
Pukul 15.20 WIB.
Setelah tertidur beberapa jam. Aku pun membuka mata. Tubuhku terasa pegal-pegal. Mungkin karena aku tidur tidak nyaman di rumah sakit saat menemani ayah. Aku menoleh Arka yang masih tertidur pulas. Sepertinya dia lelah sekali. Sehingga sampai sekarang, ia belum bangun.
Aku pun beranjak dari tempat tidur. Aku melangkah mencari ibu. Tetapi tidak kutemui seorangpun di rumah ini. Ayah juga tidak kelihatan. Kemudian mataku tertuju pada selembar kertas yang tergeletak di atas meja. Aku pun membaca sebuah tulisan di atas kertas tersebut.
[Ibu dan Ayah pergi mengunjungi Pak Ahmad ke rumah sakit.]
Kuletakkan kembali kertas itu, lalu aku berjalan menuju kamar mandi. Saat aku mengambil handuk di kamar. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Aku pun segera mengangkatnya.
"Halo, Mas!"
"Imania, kau di mana?"
"Aku di rumah ibuku."
"Bisa kita bertemu?"
"Sekarang?"
"Iya. Aku akan ke situ sekarang."
"Oh, baiklah."
Mas Bastian pun segera mengakhiri panggilan. Ada apa mas Bastian mencariku? Ah, lebih baik aku mandi dulu. Aku pun mandi. Dan setelah itu aku mencari baju di lemari. Tetapi tidak kutemui baju gamis satu helaipun. Saat aku sedang mencari pakaian untuk kupakai, tiba-tiba kudapati sebuah rok hitam selutut dan blouse putih bunga-bunga. Itu adalah pakaian sewaktu aku masih kuliah. Iseng-iseng, aku berpikir untuk mencobanya. Kupikir ini sudah tidak akan muat di tubuhku. Dan ternyata, ini masih pas sekali.
Aku menatap diriku di cermin. Rambut panjangku yang masih basah kugerai. Kusisir rambutku, seraya menatap diriku di cermin. Aku tampak seperti ABG. Aku tertawa sendiri melihat bayangan diriku. Setelah itu aku kembali mencari pakaian yang lebih pantas untuk kupakai. Tetapi sama saja. Hanya ada pakaian-pakaian pendek masa ABG-ku.
Aku berpikir kembali, mas Bastian sebentar lagi pasti sampai. Aku tidak mungkin memakai pakaian seperti ini untuk menemuinya. Dan benar saja, suara mobil mas Bastian berhenti di depan rumah orang tuaku. Buru-buru aku keluar dan menuju ke kamar ibu.
Tok! Tok! Tok!
Ya, Tuhan ... di mana ibu meletakkan kunci lemarinya.
Tok! Tok! Tok!
Aku pun segera mencari kunci itu di atas lemari. Aku mengambil sebuah kursi. Dan aku segera naik ke kursi tersebut. Tapi, saat aku sedang buru-buru untuk naik, tiba-tiba kursi tersebut bergerak miring. Prak! Aku pun terjatuh ke lantai. Kakiku sakit sekali.
Suara langkah kaki berlari pun terdengar. Seseorang tiba-tiba masuk ke kamar ini. Ia langsung menatapku yang tengah terjatuh kesakitan di lantai.
"Imania! Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Mas Bastian pun segera mengangkat tubuhku. Ia mendudukkanku di ranjang milik ibu. Aku masih meringis kesakitan, menahan kakiku yang sepertinya terkilir. Mas Bastian pun menyadari itu. Ia segera berjongkok untuk memijat kakiku.
"Tidak usah, Mas! Aku tidak apa-apa!"
Tetapi mas Bastian tetap memijat kakiku perlahan.
"Aw! Sakit, Mas!"
Mas Bastian menengadahkan kepalanya, menatapku tak berkedip. Mata kami pun bertemu. Sesekali kulihat jakunnya naik turun, seperti sedang menelan salivanya sendiri. Aku pun segera tersadar, bahwa saat ini aku berpakaian bak anak remaja. Aku malu sekali karena mas Bastian menatapku seperti itu.
"Mas!"
