
Lelaki dan wanita yang mengantarkan mobil tersebut, kemudian pergi menumpangi mobil merahnya. Sedangkan, aku dan Fania masih terpaku menatap kepergian mereka.
"Imania, apa ini adalah hadiah ulang tahun?"
"Aku tidak tahu."
Hadiah misterius ini membuatku menerka-nerka, apakah ini dari perusahaan? Akan tetapi itu tidak mungkin.
Aku membaca kembali harga mobil tersebut. Tertera Rp. 2,5 milyar. Ini lumayan mahal. Siapa sebenarnya yang memberikanku hadiah misterius ini? Apa mungkin ... Dimas.
Fania asyik melihat dan mengelus mobil berwarna putih yang masih berbalut pita warna pink tersebut. Sedangkan aku mengambil handphone dari saku dan menghubungi sebuah nomor. Tersambung.
"Halo."
"Ya, halo, Imania."
"Kak Ve, apa kau tahu bahwa ada seseorang yang mengirimkan mobil untukku?"
"Mobil? Siapa?"
Ah, ternyata sekertaris Ve juga tidak tahu. Itu berarti bukan Dimas. Biasanya, jika Dimas memberikan apapun padaku, pasti sekertaris Ve tahu. Lagi pula, Dimas dan aku sudah tidak berhubungan apa-apa. Jadi ... mana mungkin itu dari Dimas.
"Siapa yang mengirimkan mobil untukmu, Imania," tanya sekertaris Ve.
"Tidak tahu."
"Kok, bisa?"
"Kak Ve, sudah dulu, ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kututup telepon tersebut. Kupandangi kembali kunci mobil dan beberapa lembar kertas berisi dokumen kepemilikan mobil tersebut. Semua tertera keterangan kepemilikan adalah atas namaku.
Yang membuatku aneh lagi adalah aku tidak bisa mengendarai mobil. Lalu kenapa aku diberikan mobil ini?
***
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Kami sedang asyik berbincang di sofa.
"Imania, jangan-jangan mobil itu adalah hadiah dari Dimas."
"Itu tidak mungkin. Aku sudah bertanya kepada sekertaris Ve tadi."
"Apa katanya?"
"Katanya dia tidak tahu tentang mobil itu."
"Wah, jangan-jangan ... mobil itu memang dihadiahkan Dimas untukmu. Lagi pula, sekertaris Ve, kan, bilang tidak tahu. Bukan mengatakan bahwa itu bukan dari Dimas. Bisa jadi, kan, Dimas diam-diam membelikan mobil tersebut untukmu."
Perkataan Fania benar juga. Sekertaris Ve, kan, hanya mengatakan tidak tahu. "Tapi itu tetap saja tidak mungkin."
"Atau mungkin ... dari Rudi."
"Itu juga tidak mungkin. Rudi tidak tahu menahu tentang hari ulang tahunku."
Tiba-tiba handphone-ku berdering. Sekertaris Ve meneleponku.
"Halo."
__ADS_1
"Imania, soal mobil itu adalah dariku," ucap sekertaris Ve tiba-tiba.
"Kau bilang kau tidak tahu tadi?"
"Ah, ha-ha, ya, aku lupa," jawab sekertaris Ve.
Aku menjadi bingung dengan pernyataan sekertaris Ve. "Kalau begitu aku mau bertanya."
"Bertanya apa?"
Aku akan mengetes sekertaris Ve dengan beberapa pertanyaan. "Untuk apa kau memberiku mobil?"
"Itu sebagai hadiah ulang tahunmu, Imania."
"Lalu, mobil warna apa yang kau hadiahkan padaku?"
"Em ... sebentar."
Sekertaris Ve terdiam sejenak. Dan itu membuatku meragukan bahwa mobil itu adalah hadiah darinya.
"Pertanyaan yang lain saja. Berapa harga mobil tersebut?" tanyaku.
"Em ... aku lupa. Sebentar ...."
Lagi-lagi sekertaris Ve terdiam.
"Rp. 2,5 milyar," ucapku karena tidak sabar menunggu sekertaris Ve menjawab.
"Rp. 2,5 milyar?" Sekertaris Ve terdengar terkejut. Dan itu cukup membuktikan bahwa mobil tersebut bukan darinya.
"Katakan sejujurnya, Kak Ve. Mobil ini dari siapa? Apa dari Dimas?"
"Jika benar mobil ini dari Dimas, aku akan mengembalikannya."
"Imania, sabar dulu. Biar kujelaskan."
