BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Ada Apa Dengan Fania?


__ADS_3

Dimas masih berjalan membelakangi Reza. Kesempatan itu diambil Reza untuk berlari sembari membawa pisau tajam yang siap ditancapkannya di punggung Dimas. Semua menjerit, semua histeris. Tak terkecuali aku.


Dan saat Reza sudah berada satu meter di belakang tubuh Dimas, langsung aku menjatuhkan diri ke lantai, bersama Arka yang masih berada dalam pelukanku. Kakiku terkulai lemas, kupejamkan kedua mataku. Aku tak mampu melihat sesuatu mengerikan yang akan terjadi.


Pang! Buk! Hanya suara itu yang kudengar. Sontak suara penonton bersorak-sorai. Kuberanikan diri untuk membuka mataku pelan-pelan. Betapa terkejutnya melihat dokter elang itu masih berdiri, sedangkan Reza sudah jatuh terkapar bersimbah darah segar di kepalanya. Sepertinya kepala Reza terbentur keras ke meja kasir yang berada di dekatnya.


Kuamati seluruh tubuh dokter elang tersebut. Aku berucap syukur kepada Tuhan, saat benda tajam tersebut sudah berada di tangan kiri dokter elang tanpa terpoles darah sedikitpun. Ya, Tuhan ... terima kasih telah menyelamatkannya. Bulir-bulir bening bahagia refleks menetes berjatuhan di pipiku.


Dua orang satpam langsung berlari meringkus Reza yang terkapar tak sadarkan diri. Dimas menatapku dengan menguntai senyum lebar. Senyuman yang nyaris hilang bila ia tidak sigap menangkis pisau belati tersebut dari tangan Reza. Aku pun membalas senyuman itu dengan penuh haru.


Aku pun bangkit berdiri. Dan saat aku akan melangkah ke arahnya, tiba-tiba Fania berlari dan langsung memeluk Dimas dengan sangat erat. Fania terisak di dalam dada bidang milik Dimas. Aku pun berhenti melangkah, menatap mereka berdua. Dan Dimas membalas pelukan Fania seraya mengusap-usap punggung wanita malang itu.


"Tidak apa-apa ... jangan menangis ... jangan menangis ...," ucap Dimas lembut.


"Terima kasih ... sudah terluka karenaku ...."


Aku menatap mereka berdua. Mengapa tiba-tiba dadaku terasa sesak. Mengapa aku merasa ... Fania memeluk Dimas dengan begitu nyaman. Apakah aku terlalu berlebihan? Seharusnya aku tidak mencemburui sahabatku sendiri.


Dimas segera menyadari tatapanku. Ia segera melepaskan pelukan Fania. Lalu ia melangkah menghampiriku. Kuturunkan Arka dari pelukanku. Dan saat lelaki itu sudah berada di hadapanku. Ia merentangkan kedua tangannya. Senyum penuh arti terlukis indah di wajahnya yang tampan.


"Mengapa diam saja?" katanya seraya memainkan satu alisnya.


Dengan wajah yang basah, aku langsung memeluknya.


"Aku hampir saja kehilanganmu ...," ucapku seraya terisak.


"Tidak akan. Aku tidak akan menghilang darimu ...."


"Aku sayang padamu ...."


"Aku juga sangat ... sayang padamu ...."


Tiba-tiba suara riuh tepuk tangan ramai terdengar. Kami segera melepaskan pelukan. Kemudian menyapu pandang ke setiap sudut mall, yang masih berisi para penonton, yang juga menyaksikan kemesraan kami.


Aku tersenyum malu. Sedangkan Fania masih berdiri terpaku di tempatnya. Dia menatapku seraya tersenyum. Aku pun beranjak menghampirinya. Saat jarak kami tinggal satu meter, kami saling memandang. Langsung kupeluk tubuhnya dengan erat. Fania pun membalasnya.


"Kuharap ... kisahmu dengan Reza sudah benar-benar berakhir."


"Kuharap juga begitu."


Kami pun saling melepaskan pelukan. Kemudian seorang kasir menghampiri kami dengan membawa puluhan shopping bag.


"Bagaimana dengan belanjaanmu ini?" tanya wanita kasir tersebut kepada Fania.


Fania pun melirik ke arah Dimas. Dimas mengerti, ia pun langsung berjalan menuju kasir. Dengan tangan yang terluka, ia mengambil dompet, dan meraih kartu kreditnya. Kemudian ia berikan pada kasir tersebut untuk membayar seluruh belanjaan Fania, yang totalnya justru lebih banyak daripada belanjaanku.

__ADS_1


Setelah selesai membayar, kami pun turun dari lantai dua menggunakan lift. Kemudian keluar dari mall dan langsung menuju ke dalam mobil.


"Dimas, tanganmu terluka. Biar aku yang menyetir," tawar Fania.


"Oh, baiklah," jawab Dimas.


Fania masuk ke dalam mobil. Ia sudah duduk dan siap meng-handle setir di tangannya. Dimas pun duduk di depan, di sebelah Fania. Sedangkan aku duduk di belakang bersama Arka.


