
Siap-siap senam jantung, ya? Kali ini Readers Tersayang akan diajak Author Keceh untuk dag-dig-dug duar!! Sudah siap memacu jantung semuanya? Yuk, chapter ini mengandung FILM ACTION!
"Reza! Kau sudah berselingkuh dariku! Jadi untuk apa menginginkan aku terus?!"
"Hei! Kau gadis gembel yang tidak tahu diuntung! Wanita ini hanya pemanis. Jadi, kau tidak usah cemburu!" kata Reza seraya membelai rambut seorang wanita yang sedang bergelayutan di lengannya. Wanita itu tampak sangat seksi. Tidak kalah seksi dari Fania.
"Hei, kau!" Fania mengarahkan telunjuknya di depan wanita tersebut. "Ambillah laki-laki ini dariku! Aku sudah tidak membutuhkannya lagi!"
"Sombong sekali, kau gembel! Kau belanja begitu banyak. Apakah itu dari hasil mencopetmu lagi? Ha-ha ...!" ucap lelaki sangar itu seraya tertawa.
"Itu bukan urusanmu!" kata Fania.
Aku dan Dimas masih memperhatikan mereka dari jarak sekitar sepuluh meter.
"Apa itu laki-laki yang pernah kau ceritakan?" tanya Dimas padaku.
"Ya, itu pacarnya Fania. Sangat sangar, kan?"
"Kau tunggulah di sini. Ingat! Jangan mendekat. Kau dan Arka di sini saja, ya?" ucap Dimas seraya menurunkan barang belanjaan yang ada di tangannya.
"Di! Hati-hati dengannya!" ucapku cemas.
Dimas terus berjalan menghampiri mereka.
"Aku mau putus!!" ucap Fania pada Reza.
"Tidak bisa!!" Reza tiba-tiba mencekal pergelangan tangan Fania.
"Lepaskan dia!"
Mereka semua langsung menoleh ke arah Dimas. Termasuk wanita kasir yang tampak sangat cemas melihat perdebatan antara Fania dengan Reza.
Reza pun melepaskan pergelangan tangan Fania. Dan juga melepaskan tangan wanita seksi yang sedang bergelayutan di lengannya. Kemudian Reza langsung menatap Dimas dengan tatapan mata bengisnya itu.
"Siapa kau! Tidak usah ikut campur!" kata Reza seraya melotot kepada Dimas yang berdiri di hadapannya.
"Aku pacar barunya Fania!" ucap Dimas, yang tiba-tiba mengejutkanku dan juga Fania.
"Oh, jadi ... kau dapat lagi yang baru? Terus yang kemarin kuhajar sampai babak belur di mana? Dasar, wanita munafik!" semprot Reza di depan wajah Fania.
"Lelaki yang kau hajar kemarin itu lebih miskin dariku. Jadi, Fania lebih memilih untuk berpacaran denganku. Dan kupikir ... bahkan kau lebih miskin dari laki-laki yang kau hajar kemarin itu!" ucap Dimas dengan berani di hadapan Reza.
"Berengs*k! Beraninya kau bicara selantang itu di hadapanku?!" Reza tampak sangat geram.
__ADS_1
"Dimas! Sudah! Jangan ladeni dia! Dia itu iblis! Kau tidak usah menanggapi iblis sepertinya!" ucap Fania seraya menarik lengan Dimas. Tapi Dimas tak bergeming.
Tiba-tiba Reza langsung menarik rambut pirang Fania. "Katakan! Aku apa? Iblis kau bilang?!"
Dimas pun mencekal lengan Reza, kemudian berkata, "Lepaskan dia!"
Reza pun melepaskan tangannya dari rambut Fania. Kemudian keduanya saling berhadapan, dengan tatapan mata yang tajam. Masing-masing sudah membidik sasaran dengan amarah yang berapi-api.
Dua orang security tampak sudah berada di sekitar mereka. Tapi tidak ada satupun yang berani mendekat. Aku pun segera menghampiri security tersebut.
"Pak! Kenapa diam saja? Cepat lerai mereka!" ucapku kepada dua orang security tersebut.
"Maaf, Nona. Kemarin salah seorang security dari kami sempat melawan preman itu. Dan security itu mati tertusuk pisau olehnya!" papar security tersebut.
"Dia preman?" tanyaku.
"Dia ketua geng paling disegani di mall ini! Dan dia juga sangat pandai berkelahi. Aku khawatir laki-laki yang akan melawannya itu, bernasib sama dengan teman kami!"
Sontak aku langsung lemas mendengarnya. Ya, Tuhan ... bagaimana ini? Jagalah Dimas untukku, ya Allah ....
"Pak! Tetapi itu tugas kalian! Cepat, lerai mereka!"
"Maaf, Nona? Polisi sedang menuju ke sini. Lebih baik kita menunggu!"
Oh, aku sangat kesal dengan kedua security tersebut. Apa gunanya mereka di sini? Sedangkan, mereka saja tidak berfungsi dengan baik. Aku pun kembali mengalihkan pandangan pada kedua orang yang siap adu jotos itu. Hatiku sangat cemas. Aku takut terjadi sesuatu pada Dimas.
"Dimas? Ayo kita pergi dari sini!" ajak Fania seraya menarik lengannya.
"Hei, Gembel! Apa kau takut pacarmu ini babak belur seperti pacarmu yang kemarin kuhajar itu?"
