tersebut dari tanganku.
Ibu langsung mengambil rantang tersebut, kemudian memelukku.
"Aku masih selalu menganggapmu menantu terbaik. Bella sangat jauh bila dibandingkan denganmu," tutur Ibu lirih di telingaku.
Aku tidak mengerti kenapa ibu berkata demikian. Ibu pun langsung mengajak kami untuk masuk. Ibu membawaku duduk di sampingnya.
"Arka Sayang, sini sama Kakek!" Ayah mertuaku memanggil Arka untuk duduk di sampingnya. Arka pun duduk bersamanya.
Mas Bastian dan Bella masih menunggu penghulu untuk mengesahkan mereka. Seandainya saja aku tahu di sini sedang ada akad pernikahan mas Bastian. Aku tidak akan datang. Aku sama sekali tidak tahu bila mereka akan menikah secepat ini.
"Baik, jika semua sudah siap. Akan saya mulai," kata sang penghulu.
Mereka yang menikah, tapi aku ikut deg-degan. Lelaki yang telah menjadi mantanku itu. Kini akan segera melanjutkan hidupnya. Aku harus bahagia melihat pernikahan ini. Meski, beberapa orang tampak memperhatikanku sesekali. Mungkin, mereka pikir, aku sengaja datang untuk menyaksikan pernikahan mantan suamiku.
"Saya nikahkan Engkau, Muhammad Bastian bin Ahmad Suandi, dengan Ananda Lusiana Bella binti Kamil Udin, dengan mas kawin perhiasan emas 18 karat, seberat 20 gram, dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya, Imania Saraswati—" Mas Bastian tiba-tiba mengucapkan kalimat yang salah. Kami semua yang menyaksikan pun terkejut.
"Maaf ...," ucap mas Bastian.
"Baiklah, mari kita ulangi," kata penghulu tersebut.
Penghulu pun mulai mengucapkan kalimat ijab kembali.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Imania Saraswati—"
Semua orang kembali terperangah mendengar mas Bastian kembali salah mengucapkan lafal kalimat ijab qabul tersebut. Semua tamu yang hadir—keluarga dua mempelai— pun mulai gaduh. Mereka ada yang berbisik, dan ada yang terlihat kesal pada mas Bastian.
"Hadirin, dimohon untuk tetap tenang!" pinta pak penghulu. "Baik, Saudara Muhammad Bastian, silakan ambil napas terlebih dahulu. Tenangkan dirimu. Jangan gugup."
Bella terlihat sangat kesal, karena mas Bastian sudah dua kali salah dalam mengucapkan lafal ijab qabul tersebut. Sedangkan mas Bastian tampak sedang mengendalikan perasaan gugupnya.
__ADS_1
"Baik. Apakah sudah bisa dimulai kembali?" tanya pak penghulu.
Mas Bastian kembali mengambil napas dalam-dalam. Dulu, sewaktu menikah denganku, mas Bastian tidak pernah salah melafalkan kalimat tersebut. Ia tampak tenang dan serius. Bahkan, ia terdengar percaya diri dan sangat lancar mengucapkannya.
"Muhammad Bastian, apakah Anda sudah siap?" tanya sang penghulu lagi.
"Sudah, Pak Penghulu."
Penghulu tersebut pun mulai mengucapkan kalimat ijab kembali. "Bismillahirrahmanirrahim ...."
"Saya nikahkan Engkau, Muhammad Bastian bin Ahmad Suandi, dengan Ananda Lusiana Bella binti Kamil Udin, dengan mas kawin perhiasan emas 18 karat, seberat 20 gram, dibayar tunai!"
Kami semua yang menyaksikan, saling menahan napas. Suasana begitu hening. Semua berharap agar mas Bastian lancar mengucapkannya.
"Saya terima nikahnya ... Lusiana Bella binti Kamil Udin, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Suara 'sah' dari para saksi pun bersahutan. Alhamdulillah ... kami semua kembali bernapas lega. Aku tidak mengerti, kenapa mas Bastian sampai salah mengucapkan kalimat ijab qabul tersebut. Mungkin saja, mas Bastian nervous.