Mas Bastian tetap terpaku menatapku. Aku pun segera mengibaskan telapak tanganku di depan wajahnya.
"Mas!"
"Ah, iya!" Mas Bastian menyadari dirinya. Ia bertingkah kikuk. Ia terlihat sangat gugup.
"Ada apa, Mas?"
"Ah, tidak! Tidak apa-apa!" jawabnya, kemudian memijat kakiku kembali.
"Mas, sudah. Aku tidak apa-apa. Aku mau mengganti pakaian."
Aku menatapnya kaget dengan komentarnya.
"Ma-maksudku ini ... kau tampak sangat muda."
Aku tersipu malu mendengarnya. "Ini tidak nyaman. Aku harus menggantinya," kataku.
Mas Bastian pun berdiri. "Ya, sudah. Aku akan menunggumu di luar."
Mas Bastian pun beranjak. Dan aku segera menutup pintu kamar dengan langkah tertatih-tatih. Aku mendapati beberapa pakaian yang tergeletak di keranjang pakaian. Ibu biasa meletakkan pakaian yang belum disetrika di sana.
Kuambil sebuah gamis milik ibu. Aku pun memakainya. Dan aku terlihat lucu sekali. Karena gamis tersebut sama sekali tidak pas di tubuhku. Ini kebesaran. Tetapi aku tetap memakainya. Kemudian aku keluar untuk menemui mas Bastian.
Kulihat mas Bastian sudah duduk di sofa. Aku pun menghampirinya dengan langkah tertatih.
"Mau kubuatkan kopi, Mas?"
"Tidak usah. Aku hanya ingin berbicara sebentar saja denganmu. Apa kakimu masih sakit?"
__ADS_1
"Sedikit," kataku seraya duduk.
"Imania. Apa kau sudah memikirkan tentang perceraian kita matang-matang?"
"Iya, Mas. Sudah!"
"Imania, aku merasa kita harus berpikir lagi soal perceraian itu."
"Loh, kenapa Mas? Bukankah ayah juga sudah mengizinkan kita untuk bercerai? Lagi pula kau sudah menjatuhkan talak kepadaku."
"Ya, aku tahu. Tapi ... entah mengapa aku merasa belum siap," katanya seraya mengerutkan keningnya.
"Mas ... kan, kamu sendiri yang mengatakan ingin bercerai. Dan kita sudah sepakat, bukan?"
"Ya, aku tahu. Hanya saja ... aku merasa kasihan pada Arka. Arka masih kecil. Kau ingat, kan, saat Fania berkata seperti itu? Dan setelah kupikirkan, kurasa Fania benar. Arka masih terlalu dini untuk merasakan perpisahan di antara kedua orangtuanya. Kupikir ... kita memang harus mengesampingkan ego kita. Demi Arka!" katanya seraya menatapku serius.
Kemarin, mas Bastian memintaku untuk bertahan demi ayah. Dan sekarang, ia memintaku untuk bertahan demi Arka. Sebenarnya, ada apa dengan mas Bastian? Dia terlihat sangat aneh.
"Imania. Kita bisa memperbaiki segalanya. Demi Arka!"
Saat aku sedang memikirkan kata-kata mas Bastian, tiba-tiba sebuah motor berhenti di halaman. Ya, itu pasti ibu dan ayah.
"Assalamualaikum?" Ibu mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam?" Aku menjawab.
Ayah dan ibu pun masuk. Mereka pun memandang ke arah kami yang sedang duduk berhadapan. Tidak biasanya. Ayah dan ibu sama sekali tidak menyapa mas Bastian. Ibu pun berdiri di sampingku yang sedang duduk. Sedangkan ayah menatap mas Bastian dengan mimik wajah penuh amarah. Napas ayah naik turun. Tatapan matanya seakan ingin menelan mas Bastian hidup-hidup.
"Kau!" Suara ayah terdengar marah. "Kau!" Diacungkannya telunjuk itu ke arah mas Bastian.
Aku sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada ayah. Kenapa tiba-tiba ayah sepertinya marah sekali?
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Tersayang?
Tungguin Author Keceh,ya?
Sebentar lagi, Author bakalan balik lagi, kok?
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya, ya?
Thank You! đź’–