"Berhenti panggil dia seperti itu! Dia punya nama! Sekarang aku tahu kenapa Fania memutuskanmu. Selain pelit dan miskin! Kau juga tidak pernah menghargai wanita! Kau hanya lelaki pengecut!!" ucap Dimas seraya melayangkan telunjuknya di depan wajah Reza.
"Apa kau sudah siap mengantarkan nyawamu sekarang?!" Reza langsung menarik kerah baju Dimas.
"Cih! Silakan bunuh aku! Jika kau bisa! Aku tidak pernah takut dengan banci sepertimu! Yang beraninya mengasari wanita!!" tantang Dimas dengan mata elangnya yang tajam. Ia pun menyingkirkan tangan Reza dari lehernya.
Semua orang di sekitar mall berkerumun dari kejauhan. Semua merasa cemas akan perkelahian yang sebentar lagi akan terjadi. Sedangkan aku ... aku terus berdoa agar Tuhan menyelamatkan kekasihku itu.
"Fania, minggir!" perintah Dimas.
"Dimas ...," sergah Fania lirih.
"Minggir!"
__ADS_1
Fania pun mundur beberapa langkah. Termasuk kasir yang bertugas di sana. Semua langsung menjauh dari arena yang akan dijadikan sebagai tempat adu jotos itu.
"Biar kuhabisi kau!!" seru Reza seraya menyeringai.
Tiba-tiba Reza melayangkan pukulan ke arah wajah Dimas. Sontak beberapa orang langsung berteriak. Namun, Dimas dapat menghindarinya. Dimas dan Reza langsung berkelahi dengan amarah yang sudah tak terbendung lagi.
Aku hanya memandang Dimas dari kejauhan, karena aku juga membawa Arka. Arka kugendong di dalam pelukanku. Kutangkupkan wajahnya ke dalam dadaku. Aku tidak ingin dia menyaksikan kejadian seperti ini. Aku khawatir ini akan berefek buruk terhadap perkembangan mentalnya.
Mataku kembali memandang kedua orang yang sedang berkelahi tersebut. Reza berhasil melayangkan pukulan ke wajah Dimas. Sontak aku menjerit di dalam hati. Sesaat kemudian, Dimas berhasil membalas pukulan yang tadi ke wajah Reza. Reza tampak semakin geram. Pukulan demi pukulan pun berhantaman di tubuh mereka.
Namun, tiba-tiba Reza menendang perut Dimas, yang sontak membuat Dimas terjatuh ke lantai. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Reza langsung memukul Dimas yang masih terjatuh. Tapi sesaat kemudian, kaki Dimas menendang tubuh Reza keras, sehingga kini, giliran Reza yang jatuh terpental ke lantai.
Riuh suara orang-orang yang menyaksikan. Ada yang berteriak histeris. Dan ada juga yang malah menyoraki mereka bak sedang menonton adu tinju. Reza pun bangkit. Ia menatap Dimas dengan sangat geram. Mereka pun kembali bertarung dengan imbang. Dimas tak kuduga sangat jago bela diri. Itu terlihat jelas dari caranya yang tenang saat menghadapi serangan-serangan dari Reza.
Dimas masih bisa bertahan dari pukulan-pukulan yang dilayangkan Reza. Hingga tiba-tiba Reza meraih sebuah botol kaca yang terletak di meja kasir, kemudian memukulkannya menuju kepala Dimas. Napasku tertahan sesaat melihat Reza melayangkan botol tersebut. Namun, Dimas masih bisa mengatasinya. Dimas menepis botol tersebut menggunakan tangannya. Botol tersebut pun hancur berkeping-keping.
Hingga telapak tangan Dimas tampak mengucurkan darah segar. Semua orang yang melihat pun semakin gaduh. Mereka berharap agar Dimas dapat mengalahkan Reza. Aku benar-benar tidak kuasa melihat Dimas yang sedang menahan rasa perih di telapak tangannya.
Reza tertawa melihat lawannya yang terluka itu. Kini tangan kanan Dimas sudah terluka. Namun, kulihat Dimas tak menyerah. Ia maju dan melayangkan tendangan serta pukulan menggunakan tangan kirinya. Setelah beberapa saat pun Reza jatuh tersungkur. Kulihat bibir dan wajah Reza lebih babak belur daripada Dimas. Yang itu berarti, Dimas lebih banyak berhasil melayangkan pukulan terhadap Reza.
Semua orang bersorak gembira melihat Reza berhasil dirobohkan oleh Dimas.
"Aku peringatkan padamu! Jangan pernah mengganggu Fania lagi! Atau kau akan kuhabisi!!" ancam Dimas pada Reza yang jatuh tersungkur di lantai.
Dimas pun beranjak meninggalkan Reza. Tapi saat itu juga Reza mengeluarkan sesuatu dari balik celananya. Sebuah benda tajam itu mengacung lurus di wajah Reza. Dimas sepertinya tak menyadari bahwa Reza sedang bangkit dan siap menancapkan pisau belati tersebut ke punggungnya.
Sontak aku menjerit. "Dimas awas!!"
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Hai ... hai ...! Readers Keceh ...! Ciyeh?
Sebutan baru, nih, buat Fans Fanatik Author Keceh. Wkwk ...!
Masih semangat, nih, bacanya? Tenang ... demi kalian, Author Keceh bakalan lanjutkan episode selanjutnya, kok?
Tungguin kisah Dokter Elang, ya? Bagaimana nasib selanjutnya? Tunggu beberapa jam kemudian.
Pukul 15.00 WIB, Author Keceh bakalan balik lagi. Buat Readers Keceh, yang sabar yah?
Thank You ...!
__ADS_1