Setelah acara selesai. Aku langsung berpamit untuk pulang. Tidak lupa aku pun mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
"Terima kasih ...," balas Bella.
"Mas, selamat, ya?" ucapku mengulurkan tangan seraya tersenyum.
Mas Bastian pun menjabat tanganku. "Te-terims kasih ...."
Kami pun bersalaman. Aku merasakan tangan mas Bastian dingin sekali, dan gemetaran. Mungkin efek nervous tadi.
"Ya, sudah, aku pamit pulang, ya?"
"Iya," jawab mas Bastian yang masih menggenggam tanganku.
"Tanganku."
"Oh, maaf ...." Mas Bastian pun melepaskan genggamannya.
Fania turut menyalami Bella. "Selamat atas keberhasilanmu merebut suami orang, ya? Statusmu sekarang tidak hanya resmi menjadi seorang istri. Tapi juga telah menjadi pelakor secara resmi!" ucap Fania lirih di telinga Bella. Tapi aku mendengarnya.
Bella tampak tersinggung, tapi dia tidak menanggapi. Bella memilih mengulum senyum terpaksa. Mungkin, dia tidak ingin merusak suasana bahagianya.
__ADS_1
Aku pun berpamit pada ibu dan ayah mertuaku. Setelah itu, aku dan Fania langsung pulang. Arka tidak ikut pulang bersamaku. Karena dia merindukan papanya. Aku tidak memaksanya untuk ikut pulang. Aku sadar, Arka masih membutuhkan kasih sayang dari mas Bastian.
***
Di perjalanan pulang.
"Imania. Bagaimana perasaanmu melihat Bastian menikah lagi?"
"Tidak masalah. Aku turut bahagia melihatnya bahagia."
"Tapi dia terlihat gugup saat mengucapkan kalimat ijab qabul tadi. Dia sampai dua kali menyebutkan namamu! Wah, itu aneh!"
"Apanya yang aneh? Itu biasa saja. Mungkin mas Bastian nervous."
"Menurutku tidak begitu."
Saat kami asyik mengobrol, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghalangi perjalanan kami. Mobil tersebut tiba-tiba saja menikung, dan berhenti tepat di depan mobil yang kami tumpangi. Fania pun segera mengerem mobilnya mendadak.
"Sial! Dia lagi!" umpat Fania.
"Siapa? Itu mobil siapa?" tanyaku heran melihat ekspresi wajah Fania yang terlihat cemas.
Seseorang keluar dari mobil sport berwarna merah tersebut. Laki-laki itu tinggi, berbadan kekar, dan wajahnya terlihat sangar. Laki-laki itu pun menghampiri mobil kami. Ia mengetuk kaca mobil kami.
"Keluar! Cepat keluar!" perintah laki-laki tersebut dengan sedikit kasar.
"Fania? Dia siapa?" tanyaku pada Fania yang tampak cemas.
"Dia Reza. Pacarku," jawab Fania.
"Keluar!!" Laki-laki tersebut masih mengetuk kaca samping Fania duduk.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Masih nungguin novel ini up ya? Makasih, loh, ya?
Eh, mohon maaf bila ada kesamaan nama, ya? Ahmad Suandi—ayahnya Bastian—sama dengan nama salah satu Readers Tersayang.
Tadinya saya ingin mencari nama yang lain. Tetapi kebetulan nama depan ayahnya Bastian itu Pak Ahmad. Jadi langsung saja tuh, nama Readers Tersayang ikut terabadikan di dalam novel ini.
Novel ini masih terus berlangsung dan berjalan menuju ENDING. Jadi ... Author Keceh harap, kalian selalu setia menunggu, ya?
Jangan lupa FOLLOW, LIKE, COMENT, and VOTE.
Dukung terus dan semangati Author Keceh, ya?
__ADS_1
Nanti, pukul 20.00 WIB. Author Keceh balik lagi. Tungguin, ya?
Thank You ...!