
Readers Tersayang ... chapter ini mengandung iklan ...!
____________________________________________
Malam hari.
Malam ini, Fania akan tidur bersama aku dan Arka. Kami akan tidur bertiga dalam satu ranjang. Arka belum mau tidur. Padahal sudah pukul 22.00 WIB. Mungkin, saking asyiknya bermain dengan Fania. Bagiku, Fania mungkin seperti adikku—meski usianya lebih tua dua tahun dariku. Fania adalah gadis yang sering bertingkah sesukanya. Tapi bagi Arka, Fania sudah seperti teman atau sahabat bermain.
Seperti tadi, Fania asyik menemani Arka bermain puzzle, bermain mobil-mobilan, sampai bermain kuda-kudaan. Sampai-sampai Fania yang menjadi kudanya. Fania dengan senang hati melakukan apapun yang Arka minta. Oleh sebab itu, orang tuaku pun mudah menerimanya untuk tinggal di rumah ini.
"Arka ... ayolah! Ini sudah larut malam. Kau harus tidur," kataku seraya merapikan mainan Arka yang berserakan di atas lantai.
"Enggak mau! Arka mau tidur sama Papa!"
"Besok Arka boleh ke rumah Papa. Tapi sekarang, Arka tidur dulu, ya?" bujukku.
"Tidak mau! Arka mau tidur ditemani Mama sama Papa!"
Ya, Tuhan ... permintaan Arka sontak memukul hatiku. Bagaimana cara menjelaskan padanya. Setiap Arka bertanya mengenai papanya, aku selalu berbohong. Aku selalu berusaha agar Arka tidak menanyakan perihal papanya itu. Berbagai cara kulakukan, supaya Arka terbiasa hidup di rumah ini bersamaku. Namun, sampai sekarang, Arka masih belum bisa menghilangkan sosok Papanya itu. Itulah yang kadang-kadang masih membuat nyeri dadaku.
Aku terpaku memandangi Arka yang masih bermain puzzle pemberian Fania. Dia sudah semakin besar. Dan aku yakin, sebentar lagi dia akan mengerti, apa itu perpisahan. Atau setidaknya, ia tahu bahwa, ia harus terbiasa hidup tanpa sosok seorang ayah.
"Arka! Sini?" panggil Fania yang sedang bermain handphone sambil tiduran.
"Enggak mau! Arka enggak mau tidur! Arka ingin menunggu Papa datang ke sini!" jawab Arka yang masih bermain sendiri.
"Ayolah! Tante punya cerita bagus ini? Arka mau dengar, enggak?"
Arka akhirnya mendekat pada Fania. Arka pun berbaring di sebelah Fania.
"Aku punya novel fantasi yang keren banget! Arka mau kudongengkan?"
"Mau!"
Aku ikut berbaring di sebelah Arka. Kuamati mereka. Mereka sangat akrab. Arka begitu antusias mendengarkan cerita yang dibacakan Fania lewat handphone. Fania sedang bercerita tentang seorang pendekar fantasi. Yang ia bacakan dari aplikasi Mangatoon/Noveltoon.
"Pada suatu malam, di bukit Bintang, ada seorang pendekar kecil yang sangat manis. Ia terlahir dengan kekuatan super. Semua orang sangat segan padanya."
Arka pun dengan senang terus meminta Fania membacakan episode selanjutnya. Arka sangat senang mendengarkan Fania yang bercerita bak seorang dubber profesional. Sampai akhirnya, Arka pun tertidur. Aku mengamati Fania, menurutku di sisi lain, Fania terlihat keibuan.
Usai membacakan cerita, Fania pun asyik bermain handphone. Fania terlihat antusias menatap handphone-nya. Kadang-kadang dia tertawa sendiri.
"Fania ... apa yang sedang kau baca?"
"Aku sedang baca novel di Noveltoon," jawabnya.
Satu lagi, aku tidak menyangka Fania pun suka membaca novel. Itu berarti, dia benar-benar memiliki sisi kelembutan. Karena pembaca novel, biasanya juga suka baper, kan?
"Apa kau memang suka membaca novel?"
"Aku tidak hanya suka membaca novel. Aku juga suka membaca komik-komik keren yang ada di Mangatoon," jelasnya.
"Apa judul novel yang sedang kau baca?"
"Judulnya BUKAN PELAKOR, karya Kak Thamie," jawabnya lagi.
__ADS_1
"Apa itu bagus?"
"Ya, novel ini sangat bagus! Aku sering dibuat nangis sendiri, atau tertawa sendiri. Novel ini sangat lengkap! Ada sedihnya, ada lucunya, ada ninu-ninunya lagi. Ha-ha ...!" papar Fania seraya tertawa.
"Apa kau sering membaca novel?" tanyaku dengan wajah penasaran.