"Aku tidak pantas menerima ini, Kak Ve? Lagi pula aku tidak bisa mengendarai mobil," ucapku dengan nada bergetar. Emosiku mulai terkuak kembali memikirkan bila benar itu adalah pemberian Dimas. Aku tidak bisa menerimanya. Bagaimanapun, aku akan mengembalikan mobil tersebut padanya, jika benar itu darinya.
"Maaf, Imania. Sepertinya aku sudah salah menjelaskan. Mobil ini hadiah dari perusahaan untukmu."
Aku menghela napas kasar. "Tadi kau bilang itu darimu?"
"Sepertinya kau salah paham. Imania, itu adalah hadiah dari kami. Hadiah dari perusahaan karena kau sudah bekerja dengan baik. Sekaligus itu adalah hadiah ulang tahun untukmu," jelas sekertaris Ve.
Aku tidak menyahut. Entah mengapa, aku merasa sekertaris Ve berbohong.
"Imania, maaf ... karena sudah membuatmu bingung. Sebenarnya itu adalah kejutan. Aku meminta pemilik dealer untuk memilihkannya untukmu. Jadi ... wajar kalau aku tidak tahu," terang sekertaris Ve lagi.
"Semahal itu?" tanyaku heran. Mana mungkin perusahaan menghadiahkan mobil semahal itu pada managernya.
"Apa kau tidak ingin mengucapkan terima kasih?"
"Aku akan mengucapkan terima kasih kepada pak Wibowo, besok," ucapku.
"Jangan. Ma-maksudku ... i-iya silakan," kata sekertaris Ve terbata-bata.
"Oke, thanks, Kak Ve."
Kututup telepon tersebut. Kemudian meletakkan handphone di atas sofa. Aku yakin, sekertaris Ve berbohong padaku. Pasti ada yang disembunyikan olehnya.
__ADS_1
"Serigala betina itu bilang apa?" tanya Fania.
"Dia bilang, mobil itu adalah hadiah dari perusahaan."
"Wah, hebat! Kau beruntung sekali, Imania."
"Masalahnya, aku tidak percaya."
"Apa yang membuatmu tidak percaya?"
Kuembuskan napas kasar, enggan menanggapi pertanyaan Fania.
"Arka, sekarang kita punya mobil. Horey!" seru Fania kepada Arka.
Arka yang sedang asyik bermain mobil-mobilan pun melonjak gembira.
"Horey! Mama punya mobil. Horey!"
Arka dan Fania saling menyuarakan kegembiraannya. Sedangkan aku, hanya mengerucutkan bibir, tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan diri. Apakah aku bahagia menerima mobil tersebut atau sebaliknya. Jika itu dari Dimas, seperti firasatku. Aku akan mengembalikan mobil tersebut padanya.
***
Sejak pagi tadi, Fania dan Arka sudah merengek meminta berbelanja karena persediaan camilan, susu, dan softdrink mereka sudah habis. Jadi, aku pun setuju untuk membawa mereka berbelanja sore ini.
Fania dan Arka tampak begitu senang dan semangat. Niatnya, sekalian kami akan menjajal mobil ini. Setelah semua siap, kami pun turun dan keluar dari rumah.
Sesampainya di depan mobil, Arka dan Fania terus bersorak gembira.
"Horey! Kita belanja Arka!" seru Fania sembari mencubit pipi Arka.
"Yey!" sorak Arka.
"Mana kunci mobilnya? Berikan padaku," ucap Fania sembari mengulurkan tangannya.
Kuberikan kunci tersebut padanya, sembari berkata, "Hati-hati membawa mobilnya, Fania. Jangan ngebut. Lagi pula, kau sudah lama tidak menyetir mobil, bukan?"
"Tenang saja. Aku sudah profesional, kok. Serahkan padaku."
Kami pun masuk ke dalam mobil. Mobil ini sangat nyaman. Suara mesinnya pun masih sangat lembut. AC-nya dingin sekali. Mobil ini juga dilengkapi dengan pengharum ruangan yang menyemprotkan secara otomatis ke kabin. Luar biasa. Mobil ini hampir mirip dengan mobil Dimas.
"Ayo, Arka, lafalkan basmalah dulu," perintahku.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Arka.
Aku dan Fania pun turut melafalkan basmalah. Memohon kepada Allah SWT, agar senantiasa menjaga kami. Agar kami selalu selamat dalam perjalanan.
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Hayo, Readers Keceh Tersayang?
Selamat malam, All?
Pasti kalian sedang menebak-nebak, ya?
Sebenarnya, mobil tersebut diberikan oleh siapa, sih?
Selamat menebak-nebak. Jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE, DAN KASIH BINTANG LIMA (buat yang belum memberikan kecupan bintang lima).
__ADS_1
THANK YOU ...!