"Boleh kulihat tanganmu?" tanya Fania sembari menoleh ke telapak tangan kanan Dimas yang terluka.


"Tidak apa-apa. Hanya luka ringan."


Fania melirik tas kerja Dimas yang tergeletak di sampingnya duduk. "Apa ada peralatan P3K di dalam tasmu?"


"Oh, iya, memang ada," jawab Dimas.


Fania meraih tas tersebut, lalu mengambil kotak P3K dari dalam tas tersebut. Fania segera mengeluarkan cairan pembersih luka, perban, obat merah, dan sebagainya.


"Kemarikan tanganmu!" perintah Fania pada Dimas.


Sesaat Fania dan Dimas saling memandang.


"Kemarikan, cepat!"


"Lukamu parah, ini pasti sangat sakit!" ujar Fania.


"Aku seorang dokter. Aku yang lebih tahu!"


"Oke, terserah! Yang jelas, ini harus diperban!"


Aku memperhatikan mereka berdua. Mengapa tiba-tiba ada perasaan cemas di benakku? Mengapa aku merasa ... tatapan Fania pada Dimas tampak berbeda? Apa aku terlalu berlebihan?


Aku selalu merasa berlebihan, ketika mencemburui sahabatku sendiri. Dan kuharap, sahabatku tidak memiliki perasaan yang berlebihan terhadap kekasihku.


"Terima kasih, sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelanjakanku," ucap Fania seraya meneteskan obat merah di telapak tangan Dimas yang terluka.


"Jika kau selalu menjadi sahabat terbaik untuk Nia, aku akan sering-sering membelanjakanmu juga," ucap Dimas yang membuatku terenyuh. Sepertinya, aku tidak perlu mencurigai Dimas.


"Tentu. Aku adalah sahabat terbaiknya. Ya, kan, Imania?" tanya Fania seraya menoleh ke arahku.


"Ya, itu benar," jawabku sembari tersenyum.


"Dimas, mengapa kau harus mengaku sebagai pacarku tadi?" tanya Fania seraya membalut telapak tangan Dimas dengan perban.


"Agar Reza tidak mengganggumu lagi."

__ADS_1


Fania menatap Dimas seraya berkata, "Ternyata ... meski kadang-kadang kau sangat menyebalkan. Kau masih memiliki hati yang lembut, ya?"


"Itulah sebabnya, Nia jatuh cinta padaku," ucap Dimas seraya melirikku. Aku pun mengulas senyum tipis.


Fania sudah selesai membalut luka di tangan Dimas. Ia pun segera menyalakan mobil. Kemudian melaju meninggalkan mall.


Di tengah perjalanan, Dimas meminta Fania agar berhenti di restoran Rudi terlebih dahulu. Dia akan mengajak kami untuk makan. Kami pun turun dan masuk ke dalam restoran tersebut.


Setelah mengambil tempat duduk, Dimas memesan seluruh menu yang ada di restoran ini. Mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Hingga meja kami pun dipenuhi oleh banyak hidangan.


Beberapa waitress bergantian mengantar hidangan-hidangan tersebut. Fania sudah terlihat sangat bernafsu untuk menyantapnya. Matanya tiada henti menatap menu-menu yang telah tersaji di hadapannya.


"Silakan dinikmati?" ucap waitress terakhir yang mengantarkan dessert.


"Terima kasih ...," ucap Dimas.


Arka pun sudah tidak sabar ketika melihat banyak dessert di hadapannya. Tetapi aku memintanya untuk menyantap main course terlebih dahulu. Arka pun mengerti. Aku memilihkannya sebuah menu main course 'Simple Salmon Teriyaki'. Menu salmon ini sangat baik dan cocok dimakan oleh anak-anak. Karena bahan-bahannya yang simple dan tentunya nyaman di dalam pencernaan anak-anak.


"Ayo, silakan dinikmati. Selamat makan ...," ucap Dimas.


Aku dan Fania pun memilih menu main course masing-masing.


"Apa kau kesulitan untuk makan?" tanya Fania memperhatikan Dimas yang sedang kesulitan memegang sendoknya, karena telapak tangannya sudah terbalut perban.


"Selalu ada tangan yang lainnya," ucap Dimas seraya memindahkan sendok tersebut ke tangan kirinya.


"Tidak baik makan menggunakan tangan kiri," ucap Fania seraya mendekatkan kursi duduknya di dekat Dimas.


Aku memperhatikan tingkah Fania yang semakin aneh. Sejak kejadian tadi di mall, Fania seperti berusaha mendekati Dimas. Apakah ini perasaanku saja?


"Biar kusuapi, sini!" tawar Fania seraya meraih menu main course yang akan disantap oleh Dimas.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Hai, Readers terKeceh se-Indonesia ...!


Tunggu up selanjutnya, ya? Nanti malam Author Keceh akan up beberapa episode lagi.


Tungguin Author Keceh, ya?


Jangan lupa untuk selalu VOTE ya?


Thank You ...!

__ADS_1


__ADS_2