"Hanya ... kadang-kadang saja. Kalau aku sedang ingin."
"Boleh aku lihat sebentar? Aku ingin membacanya."
Fania pun memberikan handphone-nya padaku. Aku hanya penasaran, apa novel itu bagus. Dan saat membaca chapter 61–62, aku dibuatnya menangis.
"Hei, kau kenapa?" tanya Fania yang berbaring mengamatiku.
"Kisah ini mirip sekali dengan kisahku. Menyedihkan sekali ...," jawabku seraya mengusap air mata.
"Kemarikan handphone-ku! Aku mau telepon pacarku dulu!" kata Fania seraya menjulurkan tangannya padaku.
"Aku masih mau membacanya," kataku seraya masih sesenggukan karena berhasil dibuat terharu oleh Author dengan julukan Author Keceh itu.
"Hei! Kau download aplikasinya saja! Kau bisa membacanya sepuasmu nanti!"
Aku pun menyerahkan handphone tersebut. Kemudian langsung mengambil handphone-ku. Aku langsung men-download aplikasi tersebut. Setelah selesai men-download-nya, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Aku pun segera membukanya.
[Selamat malam, Sayang. Sedang apa?]
[Selamat malam, Di. Aku habis baca novel yang kisahnya sangat mirip dengan kisah kita.]
[Benarkah? Bagus, donk?]
[Bagus banget! Kata-kata cintanya juga sangat menyentuh. Kupikir, Author-nya pasti sangat menggemaskan dan juga lucu.]
[Iya. Kau juga harus baca novel ini nanti. Ini cocok banget bagi penyuka sad romance dan juga hot romance. Ada komedinya juga, pokoknya lengkap, deh!]
[Boleh juga. Eh, kau belum ngantuk?]
[Belum.]
Aku masih menunggu balasan darinya. Tapi tidak kunjung ada pesan masuk. Akhirnya, aku menunggu balasan darinya sambil membaca novel Bukan Pelakor itu.
Dan tidak lama handphone-ku berdering. Aku pun segera memencet tombol 'jawab'.
"Halo." Aku mengangkat panggilan tersebut.
"Apa kau menungguku tadi?" Suara di seberang telepon.
"Kau dari mana?"
"Barusan aku ke kamar mandi sebentar."
"Oh ...," balasku.
"Tidak tanya yang lain?"
"Tanya apa?"
__ADS_1
"Tanya, habis ngapain aku ke kamar mandi."
"Itu tidak penting!" balasku.
"Itu penting. Coba tanyakan padaku."
"Tanya apa?"
"Tanya aku habis ngapain."
"Memangnya kamu habis ngapain?"
"Pipis," jawabnya seraya tertawa.
Aku mendengkus kesal. "Itu tidak penting!"
"Itu penting! Jika aku tidak melakukannya, maka aku bisa ngompol. Ha-ha ...!"
"Tidak lucu!"
"Apa saat ini kau sedang cemberut?" tanyanya.
"Tidak."
"Tapi kuterawang dari sini kau sedang cemberut."
"Tapi sekarang aku sedang tersenyum," jawabku seraya tersenyum.
"Tetaplah tersenyum seperti itu."
Mendadak aku teringat kartu nama yang diberikan Rudi padaku. Bukankah, Rudi bilang agar aku menghubungi nomor tersebut?
"Halo. Kenapa hening?" Suara di seberang telepon.
"Di. Minggu depan aku akan bekerja," ungkapku.
Fania yang sedari tadi sedang bermain handphone pun mengalihkan pandangannya padaku.
"Benarkah? Tapi ... kau sebenarnya tidak perlu bekerja. Aku bisa mentransfermu setiap bulan, setiap Minggu, bahkan setiap hari bila perlu," balasnya.
"Bukan begitu. Aku ingin mandiri. Aku tidak mau bergantung padamu. Lagi pula, kita belum menikah. Simpan saja uangmu untuk ditabung. Lagi pula, aku bosan berdiam diri di rumah. Aku ingin segera bekerja," jelasku pada Dimas.
Dimas terdiam sejenak. Kemudian berkata, "Jika itu maumu, aku akan mengizinkan. Tapi ... di mana kau akan bekerja?"
"Tadi siang aku bertemu Rudi di supermarket. Dia menawariku untuk bekerja di tempatnya," jawabku seraya tersenyum senang.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Readers Tersayang ...!
Pagi ini, Author Keceh balik lagi.
Oh, ya? Kira-kira ... apa yang akan terjadi selanjutnya, ya? Apakah Dimas memperbolehkan Imania bekerja di tempat Rudi?
__ADS_1
Tunggu pukul 10.00 WIB. Author bakalan balik lagi.
Thank You ...!