BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Godaan Pelakor


__ADS_3

Dimas membawa wanita tersebut menepi. Beberapa orang langsung berkerumun. Aku juga menghampiri mereka.


"Terima kasih. Aku takut sekali," ucap wanita tersebut sembari memeluk Dimas erat.


"Kau sudah aman. Tenanglah," ucap Dimas seraya mengusap punggung wanita tersebut.


"Aku takut sekali. Tolong, jangan tinggalkan aku," rengek wanita berbikini itu terus memeluk suamiku.


Aku merasakan sesuatu yang menelusup ke dada. Rasanya seperti ... cemburu. Oh ... mengapa harus ada rasa cemburu? Wanita itu hanya sedang ketakutan, sepertinya aku tidak perlu terlalu cemburu. Tenang Imania, tenang ....


Dimas menyadari keberadaanku. Ia menoleh dan segera melepaskan diri dari pelukan wanita itu.


"Lepaskan aku, hei!" Dimas berhasil melepaskan diri dari wanita berpakaian seksi itu.


Akan tetapi wanita itu kembali memeluk Dimas, bahkan dengan sengaja ia menaikkan tubuhnya ke pangkuan Dimas. Aku kesal sekali melihat kelakuannya. Ingin rasanya menjambak rambutnya!


Tiba-tiba seorang laki-laki bertelanjang dada menghampiri dan memukul Dimas. Kami semua pun terkejut. Wanita itu tampak ketakutan ketika melihat lelaki tersebut. Dimas bangkit dan menatap lelaki yang menamparnya tiba-tiba itu.


Dimas mengepalkan tangannya, dengan emosi ia pun membalas pukulan laki-laki itu dengan keras. "Buk!"


Saat lelaki itu akan membalas memukul Dimas, wanita berbikini itu segera menyergahnya. "Hentikan! Apa-apaan kau ini!"


"Kau yang apa-apaan! Bisa-bisanya berpelukan dengan lelaki itu! Biar kuberi pelajaran!"


"Yendra! Dia hanya menolongku tadi. Aku hampir saja hanyut. Jika dia tidak menolongku, mungkin sudah terjadi sesuatu pada diriku."


Akhirnya, wanita itu membawa pacarnya menjauh dari kami. Aku merasa sedikit lega. Beberapa orang yang berkerumun pun bubar. Kini, hanya aku dan Dimas yang masih diam di tempat.


"Kau kenapa, Sayang," tanya Dimas saat melihat mimik wajahku yang cemberut.


"Tidak apa-apa."


Dimas memposisikan tubuhnya di belakangku, memelukku. "Apa kau cemburu?" bisiknya.


"Apa kau senang bisa memangku wanita itu?"


"Dia yang tiba-tiba naik ke pangkuanku, bukan aku."


"Apa ada sensasi berbeda, karena memangku wanita lain?"


"Sensasi apa?"


"Tidak usah pura-pura tidak mengerti." Aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku.


Dimas semakin merapatkan tubuhnya, mengencangkan pelukannya. "Sensasi seperti apa maksudmu? Menegang? Punyaku hanya bisa tegang karenamu," bisiknya.


"Bukankah wanita tadi sangat seksi?"


"Lebih seksi dirimu, Sayang." Dimas mengecup pipiku.


"Hm ...." Kusentuh pipinya yang tadi ditampar oleh laki-laki bernama Yendra itu. "Apa ini sakit?"


"Lebih sakit bila kau mencemburuiku." Dimas ikut meraih pipiku. Kemudian mencium bibirku.


Untuk beberapa menit, kami melakukan ciuman hangat. Aku terpejam menikmati setiap letupan-letupan dari bibirnya itu. Tangan Dimas mulai naik menuju dadaku, ia mulai nakal untuk meremas sesuatu yang kenyal di dada. Sontak aku menahannya. Sehingga ciuman panas itu terhenti..


Ia menatapku heran. "Kenapa?"

__ADS_1


"Jangan sembarangan. Ini area umum."


Dimas menyapu pandang ke sekeliling pantai. Kemudian kembali menatapku. "Sepi." Dimas kembali mendekatkan wajahnya untuk menciumku.


"Dimas, jangan ...." Kutahan bibirnya menggunakan telunjuk.


"Baiklah. Kalau begitu seperti ini saja." Dimas mengeratkan pelukannya.


Kami berdua berdiri di tepi pantai sembari menatap birunya laut. Angin sepoi-sepoi membelai lembut tubuh kami.


***


Setelah puas menikmati keindahan alam pantai pagi hari, kami kembali ke resort. Sesampainya di resort, kami terkejut melihat seorang wanita yang kita temui di pantai tadi.


"Hai," sapanya sembari melemparkan senyum. Wanita itu sudah rapi. "Kebetulan sekali bisa bertemu lagi di sini. By the way, kita belum berkenalan. Namaku Ratna. Panggil saja Nana," katanya sembari mengulurkan tangan kepada Dimas.


Dimas menjabat tangan wanita itu. "Dimas."


Wanita itu menatap Dimas tak biasa, membuatku emosi saja. "Eghem!" dehemku.


Wanita itu segera melepaskan genggaman tangannya. Kemudian beralih menatapku. "Wah, ini pacarmu?" Ia mengulurkan tangannya padaku.


"Aku Imania, istrinya."


Wanita itu tampak terkejut mendengar jawabanku. Kami pun saling melepaskan tangan.


"Oh, ini istrimu." Dia menunjukkan ekspresi tidak senang padaku. "Eh, aku belum berterima kasih padamu. Terima kasih tadi sudah menolongku, ya?" ucap wanita tersebut kepada Dimas.


"Tidak masalah."


"Kami sedang honeymoon. Maaf, kami buru-buru untuk kembali ke kamar. Ada sesuatu yang harus kami lakukan sebagai pasangan pengantin baru," ucap Dimas sembari melirikku. "Ayo, Sayang."


"Iya, Sayang ...," balasku.


Aku dan Dimas pun beranjak masuk menuju kamar. Kutolehkan kepala untuk mengecek ekspresi wajah wanita itu. Dia masih menatap kepergian kami dengan kesal. Kusunggingkan senyum untuk meledeknya. Aku benci sekali pelakor. Mulai sekarang, aku harus lebih hati-hati terhadap wanita genit seperti itu. Dimas adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menggodanya.


***


Malam hari, kami tengah duduk di sofa. Dimas tengah berbaring, meletakkan kepalanya ke pangkuanku.


"Sayang, ternyata menikah itu menyenangkan. Setiap malam kita bisa bermain," ujar Dimas.


"Setiap malam? Aku takut kau akan bosan."


"Kenapa berkata begitu. Mana mungkin aku bosan. Kau adalah canduku."


Kuelus rambutnya. "Aku takut kau berpaling dariku."


"Itu tidak mungkin."


"Aku takut kau tergoda oleh wanita lain."


"Hanya kau yang bisa membuatku tergoda, Sayang."


"Awas saja kalau kau sampai tergoda oleh wanita lain!"


Dimas terkekeh melihat ekspresi kesalku. "Kau sangat manis saat cemburu begini," katanya sembari mencubit hidungku.

__ADS_1


"Aku kesal sekali dengan wanita bernama Nana tadi pagi," ucapku jujur. "Dia sepertinya menyukaimu."


"Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Sudah ada dirimu. Sudah cukup bagiku."


"Bagaimana kalau tiba-tiba dia menggodamu lagi?"


"Aku akan menolaknya."


"Menolak apa?"


"Menolak untuk digoda."


"Kau milikku, Sayang. Aku tidak akan membiarkan siapapun merayuku," ucapku sembari mengecup keningnya.


"Sayang ...." Dimas menahan wajahku lima sentimeter dari wajahnya.


"Hm ...."


"Sudah berdiri."


"Apanya?"


"Aku ingin."


"Hah?"


Tanpa menungguku mengerti kata-katanya itu, Dimas langsung menerkam dan mencium bibirku. Terjadilah kembali kenikmatan hangat yang kami lakukan di sofa.


*ADEGAN DISENSOR*


Ha-ha jangan bayangkan, ya? Lagi puasa, he-he.


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Hola, Readers Keceh Tersayang ...!


Masih setia, kan, menanti novel ini sampai ENDING?


Masih, dong?


Eh, iya, harap tetap santuy, ya?


Author Keceh hanya mau ngajak kalian sedikit beremosi lagi. Wah, jangan suudzon dulu, deh, sama Author Keceh. Biar nanti kujelaskan, Marimar! Ha-ha.


Yuk, mari kita simak beberapa episode tentang CARA MENGHADAPI PELAKOR ALA IMANIA.


Nanti juga kalian suka, kok? Buat jaga-jaga kalau suami kita sampai digoda pelakor.


Pokoknya stay aja sampai ENDING. Jangan sampai enggak tahu endingnya seperti apa. Sudah sampai di sini, kan, ya?


Oh, iya, bolehlah Author Keceh minta VOTE yang banyak. Biar novel ini bisa menduduki peringkat. Supaya banyak orang yang menemukan novel ini dan membacanya.


Ok, jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE, KASIH BINTANG LIMAMU YA?


THANK YOU ...!

__ADS_1


__ADS_2